Selasa, 17 November 2015

PERSIAPAN MENGHADAPI MASYARAKAT EKONOMI ASEAN 2015

MEA adalah bentuk integrasi ekonomi ASEAN dalam artian adanya sistem perdagangan bebas antara Negara-negara ASEAN. Indonesia dan sembilan negara anggota ASEAN lainnya telah menyepakati perjanjian Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) atau ASEAN Economic Community (AEC). MEA adalah realisasi tujuan akhir dari integrasi ekonomi yang dianut dalam Visi 2020, yang didasarkan pada konvergensi kepentingan negara-negara anggota ASEAN untuk memperdalam dan memperluas integrasi ekonomi melalui inisiatif yang ada dan baru dengan batas waktu yang jelas. Dalam mendirikan MEA, ASEAN harus bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip terbuka, berorientasi ke luar, inklusif, dan berorientasi pasar ekonomi yang konsisten dengan aturan multilateral serta kepatuhan terhadap sistem untuk kepatuhan dan pelaksanaan komitmen ekonomi yang efektif berbasis aturan.

MEA akan membentuk ASEAN sebagai pasar dan basis produksi tunggal membuat ASEAN lebih dinamis dan kompetitif dengan mekanisme dan langkah-langkah untuk memperkuat pelaksanaan baru yang ada inisiatif ekonomi; mempercepat integrasi regional di sektor-sektor prioritas; memfasilitasi pergerakan bisnis, tenaga kerja terampil dan bakat; dan memperkuat kelembagaan mekanisme ASEAN. Sebagai langkah awal untuk mewujudkan Masyarakat Ekonomi ASEAN.

Dalam menghadapi MEA, masyarakat Indonesia dan Pemerintah perlu melakukan beberapa langkah agar Indonesia menjadi bangsa yang siap bersaing dengan Negara lain dalam MEA 2015, hal itu antara lain:

1.    Penguatan Daya Saing Ekonomi
Posisi Indonesia sebagai Chair dalam ASEAN pada tahun 2012 ini berdampak sangat baik untuk menyongsong terealisasinya ASEAN Economic Community. Dari dalam negeri sendiri Indonesia telah berusaha untuk mengurangi kesenjangan ekonomi Kesenjangan antara pemerintah pusat dengan daerah lalu mengurangi kesenjangan antara pengusaha besar dengan UKM dan peningkatan dalam beberapa sektor yang mungkin masih harus didorong untuk meningkatkan daya saing.
Berkaca pada salah satu statement ASEAN Community bahwa “Masyarakat ASEAN 2015 adalah Warga ASEAN yang cukup sandang pangan, cukup lapangan pekerjaan, pengangguran kecil, tingkat kemiskinan berkurang melalui upaya penanggulangan kemiskinan yang konkrit.” Pemerintah Indonesia sampai dengan saat ini terus berusaha untuk mewujudkan masyarakat Indonesia itu sendiri makmur dan berkecukupan sebelum memasuki AEC.
Harus menjadi perhatian kita semua masyarakat Indonesia, Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) akan berlaku akhir tahun ini. Indonesia sebagai salah satu anggota tentunya harus ikut mempersiapkan segalanya, karena yang terpenting adalah bagaimana negara kita sendiri bisa siap bersaing atau tidak dengan negara ASEAN lainnya. Indonesia tidak bisa menunda lagi proses konsolidasi perbankan. Pasalnya hal itu sudah dilakukan negara lain dalam 5 tahun terakhir dalam menghadapi MEA. Sejumlah bankir menyatakan, sepakat soal pentingnya konsolidasi perbankan di Tanah Air khususnya dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada 2015.
5.    Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM)
Salah satu aspek penting yang perlu disiapkan dengan cepat bangsa ini adalah SDM yang kompeten. Kualitas sumber daya manusia merupakan faktor penentu keberhasilan pembangunan dan kemajuan suatu bangsa. Para tenaga kerja dari negara MEA yang memiliki kompetensi kerja yang lebih tinggi, tentunya akan memiliki kesempatan lebih luas untuk mendapatkan keuntungan ekonomi di dalam MEA. Dengan demikian, kita harus berusaha dengan sungguh-sungguh untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan mengejar ketertinggalan dari negara-negara lain, khususnya di kawasan ASEAN. Meningkatkan kualitas SDM harus diarahkan pada penguasaan iptek untuk menopang kegiatan ekonomi agar lebih kompetitif. Pemenuhan SDM yang berkualitas dan unggul karena menguasai iptek, akan berpengaruh terhadap struktur industri di masa depan. Dan apabila sasaran di atas bisa dipenuhi, akan semakin kuat basis industri yang sedang dibangun dan dikembangkan di Indonesia, yang pada gilirannya akan mendorong transformasi struktur ekonomi secara lebih cepat.
Namun salah satu senjata utama yang kita punya untuk memenangkan persaingan MEA ini adalah generasi muda bangsa Indonesia. Pemerintah Indonesia harus fokus untuk memoles generasi muda bangsa ini. Daya saing harus ditingkatkan, menciptakan lebih banyak tenaga kerja yang ahli (skilled labor), berikan perhatian lebih pada generasi muda yang mempunyai potensi besar namun kekurangan dalam segi ekonomi. Salah satu solusinya tarik semua sumber daya manusia yang bekerja di luar negeri dan berikan posisi strategis di industri maupun pemerintahan Indonesia dan berikan bantuan ekonomi pada generasi muda yang memiliki potensi, agar mampu dan terus kreatif. Selain itu, generasi muda dan masyarakat Indonesia mau tidak mau harus belajar untuk bisa menguasai bahasa asing untuk mempersiapkan bangsa ini menjadi bangsa yang siap dalam menghadapi MEA 2015.
3.    Cinta Produk Dalam Negeri                                
Agar dalam pelaksanaan MEA 2015, pasar dalam negeri tidak diserbu produk-produk negara-negara ASEAN lainnya, pemerintah perlu mendorong masyarakat Indonesia untuk menggunakan produk dalam negeri, dengan penerapan program cinta produk dalam negeri secara konsisten dan serius, sehingga industri manufaktur dan industri kreatif dalam negeri terus bertumbuh dan tetap terkendali dari serbuan produk-produk impor dari negara-negara ASEAN lainnya. Oleh sebab itu marilah kita bergabung untuk senantiasa menggunakan produk dalam negeri serta bersatu antara pengusaha dan pemerintah agar tercapai sinergi dan meningkatkan efektivitas dan efisiensi untuk menghadapi tantangan MEA 2015.
4.    Penguatan Sektor UMKM
Persiapan Indonesia dari sektor Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (KUKM) untuk menghadapi MEA 2015 adalah pembentukan Komite Nasional Persiapan MEA 2015, yang berfungsi merumuskan langkah antisipasi serta melakukan sosialisasi kepada masyarakat dan KUKM mengenai pemberlakuan MEA pada akhir 2015.

