Sabtu, 07 Mei 2016

Jodoh?

"Dia, meski kau jaga dengan sepenuh jiwa, kalau kata Allah tak berjodoh, akan pisah juga. Dia, meski belum pernah bertatap muka, kalau kata Allah jodoh, akan bersama juga."
"Jodoh itu cerminan dari dirimu sendiri. Jika tidak, bisa jadi, jodoh adalah pelengkapmu."
"Jodoh itu seperti buku, setiap lembarnya selalu mengundang pembaca untuk jatuh cinta. Membaca lembar demi lembar akan menimbulkan kasih sayang dan kesetiaan yang terikat kuat. Jika memang jodoh itu seperti buku, maka takkan pernah aku lelah untu memanti, memikirkan, dan mengulang untuk membaca lembar demi lembarnya. Jodoh itu nyata."

Bukankah jodoh itu selalu istimewa, sesuatu yang selalu ingin dan hangat untuk kita bicarakan. Berbicara tentang jodoh, pasti mengundang gelak tawa geli dan haru karena kadang membayangkan apa yang akan terjadi, bagaimana kisah saat masing-masing kita bertemu dengan jodoh pilihan Tuhan, seperti menerka-nerka sesuatu yang tak pasti namun kita harapkan. Jodoh itu istimewa bukan?
Jika benar jodoh itu istimewa, lantas kenapa harus selalu laporan, ini bukan hubungan yang dilarang Tuhan kan? Seharusnya masing-masing dari kita menyibukkan diri dengan menyusun langkah dan strategi agar karir bagus, berwawasan luas, berakhlak baik, dan terus memperbaiki diri. Jika memang jodoh, tidak perlu harus ada prasangka yang tak baik kan? Kalau harus bentar-bentar laporan, itu bukan jodoh namanya, tapi lagi menjalani hubungan dengan satpam. Lima menit sekali lapor, lima menit sekali lapor, lima menit sekali lapor. Lapor kalau lagi jalan, lapor kalau lagi makan, lapor kalau mau tidur. Seperti itukah jodoh yang sebenarnya?

Masing-masing kita punya hati kecil, dan mungkin logika kita sudah mengalahkan apa kata hati. Bukan justru melakukan yang terbaik berdasarkan keputusan dan isntruksi hati, alih-alih malah baper. Bentar-bentar bawa perasaan, sedih, galau,tidak ada kabar, tidak ada kepastian, begitu? Saya pribadi kok kayaknya tidak bisa menjalankan hal-hal yang terlihat begitu rumit. Saya justru cuek, memang bawaan dari lahir kadang ya, jadi bagi saya kalau sudah nikah, baru mulai masuk dimana memang seperti ada kewajiban saling tahu kabar satu sama lain, saling lapor dan saling memperhatikan. Ingat, hati ini harus dijaga kan, jangan baper mulu, ntar kemasukan berbagai virus dan susah lagi dikontrolnya. Nyari hidayah saja tidak nemu-nemu sampai sekarang, eh kok malah kita hendak merusak zona yang dilarang Allah?
Silakan sibuk berkarya, maksimalkan potensi diri kita masing-masing, karena bagi saya, wanita pintar dan cerdas itu seksi. Cantiknya bukan karena tebal bedak, tapi karena tebalnya pengetahuan dan wawasan yang ia miliki. Pokoknya wanita cerdas dan berprestasi itu wifeable. 

Agaknya kita harus sama-sama mengembalikan keyakinan bahwa jodoh tidak akan tertukar, jodoh sudah ditentukan, jadi tugas kita adalah terus berbenah dan berusaha istiqamah dalam kebaikan. bagaimana susah?
*Sebelum jatuh cinta, pakailah logika, sekali kamu lepas dan terjatuh dalam indahnya cinta tanpa menggunakan logika, kamu akan susah bangkit karena hati dan logikamu selalu kalah dengan yang namanya cinta. Entah itu cinta yang diridhai Allah, atau justru yang ia murkai. Be logic before you fall in love. please be noted, secerdas apapun manusia, ia bisa terlihat bodoh kalau sudah berhadapan dengan cinta. Tidak mau seperti itu kan? I remind you again, be logic. Semua ada masanya, jangan memulai sesuatu yang seharusnya belum layak untuk dimulai. 

Pertanyaannya adalah, siapakah jodohmu??

TERUNTUK GENERASI PENERUS BANGSA!


