Kau tahu, hari ini adalah hari dimana tepat setahun sidang skripsiku sudah berlalu.
Kau tahu, hari ini adalah hari yang susah untukku.
Kau tahu, ucapanmu dulu masih aku simpan baik-baik dalam hatiku
Kau tahu, di sudut rinduku, ada wajahmu. Bagaimana aku bisa menghapusnya?
Kau tahu, saat aku menuliskan tulisanku ini, segenap angan mungkin melayang
Memikirkan sedikit retakan rindu yang dulu selalu kau utarakan padaku
Jika kau kini sudah bahagia, biarlah. Aku masih berusaha menjadi lelaki yang pantas
Lelaki yang pantas untuk kau rindukan dan panggil dengan panggilan yang tak lagi sama
Saat kau tak lagi ingat akan kisah kita. Biarlah, biarkan ia usang ditelan masa.
Tapi, biarlahkan juga aku memelihara dengan baik rasa ini
Seperti yang aku katakan tadi, aku ingin belajar lebih baik lagi
Memantaskan diri menjadi lelaki yang bisa kau banggakan...
Huh, saat-saat mendebarkan itu, kau datang dengan seribu embun menghapus cemasku
Lalu kau ungkapkan bahwa ujian skripsi itu akan berlalu
Dan, kau tak lupa ingatkan aku untuk menyebut nama Tuhan kita sebelum masuk
Sekarang kau dimana? Bolehkah aku merindu?
Jika pun tak boleh, aku sudah biasa, akan terbiasa dan harus terbiasa tanpamu.
Setahun yang lalu, pertama kalinya kau berkata "Aku bisa mengalahkanmu"
Aku ingin tertawa, kau berubah jauh. Tanpa sempat aku membaca semuanya berlalu.
Angin sampaikan padanya nyawa cinta, aku bukan apa-apa tanpa hadirnya
Bulan, terangi malamnya, temani tidur dan lelap mimpinya
Bintang, jangan biarkan dia sendiri seperti dulu saat aku melukainya.
Tuhan, dalam rinduku, ada wajahnya yang teduh
Tak kuasa aku menghunus rasa yang tersisa
Inikah dosa?
Tuhan, dalam rinduku ada wajahnya, bolehkan aku berdo'a untuknya?
Tuhan, dalam sujudku, aku merindunya
Jika pun tak boleh, biarkan rasa ini tetap ada.
Wajahnya, senyumnya, bayangannya, akan selalu teduh untuk jiwa ini.
(Catatan Jingga Senja Memori Desember Before Januari)
Jika bisa bermanfaat di usia muda, lalu mengapa menunggu tua? Kita adalah apa yang kita kerjakan, kita dengarkan, dan kita katakan berulang-ulang. Don't be same, be better! Blog ini berisi mengenai keilmuan HI, motivasi perjalanan hidup, pengalaman, dan tulisan cerpen. Semoga bermanfaat.
Rabu, 29 April 2015
Sabtu, 18 April 2015
Ringankanlah Langkah Kami
Tuhan...
Ingin rasanya aku seperti yang lain
Berjalan wajar tanpa khawatir berlebihan
Menikmati indahnya masa pendidikan
Berujar bagaimana berproses demi masa depan
Tuhan...
Andai boleh memohon,
Berikanlah kemudahan penyelesaian
Master ini sampai akhir langkah penghabisan
Kirimkanlah rizki yang berkah
Untuk temani perjuangan ini
Aku, masih mau
Aku masih peduli
Aku, ingin menjadi pejuang ilmu
Sampai nanti, sampai Kau minta aku kembali
Maka Tuhanku..
Izinkanlah aku melangkah
Sampai lelah
Andai boleh meminta,Maukah kau dengarkan pinta hambaMu ini
Ingin rasanya aku seperti yang lain
Berjalan wajar tanpa khawatir berlebihan
Menikmati indahnya masa pendidikan
Berujar bagaimana berproses demi masa depan
Tuhan...
Andai boleh memohon,
Berikanlah kemudahan penyelesaian
Master ini sampai akhir langkah penghabisan
Kirimkanlah rizki yang berkah
Untuk temani perjuangan ini
Aku, masih mau
Aku masih peduli
Aku, ingin menjadi pejuang ilmu
Sampai nanti, sampai Kau minta aku kembali
Maka Tuhanku..
Izinkanlah aku melangkah
Sampai lelah
Sabtu, 31 Januari 2015
UNGKAPAN CINTAKU UNTUK IBU
Berujar tentang Ibu, aku
teringat betapa besar jasanya mengasuhku hingga aku menjadi seperti sekarang.
Masa remaja hingga dewasa telah membentuk pemikiran dan tingkah laku yang
berbeda, begitu juga kisah teman-temanku yang selama ini aku perhatikan dengan
seksama. Aku memperhatikan tak jarang mereka tega berperilaku yang kurang
terpuji di depan orang tua mereka, terutama Ibu. Mereka tidak malu menyakiti
perasaan Ibu mereka sendiri di depan banyak pasang mata yang sedang menyaksikan
kisah itu berlalu sempurna. Bukankah Ibu adalah sosok wanita dengan kasih
sayang yang tidak pernah putus? Mengapa mereka berani menentang Ibu mereka
sendiri? Mungkinkah mereka lupa dengan segala hal yang telah dilakukan Ibu
ketika mereka masih kecil dulu?