Adapun langkah-langkah antisipasi yang telah disusun Kementrian Koperasi dan UKM untuk membantu pelaku KUKM menyongsong era pasar bebas ASEAN itu, antara lain peningkatan wawasan pelaku KUKM terhadap MEA, peningkatan efisiensi produksi dan manajemen usaha, peningkatan daya serap pasar produk KUKM lokal, penciptaan iklim usaha yang kondusif.

SALAM CINTA TERAKHIR

Tepat di persimpangan itu aku memandangmu, hingga tak lelah kedua mata ini menatapmu dari jauh karena keanggunanmu. Memperhatikan semua yang kau lakukan sejak dua jam lalu aku berada di sini. Aku yakin kau tak sadar jika ada aku yang diam-diam menatapmu dari kejauhan. Aku masih saja betah, meski dihujam gerimis yang tak kunjung bosan mencium rerumputan. Aku merasa semakin malu, saat harus menapaki satu persatu langkahmu yang terus menjauh. Karena faktanya, aku memilih mengagumimu meski tak yakin jika aku mampu untuk berjalan berdampingan bersamamu. Kau tahu? Itu semua lantaran benih cinta yang datang terlambat dan kita masih saja saling takut untuk berucap. Andaikan saja kita bisa saling terbuka dan berani berucap, kita pasti tidak akan setakut sekarang. Huh, mengapa kita harus berandai-andai?
Rasa itu kemudian meleleh, mencampakkanku hingga terbuang jauh dari mimpi-mimpi malamku. Dan lagi, air mataku berderai saling berjatuhan, terpaksa kuseka beberapa kali isak saat aku teringat. Mencoba melupakan bayangan wajahmu, senyum manismu, kata indahmu yang tak pernah kau nyatakan untukku, hingga rayu bernuansa romantis yang hanya aku temui di dunia mimpi malamku. Masih terang terbayang dalam lubuk ingatan, saat kau datang bersama temanmu mendekatiku. Kau justru nyaris tak berkata apa-apa, karena mungkin keberanian tidak berpihak pada kita. Air matamu justru membanjiri wajah manismu kala itu. Dengan bibir bergetar hebat, hanya ada satu kata yang mampu kau ucap “Semoga kau selalu bahagia.”
Saat aku mencoba bangkit, kau justru menjauh, seperti ada sekat yang terlihat jelas di depan kita. Kemudian tertunduk malu sambil menarik lengan temanmu dan berusaha menjauh. Kuberanikan diri menatap wajahmu dengan perasaan luruh seolah tak ada lagi tulang dan saraf nadiku saat itu. Dengan sikap termangu aku pun berusaha melepaskan satu kata untukmu, “Assalamu’alaikum Leli.”
Aku yakin kau tahu apa reaksi teman-temanku saat itu, mereka menertawakanku sejadi-jadinya. Aku hendak melangkah pergi dan menghilang, namun kau masih saja tampil menawan dengan sikap salah tingkahmu di hadapanku. Andai saat itu aku boleh tertawa, aku akan terbahak-bahak tanpa jeda dan usai. Ingin bercerita banyak padamu tapi kerongkonganku terasa tersekat batu besar yang menahanku untuk mengungkapkan banyak kata padamu. Seperti terserak dan tak berdaya berucap pada wanita anggun sepertimu. Aku sungguh malu, seperti tak ada lagi dayaku untuk melanjutkan hidup saat itu, jika tidak bersamamu. Inikah rasa cinta yang sesungguhnya? Atau akan berakhir luka karena rasa cinta yang tak mungkin untuk bisa saling memiliki.
“Maafkan aku Leli, aku harus berkata jujur padamu saat ini,” dengan lisan terbata-bata aku memberanikan diri berucap di depanmu. Di depan dua teman terbaik kita yang hadir dan ikut menyaksikan apa yang aku ungkapkan padamu hari itu.
“Kau ingin berucap apa Idham? Katakanlah, aku sudah siap mendengarkannya,” ungkapmu tenang saat duduk di samping Rahma, teman baikmu. Teman yang selama ini telah menjadi adik, kakak, sahabat, bahkan ibu dalam perjalanan panjangmu.
“Leli, aku memiliki rasa padamu, aku tidak bisa memendam rasa ini terlalu lama.”
Dengan penuh keberanian kau berkata “Rasa apa itu Idham?”
Kau justru menanggapi perkataanku dengan sesuatu yang mengundang rasa tawaku. Aku bingung harus bertindak seperti apa kala itu.
“Aku ingin berjalan denganmu Leli.”
“Bukankah saat ini kau sedang berjalan denganku? Juga dengan Rahma dan Andi yang menemani kita hari ini?”
“Bukan itu maksudku, aku menyimpan rasa untukmu, aku ingin, jika memang kau takdirku, aku ingin kita bisa berjalan berdampingan.”
Rahma dan Andi terkejut mendengar apa yang aku katakan. Mereka berdua malah menertawakanmu dan bertingkah yang membuatku semakin merasa malu berada di depanmu siang itu. Panas siang sontak berlalu setelah perkataanku itu menghujam jantungmu. Sepertinya matahari pun bertingkah sama dengan kedua temanku, ia menyesalkan apa yang baru aku ungkapkan di depanmu. Tapi, aku sadar, aku tidak mungkin menyimpan rasa ini terlalu lama. Apapun yang terjadi, aku telah berkata jujur padamu Leli. Jika memang kau berkenan, makan jawablah dengan penuh hati-hati. Namun, jika tidak, biarlah kau menjadi bagian puisi terindah yang pernah ada dalam dimensi busur hidupku.
“Aku menghormati apa yang kau katakan Idham, aku mengakui itu adalah niat baikmu terhadapku. Tapi, siapa pun yang datang pertama menemui kedua orang tuaku, itulah yang akan kuterima menjadi pendamping hidupku. Aku tidak mungkin berlama-lama menimbang hal-hal berbau sakral seperti cinta. Jika kau sudah siap, datanglah, temui orang tuaku.”
Tidak lama dari kejadian siang itu, kau pun berlalu, kau melangkah pergi meninggalkan jejak sepi dalam dimensi waktuku. Meninggalkan aku dengan sejuta saksi kesungguhan rasaku terhadapmu. Beginikah sakitnya rasa cinta yang tak bisa untuk saling bersama, melangkah maju menatap masa depan itu? Hari demi hari kulalui dengan keadaan yang tak biasa. Seperti ada yang hilang dan takkan lagi pernah kembali. Luka ini sungguh menyiksaku dan membuatku tak bahagia. Bahkan semua orang terdekatku pun merasakan hal yang sama. Hingga kini, aku masih menyimpan dengan baik bait-bait salam terakhir yang sering aku sebut salam cinta.
Pergilah, semoga waktu menjadi pengobat luka. Mengikis secuil demi secuil rasa sakit yang pernah mendera. Aku yakin kau pergi karena kau bahagia. Biarlah itu menjadi pilihan terbaik dalam hidupmu, meski di sini aku rindu dengan puluhan ribu kenangan yang pernah ada. Aku akan bahagia jika kau bahagia di sana. Aku akan berusaha menghentikan denyut cinta ini, karena aku sadar bahtera cintaku bukanlah dirimu. Ingatlah selalu akan salam cinta terakhir yang pernah aku ucapkan untukmu.  


