Not all open doors are for us to enter, not all roads are for us to walk on, not all chances are for us to grab. At times, it’s a test of wisdom, a test if we know ourselves, and a test to know our values and principles. Life can be happier and less stressful if we remember one simple thought, we can’t have all that we desire, but God will give us all that we deserve. The sun did not rise and shine to interrupt your sleep, but to remind you that it is another beautiful day to make a difference and be ready to shine as well. Happy Sunday everyone. Stay blessed with the most loving people around ya :)
Jika bisa bermanfaat di usia muda, lalu mengapa menunggu tua? Kita adalah apa yang kita kerjakan, kita dengarkan, dan kita katakan berulang-ulang. Don't be same, be better! Blog ini berisi mengenai keilmuan HI, motivasi perjalanan hidup, pengalaman, dan tulisan cerpen. Semoga bermanfaat.
Sabtu, 03 Februari 2018
Why travel alone?
Why travel alone? Solo travel can be the ultimate in self indulgence, you can rest when you want and pour it on when you are feeling ambitious. Another benefit is that your mistakes are your own, and your triumphs all the more exciting. There is no worrying that your insistence on trekking all the way across town to a museum that was closed ruined your partner’s day; it’s your own day to salvage or chalk up to a learning experience.
Jadi, itulah alasan kenapa gue lebih suka pergi sendirian. Bukan karena lebih asyik sendiri. Seru itu bersama-sama sesungguhnya. Tapi kadang dengan pergi bersama bukan dapat momen malah saling menunggu, menyalahkan, hingga kehilangan feel buat menikmati view selama jalan-jalan. Pergi sendiri juga adalah ujian agar menunjukkan sejauh mana kita bisa kuat berjalan. Yang dulu gue juga pernah pergi sendirian ke luar negeri, dan itu lebih excited plus menyenangkan. Ketika gue salah, ya gue sadar diri dan itulah kesempatan untuk memperbaiki kesalahan. Alasan lain kenapa males pergi bareng karena bakal rempong, entah mengenai alat bawaan selama jalan-jalan,atau destinasi dan tempat makan. Jadi, gue tetap asyik buat ngejalanin apa yang gue percaya seorang diri.
Bahkan kadang kata orang gue anti sosialis. Whatever people said, gue tetap nyaman dengan menjadi diri gue sendiri. Sebab dengan jalan sendiri, gue bisa fokus, tidak bergantung diri dan menjadi apa yang gue mau. Dan gue masih percaya, bahwa jalan seorang diri itu selalu challenging dan menyenangkan. As always.
Kamis, 01 Februari 2018
Yuk, Sebentar Cek Kualitas Diri Kita
Pernahkah Anda berpikir apa sebenarnya tujuan penciptaan manusia di muka
bumi ini? dalam beberapa kesempatan, saya diberi tahu oleh rekan bahwa hidup di
dunia ini tidak ada arti apa-apa dihadapan Allah meski diibaratkan dengan
seekor nyamuk. Dari waktu ke waktu yang kita jalani hingga seseorang misal
tutup usia di umur 63 (usia rata-rata manusia jika melihat usia wafatnya
Rasul), itu hanya untuk menunjukkan di antara manusia, siapa yang paling baik
amalnya. Dalam tuntunan hidup kita tahu bahwa setiap kita akan merasakan
kematian dan hanya kepada Allah-lah kita semua akan dikembalikan.
Firman Allah; Apakah kamu puas dengan kehidupan dunia sebagai pengganti
kehidupan akhirat? Padahal kenikmatan kehidupan dunia jika dibandingkan dengan
kehidupan akhirat hanya sedikit sekali (At-Taubah: 38). Firman Allah yang lain;
satu hari di sisi Allah itu sama dengan seribu tahun dengan yang kita hitung.
Berarti kalau usia kita 60 tahun, itu hanya 1,5 jam di sisi Allah. Lalu apakah
untuk mempertahankan 1,5 itu kita rela menggadaikan kehidupan di dunia? Ada
yang menjual diri untuk bertahan hidup, ada yang korupsi buat bisa bertahan
hidup, ada yang saling sikut kanan kiri untuk mendapatkan kekuasaan demi uang
untuk bisa bertahan hidup, ada yang saling bunuh demi bertahan hidup, ada yang
saling sogok demi cita-cita yang katanya demi mendapatkan uang untuk bertahan
hidup. Pun, juga ada yang menghardik orang lain, mendzalimi orang lain,
mengambil hak orang lain, menindas orang lain, mengutuk yang terlihat kecil dan
lemah untuk bertahan hidup. Menghalalkan segala cara demi mengumpul rupiah demi
rupiah demi bertahan hidup. Dimana letak akal manusia?
