Selasa, 19 April 2022

Peran AS dalam Gencatan Senjata Rusia dan Ukraina

 Krisis yang terjadi antara Rusia dan Ukraina menjadi buah diskusi panjang banyak negara di dunia. Salah satu yang menjadi perhatian banyak kalangan baik akademisi maupun praktisi hubungan internasional adalah Amerika Serikat. pasalnya banyak pihak yang kemudian mempertanyakan sikap dan reaksi dari Amerika Serikat atas invasi yang terjadi antara Rusia dan Ukraina. Panca invasi yang terjadi lebih dari dua pekan, Jerman akhirnya menolak untuk bergabung dengan Amerika Serikat dan juga Inggris dalam proses pengiriman senjata kepada Ukraina. Atas sikap ini, Jerman khawatir bahwa akan terjadi konflik yang lebih lama dan ketegangan yang dapat berpotensi mempersulit proses negosiasi untuk mengakhiri konflik panjang antara Rusia dan Ukraina.

Kebijakan Luar Negeri Jerman dipandang bernilai dan lebih berani karena dapat memutuskan kebijakan terhadap isu gerakan militer Rusia dalam melawan Ukraina. Jerman dan sekutunya sedang di atas panggung kekuasaan dunia yang berusaha lepas dari ajakan tidak jelas yang disebutkan oleh pemimpin Rusia. Pihak yang menjadi pemangku kepentingan dan kebijakan Jerman melakukan perdebatan atas usul Amerika Serikat terkait pemberian bantuan militer terhadap Ukraina. Pemerintah Jerman siap mendukung terciptanya perdamaian dengan melakukan dialog serius. Sebab diplomasi adalah satu-satunya cara yang dianggap layak untuk dapat meredakan invasi dan terciptanya negosiasi gencatan senjata antara Rusia dan Ukraina.

Sementara dari sisi Amerika Serikat dan Inggris, kedua negara ini sudah memastikan akan mengirimkan lebih banyak pasokan senjata dan persediaan tink-tank. Senator Amerika Serikat bahkan telah berkunjung ke Ukraina dan memastikan bahwa pasokan senjata yang dikirim akan lebih banyak. Setelah sebelumnya Rusia juga menuduh bahwa Ukraina memiliki senjata biologis yang didanai oleh Amerika Serikat. Menurut Duta Besar Amerika Serikat untuk PBB, Rusia memang kerap kali mencoba menuduh negara lain atas pelanggaran yang dilakukan oleh Rusia itu sendiri.

Di tengah invasi yang sedang berlangsung, Amerika Serikat meminta Israel untuk bersikap tegas terhadap Rusia. Mantan Duta Besar PBB untuk NATO, Victoria Nuland menginginkan agar negara-negara dengan sistem demokrasi di dunia bersatu dan memberikan sanksi yang tegas terhadap invasi yang dilakukan Rusia. Hal yang menjadi sanksi bagi Rusia adalah terkait sanksi ekonomi dan ekspor yang dipandang perlu untuk diberikan dan dijatuhkan kepada Rusia. Sejauh ini, Israel belum memberikan sikap tegas dan mendukung AS dalam mendukung Ukraina. Akan tetapi, Israel masih dipandang berusaha memberikan sikap yang netral atas sikap politis negaranya dalam isu invasi Rusia ke Ukraina. Wakil Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Wendy Sherman menjelaskan bahwa tampaknya Presiden Rusia Vladimir Putin tampak mulai goyah dengan banyaknya negara di dunia yang berusaha untuk menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap Rusia. Efek tekanan tersebut dipandang sebagai tekanan yang paling serius bagi Putin untuk dapat melakukan negosiasi perdamaian.

Jika diteliti dengan baik, AS memiliki dua kepentingan dalam invasi Rusia ke Ukraina. Mendukung Ukraina dengan segala cara yang mungkin dan dapat dilakukan seperti pemberian bantuan pasokan senjata keamanan yang bernilai 1,2 juta dolar AS. Alokasi dana tersebut dipandang dapat sangat membantu Ukraina untuk dapat melawan invasi yang dilakukan oleh Rusia. Kedua, alasan lain adalah untuk dapat menekan Presiden Putin untuk segera melakukan gencatan senjata dan mengakhiri invasi. Sebab bagi AS, Putin sendiri yang memutuskan untuk melakukan invasi yang tanpa didasari alasan yang jelas mengapa mereka menyerang negara yang berdaulat seperti Ukraina.