Cinta Generasi Masa Depan

“Mengajar adalah profesi mulia yang melahirkan banyak profesi yang lain. Mengajar adalah pengabdian, mengajar adalah bukti cinta, mengajar adalah bentuk peduli. Mengajar adalah seni tanpa batasan usia.”
Secercah harapan membuncah mengantarkanku pada suatu masa yang begitu sulit untuk diterka. Karena pada titik itu aku akan sadar betapa dunia pendidikan indah dan menyenangkan. Jalan yang  kutempuh ini tidak sama dengan narasi cinta, yang berkata tentang sedih atau bahagia. Ini jalan positif yang pernah menjadi kenangan manis saat aku memutuskan untuk berjuang bersama dengan teman tercinta. Mengusap satu demi satu noktah kepedihan dan berada di puncak lini masa depan. Zona ini adalah salah satu mimpi terbesar dalam hidup yang membuatku berani melangkah, menyusun kata baris demi baris hingga membentuk sebuah naskah yang akan sama-sama dipertanggung jawabkan. Kami tenang, karena masing-masing kami tidak berdiri sendiri, kami akan berjuang bersama untuk bisa menaklukkan waktu dan menggapai asa yang pernah kami tulis.
Aku biasa menyebut tempat ini sebagai rumah kedua, menjadi hiasan dalam sukma mimpi kala kita saling jauh dan memaksa untuk kembali bersua. Tempat di mana kita menemukan sosok-sosok manusia yang membuat langkah kita terasa nyaman dan berharga. Riak waktu berjalan sekencang mungkin, sekuat langkah-langkah yang kita persiapkan untuk menjemput impian. Dengan segala persiapan, kita sudah siap untuk saling bercerita tentang perjuangan. Rasanya terlalu berat, ah tidak. Kita memiliki banyak nyawa yang bisa diajak untuk berlelah-lelah. Ocehan mereka akan menjadi semangat yang terus menyala, menyegarkan tiap niat yang sudah kita agungkan. Terkadang kita merasa malu, tapi Tuhan tahu, bagaimana kami harus saling mengadu. Aku yakin, mereka mengatakan hal yang membuat kami semakin kuat dalam melangkah.
Traveling and Teaching atau yang biasa kami sebut tnt ini adalah kegiatan yang diselenggarakan oleh komunitas 1000 guru Jogja. Aku mengenal komunitas ini dari instagram berkat penuturan seorang teman dengan banyaknya postingan-postingan seputar kegiatan tnt. Setelah tahu akun IG nya, aku sering mengikuti postingan dari komunitas ini. Di awal Agustus lalu, aku melihat bahwa komunitas 1000 guru regional Jogja sedang open recruitment volunteer untuk kegiatan tnt #6, dimana kegiatan teaching dilakukan MI Muhammadiyah Wonosobo, Gunung Kidul dan traveling ke bukit Kosakora serta pantai Drini. Karena aku suka mengajar, memiliki passion di bidang pendidikan dan suka jalan-jalan, hari itu juga saya putuskan untuk mendaftar dalam kegiatan tersebut. Singkat cerita, aku pun dinyatakan lolos dan bergabung menjadi salah satu bagian dari komunitas seribu guru.
Konsep kegiatan tnt ini bagiku sangat menarik, di samping kami bakal traveling untuk memanjakan mata alias piknik, kami juga bakal berbagi keceriaan dengan para siswa di sekolah. Kegiatan tnt #6 ini juga didukung dengan mobil JEP milik VES Community Jogja. Jadi, kami berangkat menuju desa yang masih tergolong pedalaman itu dengan mengendarai 11 mobil yang sudah disediakan tim inti 1000 guru Jogja. Volunteer dari kegiatan kali ini juga beragam, ada yang dari Public Relation hotel, Wiraswasta dari Surakarta, Reporter dari media online, Dokter Muda, mahasiswa, Trainer Outbond. Aku sendiri adalah asisten dosen yang bergabung karena tertarik dengan kegiatan yang menurut saya sangat positif bagi para volunteer. Di tnt #6 kali ini, ada juga mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Turki, namanya kak Nuha. Walau dari latar belakang dan daerah asal yang berbeda, kami memiliki tujuan dan harapan yang sama, memajukan pendidikan pedalaman. Keberangkatan kami menuju lokasi sedikit terlambat karena menunggu salah satu volunteer yang datang jauh-jauh dari Surabaya, namanya kak Risnanda Akbar.
Ada pemandangan yang berbeda saat perjalanan dimulai, yakni kawalan 11 mobil yang berjejer di sepanjang jalan menuju lokasi tujuan kami melaksanakan kegiatan. Melewati Bukit Bintang, Dlinggo, hingga masuk daerah pelosok. Setelah melewati perjalanan panjang dan memakan waktu kurang lebih 3 jam, akhirnya kami sampai di tempat penginapan. Setibanya di lokasi, kami menurunkan barang, membereskan rumah, menata peralatan, dan makan malam bersama-sama. Hingga jarum jam menunjukkan pukul 24.00 WIB, baik tim 1000 guru mau pun volunteer masih berdiskusi sambil menyeruput kopi untuk mempersiapkan alat mengajar yang akan digunakan esok harinya. Sebenarnya kantuk telah lama menghinggapi mata kami, tapi kebersamaan dan kekeluargaan ini susah untuk ditemui hingga kantuk itu pun hilang melayang.
Keesokan harinya, setelah nyaring kokok ayam terdengar, kami pun bergegas bersih-bersih diri dan mempersiapkan keperluan mengajar. Udara di pelosok memang khas, masih sejuk, belum bercampur dengan polusi seperti di kota. Karena kamar mandi di tempat penginapan cuma satu, kami para lelaki memutuskan untuk mandi di masjid yang terletak tidak jauh dari basecamp. Seperti memulai kehidupan yang tidak biasa, berbeda, tapi inilah perjuangan kami sebagai wujud peduli bagi generasi masa depan yang tinggal di pedalaman.