Aku mendesah dalam seraya diam
tak bergeming kemudian melanjutkan aktivitasku untuk bercerita bersama Ibu. Ada
kenikmatan tersendiri setiap berada di sampingnya, apalagi ditemani secangkir
teh hangat spesial buatan Ibu. Ia menuturkan bahwa teh itu diaduk dengan
hangatnya rasa cinta seorang Ibu untuk anak kesayangannya. Aku tak kuasa
menahan tawaku malam itu. Ibu selalu mampu mencairkan suasana saat sedang
berkumpul bersama anaknya.
Langit malam terlihat pekat
sempurna. Sepertinya awan sedang berkumpul mencipta mendung. Bintang masih
enggan menemani rembulan yang terlihat redup. Entahlah, yang pasti malam itu
aku merasa bahagia bisa menatap wajah Ibu penuh senyum. Rinai matanya seolah
berkata tidak ingin jauh apalagi terpisah dengan anaknya. Canda Ibu seolah menjadi
pelita malam yang gelap. Tidak ada rasa sepi apalagi hening yang memeluk. Semua
terasa indah jika Ibu sedang duduk dan bercerita di depanku.
“Tidak terasa ya Nak, kini kau
sudah beranjak dewasa. Sepertinya baru kemarin aku mengajarkanmu merangkak,
berjalan, meniup balon. Kini kau sudah tumbuh menjadi lelaki yang gagah
anakku,” Ibu mulai berucap melepas balutan rindu yang ia simpan selama ini.
“Ibu bisa saja, kan Wira sudah
menginjak usia 22. Itu adalah waktu yang terbilang lama Bu.”
“Jika kau sudah menemukan
pendamping hidupmu, apakah kau akan meninggalkan Ibu Nak?” ucapnya serius yang
membuat mataku terbelalak. Aku tidak mengira pertanyaan itu akan terucap dari
bibir manisnya. Sebenarnya ingin aku berujar bahwa setiap lakon kisah yang aku
lalui selalu menyisakan rindu yang teramat sangat untuk Ibu. Namun, aku jarang
bahkan hampir tidak pernah memiliki keberanian untuk mengucapkan itu di hadapannya.
Seperti malam ini, sungguh aku ingin sekali menumpahkan butir-butir rindu yang
aku punya. Namun, entah kenapa lisan ini terasa kelu untuk mengucapkan itu
semua. Apakah rindu itu yang selalu mengetuk relung dada dan membuat Ibu merasa
ingin berjumpa dengan anaknya?
“Kenapa Ibu bertanya demikian?”
“Tidak Nak, Ibu hanya ingin
tahu apa jawabanmu. Ibu perhatikan banyak sekali pemuda yang kemudian
meninggalkan Ibunya manakala sudah berjumpa dengan kekasih hati yang ia anggap
pantas untuk menjadi pendamping hidupnya.”
“Ibu, aku tidak seperti mereka.
Aku akan menemani Ibu hingga hari tua nanti. Ibu harus percaya itu. Tawa yang
terdengar selama ini adalah tangis yang berusaha kusimpan setiap kali aku
merindukanmu Ibu. Aku tidak ingin Ibu kepikiran tentang aku di sana,” gumamku
sambil melayangkan senyum manis untuk wanita luar biasa yang ada di hadapanku.
“Aku akan menjaga Ibu
baik-baik, percayalah Bu.”
Malam itu berlalu dengan
romantis setelah aku menyanyikan sebuah lagu untuknya. Tak lama berselang, Ibu
pamit ingin istirahat lebih awal. Aku tidak bisa menahan, kedua mata Ibu sudah
memberikan sinyal bahwa kelopak mata atas dan kelopak mata bawah itu ingin
segera berjumpa. Bersatu dengan pekat malam dan berakhir di dermaga mimpi
indah. “Selamat malam Ibuku sayang, selamat istirahat, mimpi indah ya,” ucapku mesra
sebagai penghantar waktu istirahat malam untuk Ibu. Meski tanpa kecupan manis
di keningnya, aku yakin Ibu pasti bahagia.
Besok aku akan mengungkapkan
rindu untuk Ibu. Rindu teramat sangat yang selama ini aku simpan. Telah aku
tata rapi hingga nanti akan aku ucapkan dengan tawa haru biru. Angin malam
berdesir ditemani gemuruh petir yang semakin mengundang kantuk. Aku bergegas
masuk kamar dan mempersiapkan segala kejutan untuk Ibu. Tak lupa aku
menghubungi teman-teman agar berkenan hadir dan menambah ramai suasana hari
bahagia Ibuku besok. Setelah memastikan segalanya berjalan mulus, bintang malam
mengajakku untuk menyusul Ibu berlabuh di dermaga ayu menyambut mimpi sebelum
fajar dan mentari pagi hadir kembali…
Keesokan harinya, tepat pukul
tujuh pagi teman-teman sudah berkumpul di ruang tamu. Aku memanggil Ibu yang
masih sibuk di dapur.
“Ibu ada tamu di depan, mereka
sudah menanti Ibu sejak tadi.”