Sudah dapat dilihat bahwa pengaruh dari kekuatan AS berdampak bagi banyak negara yang ‘bersembunyi’ di balik status kekuatan besar dari AS. Demi melancarkan tujuan pertama, AS bersedia berkoalisi dengan banyak negara yang juga atas dasar perdamaian dunia memberikan dukungan terhadap Ukraina. Meskipun dalam proses pencapaian usaha tersebut, banyak negara yang terlihat dilema antara memberikan secara penuh dukungan terhadap Ukraina atas bersembunyi di balik status negara adidaya yang dimiliki oleh AS. Dampak dari adanya proses pemberian bantuan dan sanksi yang diberikan oleh AS dan koalisinya adalah dengan tampak semakin goyahnya Presiden Rusia Vladimir Putin untuk kemudian memilih jalur negosiasi untuk dapat ditempuh sebagai jalur terakhir agar konflik antara Rusia dan Ukraina dapat diakhiri dengan proses damai.

Tidak hanya negara koalisi AS yang mendapatkan dilema atas konflik berkepanjangan yang menarik perhatian banyak dunia ini. Invasi dan tekanan yang diberikan banyak negara juga memberikan dilema bagi Presiden Rusia, Vladimir Putin. Pasalnya, keinginan untuk menghancurkan Ukraina dan kekuatannya menjadi sedikit terhalang karenanya banyaknya tekanan yang diterima oleh Putin termasuk hal yang berhubungan dengan sanksi ekonomi yang siap dijatuhkan oleh banyak negara terhadap aksi invasi Rusia terhadap Ukraina. Tekanan demi tekanan pasti memberikan efek dan dampak tersendiri bagi terciptanya jalur negosiasi sebagai alternatif terbaik untuk memperoleh damai. Namun, banyak pihak juga dapat menilai bahwa Putin adalah sosok yang keras dan bersikeras dengan apa yang diinginkan tanpa memperhatikan dampak yang muncul dari keinginannya tersebut.

Rusia dan Ukraina diketahui telah menyatakan beberapa opsi untuk dapat melakukan negosiasi. Banyak pihak, termasuk AS berharap bahwa konflik antara Rusia dan Ukraina dapat berhenti dan memperoleh kesepakatan kompromi. Pada tanggal 9 Maret 2022, Rusia mengumumkan gencatan senjata sementara di Ukraina. Hal ini adalah sebagai alternatif agar masyarakat sipil yang terkepung diberikan kesempatan untuk melarikan diri. Sementara bagi banyak negara Barat yang dipimpin oleh AS ingin merilis tekanan baru bagi Rusia.

Dalam perkembangan terbaru, AS sempat melarang impor minyak yang berasal dari Rusia. Sementara dalam perkembangan terbaru ini, Uni Eropa belum menjadi bagian dalam larang tersebut. Namun, Komisi Uni Eropa juga mengatakan bahwa ada kemungkinan bagi mereka untuk mengurangi penggunaan bahan bakar hingga dua pertiga tahun ke depan. Menyusul Uni Eropa, Pemerintah Inggris juga memberikan pernyataan untuk menghentikan impor minyak dari Rusia pada akhir tahun 2022. Sanksi lain yang akan dijatuhkan terhadap Rusia dan Belarusia adalah berupa larangan terhadap tiga bank Belarusia dari sistem perbankan SWIFT akan memberikan tambahan lebih banyak oligarki serta beberapa politisi dari Rusia masuk dalam daftar hitam Uni Eropa.

AS juga mengklaim bahwa dana yang diberikan berupa bantuan dana kemanusiaan terhadap Ukraina adalah bantuan dana kemanusiaan terbesar dalam kurun delapan tahun terakhir. Bantuan ini juga diklaim tersebar melalui organisasi kemanusiaan yang bersifat independen, netralitas, dan berdasarkan kemandirian. Dengan bantuan ini, diharapkan organisasi kemanusiaan internasional dapat lebih mendukung rakyat Ukraina. Termasuk bekerja sama dengan pemerintah Ukraina dan beberapa negara sekutu serta negara mitra Eropa di garis terdepan dalam menghadapi setiap krisis kemanusiaan yang terjadi. AS beserta Uni Eropa juga menjatuhkan sanksi berupa larangan bagi anggota parlemen Rusia. Sanksi yang dijatuhkan terhadap Rusia mengincar sektor keuangan dan pejabat senior di negara Rusia.