Usai sarapan, kami berkumpul di depan rumah dan bergegas berangkat menuju MI Muhammadiyah Wonosobo. Sebelum berangkat kami membentuk lingkaran dan berteriak “Merdeka” sebagai awal semangat kami menjalani kegiatan TnT kali ini. Pose cantik dan keren para tim dan volunteer pun sudah diabadikan oleh Mas Gilang dan Mas Bagus yang merupakan spesialis dokumentasi kegiatan kami kali ini. Dengan langkah gagah dan senyum sumringah kami berjalan berjejer menuju lokasi tempat mengajar. Ternyata adik-adik MI Muhammadiyah sudah menunggu kami dan saat tiba di sana, mereka berlarian meraih tangan kami untuk bersalaman dan mengucapkan salam. Terlihat wajah polos mereka, wajah-wajah pemimpin masa depan bangsa ini. Kami pun berusaha membaur dan memberikan semangat kepada seluruh siswa. Setelah selesai, kami mendatangi para guru sekolah tersebut untuk saling bersalaman.
Ada enam ruang kelas di MI Wonosobo, empat kelas yang sudah butuh perbaikan, dan hanya dua kelas yang sepertinya baru dibangun karena gedungnya terlihat masih bagus serta lantainya juga sudah keramik. Dari ruang kelas satu hingga kelas empat, kondisi kelasnya cukup memprihatinkan, apalagi ruang kelas dua dan kelas tiga. Lantai, pintu, dan mejanya sudah minta diganti dengan yang lebih layak lagi. Saat itu, aku, kak Putri dan kak Ines diberikan kesempatan untuk mengajar di kelas lima, dan aku merasakan bahwa memang mereka membutuhkan perhatian dalam bidang pendidikan.
Di kelas lima hanya ada 10 siswa, dan kebetulan hari itu yang masuk hanya 9 karena satu siswa sedang absen. Sebelum kami mengajar, kami bertanya tentang pelajaran yang paling gampang mengenai sains, tetapi ternyata mereka tidak tahu. Kami bertiga memahami keadaan mereka. Dengan senyum tulus kami terus mengajar dan bercerita tentang cita-cita. Dari kesembilan siswa itu, semua memiliki cita-cita yang sangat tinggi, seperti Dewi yang ingin jadi dokter, Dea ingin jadi dokter hewan, Amel ingin jadi polwan, putri ingin jadi guru, Fani ingin jadi perawat, dan Geri ingin jadi tentara. Saat ditanya bagaimana agar cita-cita mereka bisa terwujud, mereka menjawab bahwa mereka akan belajar dengan rajin, kuliah yang tinggi, dan berdoa. Mendengar penuturan para siswa tersebut, kami seperti tersentuh dan merasakan betapa seharusnya pemerintah menjamin dan memberikan pendidikan yang lebih baik bagi mereka, terutama dalam hal fasilitas belajar.
Usai mengajar, kami bercerita dan memotivasi adik-adik di dalam kelas tersebut agar terus giat belajar dan berdoa hingga mereka bisa menggapai mimpi mereka. Setelah kegiatan belajar selesai, tim 1000 guru juga memberikan bantuan berupa tas untuk setiap siswa yang di dalam tas tersebut sudah berisikan alat tulis yang kiranya bisa membantu kegiatan belajar mereka. Kami menyaksikan mereka tersenyum bahagia, mereka senang karena tim 1000 guru bersama teman-teman volunteer bisa mengunjungi mereka untuk saling berbagi dan memotivasi. “Semoga kalian sukses dan bahagia dik!” harapku kala itu.
Hal membahagiakan yang lain adalah saat jam pelajaran sudah selesai, semua siswa berkumpul di halaman sekolah, kami mengajak mereka untuk membentuk barisan dengan formasi 70 sesuai dengan angka kemerdekaan bangsa kita yang ke 70 tahun di tahun 2015. Aksi itu berlangsung sangat khidmat ditambah lagi dengan aksi tiga siswa yang mengganti bendera yang sudah tua dengan bendera baru yang dibawa oleh komunitas 1000 guru. Di akhir-akhir nyanyian Indonesia raya yang kami nyanyikan secara bersama-sama, kami sadar bahwa hari itu adalah hari yang begitu menyentuh bagi kami para volunteer dan juga bagi para guru yang ada di sana. Hari itu kebahagiaan hadir di wajah para siswa, guratan sedih belajar dengan alat sederhana itu kini telah berganti menjadi riak tawa senyum yang tak terbendung lagi. Bukan hanya kami yang bahagia melihat aksi itu terlaksana dengan baik dan sempurna, para dewan guru juga bangga dengan rasa peduli yang masih tersisa dari sosok-sosok anak muda seperti kami. Mereka mengaku senang karena kami turut bisa mengunjungi sekolah tersebut dan berbagi bersama para siswa di sana.
Setelah beberapa saat kemudian, para siswa kembali dihebohkan dan dibuat tertawa dengan aksi salah satu volunteer, kak Ismoyo Mardhika. Ia adalah salah satu relawan yang sudah terbiasa melakukan perjalanan untuk berbagi dengan para siswa-siswa di Surakarta. Kelihaiannya untuk bernyanyi telah mampu menghipnotis semua siswa yang saat itu sedang berkumpul dengan para relawan pendamping di ruang kelas enam. Mulai dari bernyanyi, bercerita, hingga memimpin permainan di kelas, kak Ismoyo selalu memberikan gerakan yang totalitas. Adalah aksi yang membuat sakit perut para relawan, saat ia memanggil para siswa untuk berkumpul dan mengajak mereka untuk berfoto bersama dengan gaya bebas yang tidak kami duga dan kami pikirkan sebelumnya. Jika saat ini orang sering menyebutnya dengan istilah selfie, grufie, dll. Siswa yang tidak terbiasa, bahkan mungkin tidak pernah merasakan hal tersebut akhirnya tersenyum lebar dan berterima kasih pada kak Ismoyo yang sudah mengajarkan mereka banyak hal baru saat itu.