Bukankah kehidupan dunia ini adalah sendau gurau belaka, sedang kehidupan
akhirat adalah lebih baik jika kita bertakwa. Cobalah bayangkan, misal masuk
polisi atau PNS kemudian saling menyogok dan disogok. Kembali ke hadist Rasul:
Setiap yang melakukan perbuat menyogok dan disogok itu masuk neraka, baik
pelaku, saksinya, orang yang memfasilitasinya, dan setiap yang menyaksikannya.
Kalau kita sadar uang yang kita dapat dan kita terima adalah untuk nafkah
hidup, bagaimana mungkin kita kuat untuk hidup dengan uang panas, yang kemudian
itu kita berikan untuk orang terbaik kita, keluarga kita, anak istri misalnya.
Lalu kemudian dari uang panas itu menjadi darah dan daging anak cucu yang
kemudian terus putar dan berputar. Padahal, apa kata Allah: Yang menciptakan
mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapakah yang baik akhlaknya? (AL-Mulk:2).
Ada lagi yang menjual diri dan kehormatan demi makan dan demi bertahan
hidup. Inalilahi. Bukankah kata Allah setiap kita sudah dijamin rizkinya,
bahkan hewan melata pun sudah dipastikan makannya oleh Allah. Sudah habiskan
stok akal sehat kita, hingga bahkan untuk sekedar bisa makan saja harus menjual
kehormatan. Ini dunia kata Allah cuma 1,5 jam di sisiNya. Dan untuk
mempertahankan 1,5 jam yang kita hitung sekitar 60 tahun itu, kita rela
menghalalkan segala cara untuk sekedar terlihat kaya, terlihat mewah, berada,
hingga bahkan ada dan tak jarang yang menghalalkan segala cara untuk bisa
bertahan hidup. Kemudian kata Rasul; tidak akan beranjak langkah seseorang
ketika ia meninggal hingga ditanya hartanya dari mana didapat dan untuk apa
dihabiskan. Ilmunya dari mana ia dapatkan dan untuk apa diamalkan. Tentang
umurnya untuk apa dihabiskan, serta tentang tubuhnya untuk apa ia gunakan.
Kuat nggak membayangkan, misal ditanya; kamu dapat harta dari mana kok bisa
kaya? Terus kita jawab, ini hasil korupsi. Korupsi uang E-KTP. Korupsi uang
penelitian, korupsi uang pendidikan di daerah terpencil, korupsi uang SPP
mahasiswa. Korupsi uang pembangunan gedung kampus. Untuk apa kamu habiskan
harta kamu? Untuk menyogok anak saya masuk polisi, untuk menyogok anak saya
masuk PNS, untuk menyogok anak saya masuk dokter, untuk menyogok anak saya
masuk tentara, untuk menyogok anak saya agar lolos di kampus ternama. Yakin
nggak ngeri membayangkan itu semua?
Buat apa kaya, hidup bergelimang harta kalo itu hasil jual diri, hasil
korupsi, hasil mengambil hak dari keringat orang lain, hasil belot depan
belakang, hasil sikut kanan kiri. Sedang semua tingkah laku dan apa yang kita
kerjakan kelak akan dipertanggung jawabkan. Yang jadi bawahan kelak akan
ditanyai akan tanggung jawabnya. Yang jadi pemimpin kelak akan diminta tanggung
jawabnya. Yang jadi bos, yang jadi OB, yang jadi security, yang jadi dosen,
yang PNS, yang polisi, yang dokter, yang semua mua akan diminta tanggung
jawabnya dihadapan Allah. Lalu apakah untuk melewati kehidupan dunia ini harus
menghalalkan segala cara? Cukup jelas didalam Al-Qur'an. Kebaikan sekecil biji
atom pun akan dibalas, juga keburukan dan kejelekan sikecil biji atom pun akan
mendapat ganjaran.
Yuk buka mata, ajak logika dan hati untuk berpikir lebih jernih untuk
memaknai hidup. Sederhana bahagia dan halal akan lebih baik daripada serba tapi
hasil tikung menikung, belot membelot, dan sikut menyikut kanan diri depan
belakang, atas bawah. *Tulisan ini tidak ingin menyudutkan siapa pun, tapi
sebagai pengingat diri sendiri, juga orang-orang yang berkenan membacanya.
Selamat bergembira di Jum'ah Berkah semuanya.
Rabu, 31 Januari 2018
Jika Tiadamu, Takkan Ada Yang Lain
Berulang kali aku berhenti dan memandang sekitar, bertemu dengan banyak
jiwa yang kemudian menjadi orang begitu baik.
Berulang kali aku diam dan tanpa kata memikirkan semua, sebab karenamu aku
bisa. Lalu, jika tanpamu, maka tidak akan ada yang lain.
