Rabu, 31 Januari 2018

Jika Tiadamu, Takkan Ada Yang Lain

Berulang kali aku berhenti dan memandang sekitar, bertemu dengan banyak jiwa yang kemudian menjadi orang begitu baik.
Berulang kali aku diam dan tanpa kata memikirkan semua, sebab karenamu aku bisa. Lalu, jika tanpamu, maka tidak akan ada yang lain.
Berulang kali aku berusaha sabar, menantimu kembali dan baik seperti yang dulu kau lakukan. Tapi tidak, kau justru hilang. Maka, jika tanpamu, takkan pernah ada yang lain.
Berulang kali aku merasakan, kau tak sungguh ingin menetap, namun dirimu juga tidak benar-benar ingin pergi jauh. Sudah aku katakana sebelumnya, jika tiadamu, tak akan pernah ada yang lain.
Harus berulang kali juga kah aku memastikan, bahwa jiwa ini hanya milik Tuhan. Pribadi ini bukan untukmu, bukan juga milikmu. Aku adalah milik Tuhan, kau pasti tahu itu.
I’m not yours, you not mine. We belong to Allah…
Sebab, saat senja datang kau pergi. Kala malam tiba, engkau hilang. Aku harus bagaimana berkata. Haruskah aku katakan segalanya?
Sebab kala bintang terang, kau redup. Saat jiwaku bahagia dan sudah menerima semua, kau kembali mendekat dan bertanya kenapa.
Jika begini, aku harus bagaimana? Mengapa setiap detik detak jiwaku seperti salah.
Baiklah, aku akan mengakui bahwa aku tanpa hadirmu adalah tiada. Aku tanpa wujudmu adalah sirna, dan aku tanpa segalamu adalah buta. Sebab, karenamu aku bahagia, dengan tatapan mataku aku ada. Karenamu segalaku menjadi berwarna.

Aku ingin mengakui bahwa aku tanpamu adalah bukan siapa-siapa. Maka, terimalah pengakuan, bahwa jika tiadamu, maka tidak akan pernah ada yang lain. Karena kamu adalah bahagia. Semesta dan segala-galanya dalam lintas hidup dunia pagi siang dalam senja juga malamku. Ya, aku tanpamu dan tiadamu, maka tidak akan ada yang lain. 

(Awal Bulan Februari)

Selasa, 30 Januari 2018

Rindu

Malam ini aku rindu, amat sangat rindu.
Bagaimana bertemu sedang kau jauh tak bisa kuraih dalam mimpiku.
Lekaslah datang dan kembali padaku duhai purnamaku.
Kaulah obat lelah dan sumber tawa dalam hidupku.
Rindu, aku rindu kamu, sangat rindu. Setengah mati, aku rinduimu.
Istirahatlah dalam lelap, semoga bertemu di dunia malam.
Kau, selalu menjadi obat terbaik untuk menjadi lebih baik.
Sebab, kaulah segala-galanya bagiku, jiwa dan nafasku.
Kau, hidup dan matiku.
Anugerah terindah dalam hidupku.
Kamu, ijinkan aku merinduimu.
Jiwa dan hatiku untukmu kasihku.

Genggam atau Lepaskan

Jangan memperpanjang rasa sakit dengan terus menerus mengenang sesuatu yang melukai. Rasa sakit itu mungkin takkan pernah hilang, bahkan ia akan menjelma menjadi luka yang tak lekang, andai terus dipelihara dalam kenang. Cobalah untuk mengabaikan sekuat yang kau bisa, sekuat yang kau mampu, hingga kenangan itu hanya tinggal bak sebutir debu.
Logikamu tak pernah lelah apalagi kalah. Meski kadang aku merasa jijik dengan apa yang kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri. Lepaskan atau genggam. Aku berjanji, perlahan. Sebab Tuhan tahu, di tempat mana aku bisa menjadi pribadi yang lebih baik.