Kisah di sekolah semakin sempurna, saat Mas Bagus dan Mas Dee keliling dari satu kelas ke kelas yang lain untuk mengabadikan setiap momen yang terjadi. Mereka berdua dengan sabar menanti ekspresi terbaik yang keluar dari setiap siswa yang hadir. Tanpa lupa memberikan senyum santun, keduanya dengan gigih bertanya dan menjalani tugas mereka dengan baik. Hal itu pula yang dilakukan oleh kak Lina dan Ulfa, keduanya begitu sabar mengajari anak didik mereka. Tanpa lelah dan ungkapan sulit, keduanya tampil dengan gaya yang patut ditiru oleh semua siswanya. Bahagia sekali hari itu melihat pemandangan yang ada di depan mata. Satu sama lain saling bahu membahu untuk memberikan pengabdian terbaik mereka. Melihat cita-cita yang mereka tuliskan, kami seolah sedang berdoa dengan khusyuk dan mengharapkan agar mimpi-mimpi mereka menjadi nyata. Tanpa melihat latar belakang mereka saat ini, kami yakin mereka pasti bisa menjadi insan pilihan, pemimpin masa depan yang gemilang.
Usai mengajar di sekolah, kami langsung menuju masjid untuk melaksanakan salat dzuhur kemudian kembali ke rumah penginapan. Acara santap makan siang kala itu sedikit berbeda. Ditemani senyuman manis dan gelak tawa haru, ruang makan siang itu benar-benar menyala. Satu sama lain saling bercerita dan berbagi pengalaman saat mengajar di sekolah. Sambil terus menghabiskan nasi yang tersedia di piring, masing-masing kami mengucap syukur yang tak terkira karena perjalanan berbagi dalam rangka memerdekakan pendidikan pedalaman di Indonesia telah berjalan sesuai dengan rencana kami semua. Semilir angin kemudian hinggap seperti berkisah singkat, bahwa bahagia itu kini sudah tersebar di seluruh penjuru tempat yang kami singgahi. Tak ada lagi rasa bimbang dan takut menghantui hari-hari mereka untuk bisa belajar dengan baik dan nyaman. Tak henti-hentinya kami saling menyemangati sesama relawan untuk bisa terus menginspirasi mereka.   
Perjalanan kami tidak hanya berhenti di sana, setelah makan siang, kami kemudian melanjutkan perjalanan menuju pantai Drini dan akan tracking ke bukit Kosakora untuk bisa menyaksikan sunset yang indah ditemani deburan ombak di pantai yang begitu memanjakan mata tersebut. Tak lama menanti, sunset menawan penuh takjub itu pun tiba menyapa kami. Hingga tidak kuat rasanya menahan, pose-pose indah pun akhirnya bertebaran di bukit Kosakora itu. Senja itu berlalu penuh tawa bahagia karena lelah tak lagi berteman di antara pundak yang sudah bebas untuk bercengkerama melihat pantai luas, lepas, seraya mengucapkan syukur atas kebersamaan dan nikmat Tuhan yang tiada tara.
Kemudian kembali, mandi, dan bersiap untuk membangun tenda di samping pantai lepas yang sudah kami lalui sebelumnya. Tidak terlalu jauh dari tempat mobil kami diparkirkan. Mandi di sana harus antri, karena kamar mandinya terbatas dengan jumlah jiwa yang lumayan banyak. Tapi, di sana lah sensasi kebersamaan, kesabarannya terasa. Mandi antri, makan pakai bungkus nasi padang, dengan lauk dan menu seadanya, tapi nikmat banget. Beneran, rasanya beda, kebersamaannya itu loh, langka. Sungguh saat itu kami merasakan apa yang tidak biasa kami rasakan. Meski awalnya prosesnya terlihat begitu sulit dan melelahkan, namun fakta yang ada berbeda. Kami justru ingin kegiatan ini kembali diulang, diperpanjang, agar kami bisa menumbuhkan banyak semangat bagi siswa-siswa di pedalaman.
Malam itu, walaupun masih malam kedua kita kumpul bersama, tapi kami sudah lama saling kenal satu sama lain. Keakraban sudah terjalin, mulai dari makan, bakar-bakar ikan di depan tenda, hingga menanti waktu memejamkan mata sambil menikmati syahdunya pemandangan langit malam penuh bintang ditemani debur ombak di pantai. Masing-masing kami saling bercerita tentang pelajaran hidup yang didapat dari banyaknya pengalaman yang sudah dirasakan. Berbagi tawa, berbagi kisah asmara yang mengundang gelak tawa tak berbatas namun berbekas di setiap kisah yang sudah terlewati bersama.
Puncak kegiatan traveling nya adalah saat mentari pagi telah bersinar, kami semua sudah mengenakan pakaian yang sama yaitu kaos berwarna putih. Kegiatan pagi itu adalah main bola dengan kaki diikat menggunakan tali rapia, kebayang kan nendangnya susah-susah gimana gitu. Yang kalah dapat hukuman nyanyi sambil joget di depan umum. Tanpa rasa malu, kelompok yang kalah pun segera maju menaiki pentas yang sudah disediakan panitia. Mereka yang kalah kemudian bernyanyi dan berjoget dengan santai dan percaya diri. Meski baru dua hari kenal, kami sudah seperti keluarga sendiri. Kemudian dilanjutkan dengan lomba makan kerupuk yang sudah melempem, bak sedang makan rendang Padang bagi mereka yang ikut lomba saat itu. Kehebohan saat lomba, saling tarik peserta yang satu dengan yang lain semakin menambah serunya lomba. Tidak bisa dipungkiri, semuanya sudah sangat dekat tanpa butuh waktu lebih lama untuk saling mempererat jalinan kebersamaan.
Akhirnya, kami main lempar-lemparan serbuk sambil berlarian yang biasanya dikenal dengan colour run sambil photo-photo di pinggir pantai. Semua relawan yang sudah memakai kaos putih harus kena lemparan serbuk agar akhir dari kegiatan itu benar-benar membekas. Tidak hanya membekas karena semua peserta sudah seperti saudara, tetapi juga agar serbuk yang tinggal di kaos yang kami kenakan menjadi pengingat akan perjalanan yang sudah kami lakukan dan kami lalui bersama. Siang itu kami seperti mendengar deburan ombak pantai yang tak ingin kami tinggal. Kami bangga bisa melakukan perubahan dan bersyukur karena diberikan kesempatan untuk menikmati hamparan semesta yang tak terbilang indahnya. Meski tinggal hitungan jam kami akan kembali, rasa betah masih saja menghinggapi dan akhirnya meminta kami untuk bisa lebih lama tinggal di sana. Tidak hanya sepi yang akan tiba jika sudah kembali, namun semangat perubahan juga akan cemas saat kami akan terpisahkan.