“Iya sebentar Nak, Ibu cuci
tangan dulu. Setelah itu Ibu akan menyusulmu ke ruang tamu.”
Tak lama menanti, terdengar
langkah Ibu datang mendekati kami. Sebelum tiba di ruang tamu itu, aku
mengejutkannya. “Selamat ulang tahun Ibu, panjang umur dan sehat selalu ya. Wira
sayang Ibu selalu.” Teman-teman kemudian menyusul di belakangku sambil
menghidupkan lilin di atas kue tart
besar bertuliskan “Happy Birthday
Ibu” seraya berkata “Selamat ulang tahun ya Buk.” Pagi itu aku memeluk Ibu erat
seolah takut akan kembali terpisah. Sebelum Ibu melepaskan pelukan itu, aku mengecup
keningnya sambil berkata “Selamat ulang tahun Ibuku sayang, aku sayang Ibu
sampai akhir hayatku.”
PARA PEMUDA PENGGAGAS PERUBAHAN
Detak-detik waktu berpacu, tak terasa sudah sebulan aku
menempati rumah ini. Rumah kecil yang kini aku jadikan sebagai teman dalam
mengarungi bahtera kehidupan. Menghabiskan deretan malam panjang dengan
mengukir kenangan baru bersama barisan para pejuang. Membuka mata serta
mengayunkan langkah demi pesona hidup yang kini terasa membeku. Bukan ingin
meratap mengingat yang telah lewat, namun inilah satu poros yang harus
kutempuh. Hingga nanti ketika aku pergi, ada banyak nyawa yang akan merindukan.
Tidak seperti janji mentari yang akan selalu datang, hidup ini amat berbeda.
Masa silam sudah tidak mungkin lagi datang menyapa. Meski dirindukan dengan
penuh damba, waktu tidak akan pernah bisa diputar mundur.
Aku memandangi anak-anak yang sedang bermain di petakan
sawah hijau itu. Memperhatikan mereka kemudian keningku seperti berkerut seraya
tertunduk lesu. Sepanjang hari mereka habiskan waktu hanya untuk bermain. Batinku
tersudut ketika berhadapan dengan wajah-wajah polos itu. Aku seperti terpental
karena tidak mampu memberikan bantuan apapun demi pendidikan mereka. Padahal
seharusnya ketika matahari mulai naik seperti ini mereka sedang duduk di dalam
kelas. Kesetiaan seperti apa yang bisa aku berikan untuk negeri ini, jika aku
tak mampu membantu pendidikan mereka? Laksana langit dengan bumi. Aku terus
mencoba untuk mendapatkan pendidikan setinggi mungkin, namun mereka tetap
berada pada titik ketidaktahuan. Aku memilih untuk diam tiap kali Candra,
Didik, dan Widi mencoba berujar tentang kehidupan pilu anak-anak itu. Seperti
tak kuasa wajahku untuk saling berhadapan dengan mereka dan mencoba untuk
mengungkapkan rangkaian kata. Sungguh aku merasa malu.
Selepas hari itu berlalu sempurna, aku mengajak ketiga
temanku berbicara melalui hati. Membuka pintu kesempatan bagi mereka untuk bisa
merasakan indahnya bisa mengenyam pendidikan. Meminta keluh kesah itu untuk
mundur dan merasuk menjadi keberanian dalam melangkah. Aku yakin masa depan
mereka masih bisa diperjuangkan. Bingkai keberanian itu masih layak untuk
dipertaruhkan, masih sangat layak. Ini bukan tentang langkah kaki yang lancang
berjalan. Bukan pula tentang ingatan yang dipaksa untuk berkembang. Tapi, ini
tentang kemauan yang pernah larut namun belum terbenam. Aku yakin kami pasti
bisa memperjuangkan pendidikan mereka. Karena yang aku tahu, mata mereka penuh
harapan ketika bertemu pandang dan saling tatap.
“Didik, bolehkah aku meminta tolong padamu? Jika kau tak
keberatan, aku ingin mengajakmu menjadi pengajar di gubuk kecilku. Terhitung
mulai besok malam jika kau ada waktu, datanglah.”
“Siapa yang mau belajar di tempatmu Fer?” tanya Didik
sambil meletakkan buku yang sedang ia baca ke dalam tasnya.
“Anak-anak di sekitar rumah Dik. Seperti Ihsan, Salma,
Difa, bahkan mungkin Ibu pemilik rumah jika ia tidak keberatan.”
“Ide bagus, aku setuju denganmu Fer. Aku juga sangat
prihatin dengan pendidikan mereka selama ini. Bukankah seharusnya anak seusia
mereka sedang duduk di bangku sekolah dasar?” respon Candra penuh antusias.
Berujar tentang pendidikan, ketiga temanku pun setuju
dengan usulanku untuk mengadakan kelas belajar mandiri di rumah. Ini hanya tentang
harapan yang masih berkisar antara mau atau tidak untuk saling memperjuangkan.
Sebab majunya bangsa ini ada di tangan para pemuda yang kelak akan menjadi
pemimpin masa depan. Maka jika hanya sebagian saja yang merasakan pendidikan
yang layak, sepertinya bangsa ini belum dalam keadaan seimbang.