Teruntuk setiap kebaikan yang telah kalian berikan,
ijinkan aku sejenak untuk mengucapkan terima kasih.
jika memang nanti Allah masih memberikan kesempatan untuk bertemu,
semoga aku dapat membalas semua kebaikan kalian selama ini.

Teruntuk setiap sakit yang pernah kalian terima karena sikapku,
ijinkan aku meminta maaf untuk semua kesalahan yang pernah aku perbuat.
jika nanti ada umur panjang, ingin aku berbuat baik untuk kehidupan kalian.

Teruntuk setiap aib dan dosa yang pernah pernah kalian saksikan,
ijinkan aku meminta agar kalian menyimpan itu semua.
jangan kalian bagikan pada siapapun juga.
jika Tuhan memberikan kesempatan, akan kuperbaiki itu semua.

Sebab,
Aku makhluk sosial, yang sudah pasti membutuhkan pertolongan kalian.
Aku tidak bisa berdiri sendiri.
Sebab,
Aku bukan malaikat, yang tak punya salah dan khilaf.
Aku jauh dari kata baik antara sikap dan berperilaku.
Sebab,
Aku juga manusia yang pasti pernah berbuat salah.
Sama seperti manusia yang lain, jauh dari kata sempurna.

Karena aku ingin,
kalian lebih daripada apa yang selama ini kalian saksikan.
Karena aku ingin,
kalian harus ebih semangat daripada semangat yg mungkin selama ini pernah aku berikan.
Karena aku ingin,
Kalian tidak menyesal di kemudian hari, seperti apa yang pernah aku rasakan.
Tak perlu dicontoh semua kejelekan, ambillah yang baik, jika ada.
Tak perlu dipermasalahkan keburukan, ambillah manfaat jika kau temukan.
Aku ingin kalian lebih dari aku, lebih lagi, dan lagi. Kalianlah bintang yang aku harapkan!
Wahai adik-adik yang menjadi generasi penerus bangsa ini nantinya,
Semoga Allah mengabulkan segala do’a dan pinta,
Aku ingin kalian sukses, melebihi apa yang kalian bayangkan.
Tak pernah lelah aku mendo’akan kalian, kerana aku tahu kalian generasi harapan.
Jika nanti kesuksesan itu datang, tularkan pada yang lain.
Kalian harus menjadi inspirasi untuk generasi setelah kalian.
Tetaplah belajar dengan giat dan semangat, semoga kebaikan menyertai hari kalian.
KALIAN BISA, AKU YAKIN KALIAN BISA, KALIAN HARUS BISA, PASTI BISA!!!

Aceh, Medan, Jakarta, Jogja (Sebuah Catatan Perjalanan)