Untuk Segala Lebih dan Kurangmu, Kami Rindu (Ibu)

Tak seorang pun dalam hidup ini yang sangat kuat. Semua orang pasti pernah merasakan kesedihan, tapi terkadang dia mampu untuk berpura-pura tersenyum (anonim).

Pontianak tiba-tiba hujan beberapa hari terakhir. Deras sekali. Bahkan orang-orang sampai mengeluh. Pun tentang aku yang hari ini sedang merindukan almarhumah Ibu. Puasa pertama tanpa sosok seorang Ibu. Berat tapi ini bagian dari hal yang tidak bisa dihindarkan. Takdir Allah.

Biasanya kalau ada Ibu, selalu ada yang telpon minta cepat diisikan pulsa. Minta dikirimi uang untuk ini itu. Aku kira kehilangan almarhum Bapak adalah kesedihan yang sangat mendalam. Ternyata kehilangan sosok Ibu justru seperti kiamat. Jalan tol menuju surga yang sudah pergi jauh dan tidak akan kembali. Aku rindu sekali sosok Ibu. Meski mungkin kami sering berselisih, tapi aku sangat menyayangi Ibu. Aku tau, baktiku sebagai anak belum banyak untuknya. Karena di 5 tahun terakhir, aku sibuk dengan urusan kerjaan. Sementara Ibu jauh di rumah. Itulah sakitnya menjadi seorang perantau.

Setelah lulus, aku tau Ibu juga menyimpan banyak harap untuk anaknya ini. Seperti was-was melihat anaknya yang belum menemukan pekerjaan. Pernah juga dua kali aku ikut seleksi beasiswa, Ibu memberikan lampu merah. Artinya aku tidak akan lulus tanpa ridhonya. Alasannya simple sekali. Aku masih sendiri alias belum menikah kala itu. Ketakutan Ibu mungkin benar. Untuk seorang anak lelaki yang lajang akan sangat berbahaya jika melanjutkan pendidikan doktor berdurasi 3-4 tahun tanpa keluarga.

Sementara dari sisi aku yang masih dalam proses bertumbuh, masa-masa memutuskan untuk menikah, melanjutkan kehidupan di Pontianak yang jauh dari orang tua adalah keputusan sulit. Pun ditambah lagi setelah dua tahun pernikahan kami dikaruniai putri kecil. Adalah masa sulit untuk mengurus anak, bekerja dengan 3 profesi sekaligus dalam satu waktu, memberikan seluruh tenaga yang dimiliki demi anak dan istri. Jangankan untuk berleha-leha, buat ngurus diri sendiri aja kadang udah kurang waktunya. Itu yang aku benci dari proses bertumbuh, ketika aku hampir matang menjadi dewasa, ada Ibu yang semakin hari semakin menua. Berat sekali membayangkan proses ini. Karena tidak ada satu pun anak yang ingin hidup jauh dari orang tuanya.

Biasanya Ibu telpon, “Hari ini Ibu beli pecel untuk menu berbuka. Di sana buka puasanya pake apa? Atau kadang sekedar mengeluhkan kaki Ibu yang sakit. Termasuk sering Ibu mengabarkan perihal baru diantar berobat oleh anaknya yang ini dan yang itu. Tidak jarang Ibu juga mengeluh karena baru dimarahi oleh anak-anaknya. Aku yang merasa mengurus satu anaknya seperti kaki di kepala, kepala di kaki sulitnya, apalagi jika aku membayangkan Ibu. Sulit? Jelas.