Pasir-pasir pinggir pantai seolah berbisik, ciptaan Tuhan itu takkan terusik jika kami masih ingin lama bersama mereka. Air seolah berhenti mengalir dan deburan ombak takkan lagi datang menyambar jika kami memutuskan untuk pergi kembali. Bukit hijau nan menawan tempat kami mendirikan tenda juga tak sudi melepaskan penguat tenda-tenda itu. Ia masih ingin kami berada di sana lebih lama lagi, memberikan banyak kebahagiaan untuk banyak siswa dan juga kebersamaan untuk sesama relawan yang sudah menetapkan hatinya mengikuti perjalanan singkat itu. Huh, andai waktu bisa diajak kompromi dan bisa membawa kami kembali pada rangkaian kegiatan dua hari yang lalu, tidak akan secepat ini perpisahan terjadi.
Semua barang sudah dikemas dan masuk ke dalam mobil JEP yang siap mengangkut kami untuk kembali pulang. Kembali kepada realita hidup masing-masing profesi yang sudah kami genggam. Menjalani hari tanpa sengatan semangat dari para relawan dan tim inti yang sudah sangat dekat dengan kami. Dan lagi, perpisahan selalu menjadi akhir yang pahit saat pertemuan yang tak diduga harus diakhiri dengan segera. Perpisahan begitu kejam memutuskan kebersamaan yang sudah tercipta. Ia dengan mudah menghentikan detakan langkah dan berkata bahwa semua rangkaian peristiwa sudah berlalu dan berakhir.
Kegiatan tnt #6 ini menjadi pengalaman yang berharga, di samping peduli pendidikan pedalaman, kami juga saling berbagi tentang kisah perjalanan hidup. Hampir dua hari dengan fasilitas seadanya, ternyata kita bisa membentuk keluarga baru yang begitu akrab. Semoga kegiatan ini membuka mata pemerintah untuk bisa menyalurkan perhatian dan peduli terhadap generasi-generasi yang tinggal di pedalaman. Sehingga, banyak peserta didik yang akan lahir dan tumbuh menjadi pemimpin masa depan negeri ini.
Sungguh syukur yang tak terkira dan tak terjumlah dengan hitungan angka, saat diberikan kesempatan untuk bertemu dengan tim inti dan para relawan komunitas seribu guru Jogja. Dengan latar belakang yang sungguh berbeda satu sama lain, kami dipersatukan dengan satu tujuan, kami ingin memerdekakan pendidikan pedalaman. Kami peduli kemajuan pendidikan pedalaman. Dengan angka kemerdekaan yang sudah genap dalam hitungan 70 tahun, kami ingin pendidikan Indonesia lebih baik dan lebih merata. Tidak hanya tenaga pengajar yang kompeten, tetapi juga akses dan fasilitas belajar yang kami perhatikan untuk mereka siswa-siswa di daerah pedalaman.
Gerakan seribu guru ini adalah salah satu wujud peduli terhadap realita kemerdekaan yang sesungguhnya. Berbekal pengetahuan dan tekad yang sama, inilah wujud cinta kami terhadap Indonesia yang kami sanjung, kami banggakan, dan kami jaga. Kami cinta terhadap Indonesia dan kami coba mengekspresikan cinta kami dengan saling berbagi dengan mereka yang hari ini masih membutuhkan uluran tangan kami. Kami peduli terhadap Indonesia dan kami mencoba untuk meredam semua ego yang ada agar kemerdekaan Indonesia memang layak diakui, dijunjung tinggi, dan dipelihara.
Kami adalah bagian dari Indonesia yang kaya akan budaya, yang beragam bahasa, yang berlatar belakang berbeda, namun bisa menjadi satu dalam memperjuangkan nasib sesama anak bangsa. Kami maju dan menjadi satu dalam memperjuangkan masa depan putra putri bangsa Indonesia yang berada di pedalaman dan membutuhkan kepedulian. Dengan satu tujuan yang masih sama, kami ingin bangsa ini merdeka di segala lini kehidupan. Kami bangga menjadi darah daging Indonesia yang majemuk. Perjalanan ini adalah wujud kebanggaan atas kemerdekaan Indonesia yang sudah berumur, yang sudah berusia, yang sudah terpaut tua. Perjalanan mengajar ini adalah penghargaan bagi para pejuang dan juga pahlawan Indonesia yang sudah membela bangsa. Keberagaman ini menjadi motivasi bagi kami untuk bisa terus peduli terhadap pendidikan. Karena pendidikan adalah salah satu sektor yang harus terus dibenahi demi kemajuan bangsa.
Buat kakak-kakak tim 1000 guru Jogja, Mas Dee, Mas Bagus, Mas Juple, Mas Satriawan, Kak Yosi, Kak Rosi, Kak Ayu, Kak Nisa, Kak Naj, Kak Cadika, Kak Ayub, terima kasih banyak untuk kesempatan yang telah diberikan kepada kami. Bagi rekan-rekan volunteer, kalian luar biasa. Tetap jaga silaturahmi kita ya teman-teman 1000 guru. Senang bisa mengenal kalian, kalian semua keren. Tetap bergerak aktif, positif, dan menginspirasi di mana pun kalian berada. Mari menginspirasi dan terinspirasi, karena aku, kamu, kami semua cinta Indonesia. Tanah air kebanggaan yang akan selalu kami jaga dan kami lestarikan.
Merdu Kumandang adzan siang itu seolah memberikan semangat baru sekaligus saksi perjalanan mereka dalam meraih asa dan menjemput masa depan siswa di daerah pedalaman. Saat senja itu datang, kami kembali ke peraduan untuk mewujudkan mimpi-mimpi masa depan yang sudah tertuliskan. Kami yakin, cinta kami untuk Indonesia akan selalu tumbuh subur, takkan luntur.