Terhitung untuk kali ini, di tanggal 11 April 2016 untuk kedua kalinya aku mengunjungi Banda Aceh. Tujuan utama saat itu adalah mengikuti seleksi PPAN tingkat provinsi, meski dalam hati sebenarnya sudah sadar diri bahwa selalu ada yang tidak wajar jika seleksi di tataran Aceh. Allah membenarkan itu semua, saat hari H, sebelum memasuki ruang kelas tempat tes berlangsung, kami diberi kode bahwa yang sudah pernah exchange bakal jadi pertimbangan internal panitia nantinya dalam memutuskan hasil akhir PPAN Aceh 2016. Dengan soal yang biasa, masih anak HI banget, pertanyaan seputar ASEAN, Aceh, dan pengetahuan umum lainnya, sepertinya meski tidak benar semua jawaban saat itu, tapi patut dipertimbangkan. Tapi, hasil ternyata berkata berbeda, namaku tidak ada dalam ChiYEP ketika pengumuman sudah keluar. Dengan hati yang berat meninggalkan Banda Aceh. Kecewa? Tidak. Karena meski belum lolos ke tahap selanjutnya, aku sudah mengunjungi beberapadestinasi wisata di Aceh, mesuem Tsunami, PLTD Apung, pantai dan masjid raya sembari menikmati pemandangan khas Serambi Mekkah. Menikmati makan nasi padang dengan rasa yang khas, mie Aceh, es, dan kuliner lain yang terdapat di seputaran Darussalam. Waktu berlalu, setelah beberapa hari meninggalkan Banda Aceh, aku kembali menjejakkan kaki ke Medan bergegas menuju Jakarta untuk memulai karir dan tinggal disana. Semua keperluan sudah aku persiapkan, surat pindah, dll. Kejadian aneh sempat menimpaku saat hendak bergegas mandi dan bersiap untuk meninggalkan loket bus HI. Entah salah dan dosa apa yang aku lakukan, tetiba ada dua sosok aneh yang mencoba menguji imanku saat itu. Dengan sisa nafas dan istigfar, aku meninggalkan loket dan mencari tempat yang lebih aman untuk melindungi sisa iman didalam dada ini. Take off dan landing hingga menikmati dua jam di atas taksi ibukota. Tapi ternyata nasb berkata lain, sesampainya di Jakarta, rumah yang begitu besar serasa penjara, aku tidak diperbolehkan keluar untuk menikmati Jakarta. Ada banyak hal rancu yang aku temukan disana, hal yang sudah tidak bisa lagi dinalar oleh logika. Dengan berat hati, aku pamit untuk mencari tempat terbaik dan saat itu aku memilih kembali ke Yogyakarta.  Dua jam di atas GOJEK bolak balik pasar minggu Depok, akhirnya sampai di loket bus dengan kondisi basah kuyup dan menikmati perjalanan dengan baju basah, sepatu basah, dan badan yang sudah minta disiram air. 10 jam perjalanan, mendaratlah di Jogja, ketemu lagi sama adik kos yang sudah seperti adik sendiri, masuk kamar, istirahat sebentar, langsung cabut ke Kaliurang untuk menghadiri pesta. Di saat itulah, untuk pertama kalinya aku mengenakan pakaian adat jawa, bak lagi mendalang bersama Mas Yogi anak Lampung dan Cah Bengkulu. Tidak tahu ada apa dengan Jogja, hati selalu nyaman untuk menikmati jalanan malam, meski macet, meski hujan, selalu ada cerita indah. Belum lagi kalau bertemu Bapak, Ibu mbak Mila, pecah suasana menceritakan sesuatu yang mengundang gelak tawa. Bapak selalu memberi kode untuk shalat berjama'ah, masya Allah. Meski har itu melelahkan, tapi seru bisa bertemu dengan anak-anak yang super pecah, baik, dan juga keluarga mbak Mila yang bikin perut selalu diputer-puter karena ketawa. Malam itu, makan di depan kamar, di atas teras, enak, nyaman, suasananya hangat, dan yang pastinya bahagia. Kalau kata orang Jogja selalu memanggil setiap pengunjungnya untuk kembali, itu benar adanya. Kegagalan di Aceh, keseraman cerita di loket bus HI Medan, susana mencekam di Jakarta, akhirnya hilang dan sirna setelah pancaran sinar mentari di Jogja. Bertemu geng lama, geng kos, geng MIHI, dan bercengkrama. Alhamdulilaah, terima kasih Tuhan. 

Cinta Tak Pernah Salah

Pernahkah kita merenung, bahwa Allah menciptakan cinta itu fitrah,
Seberapa sering kita menghayati bahwa cinta itu suci,
Bahwa, kita lah yang menjadikan cinta itu salah,
Menyentuhnya terlalu cepat,
Menjadikannya semboyan dan sumber semangat,
Tapi, sudahkah itu benar adanya?
Cinta tak pernah salah,
Yang menggenggam cinta itulah yang salah,
Jika cinta itu suci, lalu kenapa kita menghalalkan pacaran?
Membenarkan hubungan yang tidak seharusnya kita jalani,
Membiarkan hati kita berlarut dalam rasa yang salah,
Memciptakan ruang bagi syaitan untuk lebih dekat,
Bahwa, jika benar cinta, KUA dan nikah adalah jalan keluarnya.
Tidak ingin membenarkan diri ini, jiwa lemah ini pun sering salah.
Hanya ingin mengingatkan,
Cinta itu selalu indah dan suci dalam naungan cinta Ilahi,
Bukan pacaran dan menghalalkan yang dilarang Tuhan.
Jika benar, mari saling menasehati, bahwa cinta itu tidak salah.

