Rabu, 29 April 2015

Memori Setahun Silam

Kau tahu, hari ini adalah hari dimana tepat setahun sidang skripsiku sudah berlalu.
Kau tahu, hari ini adalah hari yang susah untukku.
Kau tahu, ucapanmu dulu masih aku simpan baik-baik dalam hatiku
Kau tahu, di sudut rinduku, ada wajahmu. Bagaimana aku bisa menghapusnya?
Kau tahu, saat aku menuliskan tulisanku ini, segenap angan mungkin melayang
Memikirkan sedikit retakan rindu yang dulu selalu kau utarakan padaku
Jika kau kini sudah bahagia, biarlah. Aku masih berusaha menjadi lelaki yang pantas
Lelaki yang pantas untuk kau rindukan dan panggil dengan panggilan yang tak lagi sama
Saat kau tak lagi ingat akan kisah kita. Biarlah, biarkan ia usang ditelan masa.
Tapi, biarlahkan juga aku memelihara dengan baik rasa ini
Seperti yang aku katakan tadi, aku ingin belajar lebih baik lagi
Memantaskan diri menjadi lelaki yang bisa kau banggakan...
Huh, saat-saat mendebarkan itu, kau datang dengan seribu embun menghapus cemasku
Lalu kau ungkapkan bahwa ujian skripsi itu akan berlalu
Dan, kau tak lupa ingatkan aku untuk menyebut nama Tuhan kita sebelum masuk
Sekarang kau dimana? Bolehkah aku merindu?
Jika pun tak boleh, aku sudah biasa, akan terbiasa dan harus terbiasa tanpamu.
Setahun yang lalu, pertama kalinya kau berkata "Aku bisa mengalahkanmu"
Aku ingin tertawa, kau berubah jauh. Tanpa sempat aku membaca semuanya berlalu.
Angin sampaikan padanya nyawa cinta, aku bukan apa-apa tanpa hadirnya
Bulan, terangi malamnya, temani tidur dan lelap mimpinya
Bintang, jangan biarkan dia sendiri seperti dulu saat aku melukainya.
Tuhan, dalam rinduku, ada wajahnya yang teduh
Tak kuasa aku menghunus rasa yang tersisa
Inikah dosa?
Tuhan, dalam rinduku ada wajahnya, bolehkan aku berdo'a untuknya?
Tuhan, dalam sujudku, aku merindunya
Jika pun tak boleh, biarkan rasa ini tetap ada.
Wajahnya, senyumnya, bayangannya, akan selalu teduh untuk jiwa ini.

(Catatan Jingga Senja Memori Desember Before Januari)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sebuah Kisah Kilas Balik

Ada seorang anak yang hidup di desa dan tinggal bersama keenam saudaranya. Anak laki-laki ini amat berbeda. Ia dibesarkan dengan lingkunga...