Aku berbicara sebagai seorang yang ingin semuanya bisa
merasakan indahnya dunia belajar. Bahwa masih banyak hal yang sebenarnya harus
bisa aku perjuangkan. Aku rindu mereka yang bisa membaca, sibuk berhitung,
saling mengeja. Menurutku rindu itu masih sangat pantas untuk dimuliakan.
Kerinduanku pada pesona dunia pendidikan adalah hal yang wajar. Aku ingin
generasi yang akan datang akan terus maju dan berkembang. Waktu akan tetap
menjadi saksi, meski ia tidak akan pernah kembali. Banyak sekali hal yang akan
berubah demi perubahan yang tidak perlu untuk terlalu dipermasalahkan. Aku
yakin, setiap hati kecil kita pasti ingin menjadikan bangsa ini bangsa yang
maju. Sebab perubahan itu pasti selalu bisa diusahakan.
Sejak hari itu, gubuk kecilku mulai ramai didatangi
anak-anak kecil untuk belajar. Meski ruang itu terlihat sempit dan menyesakkan,
namun dari tempat itulah kebaikan hidup mereka dimulai. Aku bangga memandangi
mereka yang punya semangat besar untuk belajar. Menghafal huruf demi huruf yang
disampaikan oleh Candra dan Widi setiap malam. Sementara Didik, ia mengajari
anak-anak itu mengaji setiap malam Kamis dan Sabtu. Aku yakin setiap usaha
pasti akan menuai hasil jika para pejuangnya selalu percaya. Tepat satu minggu kegiatan
itu berjalan, kami mendapatkan banyak bantuan dari warga sekitar. Mereka senang
dengan kegiatan yang kami laksanakan.
Seperti malam, jangan biarkan ia berlalu tanpa alasan.
Malam menghilang karena fajar akan menjadi pengganti gelapnya kehidupan. Begitu
pun kehidupan, hidup adalah sebuah kebahagiaan jika kita mau berjuang. Bukan
seberapa lama kita duduk dan mendiami langit malam dengan kumpulan bintang.
Tapi, seberapa mampu kita mengubah ruang yang gelap agar terlihat pancaran
cahaya terang. Bagiku, merasakan pendidikan tinggi adalah sebuah anugerah
Tuhan. Serta, mampu membantu mereka untuk merasakan hal yang sama adalah
kenikmatan. Aku bangga kini melihat Ihsan, Salma, Difa, Roni dan anak-anak
lainnya yang sudah bisa membaca.
Kini senyum manis pun mulai mengembang dari bibir mereka.
Karena aku sadar hidup mereka kini istimewa. Seperti istimewanya Candra, Didik,
dan Widi yang sudah mau berbagi dan menjadi pemuda penggagas pendidikan bagi
mereka. Sungguh hidup ini adalah anugerah. Anugerah terindah karena aku bisa
mengenal mereka dan menjalani hari berlalu bersama. Aku yakin pasti selalu ada
kesempatan baru untuk bisa tumbuh dan berkembang bagi mereka yang berusaha. Membuat
impian menjadi nyata dengan memanfaatkan kesempatan dalam menggapai segala cita
dan harapan.
NEGERI BERDARAH
Dengan segala kemurnian
hati, aku berdiri di sini. Memandangi barisan para pejuang yang berlari untuk
menegakkan keadilan yang tak mustahil adanya. Keadilan seperti apa? Mungkin
mereka menyebutnya kebijaksanaan. Kelompok yang tidak pernah letih menyongsong
hari esok. Meski sekedar membuka cakrawala yang sudah lama tertutup. Mereka
tumbuh seperti pohon beringin yang sangat menyejukkan. Laksana naungan
keteduhan akan bisingnya telinga dari teriakan kalimat sejahtera. Jika usaha
yang mereka lakukan tak berarti, hentikanlah.
Aku mendesah dalam
tanpa gerangan. Agaknya sangat tidak perlu untuk menertawakan kebodohan diri
sendiri. Disuguhi segala wejangan yang mereka sebut adalah pesta demokrasi.
Pemandangan apa yang terjadi? Mereka menerima itu semua dengan lapang dada,
manut-manut saja. Tiada usaha untuk menghilangkan keresahan yang sudah
turun-temurun diwariskan. Ibarat sebuah penyakit berbahaya, mereka menuruti
saja meski segalanya terlihat salah.
“Kenapa kamu diam Zet? Apakah
ada yang salah dengan negeri ini?” ujar Nisa yang datang mendekat sambil
menyodorkan dua buah buku yang aku pesan tiga hari yang lalu.
Aku terdiam, keningku berkerut
tak sempurna. Nisa tidak sadar dengan mental para pendendam yang terjajah sejak
jaman kerajaan. Lantas aku berpikir jika aksi itu adalah kesempatan untuk
meluapkan bakat akting yang terpendam, mungkin. Aku diam-diam menggolongkan
diri sebagai orang terdidik yang pandai memberi komentar. Rakyat terlalu polos
untuk dibodohi, karena memang sebagian dari mereka tidak mengerti. Mereka tidak
butuh obralan janji palsu yang seraya berubah menjadi kenangan hampa masa lalu.
Mereka takkan bisa menjadi sejahtera karena kebodohan yang masih mendera. Terlalu
naif bila mengatakan mereka bijaksana, belum ada bukti. Janji-janji itu masih
mengawang bak awan di langit senja. Sungguh masih jauh jika harus disandingkan
dengan kata bijaksana. Tumpukan masalah masih meraung berteriak bak macan lapar
di tengah hutan.