Tapi semailah cinta disaat yang tepat, halal adanya.
Maha suci Tuhan dengan segala kalam dan pengetahuan yang Ia ajarkan.
Bahwa cinta bukanlah satu-satunya alasan untuk bertahan hidup.
Semua ada waktunya,
Ada saat mendekati cinta, menjadikannya halal dan berkah untuk kehidupan.
*Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan,
 Ia menciptakan cinta itu fitrah 

Kamis, 17 Maret 2016

Pesona Cinta Muslim Traveller

Siang yang begitu terik, panasnya sinar matahari membakar kulit, jalanan macet parah. Kami hanya bisa maju perlahan karena sesaknya jalanan yang dipadati kendaraan. Terdengar raungan klakson mobil saling bersahutan. Para pengemudi tidak sabar untuk bisa lepas dari jebakan antrian motor dan mobil yang begitu panjang. Beberapa pejalan kaki terlihat melemparkan senyum ramah saat melewati kawanan becak yang juga terdampar dalam sengitnya macet di pusat kota siang itu. Entah sudah berapa kali lampu hijau menyala, tapi mereka belum bisa menghindar. Ada yang setia menunggu untuk melaju, tidak sedikit juga yang berbalik arah mencari jalan lain untuk bisa selamat dari ancaman kemacetan. Begitu juga dengan kami, aku dan Chandra yang saat itu merupakan bagian dari manusia-manusia yang harus sabar menanti ruang jalan sepi untuk bisa sampai di rumah Ayu, tempat berkumpulnya kami para muslim traveler. Kami akan berlibur bersama lima dara jelita selain Ayu, ada Mila, Titan, Yunis, Anis, dan juga Zora. Mereka berenam adalah saudara, Ayu, Anis, dan Zora adalah mahasiswa MIPA yang terkenal dengan aksi olah data dan bahasa ilmiah yang kuliah di kampus unggulan. Mila, ia adalah lulusan fakultas ekonomi dari Negeri Jiran. Sementara Titan dan Yunis adalah mahasiswa manajemen yang menempuh studi di perguruan tinggi ternama di kotaku. Sementara aku dan Chandra adalah duo perjaka yang menghabiskan usia untuk belajar ilmu sosial dan sains. Dua puluh menit menunggu, akhirnya kami selamat dari kepungan macet yang sangat menyita tenaga. Keringat bercucuran, kami terus mencari celah untuk meneruskan perjalanan.
“Hai Ayu, gimana sudah siap berangkat?” Mila memastikan rekan sepupunya itu sudah bersiap saat kami baru saja memasuki rumah mewah berukuran mini yang tertata rapi itu.
“Belum, ini masih bersih-bersih rumah, yang lain sudah siap?”
“Kami sudah siap meluncur menghabiskan sisa waktu liburan. Ini cuma nungguin kamu aja,” ujar Mila yang menatap ke arah televisi sambil menodong makanan yang tersedia dalam beberapa toples di lantai.
“Anis sama Zora mana, kok belum keliatan?”
“Nah, itu dia, mereka masih ada rapat paripurna di kampus. Setelah selesai mereka akan langsung menyusul kita kesini,” Yunis angkat suara sambil mengecek list barang dan memastikan tidak ada yang tertinggal.
“Baiklah, aku berkemas dulu, sebentar.”
“Buruan, kami juga masih mau ngabisin makanan ini dulu,” teriak Mila diikuti gelak tawa anak-anak. Mila memang rajanya makan, selalu saja ia mendapatkan waktu untuk bisa menikmati cemilan yang tersedia. Baginya, diet akan selalu dimulai esok hari. Yunis melempar tawa, Titan menatapnya tak percaya. Para wanita itu memang akan berlaku konyol jika sudah berkumpul. Selalu saja tidak pernah kehabisan bahan untuk dibicarakan dan berakhir dengan tertawa lebar diantara mereka.
Tidak lama berselang, semua anggota sudah lengkap. Setelah mengecek semua perlengkapan, kami pun berangkat menyusuri keramaian jalanan kota dan berbelok arah menuju pantai Drini. Mobil yang kami kendarai memang terbilang kecil tapi bisa menampung delapan manusia super konyol. Di depan ada aku yang menemani Chandra sang driver. Di barisan kedua ada Mila, Yunis, dan Ayu. Sementara Titan, Anis, dan Zora duduk di bagian belakang. Sama seperti sebelumnya, Mila akan selalu memulai canda, bahkan kali ini sepanjang perjalanan jurusnya begitu ampuh memancing pecahnya tawa dari kami semua. Titan, Anis, dan Zora cenderung lebih diam, mereka bisa berubah menjadi insan pendengar yang baik. Aku bisa menebak, ada dua kemungkinan mengapa mereka terdiam, karena mereka lebih junior atau karena ketiganya mulai diserang angin jahat yang mengundang rasa kantuk dan mabuk yang tak berkesudahan. Sesekali terdengar suara Anis yang memberikan petunjuk jalan yang akan kami tempuh menuju pantai. Ia sudah sangat hapal akan kondisi medan yang akan kami lalui, sebab ia sering melakukan perjalanan menyisir pantai untuk keperluan praktikum Biologi.