Apalagi kami sekandung ada tujuh bersaudara dengan satu anak perempuan yang sangat baik. Kakak perempuanku adalah permata Ibu. Anak perempuan yang nomor 3 tapi dewasa dan bijaknya melebihi anak pertama. Meski sudah menikah, dia masih punya waktu untuk hampir setiap hari menjenguk Ibu di rumah. Membelikan Ibu beras, minyak, dan perlengkapan dapur lainnya. Maka tidak jarang kalau kakakku ini jauh lebih sukses dari yang lain. Baktinya untuk Ibu luar biasa. Bahkan sampai Ibu berpulang, baktinya tidak pernah kurang. Kadang aku merasa iri sekali padanya, tak jarang juga malu. Iri karena bakti yang sangat luar biasa. Malu karena sebagai anak laki-laki yang sudah menikah, aku justru tidak terlalu dekat dengan Ibu.

Aku bangga sama Ibu. Mengurus tujuh anak dengan sangat lihai. Bangga yang tidak pernah tergantikan oleh apapun. Alasan untuk segala bahagia dan sakit yang pernah dialami Ibu di dalam perjalanan hidupnya sampai ia berpulang. Ya, Ibu pasti bangga punya anak begini begitu, sebagai sumber bahagia. Pun juga Ibu pasti kadang sedih karena anaknya begini karena anaknya begitu, sebagai sumber nestapa dalam hidupnya.

Aku tau menjadi seorang Ibu seperti Ibuku sangatlah tidak mudah. Delapan tahun ditinggal Almarhum Bapak dan Ibu hidup seorang diri di rumah. Sedangkan anaknya hanya beberapa bulan singgah, kemudian melanjutkan hidup di rantau untuk bersekolah. Hidup sendiri selama sebulan saja sudah sangat sepi, apalagi sampai bertahun-tahun lamanya. Kadang aku bertanya, apakah Ibu tidak takut tinggal sendiri di rumah. Ibu justru mengatakan bahwa hidup sendiri sudah menjadi keharusan. Bahkan Ibu sudah tidak takut bangun sendiri larut malam. Mungkin yang ada di pikiran Ibu adalah perihal menjalani sisa hidup tanpa harus mengeluhkan banyak hal.

Seperti kata pepatah, secinta apapun dengan pasangan, kelak kita akan dipisahkan oleh kematian. Sebaik dan seburuk apapun yang kita kerjakan, kelak semua akan mendapatkan balasan. Perjalanan kisah hidup orang tua kami sudah membuktikan itu semua. Banyak harta yang dimiliki Bapak, itu tidak menemani beliau di liang lahat. Begitu juga Ibu. Maka mungkin petuah terbaik adalah dengan menjadi dermawan. Sebab amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak amal sholeh lah yang kelak akan menjadi pahala tanpa terputus.

Tapi jujur, aku merasa Ibu masih ada. Tiap kali buka hp dan memandang fotonya aku seperti tersadar, Ibu masih ada di sekitar kami. Seperti sulit percaya Ibu sudah pergi dan tidak sakit lagi. Hanya bisa berusaha menerima kepergian Ibu dan semoga dimudahkan segala hisab, diampuni segala dosa, dan kami yang masih tertinggal bisa menjadi petuah untuk kebaikan-kebaikan yang sudah Ibu ajarkan.

Kebahagiaan dalam hidup ini adalah perihal mencintai dunia, bagaimana pun bentuknya. Berharap mendapatkan cita dan harapan sekuat apapun berusaha untuk mendapatkannya. Dicintai dan mencintai orang yang kita sayangi. Serta segala hal yang kita harapkan bisa kita dapatkan di dunia ini.

Sedihnya, kita tidak bisa dan tidak akan pernah bisa menolak takdir. Perihal jodoh, rejeki, dan kematian. Termasuk segala hal yang membuat kita sedih, kecewa, terluka. Itulah takdir Allah.

Ibu, kami merindukanmu. Untuk segala lebih dan kurangmu. We love you.  

Selasa, 15 Maret 2022

Rasanya Jadi Perantau dan Perihal Jauh dari Rumah

Eh, gimana rasanya merantau? Seneng terus ya? Pasti gak banyak yang ngepoin hidup lo kan? Maksudnya hidup lo lebih bebas tanpa setumpuk aturan kalau misal lo tinggal di rumah.