Maaf, itulah kata yang tersisa
tiap kali aku mengingatmu. Negeri dengan segala keistimewaan yang hingga kini
masih terjajah. Aku enggan menjadi manusia munafik yang terpaksa mengatakan
bila bangsa ini telah merdeka. Belum! Bangsa ini masih terjajah. Terjajah
dengan segala belitan hutang yang menyiksakan luka penduduknya. Betapa pun
banyak lisan yang mengatakan negeri ini merdeka, aku tidak percaya. Aku masih
menyaksikan mereka rela saling caci untuk mendapatkan apa yang mereka suka.
Mata ini sering menjadi saksi melihat sosok-sosok berdasi menjadi pemimpin yang
tamak. Seharusnya banyak sekali alasan yang bisa diucapkan untuk mewujudkan
kemerdekaan negeri ini. Tapi, itu semua sepertinya masih jauh dari harapanku.
Seperti Nisa yang berharap bahagia namun kegelapan datang melanda hidupnya.
“Sudahlah Zet, abaikan saja apa
yang menjadi inginmu. Itu hanya bayangan ilusi yang takkan pernah menjadi
kenyataan. Kau hanya butuh sedikit sikap realistis ketika berbicara tentang
negeri ini.”
“Kenapa Nisa? Kenapa? Kenapa aku
harus diam dan tertunduk lesu memandang segalanya dari negeri ini? Tidakkah aku
bisa memperjuangkan negeri berdarah ini?” suaraku mulai parau. Aku tidak ingin
sikap optimisku berkurang. Imajinasiku masih berharap negeri ini akan berubah.
Seperti setiap iklan televisi yang pernah aku tonton. Negeri ini bisa menjadi
negeri ternama di dunia.
“Kamu harus sadar Zet bahwa
segala apa yang kamu pikirkan tentang negeri ini sulit sekali terwujud. Cobalah
perhatikan deretan mobil mewah yang melaju kencang di ibukota, adakah mereka
memikirkan nasib kita? Tidak Zet, tidak! Mereka sibuk dengan urusan mereka
sendiri.” Dengan luapan emosi Nisa menuturkan itu di hadapanku.
“Kamu seharusnya sadar bahwa
negeri ini pantas mendapatkan julukan negeri berdarah Zet. Lihatlah nasib
penduduknya, jauh sekali dari sebutan sejahtera seperti janji-janji yang mereka
umbar ketika hendak duduk di kursi jabatan. Mereka hadir dengan wajah manis
menawarkan segala kenikmatan atas nama rakyat. Tapi nyatanya, dimana mereka
letakkan janji-janji mereka? Aku tidak habis pikir dengan tingkah mereka Zet,
aku terlalu kecewa.”
“Apakah kecewamu itu hingga
kini tidak terobati Nisa?” tanyaku datar masih dengan wajah antusias untuk
mendengarkan jawaban gadis manis itu.
“Ya, aku sungguh kecewa dengan
mereka semua. Aku tidak akan pernah menyebutnya INDONESIA jika di dalamnya
masih terdapat wajah-wajah rakus yang mengeruk segala kekayaan negeri ini untuk
mempertebal dompet mereka. Tidak akan Zet, tidak akan!” suara Nisa seperti letupan
peluru tajam yang terbang dan jatuh tepat sasaran.
Gumpalan embun mulai menghitam.
Tetes demi tetes air itu kemudian turun menghujam tubuh kami. Tubuhku terasa
lengket. Tak lama berselang, Nisa berlari meninggalkanku. Ia mencari tempat
yang teduh untuk berlindung dari cercaan hujan yang jatuh semakin deras. Aku
mengikuti langkah gemulai itu. Kemudian duduk dengan jarak tidak terlalu jauh.
Sepertinya Nisa benar dengan apa yang ia katakan di hadapanku tadi. Hujan ini
seolah menjadi saksi pembenaran kalimat-kalimat yang ia ungkapkan tadi. Bumi
pun seraya menangis. Negeri ini masih berdarah, negeri ini masih krisis. Negeri
ini masih rusak dengan kebiasaan mereka yang suka korupsi. Negeri ini masih berdarah
karena banyaknya penguasa yang tidak peduli dengan nasib warganya. Aku mencoba
menutup mataku, melupakan semua kisah pilu negeri ini. Meski benar, biarlah!
Negeri ini masih berdarah. Kelak aku akan hadir sebagai sosok pembangkit segala
kebusukan yang pernah ada. Aku akan hadir mengusap darah-darah liar itu. Aku
akan menjadi pemburu kemerdekaan yang kini masih terenggut.
MENEMBUS GARIS HITAM KEHIDUPAN
Pengalaman masa lalu mengajarkanku bagaimana bertahan.