Hampir dua jam menikmati hijaunya pemandangan menuju pantai, mata kami seolah tak bosan menyaksikan kebesaran Tuhan. Betapa luar biasa nikmat yang telah Tuhan berikan dengan kehadiran alam yang memanjakan sepasang mata yang lelah dengan kehidupan perkuliahan. Bila kantuk mulai tiba, aba-aba sang pengemudi mobil dan penunjuk arah akan membangunkan kami. Mereka akan memberitahun bahwa sebentar lagi kami akan tiba di pantai yang indah, eksotik, dan juga tawaran tampilan sunset yang sangat dinanti-nanti oleh banyak manusia. Saat mobil belum terparkir sempurna, kami sudah berhamburan keluar, memandangi kawanan manusia yang melewati area pantai dan para juru parkir yang dengan telaten terus menata kendaraan yang memasuki daerah pantai.
“Kita mau mendirikan tenda dimana teman-teman,” Anis mencoba menarik perhatian kami yang masih sibuk dengan perlengkapan masing-masing.
“Ngikut aja deh, dimana yang bagus.” Teriak anak-anak kompak.
“Gimana kalau di atas sana aja, ada bukit yang bagus dan hijau,” aku menawarkan tempat sambil menunjuk kea rah perbukitan yang terletak tidak terlalu jauh dari tempat kami berdiri saat itu.
Semua dara itu mengangguk. Aku membiarkan mereka menikmati pasir dan menanti sunset di pinggiran pantai. Sementara aku dan Chandra terus berjalan menaiki bukit melihat keadaan dan mencari tempat yang cocok untuk mendirikan tenda. Tidak lebih dari hitungan sepuluh menit, kami sepakat akan mendirikan tenda di sekitar bukit yang dekat dengan bibir pantai. Meski terletak agak jauh dari pusat keramaian, namun hal tersebut akan memberikan suasana yang berbeda. Sementara keenam dara itu asyik menikmati sunset yang begitu menawan mata, duo perjaka pun terus mendirikan tenda. Sebelum sunset berlalu sempurna, kami pun berkesempatan mengabadikan momen dalam balutan sinar mentari yang akan pergi menghilang. Cahayanya indah tak terkira saat terbalut dengan hijaunya pepohonan dan deburan ombak yang memang megah dipandang mata. Waktu maghrib tiba, tenda sudah berdiri, kami pun bergegas untuk menunaikan kewajiban dengan bergegas turun dari area bukit yang sudah semakin gelap karena ditinggal oleh sang surya. Hari berubah menjadi begitu sendu, saat bacaan fatihah menusuk kalbu, hening dalam balutan pengharapan. Titah Tuhan memang selalu menenangkan. Malam itu indah.
Tidak hanya berhenti sampai disitu. Keindahan malam kembali berlanjut saat kami berdelapan berbagi cerita sambil menanti hidangan santap makan malam tiba. Tidak ada kata malu unntuk mengeluarkan candaan dan diikuti oleh senyum dan tawa ramah. Kadang saling tatap karena sudah saling mengerti satu sama lain. Bahkan tidak ada kecanggungan untuk saling hina diikuti dengan pujian. Bak lagu Tulus, memuji teman tapi selalu diawali dengan hinaan. Karena bagi kami, saling puji itu biasa, bisa menghina tapi tak merasa direndahkan dan membuat orang lain bahagia adalah sebuah keharusan. Malam semakin gelap, dunia sudah tertutup sempurna dengan pekatnya malam tanpa cahaya. Bulan seperti malu-malu untuk menampakkan dirinya, malam itu tiada bintang, karena kami berdelapan adalah bintang. Saat hari akan berlalu, tepat jam dua belas malam, mata kami dimanjakan aksi saling lempar kembang api. Tanda bahwa liburan kali ini menjadi awal yang indah untuk memulai aktivitas dan menatap masa depan. Sulit membendung gelak tawa saat itu, semua kata seolah terlempar dengan sempurna tepat mengenai sasaran. Kami saling berucap tentang profesi dan pengalaman untuk melanjutkan sisa catatan mimpi yang masih kami simpan. Kami bahagia memandang langit malam yang sepi tanpa pantulan cahaya rembulan. Binar-binar sayatan kilau kembang api masih menjadi tampilan terindah langit malam itu. Pantai Drini yang sepi berubah menjadi lautan mercon dan cahaya api mungil yang saling bersahutan satu sama lain. Tak berhenti kami mengucap syukur untuk setiap keindahan yang kami rasakan. Saat malam berlalu sempurna, setiap pasang mata sudah terlelap dengan alunan lagu merdu dari alam dan pantai yang tak bisa diam dengan deburan ombak yang meniupkan rasa dingin dan menuntut mata untuk terlelap lebih lama. Maka nikmat Tuhan yang mana lagi yang akan kami dustakan, malam itu berlalu.