Yaa Muqalibul Qulub, lindungi hati kami

"Beruntunglah orang yang selalu menjaga kesucian hatinya, dan merugilah mereka yang mengotorinya"
Kadar iman itu kadang naik kadang juga turun, tidak menentu. Tapi sesungguhnya iman akan naik dengan ketaatan dan akan turun dengan kemaksiatan. Dalam perjalanan keseharian kita, tidak bisa dipungkiri bahwa jiwa ini banyak sekali melakukan kesalahan, mengotori hati dan tidak bisa menjaga kebeningannya. Jangankan untuk taat, kadang sholat ke masjid aja masih harus dipaksa banget niatnya. Malas, itulah sebab yang menjadikan sudah untuk bergerak menegakkan kebaikan. Betapa kadang yang sering kita perjuangkan hanya kehidupan dunia, padahal setelah kehidupan dunia ini kita masih memiliki dunia lain yang lebih kekal, yakni akhirat. Ya Tuhan, hamba kadang lemah dan tak berdaya setiap kali mengingat begitu banyak dosa yang telah hamba perbuat selama ini. Walaupun hamba tahu bahwa ampunanMu selalu terbuka, namun hati ini kadang lalai dari gemerlapnya dunia. Dalam kesibukan, kadang aku lupa bahwa aku harus bertemu denganMu untuk mengadu dan meminta agar semuanya baik-baik saja. Namun hasrat dan nafsu yang terus membutakan kadang membuat hati ini semakin lalai dari mengingatMu, Allah.
tentang masa lalu yang memang gelap tanpa penerang, 
tentang kecintaan kepada dunia yang kadang begitu melenakan,
tentang cinta kepada pencipta yang kadang terlupakan,
tentang masa depan yang masih butuh pengajaran,
tentang hidup di dunia yang memang takkan kekal,
tentang akhirat yang masih sangat butuh bekalan,
Tuhan, ampuni kami, untuk segala dosa dan salah yang hari ini kami lakukan.
Bukakan pintu maaf, dan tuntunlah kami agar selalu berada di jalan yang Engkau ridhai
maafkan atas kelalaian kami
(17 November 2015, ba'da maghrib tadi)

Senin, 16 November 2015

Bahagia itu sederhana

Bahagia itu sederhana
sesederhana mengingatmu dengan segala kebaikanmu
bahagia itu sederhana
saat bisa merasa bersalah di masa lalu
bahagia itu sederhana
saat air mata bisa mewakili segala rasa
meski lelaki, air mata ini memang suci mewakili
hari ini sungguh mengingatmu
bahagia itu sederhana
sesederhana luka yang menganga tapi bahagia
bahagia itu bukan ketika penuh tawa
tapi saat menangis pun bahagia
bahagia itu mengenangmu...
(17 November 2015)

Catatan Senja

Hai senja, ingin kukabarkan padamu tentang langit yang kini sudah berubah menjadi lebih gelap, tentang bau tanah yang sedari kemarin sudah terkena serpihan hujan, tentang bumi yang tak lagi kekeringan, tentang jiwa-jiwa yang sangat senang dibalut awan hitam tanda hujan kan kembali terulang. Tahukah kau senja, sebenarnya memang langit sedang menangis, bukan karena bulan ini yang terkenang dan dijuluki dengan sebutan November rain, tapi memang banyak hati yang kini sedang menangis. Diantara mereka ada yang menahan rindu tak terbilang, namun juga tak sedikit yang tak berani untuk jujur dan berujar. Seperti ranting pepohonan yang jatuh lesu saat dahan tak lagi kuat menopang kerasnya angin yang datang. Maukah kau kubisikan senja, tentang tatapan mata yang sudah hilang melayang, terbang jauh dan takkan lagi menepi dan menyapa hari-hari yang akan sering ditemani dinginnya hujan. Diantara mereka ada juga yang enggan hinggap dengan sikap yang dingin, sedingin hujan kemarin saat tubuhku tak tertutup rapat oleh tebalnya selimut kamar lesuh nan tersipuh bak malu untuk berucap tentang kata-kata yang sudah siap menerjang kalbu. Ah, begitulah sikap manusia. Kau tahu senja, saat yang lain sibuk dengan kejamnya perjalanan dunia, ada juga yang tak kuasa menahan titikan air mata jatuh perlahan karena sakitnya hujaman kenangan yang tak bisa tersambungkan. Duhai, sakit apalagi yang lebih kejam selain memori masa silam yang masih terus berdatangan. Berusaha menyapa dan memohon masa indah akan kembali tiba, tapi nyatanya rindu sungguh menyalat luka, dalam sukma begitu terjulur nyata menepis satu demi satu dinding pertahanan yang sudah tak kuasa kau pun menahannya. Apakah kau baik-baik saja senja?
Masihkah kau kuat melilit jarak yang telah menciptakan ruang untuk merindu, namun rasamu itu tetap tertinggal, tertata rapi di bagian paling dasar, seperti tertuang dalam serpihan kasih sayang, namun sunyi dalam kelap malam begitu lihat melenyapkan. Bisakah kau mengelak untuk mengindar dari angin malam yang yang telah tega mengobrak abrik tumpukan kenangan, hingga lipatan yang kau ciptakan terlihat begitu berantakan. Senja, jujurlah tentang kebencian dan kehilanganmu yang tak bisa lagi kau sembunyikan, karena pada akhirnya kesepian akan memaksamu untuk melepaskan kenangan, merobek lugunya canda tawa hingga semua akan padam seperti tak pernah ada kisah, kisah tentangmu senja. Dalam sedetik masa berlalu, biarkan aku berbisik padamu, mungkin akan lebih baik jika kau merelakan dan melihat semuanya dari kejauhan, bukan karena tidak berambisi untuk kembali, tapi hempasan nafas memang sudah tidak lagi percaya pada takdir. Jalan memang panjang dan berliku, dan aku yakin kau akan sampai pada tujuanmu senja. Genggamlah erat apa yang mampu kau genggam, tak perlu lama-lama, jangan menunduk agar tertakluk, tapi biarkan segalanya akan menjadi catatan perjalanan di bulan yang penuh hujan, hujan Tuhan, hujanmu, hujan mereka. Sebelum kau berlalu, biarkan senja melepasmu dengan gurauan yang tak lagi terlihat syahdu; karena saat kau berkata kau merindu, senja juga ingin berbisik bahwa dia sangat merindumu lebih dari kepingan rindu yang kau punya, tapi akhirnya jangan terlalu banyak berkata, biarkan takdir menuliskan semua.