Dan masih banyak lagi. Rasanya jadi perantau ya sama seperti hidup di dekat rumah. Ada suka dan ada duka. Suka banyak, duka pun tidak sedikit. Perihal pandangan orang lain tentang hidup di rantau yang bilang senang terus ya karena mereka belum merasakan sepenuhnya gimana hidup dan berusaha bertahan di kampung orang. Senang? Iya. Karena gak banyak yang ngurusin hidup, ngepoin atau ngejahilin. Tapi yang sirik dan nge hate juga tidak sedikit kok. Apalagi kalo lo berasal dari kalangan berpengalaman, berprestasi, dan ber ber lainnya. Udah pasti banyak yang gak suka. So many people outside there yang cuma ngelihat something yang nampak pake mata kepala doang. Misal kayak tiap bulan gajian, makan enak, belanja, jalan-jalan, dan banyaknya keistimewaan perihal tinggal di kampung orang dan bertahan dengan status ‘perantau’.

Mereka lupa. Bahwa di balik hidup sebagai perantau itu ada banyak duka yang tidak tampak. Uang habis akhir bulan dan bongkar celengan misalnya. Malu mau minta sama orang tua. Kalo lagi sakit udah bingung mau minta tolong sama siapa. Enak kalo di rumah, tiap sakit yang merhatiin stand by. Dimasakin. Kalau merantau gini itulah resiko paling berat. Belum lagi perihal jauh dari ortu yang selalu menjadi titik nadir terendah orang-orang perantau kayak kita. Apalagi yang rindu dan suka baperan kalo misal ingat ibu bapak yang udah duluan pergi ninggalin kita. Suka syahdu dan rindu dengan kelengkapan kedua orang tua. Tapi, perasaan menyesal mengapa lebih memilih mementingkan dunia dan karir ketimbang merawat mereka adalah penyesalan terbesar. Hari-hari dihantui rasa bersalah kenapa tidak bisa menjaga dan merawat mereka sampai tutup usia. Itu adalah sakit terparah untuk seorang perantau. Sesulit apapun perihal hidup, jauh dari orang tua adalah kesakitan terparah yang dirasakan seorang anak. Meski tidak bisa dipungkiri bahwa menjadi perantau adalah perihal bertahan dan menjadi mandiri.

Bagi yang belum merasakan tidak akan pernah tau. Gimana sakit yang dirasa akibat setiap hari dihantui rasa penyesalan karena jauh dari orang tua. Bahwa merawat dan menjaga mereka hingga tua adalah perihal bakti. Bakti yang mungkin hanya sekali seumur hidup. Kalau sudah tiada, bakti pun tidak bisa berdiri. Dekat dengan mereka adalah perihal mendapatkan ridha dan restu untuk menjalani sisa hidup yang kita tidak tau sampai kapan. Kita juga tidak tau siapa yang akan duluan dijemput. Siapa yang duluan menemui ajal. Tuhan, aku merasakan sekali penyesalan tidak bisa berbakti kepada ibu bapak yang sudah lebih dulu pergi. Perihal harta bisa diusahakan, tapi kesempatan untuk bisa berbakti kepada kedua orang tua tidak akan datang dua kali. Dekat dengan orang tua adalah bakti. Jangan silau karena dunia yang masih terlalu kecil kau genggam hingga kau lupa siapa yang selama ini sudah paling berjasa menjadikanmu sampai seperti sekarang. Allah udah ngasih porsi rejeki masing-masing ya, entah itu dekat atau jauh dari orang tua. Tapi ingatlah, kita nggak selamanya sama mereka. Sayangi selagi ada. Banyak orang yang menangisi bapak ibu setelah mereka pergi. Dulu selagi ada, kenapa tidak disayangi dengan sangat agar hidup selalu dalam ridha dan kasih sayang mereka.

Jangan egois. Ada yang lebih berhak atas hidup kita yakni orang tua. Kalau mereka ridha, bahagialah hidup kita. Kalau mereka murka, tidak sejahtera nasib kita.

Jadi, gimana rasanya jadi perantau? Sedih senang bahagia. Banyak sedihnya karena jauh dari orang tua. Perihal jauh dari rumah adalah harus kuat menahan rindu. Harus kuat dengan masakan-masakan ibu. Harus kuat dikucilkan. Meski bagi sebagian orang, jauh dari rumah adalah lebih terhormat, lebih dipandang.