“Tolong fotoin kami dong, di sebelah sini, menghadap kesana,” terdengar suara para dara jelita yang sudah berjalan menyusuri pantai meski rintik hujan masih setia melaju menemani pagi tanpa sinar mentari itu berlalu.  Aku menyaksikan jiwa-jiwa itu bersinar bahagia melewati menit demi menit sebelum kami berbalik arah kembali menjalani rutinitas sebagai seorang mahasiswa. Beberapa kali Chandra mengabadikan momen terbaik, ia memang photographer yang handal. Ditambah lagi dengan enam bidadari cantik yang siap menjadi model terbaik yang akan diabadikan dibalik kanvas hitam dalam catatan singkat sebuah perjalanan. Aku mengakui mereka memang sosok yang luar biasa, anggun dalam balutan rok dan naungan jilbab yang menjadikan mereka cocok diberi julukan muslim traveler. Mereka memberikan banyak warna, banyak cerita, dan juga banyak pelajaran dalam perjalanan ini. Kebahagiaan adalah saat bisa mengenal dan melihat mereka tertawa lepas. Saat keenam dara itu merasa lelah, kami berkemas, liburan singkat telah usai, kami berbalik arah, kembali!

Bayang Kelabu Mengharu Biru

Menepis bayang-bayang kelabu yang pernah mengharu biru…
Untuk apa?
Demi apa kehidupan menawarkan segalanya…
Sepasang kapas putih, teman keabadian…
Kesepian yang menganga, siapa yang kuasa berteman dibalik kain putih?
Merongrong sendiri, tak ada titah keramaian…
Bertemankan hewan dan penjagaan Tuhan, sudikah malaikat berbaik hati?
Amal. Amal, amal
Hanya amalanlah penolong terbaik…
Bukan teman, bukan saudara, bukan juga keluarga
Amalan kebaikan, penerang jalan pulang.
Jika kau berteriak, suaramu sudah tak didengar…
Jika kau menangis, tangismu sudah tak dihitung Tuhan…
Jika kau merintih, pedihmu takkan terasih…
Tak perlu kau berontak, tak usah kau berteriak…
Catatan amalmu yang akan berkata jujur tentang tingkah lakumu…
Harta, tahta, dan segala kemegahan akan menjadi hiasan dunia semata..
Penerang jalanmu kembali hanya kebaikan…
Penerang jalanmu pulang adalah kebajikan…
Duhai, sudahkah siap untuk segala kepastian Tuhan…
Tak bisa kau bersembunyi, Tuhanlah tempatmu kembali…
Berbenahlah, berbenah dengan segala perbaikan…
Karena hidup akan berakhir…

Penerang jalanmu kembali adalah kebajikan!