Kelak kan kau kenang dan kau rindukan aku, sebagai sesuatu yang tak kau temukan pada diri orang lain. Kelak kau akan merindukan aku, sebagai sesuatu yang kau jadikan satu-satunya alasan bagimu untuk tersenyum. Kelak, kau akan rindukan itu. 

Minggu, 28 Januari 2018

Teman Menuju Peristirahatan Terakhir

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim di dalam kitab shahihnya  dari hadits Dari Anas bin Malik RA bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda "Mayit itu diikuti oleh tiga golongan, akan kembali dua golongan dan satu golongan akan tetap menemaninya, dia akan diikuti oleh keluarganya, hartanya dan amalnya. Maka keluarga dan hartanya akan kembali pulang sementara amalnya akan tetap menemaninya”.
Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.. (QS. Al-Munafiqun: 9).
Diriwayatkan Al-Hakim di dalam Al-Mustadrok dari hadits Sahl bin Sa’d bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Jibril datang kepada Nabi Muhammad SAW dan berkata: Wahai Muhammad hiduplah sekehendakmu sebab engkau padsti akan mati, cintailah siapa yang engkau kehendaki sebab engkau akan meninggalkannya, dan berbuatlah apa yang engkau kehendaki sebab engkau akan mendapat balasannya, kemudian dia berkata: Wahai Muhamad kemulian seorang mu’min ada pada saat qiyamullail dan ketinggiannya pada ketidakbutuhannya pada manusia”.
Adapun teman pertama adalah keluarga, maka keluarga tidak akan memberikan manfaat apapun baginya setelah kematiannya kecuali orang yang memintakan ampun baginya dan berdo’a baginya seperti apa yang telah disebutkan sebelumnya. Bisa jadi keluarganya tidak berdo’a baginya, sebab bisa jadi orang lain yang lebih jauh, lebih memberikan manfaat bagi keluarganya, sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh orang-orang shaleh: Keluargamu sibuk membagi warisan yang telah engkau tinggalkan, sementara ada orang lain yang bersedih dengan kematianmu dan berdo’a untukmu pada saat dirimu berada di antara himpitan lubang-lubang dalam tanah, dan di antara keluarga itu ada yang menjadi musuh bagimu.
Adapun teman yang kedua adalah harta, maka dia tidak mengikuti pemiliknya dan tidak pula masuk ke dalam kuburnya, dan kembalinya harta tersebut sebagai kalimat kiasan bahwa harta itu tidak menemani pemiliknya di dalam kuburnya dan tidak masuk ke dalam liang kubur pemiliknya.
Diriwayatkan oleh Muslim dari hadits Abi Hurairah RA bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: Anak Adam berkata: Hartaku, hartaku, Allah berfirman: Apakah engkau memiliki harta wahai anak Adam kecuali apa yang engkau telah makan dan habis, atau engkau pakai lalu rusak, atau engkau sedekahkan lalu engkau berlalu membawanya dan apa-apa selain itu maka dia pergi dan ditinggalkan untuk orang lain”.
Adapun teman yang ketiga: Dia adalah amal yang mengikuti pemiliknya ke dalam kubur dan hidup bersamanya dalam kubur tersebut, dia bersamanya pada saat dibangkitkan  menghadap Allah SWT. Amal itu menyertainya pada saat dikumpulkan di padang mahsyar, di atas shirot, pada saat ditimbang dan dengan amal itu pula seseorang akan memperoleh tingkat kedudukannya di surga atau di neraka.