Belajar Banyak, Banyak Belajar

"Lebih baik berhutang uang daripada berhutang budi, tapi lebih baik tidak keduanya."
Di usia yang sudah tidak lagi muda, di usia yang sudah cukup jika dimasukkan dalam kategori dewasa, ternyata masih banyak sekali hal yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Mulai dari kejadian kecil yang sudah biasa terjadi hingga kejadian yang sungguh tidak terduga. Haruskah selalu membawa perasaan? Kita lelaki bukan, kenapa setiap kejadian kadang kita susah untuk menggunakan logika, kenapa harus melow karena memang bukan tempatnya melow. Ya, itulah kita, suka tidak enakan dengan kejadian yang kita alami di sekita kita. Bahwa sejujurnya, tidak seorang pun yang ingin berada pada posisi seperti sekarang, suka menghargai orang lain, suka menjaga perasaan orang lain tapi kadang kita lupa menjaga perasaan kita sendiri. Sudah belasan tahun hidup, selalu bertemu dengan orang yang berkarakteristik terlalu baik. Susah sekali menjelaskannya, bahwa sejujurnya kadag kita lebih memilih untuk berhutang uang daripada berhutang budi, dengan siapapun itu. Tanpa harus menyebut satu persatu pihak yang sudah terlalu baik dalam bersikap kepada kita, maafkan jika memang gaya ketus dan omongan serta sikap cuek ini masih saja seperti ini adanya. Kami pun sedang belajar bagaimana menjadi jiwa yang kuat, berontak dan tak mengedepankan perasaan. Apa yang terjadi selama ini sudah terlalu banyak seharusnya pelajaran yang diaplikasikan dalam kehidupan kita, bahwa memang dimana pun pasti ada orang baik yang akan selalu menebar kebaikan dan akan selalu saja ada yang ketus dan bertindak sesuka hatinya. Kata orang golongan darah B itu memang orangnya gak enakan gitu, dan kami pun merasakan hal itu. Berapa kali kami coba untuk cuek dan bersikap keras, selalu saja ada bisikan bahwa hal itu tidak perlu dilanjutkan. Salahkah mengingat kebaikan orang, salahkah mengenang? Haha, malam ini makin larut tapi angel dan demon masih saja tetap tak mau kalah perang satu sama lain.
Sore tadi, aku ingat seseorang, dia yang dengan senang hati mengajarkan banyak cara bagaimana harus mencintai saudara sesama muslim, dia yang sikapnya begitu lembut dan tak pernah aku temukan marah, dia juga yang sudah mengajarkan bagaimana harus bersikap baik dalam menjalani sisa kehidupan. Bertahun-tahun menghabiskan waktu bersamanya, tapi hanya dua kali aku lihat dia marah, itu juga karena memang sikap yang sudah tak lagu sesuai dengan apa yang harus terjamah. Rela menghabiskan waktu untuk bercerita hanya demi menyenangkan hati dan berkata bahwa jiwa kita masih baik-baik saja. Rela susah demi saudaranya, rela sibuk demi temannya, rela menderita demi sahabatnya. Haha, kadang naif banget harus mengingat kejadian yang sudah lalu, karena sadar diri bahwa sesungguhnya jiwa ini jauh dari kata baik baik dan baik. Entah harus bagaimana lagi mengulang setiap adegan kehidupan yang sudah tak mungkin terulang, tentang kebaikannya, tentang ringan tangannya, tentang nasehatnya, tentang sikap pedulinya, tentang semua kebaikan dan hutang budi yang sudah ia pinjamkan. Lagi-lagi tentang hutang yang sebenarnya aku tak ingin semua itu masih kami kenang satu sama lain. Malam makin larut, jarum jam sudah menunjukkan pukul 23.00, tapi kebaikan itu masih saja gentanyangan malam ini. Tentang semua sikap buruk yang pernah aku perbuat dan kau rasakan. Tentang semua hutang budi yang masih belum bisa aku bayar, tentang isak tangis yang sering kau ceritakan demi mendengarkan tawa kebahagiaan temanmu. Percayalah, malam ini aku sungguh merindukanmu dalam dekap kebaikan yang pernah kau berikan. Berapa kali kau menghubungi dan mengatakan bahwa kebaikan itu adalah tiketmu untuk meninggalkan dunia ini lebih awal, dan kita berlomba-lomba untuk itu. Demi setiap keluhan yang pernah kau sampaikan bahwa sesungguhnya kau masih kuat dengan segala senyuman yang masih tergores dan tersisa dalam penatnya malam panjang yang masih kau rasakan. Untuk setiap dosa dan kekhilapan masa lalu yang sudah kita hancurkan. Malam ini aku berikrar, sungguh kebaikan itu masih saja terniang, entah bagaimana nanti Tuhan memberikan kekuatan untuk mengembalikan semuanya kepadamu. Rabb, ampuni kami. Maafkan kami yang sudah menyakiti satu sama lain selama ini, maafkan kami untuk luka yang mengebiri dengan desahan nafas yang tak lagi sama kami nikmati. Maafkan kami yang belum bisa belajar banyak dari setiap kejadian yang kau takdirkan hinggap dalam keseharian ini. Ijinkan malam ini kami bersapa dan berbalas rindu, kami janji akan lebih banyak belajar dari setiap kejadian. Demi dia, malam ini relakan air mata menetes karena kebaikannya. Semoga kau berikan tempat terindah untuknya, maafkan aku merinduinya lagi Tuhan... :(

Tentang Pulang

Pulang bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan batin yang penuh makna. Pulang adalah kata yang menyentuh hati, membawa kita kem...