Menangis Dalam Diam

Gerimis turun menemani pagiku, menjelajahi satu persatu ruang yang masih gelap tanpa terpaan cahaya. Rumah masih sepi, aku duduk terdiam dalam lamunan. Tubuhku masih lelah, tak terhitung sudah berapa kali aku rebahkan di atas ranjang. Sepertinya aku memang butuh istirahat. Pagi ini tiada suara kicauan burung, kokok ayam pun sepi karena mentari belum juga terbit. Yang tersisa hanya suara reruntuhan rintik hujan yang membuat mata merasa sangat dimanjakan. Entah kepada siapa hujan ini menceritakan pilu, mendera satu jiwa yang susah untuk ditebak, gumpalan kabut asap masih setia menghinggapi atap rumah. Cuaca dingin membuatku malas keluar rumah untuk beraktivitas.
Hidup memang penuh misteri, rasanya baru kemarin bercengkrama bersama, hari ini aku sudah merasa sepi karena jiwa yang masih dirundung kegelisahan mendalam. Rona bahagia yang membuat hati selalu merasa senang, bisa begitu saja berubah menjadi lamunan panjang dan menyisakan keraguan, apa sebenarnya yang harus dilakukan untuk bisa merasakan ketenangan hidup? Rahasia alam sungguh penuh kejutan, tanpa terpikirkan manusia bisa saja tersenyum penuh rona bahagia, namun dalam waktu singkat, itu semua bisa berubah menjadi nestapa. Aku masih ingat jelas, beberapa waktu lalu, ketika Dila mengajakkku ke rumah temannya, tak lama waktu bersela, aku menemukan kebahagiaan baru disana. Menunduk sambil mangut-mangut tersipu bahagia hingga tersadar saat Difa menepuk pundakku.
Pada suatu siang yang tak terasa terik, saat matahari masih bersembunyi dan terlihat malu-malu untuk menampakkan diri, masih dengan ditemani laju rindu dan asa ingin bertemu, aku termangu duduk tak bersila dengan setia menunggu hadirmu. Meski sesekali aku merasa terbata-bata mengharap kau hadir, namun batinku masih setia. Yakinku bahwa lelah itu akan mempertemukan kita. Dalam dekap sederhana, tak lelah aku menengadahkan kedua tanganku dan terus berharap bahwa kau akan hadir didepanku. Berharap setelah melihat wajahmu, akan menjadi memori indah penuh rona dalam hatiku. Aku rindu tutur sapamu, aku rindu tatapan matamu, hingga aku benar-benar rindu untuk bisa sekedar bertemu denganmu, meski hanya untuk melepas rindu. Aku rindu dengan semua cerita-cerita yang pernah kau beberkan saat kita bertemu, hingga aku benar-benar merindu untuk bisa menyandarkan semua bebanku di pundak gagahmu, Rangga.
Apakah aku terlalu berani merindukan sosok sepertimu, yang mungkin tak pernah terlintas dalam benakmu dan memikirkan hal yang sama seperti apa yang masih kupikirkan hingga saat ini. Apakah hanya aku yang berharap akhir kisah yang indah? Masihkah kau mengingat bayangan angan yang bersama kita hias dan kita sematkan dalam hati kita, aku semakin tak kuasa menahan tangisku. Memikirkanmu, berujar tentang seorang pendamping hidup yang hingga saat ini tak memberiku kabar, jauh hilang dibawa segudang kesibukan. Aku cemas dengan pikiran yang terkadang begitu rumit, mencari-cari alasan hingga kutemukan alasan untuk bertahan menantimu, menanti jawabanmu atas goresan noktak-noktah hitam yang akan menjadi hiasan masa depan kita. Meski sering kurasakan letih tak berkesudahan, namun bayanganmu tak bisa aku hapuskan, aku masih percaya kau akan menjawab semua mimpi-mimpi kita. Kadang hati kecilku merasa terendam terabaikan olehmu, namun aku tak bisa berbohong, jika aku masih saja setia menantimu datang kembali dengan jawaban yang sama, dengan takdir hidup yang bahagia. Jiwaku sungguh penuh lara, namun seketika ia hilang karena kau telah melukiskan noktah rasa indah yang menari-nari didalamnya. Sebahagia dan serumit inikah perasaan cinta?
“Sudahlah Anin, jangan kau aduk bahagia dan sedihmu, tidak baik. Biarkan saja dia berlalu, atau kau akan lebih menderita jika terus berharap padanya.” Suara Dila mengagetkanku saat masih duduk diam termangu tanpa ekspresi di ruang tamu. Entah sudah berapa jam aku melamun, mengingat lambaian kenangan masa lalu. Seperti tak cukup usia jika aku membayangkan itu semua.
“Salahkah jika aku berharap?” aku mencoba memberikan pembelaan diri.
“Tidak Anin, tidak ada yang salah.”
“Lalu, kenapa berkata demikian?”