Wallahu'alam Bishawab :)

Tentang Ikhlas dan Merelakan dari Jauh

Saya pernah baca tulisan Tere Liye yang berbunyi:
“Daun yang jatuh tak pernah membenci angin, ia biarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan dan mengikhlaskan semuanya. Bahwa hidup adalah menerima, penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus mengerti, pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami, pemahaman yang tulus. Tak peduli lewat apa penerimaan, pemahaman, dan pengertian itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan. Biarkan dia jatuh sebagaimana mestinya. Biarkan angin merengkuhnya, membawa pergi entah kemana.”
Tulisan tersebut menggambarkan apa yang saya rasakan selama di sini khususnya semester ini saat duduk mengajar anak semester 1 dan 3 Prodi HI Untan. Jika yang bayangkan adalah nilai yang ideal itu gampang, hanya lewat goresan di siakad kemudian selesai. Tapi saya tidak akan pernah ikhlas jika kalian melalui proses yang tidak baik, tidak jujur, dan membohongi diri kalian sendiri. Rasanya saya memang tidak berambisi jadi dosen teladan, yang disukai semua mahasiswa. No. saya juga tidak berharap semua senang dengan gaya saya mengajar. Tidak. Saya hanya ingin masing-masing kalian sadar bahwa berproses tidak perlu menghalalkan segala cara agar terlihat pintar dan menjadi yang terbaik. Buat apa dapat IPK paling tinggi kalau hasil contekan. Buat apa anak beasiswa suka ngata-ngatain dosennya? Penting banget ya?
Tapi semua itu terserah dan kembali kepada kalian. Toh, saya juga sudah memilih beberapa mahasiswa yang akan saya bimbing dan saya damping selama saya di sini. Kadang saya lelah dengan tingkah laku mahasiswa yang sok oke keliatan wow tapi aslinya ternyata tidak ilmiah. Mending yang tulisannya busuk tidak berbentuk tapi tidak copy paste. Haaa, sudah, saya pun sudah ikhlas. Bahkan males kadang-kadang ngomongin hal beginian yang selalu menyita perhatian. Jika tidak dikerasin, mahasiswa tidak paham jika itu tidak baik. Masak masih mahasiswa udah belajar jadi koruptor. Perihal kebiasaan buruk yang kalau tidak telat, ya nyontek, ya copas, ya bohong buat malsuin tanda tangan. Begitu aja terus diulang-ulang.

Saya pun bersyukur kepada Tuhan dikirimkan orang-orang baik seperti Bang Ireng, Bang Adit, dan Kak Dewi. Yang terus bisa menjadi contoh baik buat saya ketika saya salah dan selalu memberikan nasehat ketika saya kehilangan arah. Tidak ada seorang dosen yang ingin mahasiswanya jadi bodoh, tidak bisa, dan lama lulus. Kami semua pengen ngeliat kalian jadi orang sukses, makanya kami kasih tau. In case ternyata pada prosesnya yang terjadi adalah arahnya beda dan bertubrukan, silakan dilanjutkan. Kami sudah ikhlas, mengajar seadanya, dan menjadi pendamping sekuat yang kami bisa. Ikhlaskanlah, sebentar lagi semuanya akan terlihat yang mana yang salah yang mana yang benar. Semesta tidak pernah diam dan Tuhan tidak pernah salah timbangan. Semoga semakin menjadi mahasiswa yang berkarakter dimana tidak hanya suaranya yang nyaring, tetapi juga berisi. 