Menatap kedepan bersama balutan asa yang masih tersisa. Menjalani hari berlalu
seperti biasa. Aku tidak ingin ada yang terluka. Biarlah kejadian yang telah
berlalu sebagai pelajaran dalam memaknai hidup. Bukankah berdamai dengan waktu
adalah hal terindah? Lantas, kenapa harus mempermasalahkan apa yang sudah
lewat? Di setiap waktu yang terus berdetak dengan lajunya, aku takut jiwa ini
terlalu gundah dalam memaknai hidup. Terlalu banyak waktu yang terlewatkan
dengan sia-sia. Mencoba terus meyakinkan diri bahwa sukses, derita, serta
segala pahitnya masa lalu itu sudah lewat dan tidak mungkin terulang. Aku terus
mencoba memotivasi diri, kegagalan itu adalah hal yang wajar. Ibarat ranting
yang tidak akan terpisahkan dari pohon yang masih berdiri tegak.
Ingatanku terus merongrong sejadi-jadinya, masih banyak
sekali hal yang aku ingat. Tentang cacian yang sudah lewat dan kulalui dengan
lapang dada. Aku mencoba menerima semuanya dengan dalih karena memang aku tak
mampu menghindari itu semua. Tentang hinaan yang sering aku terima dari mereka
ketika aku masih polos dan lugu menurut mereka. Terlalu banyak kenangan
berwarna hitam kelabu yang sudah aku rasakan. Lagi-lagi aku terdiam, mencoba
menenangkan diri dan meyakini bahwa itu adalah bagian dari proses kehidupan.
Tidak mungkin menghindari semuanya, itu adalah takdir Tuhan. Dibalik cercaan
yang dulu aku dapatkan, kini hadirlah sesosok manusia yang bisa diharapkan. Insan
yang memiliki masa depan cemerlang, kehidupannya diisi dengan segala hal yang
positif, tidak terlalu resah seperti mereka para penghina masa lalu.
Aku tertawa terbahak mengingat itu semua. Kejadian itu
bak cahaya yang tidak akan pernah padam. Jujur aku tidak membenci mereka, hanya
saja aku tidak suka dengan tingkah laku yang mereka layangkan dulu terhadapku. Laksana
pijar sinar mentari yang tidak pernah padam, selalu hadir setiap fajar
menjelang. Begitulah benih kebencian itu datang mendekat, meniupkan kembali
lara yang pernah ada. Meski itu sudah berlalu, namun aku masih merasakan sakit
yang amat sangat di lubuk hatiku terdalam. Meski kini langkah indah sudah mampu
aku ciptakan. Keluar dari batas hitam kehidupan yang dulu pernah menganga penuh
jeritan. Jeritan duka akan perihnya cobaan hidup yang mungkin memang harus aku
rasakan.
Huh, masa bodoh dengan segala tindakan mereka. Kini aku
berdiri di garis putih kehidupan yang telah Tuhan goreskan. Aku berdiri di
bawah kuasa Tuhan. Aku memiliki pendidikan yang lebih baik dari mereka, itu
adalah suatu kebanggaan. Meski dulu pernah terpojokkan dengan segala tindakan
mereka. Biarlah itu berlalu, aku sudah ikhlas segalanya terjadi. Sekat hitam
itu kini sudah aku hapuskan. Biarlah mereka berlalu dengan segala keusilan dan
perbuatan kurang terpuji itu. Aku yakin bahwa Tuhan maha adil. Jika dulu aku
tersudutkan dengan hinaan mereka, kini semua berbanding terbalik. Aku masih
percaya hukum aksi reaksi alam semesta.
“Kau kenapa Diwa? Kenapa harus mengungkit masa lalu yang
telah lewat?” Idham menodongku dengan pertanyaan singkat. Ia adalah teman
baikku yang selalu hadir menemani setiap senyum maupun sedih perjalanan
hidupku. Seperti Frand yang tidak pernah absen terus memotivasi dan menguatkan
setiap langkah ketika semangat itu mulai pudar. Mereka selalu ada untuk
mengayun langkah kepastian hidup yang akan terus berputar. Mengajarkan banyak
makna dalam setiap kejadian serta hikmah di balik setiap cobaan.
“Aku baik-baik saja Idham, hanya saja di senja ini aku
teringat beberapa kejadian memilukan yang dulu pernah aku rasakan. Kau tahu
bukan bagaimana sakitnya ketika terjatuh dalam langkah yang sudah bulat serta
tekad yang tak tergoyahkan? Tapi, di balik itu semua ternyata ada kehendak lain
dari Tuhan yang tidak bisa kita hindarkan.”
“Kejadian memilukan? Sakitnya ketika terjatuh? Maksudmu?
Aku tidak paham dengan jalan perkataanmu Diwa, sungguh!”
“Tidakkah kau ingat bagaimana masa laluku yang begitu
kelam? Hadir dengan sejuta cercaan yang hampir setiap hari aku alami. Mereka
menghinaku bahkan mempermalukanku di depan banyak orang Idham. Sungguh sakit
itu masih berbekas hingga kini. Hinaan, ocehan mereka juga yang membuatku
seperti sekarang.”
“Mereka? Siapa mereka yang kau maksudkan?” Idham masih
terlihat penasaran dengan apa yang baru aku tuturkan padanya. Aku terdiam,
enggan melanjutkan apa yang ia tanyakan. Aku yakin bahwa sekuat apapun berjuang
dalam jalan yang salah, itu semua akan berakhir. Kebaikan akan selalu hadir
setelah banyaknya kebohongan yang terungkap. Hingga kini aku bersyukur dapat
bertahan dari terjangan arus yang pernah hampir membunuhku. Bertahan dari sikap
hidup yang menyerah karena hinaan sekelompok orang yang sudah tidak aku ketahui
dimana mereka kini berada. Berjuang demi menegakkan keyakinan moral yang sempat
tertindas dengan segala peluh yang dulu terurai di depan mereka.