Berulang kali aku berusaha sabar, menantimu kembali dan baik seperti yang
dulu kau lakukan. Tapi tidak, kau justru hilang. Maka, jika tanpamu, takkan
pernah ada yang lain.
Berulang kali aku merasakan, kau tak sungguh ingin menetap, namun dirimu
juga tidak benar-benar ingin pergi jauh. Sudah aku katakana sebelumnya, jika
tiadamu, tak akan pernah ada yang lain.
Harus berulang kali juga kah aku memastikan, bahwa jiwa ini hanya milik
Tuhan. Pribadi ini bukan untukmu, bukan juga milikmu. Aku adalah milik Tuhan,
kau pasti tahu itu.
I’m not yours, you not mine. We belong to Allah…
Sebab, saat senja datang kau pergi. Kala malam tiba, engkau hilang. Aku harus
bagaimana berkata. Haruskah aku katakan segalanya?
Sebab kala bintang terang, kau redup. Saat jiwaku bahagia dan sudah
menerima semua, kau kembali mendekat dan bertanya kenapa.
Jika begini, aku harus bagaimana? Mengapa setiap detik detak jiwaku seperti
salah.
Baiklah, aku akan mengakui bahwa aku tanpa hadirmu adalah tiada. Aku tanpa
wujudmu adalah sirna, dan aku tanpa segalamu adalah buta. Sebab, karenamu aku
bahagia, dengan tatapan mataku aku ada. Karenamu segalaku menjadi berwarna.
Aku ingin mengakui bahwa aku tanpamu adalah bukan siapa-siapa. Maka,
terimalah pengakuan, bahwa jika tiadamu, maka tidak akan pernah ada yang lain. Karena
kamu adalah bahagia. Semesta dan segala-galanya dalam lintas hidup dunia pagi
siang dalam senja juga malamku. Ya, aku tanpamu dan tiadamu, maka tidak akan
ada yang lain.
(Awal Bulan Februari)
(Awal Bulan Februari)
Selasa, 30 Januari 2018
Rindu
Malam ini aku rindu, amat sangat rindu.
Bagaimana bertemu sedang kau jauh tak bisa kuraih dalam mimpiku.
Lekaslah datang dan kembali padaku duhai purnamaku.
Kaulah obat lelah dan sumber tawa dalam hidupku.
Rindu, aku rindu kamu, sangat rindu. Setengah mati, aku rinduimu.
Istirahatlah dalam lelap, semoga bertemu di dunia malam.
Kau, selalu menjadi obat terbaik untuk menjadi lebih baik.
Sebab, kaulah segala-galanya bagiku, jiwa dan nafasku.
Kau, hidup dan matiku.
Anugerah terindah dalam hidupku.
Kamu, ijinkan aku merinduimu.
Jiwa dan hatiku untukmu kasihku.
Bagaimana bertemu sedang kau jauh tak bisa kuraih dalam mimpiku.
Lekaslah datang dan kembali padaku duhai purnamaku.
Kaulah obat lelah dan sumber tawa dalam hidupku.
Rindu, aku rindu kamu, sangat rindu. Setengah mati, aku rinduimu.
Istirahatlah dalam lelap, semoga bertemu di dunia malam.
Kau, selalu menjadi obat terbaik untuk menjadi lebih baik.
Sebab, kaulah segala-galanya bagiku, jiwa dan nafasku.
Kau, hidup dan matiku.
Anugerah terindah dalam hidupku.
Kamu, ijinkan aku merinduimu.
Jiwa dan hatiku untukmu kasihku.
Genggam atau Lepaskan
Jangan memperpanjang rasa sakit dengan terus menerus mengenang sesuatu yang
melukai. Rasa sakit itu mungkin takkan pernah hilang, bahkan ia akan menjelma
menjadi luka yang tak lekang, andai terus dipelihara dalam kenang. Cobalah untuk
mengabaikan sekuat yang kau bisa, sekuat yang kau mampu, hingga kenangan itu
hanya tinggal bak sebutir debu.
Logikamu tak pernah lelah apalagi kalah. Meski kadang aku merasa jijik
dengan apa yang kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri. Lepaskan atau genggam.
Aku berjanji, perlahan. Sebab Tuhan tahu, di tempat mana aku bisa menjadi
pribadi yang lebih baik.
Kelak kan kau kenang dan kau rindukan
aku, sebagai sesuatu yang tak kau temukan pada diri orang lain. Kelak kau akan
merindukan aku, sebagai sesuatu yang kau jadikan satu-satunya alasan bagimu
untuk tersenyum. Kelak, kau akan rindukan itu.