Jumat, 26 Januari 2018

Surat Terbuka Untuk Dilan

Dear Dilan,
Setelah melihat engkau muncul dalam kehidupan para generasi muda, aku kemudian berpikir menulis surat ini untukmu. Sebagai penyambung pesan dari banyak manusia yang sudah menyaksikanmu. Sebab, di antara mereka ada yang menangis karena tak kuasa menahan haru saat melihatmu.
Dilan,
Kamu pasti tahu, bahwa dahulu manusia hidup dengan diberikan beban, amanah, serta tanggung lalu mengatakan itu berat. Katamu rindu itu berat. Sadarkah kau Dilan, yang berat itu bukan rindu, tapi amanah yang dipikulkan kepadamu. Ya kamu!
Dilan,
Kamu tahu, jaman sekarang banyak sekali manusia yang hidup dengan begitu bangga karena jabatan, pangkat, dan harta yang dimilikinya. Mereka menumpuk itu semua demi terlihat wow di depan manusia. Masihkah engkau mengatakan bahwa menahan rindu sambil seseunggukan dibawah rintik hujan adalah sesuatu yang paling berat, Dilan? Bukankah yang berat adalah bagaimana mempertanggung jawabkan harta yang kita dapat. Dari mana dan untuk apa digunakan?
Dilan, aku beritahu padamu. Masih kau kau berkata bahwa mempertanggungjawabkan harta itu tidak berat jika yang kau gunakan adalah keringat orang namun tak kau bayar? Bagaimana Dilan?
Dengarkan baik-baik Dilan. Kau dikirimkan ke dunia ini untuk menjadikan dirimu bergerak, bekerja, dan melakukan tanggung jawab atas amanah yang diberikan Dilan. Bukan untuk banyak gaya, banyak memuji dan banyak bercerita sana sini tapi tak memberikan kontribusi apa-apa. Lalu, untuk apa uang tunjangan yang selama ini kau teriam Dilan, uang panaskah itu?
Dilan, sekali lagi kukatakan bahwa yang berat itu bukan menahan rindu, tapi karena kamu diperlakukan tidak adil. Itu lebih dari berat Dilan, sakit wkakakaka
Haruskah korupsi, kolusi, dan nepotisme dijadikan lifestyle Dilan?
Tahukah kau bahwa jaman sebelumnya manusia menggunakan kacamata dan kawat gigi hanya saat mereka merasa sakit di mata dan giginya. Namun Dilan, saat ini manusia justru berlomba-lomba memakai keduanya sebagai bahan gaya paling utama.
Dilan,
Haruskah fenomena itu berlanjut dengan yang lain, dimana setiap orang harus menjadikan kursi roda sebagai lifestyle agar dianggap gaul? Hahaha, aku jadi cemas Dilan.

Dilan, btw bagaimana nasib kursi roda berikutnya ya? Apakah akan sama dengan kawat gigi dan kacamata? Khawatir kah kau Dilan? wkakakaka

Rabu, 24 Januari 2018

Semestaku, Kamu!

Gumpalan rindu tak bertali kutitipkan pada warna senja. Berharap kau suka dan membalas hingga nanti malam tiba. Tak perlu menanti bintang dan rembulan, kau adalah bahagia paling sempurna. Sebab itu kau selalu kusebut Jingga Purnama.
Hidup tak ubahnya seperti drama Korea, kadang berujung bahagia juga bisa berakhir kecewa. Namun, luka dan bahagia karena mencintaimu adalah sempurna. Tak akan pernah bisa kupilah hanya satu darinya.
Jika menangis dijadikan ukuran akan lemahnya seseorang, maka seharusnya itu sebuah pembuktian bahwa ia masih mempunyai perasaan. Lalu, saat mataku tak pernah basah, mungkin itu bukti bahwa kau sedang mati rasa. Tapi aku rasa kita dan cinta tidak seperti itu. Saling jatuh padu lalu lupa sudah berapa lama jarak ini menghentakkan jeda.
Banyak tempat yang tak lazim di dunia ini. Kini hatimu adalah salah satu darinya.
Saat dua rasa saling temu dan menemukan, kita bisa apa? Sebab ketika dua pasang mata saling memandang dengan ketenangan, kita yakin bahwa kenyamanan mengalahkan segalanya. Tak satu pun dapat menghalangi bahagia. Begitulah kisah di ujung senja.

Ranup Jingga datang mendekat dengan pekat dalam peluk erat bersama sayunya mata yang membuatku lupa akan semesta dan isi dunia. Itu kamu!

Tentang Pulang

Pulang bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan batin yang penuh makna. Pulang adalah kata yang menyentuh hati, membawa kita kem...