“Sudahlah Diwa, kau harus berdamai dengan segala keadaan
yang dulu pernah menyisihkanmu. Relakan apa yang sudah terjadi, jangan kau
ungkit kembali gumpalan noktah hitam yang dulu menyakitimu. Berdamailah dengan
segala kebencian yang menggerogoti jiwamu,” ungkap Frand di sela-sela aku
menghirup udara lepas tanpa ada lagi sekat dan sesak yang tersisa. Frand, sosok
yang mengerti bagaimana harus berbuat dan menyikapi segala kepedihan itu. Ia
hadir dengan tawaran bahwa masa depan tidak bergantung pada masa lalu yang
kelam. Masa depan masih bisa diperjuangkan.
Ya, aku berterima kasih kepada mereka yang dulu sudah
mengucilkanku. Menjadikanku buronan untuk meluapkan segala emosi dan sumpah serapah
yang mereka punya. Mungkin jika itu tidak terjadi, aku tidak bisa menjadi
manusia seperti sekarang. Senja ini aku memeluk erat dekapan langkahku. Aku
tidak akan mundur untuk melintasi batas hitam itu. Ruangan kecil mungil ini
akan menjadi saksi segala langkah menggapai asa. Bahkan, sepeda tua itu adalah
teman setiaku menempuh segala asa.
MEMORI SENJA AKHIR NOVEMBER
Subuh terasa
begitu hening, fajar menyingsing ketika terdengar sahut kokok ayam satu sama
lain. Malam sudah berlalu bersama hilangnya cahaya kelip bintang dan ocehan
rembulan yang tak bergeming. Seketika hening sempurna datang memeluk. Tidak ada
suara sahut kokok ayam, terdiam. Fajar itu kemudian redup, seperti dibasahi
embun pagi, yang kemudian redup karena rindu datang mendekat, mengetuk seluruh
bagian kehidupan. Kita bisa apa?
Aku masih simpan semua keping kenangan yang kau punya.
Ketika manis senyum sederhana hinggap dan memberiku banyak makna untuk hidup.
Tentang kisah klasik penuh bahagia ketika jemari kita masih menggenggam erat.
Saat hujan datang, dan kuberikan jaket untuk melindungi tubuh cantikmu Jinggaku. Kenapa rindu datang menggilas dinding kokoh yang
pernah ada? Kemudian kau hancurkan semua relung berisi sejuta ingatan
tentang kita. Tentang senyum sederhana bahagia yang
terpikat dalam setiap derap langkah. Menyusuri liku perjalanan yang masih
panjang kemudian kita terhenti sejenak. Masih aku ingat, saat alunan lagu indah
itu mengudara di dalam mimpimu, membawamu terbang jauh, hingga kau sadar
pelukan-pelukan manja masih kau dapatkan. Tentang belai-belai manja setiap aku
duduk terdiam meski tidak sesengukan di depanmu. Ketika gumpal tebal ingatan
datang menyapamu untuk mengetuk tawa lepas dari mulutku. Haruskah terkujur
kaku? Kemudian inikah yang kau beri nama rindu?
Kita seperti mendaki anak tangga, aku selalu memberikanmu
ruang pertama untuk melengkapi kepingan tangga kecil itu hingga kau bisa
tertawa. Kemudian kita duduk manis saling menenangkan dan berkata bahwa bahagia
itu milik kita. Kabut hujan tiba-tiba menyingkir, reda itu kemudian hadir. Berpetualang
dengan rengekan kata tulus tuk menikmati indah senyum mulus. Seperti itulah
hakikat cinta, berteman dengan penuh kehangatan, meski jauh jarak menjadi sekat
batas yang nyata. Sudah tiada lagi kebencian, waktulah yang kini menjadi
penenang segala ingatan. Kau itu sungguh istimewa, punya seribu alasan untuk
selalu bisa tersenyum manis di depan manusia. Cobaan itu menjadikanmu kuat,
berjalan mendaki hidup penuh harap. Tuhan punya banyak cara menjadikanmu
manusia luar biasa bukan? Kenapa kau harus malu? Mengalihkan segala apa yang
kita punya dan terjebak dalam satu nuansa tak terkira.