Minggu, 28 Januari 2018
Teman Menuju Peristirahatan Terakhir
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim di dalam kitab
shahihnya dari hadits Dari Anas bin
Malik RA bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda "Mayit itu diikuti oleh tiga
golongan, akan kembali dua golongan dan satu golongan akan tetap menemaninya,
dia akan diikuti oleh keluarganya, hartanya dan amalnya. Maka keluarga dan
hartanya akan kembali pulang sementara amalnya akan tetap menemaninya”.
Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan
anak anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang membuat
demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.. (QS. Al-Munafiqun: 9).
Diriwayatkan Al-Hakim di dalam Al-Mustadrok dari hadits
Sahl bin Sa’d bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Jibril datang kepada Nabi
Muhammad SAW dan berkata: Wahai Muhammad hiduplah sekehendakmu sebab engkau
padsti akan mati, cintailah siapa yang engkau kehendaki sebab engkau akan
meninggalkannya, dan berbuatlah apa yang engkau kehendaki sebab engkau akan
mendapat balasannya, kemudian dia berkata: Wahai Muhamad kemulian seorang
mu’min ada pada saat qiyamullail dan ketinggiannya pada ketidakbutuhannya pada
manusia”.
Adapun teman pertama adalah keluarga, maka keluarga tidak
akan memberikan manfaat apapun baginya setelah kematiannya kecuali orang yang
memintakan ampun baginya dan berdo’a baginya seperti apa yang telah disebutkan
sebelumnya. Bisa jadi keluarganya tidak berdo’a baginya, sebab bisa jadi orang
lain yang lebih jauh, lebih memberikan manfaat bagi keluarganya, sebagaimana
yang pernah diungkapkan oleh orang-orang shaleh: Keluargamu sibuk membagi
warisan yang telah engkau tinggalkan, sementara ada orang lain yang bersedih
dengan kematianmu dan berdo’a untukmu pada saat dirimu berada di antara
himpitan lubang-lubang dalam tanah, dan di antara keluarga itu ada yang menjadi
musuh bagimu.
Adapun teman yang kedua adalah harta, maka dia tidak
mengikuti pemiliknya dan tidak pula masuk ke dalam kuburnya, dan kembalinya
harta tersebut sebagai kalimat kiasan bahwa harta itu tidak menemani pemiliknya
di dalam kuburnya dan tidak masuk ke dalam liang kubur pemiliknya.
Diriwayatkan oleh Muslim dari hadits Abi Hurairah RA
bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: Anak Adam berkata: Hartaku, hartaku, Allah
berfirman: Apakah engkau memiliki harta wahai anak Adam kecuali apa yang engkau
telah makan dan habis, atau engkau pakai lalu rusak, atau engkau sedekahkan
lalu engkau berlalu membawanya dan apa-apa selain itu maka dia pergi dan
ditinggalkan untuk orang lain”.
Adapun teman yang ketiga: Dia adalah amal yang mengikuti
pemiliknya ke dalam kubur dan hidup bersamanya dalam kubur tersebut, dia
bersamanya pada saat dibangkitkan
menghadap Allah SWT. Amal itu menyertainya pada saat dikumpulkan di
padang mahsyar, di atas shirot, pada saat ditimbang dan dengan amal itu pula
seseorang akan memperoleh tingkat kedudukannya di surga atau di neraka.
Wallahu'alam Bishawab :)
Langganan:
Postingan (Atom)
Tentang Pulang
Pulang bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan batin yang penuh makna. Pulang adalah kata yang menyentuh hati, membawa kita kem...
-
Semesta tak bisa berkata banyak saat matahari tak menampakkan diri di pagi hari. Ia seakan mengerti bahwa rindu akanmu butuh perpanjangan du...
-
Diplomasi ekonomi sebagai proses formulasi dan negosiasi kebijakan yang berkaitan dengan kegiatan produksi, pertukaran barang, jasa, tenaga ...
-
Di sini sy akan sedikit berbagi tentang program yang kemarin sy ikuti di India. Terlepas dari kewajiban moral karena diminta langsung ol...
-
Berdua saja, jangan bertiga. Sebab, sendiri adalah sepi, berdua itu bahagia. Namun, bertiga adalah luka. Pernah gak lo denger orang yang ...
-
Pulang bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan batin yang penuh makna. Pulang adalah kata yang menyentuh hati, membawa kita kem...
-
Menjadi pribadi yang lebih tenang adalah perjalanan yang memerlukan kesabaran dan perhatian pada diri sendiri. Tenang bukan berarti tidak ...
-
Eh, gimana rasanya merantau? Seneng terus ya? Pasti gak banyak yang ngepoin hidup lo kan? Maksudnya hidup lo lebih bebas tanpa setumpuk atur...