“Aku ingin kau lebih dewasa dan terbuka dalam bersikap Anin. Tidak perlu kau rangkai kata-kata manis untuk menunjukkan kau sedang bahagia, bahagiamu jelas terlihat. Namun, kau harus lebih membuka matamu, lihat siapa yang kau harapkan. Bersandarlah pada pilihan yang realistis, ini bukan dunia dongeng Anin, bangun!”
“Maksudmu?!”
“Kau hanya perlu membaca setiap kemungkinan yang terjadi, jangan berharap lebih pada yang tak pasti. Itu justru akan melukai hatimu.”
“Tapi, aku berharap dia yang terbaik Dil, apa tidak boleh?”
“Mengharapkan yang terbaik akan selalu diikuti dengan usaha perbaikan diri, bukan melamun, tersenyum sendiri sepanjang hari. Apa kau sudi waktumu berlalu percuma?”
“Aku ingin dia akan menjadi pendamping yang baik, lantas mengapa itu terlalu diragukan. Salahkah jika tautan cinta ini dilanjutkan?”
“Haaah, harus berapa kali lagi aku bersaksi dihadapanmu Nin, jika ia memang milikmu, ia akan datang memberimu kabar baik, atau justru kau yang akan terluka dan terus menangisinya dalam diammu. Jangan terlalu berharap atas jawaban iya, karena takdir Tuhan, tak satu pun makhluk bisa menebaknya Nin.”
Nyessss, kalimat yang baru diutarakan Dila menghancurkan benteng pertahananku. Ia bisa menebak apa yang aku rasakan. Aku merasa tak kuat jika harus menunggu lebih lama. Sementara, kau masih saja terdiam, tak ada kabar yang kau berikan. Ornamen lampu indah dalam ruangan itu seolah jatuh berserakan saat mendengarkan apa yang diucapkan Dila. Beberapa kursi saling berlarian menyembunyikan diri dari keheningan. Semua yang ada disana diam, hanya aku yang masih setia dengan penantian dan sesekali berlirih hening dengan cucuran air mata tanpa suara. Harapan indah yang aku lukis dalam kanvas masa depan seolah hancur. Dekapan balutan rindu yang ingin kusampaikan padanya saat bersua mati secara tiba-tiba. Sayup-sayup rindang pohon dengan tiupan nakal membunuh satu persatu kerinduan yang aku simpan.
Sebulan sudah percakapanku dengan Dila berlalu, ternyata benar, tidak ada kabar baik yang aku tunggu. Kau justru menghilang tanpa bayangan. Semua harapanku sirna saat aku sadar jika penantian panjang yang kutempuh adalah sebuah kesalahan. Memikirkanku adalah sebuah luka yang akan terus menyiksa hingga nanti aku benar-benar bisa melupakanmu. Sering aku berpikir untuk menghapus semua anganku, namun hati ini tak bisa berbohong jika kau memang sosok yang masih aku harapkan. Dila, mungkin ia adalah sahabat yang sudah bosan mengingatku, tapi masih tetap pada pendirianku yang tak berasalan. Ia memintaku untuk membuka mata, aku justru tak menghiraukan permintaannya. Kini aku sadar, semakin aku jauh berharap, akan semakin sakit jika itu hanya sebuah keinginan yang tak mungkin terwujudkan.
Langit biru menutup mata, kabut tebal masih saja menjadi hiasan keabadian hari itu. Bumi tak lagi bersikap mesra, saat aku merasakan kehilangan dan sakit yang mendera waktuku berlalu. Namun, aku masih saja berujar dengan alasan sederhana, menghantui kehidupan seorang lelaki yang aku kira ia mencintaiku sepenuh hatinya. Semerbak harum mawar merah yang ia berikan seketika jatuh begitu saja. Janji-janjinya kini berguguran dan menyisakan sedikit rasa sakit dan pedihnya kecewa. Ah, misteri langit yang sulit kutebak dan kubahasakan dengan rangkaian kata memang selalu menusukku. Hingga, aku lupa bagaimana rasanya bahagia jika ia benar-benar datang memenuhi semua petuah hidupnya. Aku memang merasa sulit untuk melabuhkan cinta dengan sederhana, hingga tangisan tak bisa lagi kulerai. Meski terus berusaha menanti, namun aku sadar yang aku tunggu tak kunjung tiba. Sisa tawa itu kini berlalu, memberikan jejak baru berupa rasa sakit yang tak lagi kuhiraukan. Aku sudah terbiasa tergores luka dan tersadar bahwa pertemuan dengannya adalah sebuah ilusi belaka. Hasrat masa lalu yang begitu hangat dan memikat kini menyisakan air mata dalam catatan hidupku. Aku menghela nafas panjang. Aku sudah ikhlas dengan takdir Tuhan, meski harus melanjutkan kesedihan, meski harus tetap menangis dalam diam.


Tentang Pulang

Pulang bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan batin yang penuh makna. Pulang adalah kata yang menyentuh hati, membawa kita kem...