Jika kau masih saja malu, biarkan aku menuntunmu
berjalan. Melaju menjalani indahnya hidup dengan segala kesederhanaan yang kita
punya. Jangan bersembunyi Jingga, mari berkata jujur dengan apa yang kita punya. Tentang
alasan kenapa kita bertahan, lalu ketakutanmu itu hilang perlahan. Tentang
tugas yang kita punya, untuk saling menjaga dan mengemas rasa yang pernah ada. Tentang
lekuk senyum mesra yang dahulu kau berikan. Tentang derap langkahmu yang
terkadang membingungkan. Tak usah kau ragu, melangkahlah maju ke depan. Berhentilah
untuk bertapi-tapi, temani aku berjalan tanpa berjika-jika. Kita perlu
menikmati segala apa yang kita punya tanpa perlu berandai-andai. Dunia ini akan
lebih baik ketika tanpa rasa takut…
“Senja datang tanpa diundang, pagi pergi tanpa permisi.” Itulah kalimat yang sering kau ungkapkan. Saat hatimu
penuh gemuruh dan terasa sesak akan kecemasan dan genggam tangan yang tak lagi
erat. Ketika satu persatu menjauh tanpa suara peluh. Tidak mampu seperti dulu
di saat kita bisa saling kejar. Seperti tak pernah henti memberikan kejut
senyum menyenangkan. Tentang rasa yang berlebih ketika kita sudah mulai
tersisih dengan waktu dan kesenangan yang memilukan. Meski terkadang seperti
bersembunyi, namun aku mengagumimu dalam-dalam. Tidak
terkira betapa besar asa yang pernah hadir, meski itu dulu. Ketika berdekatan,
kau laksana putri malu tertutup pesonamu yang menggiurkan.
Entah kenapa dengan
memperhatikanmu selalu bisa membuatku bahagia. Tersenyum lepas tanpa beban di
pundak yang dulu sering kau jadikan sandaran saat kau lelah. Bertanyalah
sejenak, aku akan menjawab dengan penuh harap. Perasaan hatimu yang penuh rona, kan kuhadiahi mahkota cinta. Izinkan aku memelukmu erat seperti dulu. Mengalir tanpa
luka dan lara yang pernah ada. Ketika deritamu sudah tidak lagi berbekas. Sapalah
dengan manis wahai Jinggaku, jadikan dirimu
sesosok manusia penuh empati tak berduri. Menerima dengan baik segala yang
tersurat dan melangkah dengan hati yang terarah.
Senja selalu istimewa dengan
hadirmu. Seperti dulu ketika senja ditemani rintik hujan tak berdebu. Kau
pegang tanganku ketika malam menyapamu. Tentang bintang gemintang yang
diam-diam memperhatikan gerak-gerikmu. Rembulan pun malu menyapamu, ia seperti
cemburu. Tak kuasa menatap mata indahmu malam itu. Suara dering ponselmu
menyadarkanku, malam telah larut,
aku
harus mengantarkanmu kembali. Ditemani kilauan lampu lampion, kau pamit dan
berkata “Aku senang bisa mengenalmu.”
“Kau kenapa Rayyan, ada apa denganmu? Kelihatan murung
sekali wajahmu,” tiba-tiba suara Arin mengagetkanku yang sedang duduk di balkon
rumah susun senja itu.
“Tidak Arin, aku sedang mengingat kenanganku dengan
Jingga. Sosok wanita terbaik yang pernah hadir dalam mimpi dan kenangan hidup
panjangku. Resah menikam ulu hatiku ini terasa begitu perih Rin. Ketika
mengingatnya, senyumnya, dan semua yang indah dalam memoriku tentang dia.”
Arin terdiam, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
Duduk, berdiri, kemudian mondar-mandir dengan kepala dipenuhi kecemasan. Ia termangu
dalam lisan yang tidak bisa berkata-kata.
Terhitung akhir tahun lalu kau terakhir menghubungiku
Jingga. Entahlah, apa sebenarnya kini yang sedang aku alami. Tapi aku tersadar,
aku masih menantikan sapa manismu di sini. Layangan kabar
bahwa kau dalam keadaan baik di sana. Memberitahuku apa
yang sedang kau lakukan sambil sesekali mendengar suaramu tertawa akan masa
lalu yang pernah membawa kita terbang jauh mengudara penuh rasa bahagia. Aku
yakin, kesedihanku akan sirna jika senyum manismu kau berikan Jingga. Izinkan air mataku sirna sejenak ketika mengenangmu seraya
meluapkan rasa penuh harap bahwa kau akan tetap tersenyum untukku Jingga.
Selamat menempuh hidup baru sayang…
Langganan:
Postingan (Atom)
Tentang Pulang
Pulang bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan batin yang penuh makna. Pulang adalah kata yang menyentuh hati, membawa kita kem...
-
Diplomasi ekonomi sebagai proses formulasi dan negosiasi kebijakan yang berkaitan dengan kegiatan produksi, pertukaran barang, jasa, tenaga ...
-
Semesta tak bisa berkata banyak saat matahari tak menampakkan diri di pagi hari. Ia seakan mengerti bahwa rindu akanmu butuh perpanjangan du...
-
Di sini sy akan sedikit berbagi tentang program yang kemarin sy ikuti di India. Terlepas dari kewajiban moral karena diminta langsung ol...
-
Menjadi pribadi yang lebih tenang adalah perjalanan yang memerlukan kesabaran dan perhatian pada diri sendiri. Tenang bukan berarti tidak ...
-
Pulang bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan batin yang penuh makna. Pulang adalah kata yang menyentuh hati, membawa kita kem...
-
Eh, gimana rasanya merantau? Seneng terus ya? Pasti gak banyak yang ngepoin hidup lo kan? Maksudnya hidup lo lebih bebas tanpa setumpuk atur...
-
Negosiasi merupakan suatu proses komunikasi dimana terdapat dua pihak dengan sudut pandang yang berbeda yang berusaha menyamakan persepsi da...