Dear Brothers and Sisters, kalau masih ada kesempatan untuk berbakti merawat dan menjaga mereka di hari tua, pulanglah. Agar kiranya penyesalan tidak bersarang di kepalamu dan hatimu hanya karena terlalu sibuk dan mencintai dunia yang tidak pernah ada habisnya. Sayangi mereka sebisamu, kalau nanti udah gak ada, baru terasa betapa hampanya hidup tanpa sapa dan kasih sayang mereka. Teruntuk yang ingin merantau, kuatkan hati. Hidup di rantau itu tidak seperti yang selama ini kau bayangkan. Ada banyak hal yang tidak menjadikan kita bahagia, apalagi perihal rindu akan senyum dan sapa orang tua. Uang bisa dicari, tapi kesempatan untuk berbakti kepada kedua orang tua yang tidak akan datang dua kali. Sayangi, cintai, bahagiakan ibuk bapakmu selagi masih ada. Penyesalan sering kali datang di akhir kisah yang pada akhirnya kita hanya bisa menyesal dan membayangkan sisa-sisa kenangan.

 Tuhan, luaskan kubur bapak ibu yang sudah mendahului kami. Mudahkan hisabnya, tempatkan mereka bersama orang-orang shaleh di sisiMu.

Teruntuk Ibuk bapak yang masih ada, semoga panjang umur. Sehat-sehat ya bapak ibu, sebentar lagi anak-anakmu pulang merayakan kerinduan. We love you bapak dan ibuk kami.

*Teruntuk yang bertanya gimana rasanya jadi perantau, nano-nano tak terkira. Perihal jauh dari rumah adalah kesiapan untuk setiap hari dihantam oleh rasa rindu yang tak terperi. Sedih luka tak bahagia.

 


Rabu, 23 Februari 2022

Analisis Tindakan Terorisme Global dalam Pandangan Islam

 

Beberapa tahun terakhir, Indonesia khususnya daerah Sulawesi dikagetkan lagi dengan adanya insiden bom bunuh diri di sekitar gereja Katedral Makassar. Tidak pelak kejadian yang melukai puluhan orang di sekitar gereja menarik perhatian dunia internasional seperti Singapura, Turki, dan Yordania. Dikursus mengenai terorisme berikutnya menjadi hal yang merasuki pikiran masyarakat dunia. Terorisme tidak hanya dipandang mengancam keamanan manusia, tetapi juga berpengaruh terhadap politik identitas masyarakat muslim yang sering kali disangkut pautkan dengan kejadian aksi bom bunuh diri. Kecenderungan seperti ini akhirnya akan menjadi ironi dan berpotensi melahirkan konflik baru dalam kehidupan sosial masyarakat.

            Jika melihat definisi dari beberapa literatur, terorisme merujuk kepada intimidasi dan ancaman. Perilaku dan tindakan terorisme adalah salah satu cara untuk mengintimidasi dan mengancam orang lain. Hal tersebut dapat dilakukan dengan pembunuhan, penganiayaan, pemboman, pembakaran, dan pembajakan. Akan tetapi, sering kali tindakan teror itu didasarkan pada kebencian terhadap golongan tertentu dan sikap subjektif si pelaku. Sementara, Islam tidak pernah sama sekali mengajarkan pengikutnya untuk melakukan aksi terorisme dengan alasan apapun. Sekiranya ditemui aksi teror dengan kedok Islam dan gerakan yang ada di dalamnya itu adalah dalih. Islam tidak pernah mengajarkan pengikutnya untuk bunuh membunuh dan melakukan kekerasan untuk menyelesaikan masalah apapun.

Di dalam surat Al-A’raf ayat 199 disebutkan bahwa Allah berfirman “berikanlah pengampunan, bimbinglah ke arah yang damai lagi baik dan janganlah bertindak bodoh..”. Jelas disebutkan bahwa untuk kesalahan apapun, Islam tidak membenarkan umatnya untuk saling menyakiti dengan alasan yang bodoh apalagi sampai menimbulkan rasa tidak aman. Sementara dalam hadis dikatakan bahwa “Iman itu memiliki 77 cabang, yang paling tinggi adalah dengan bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan paling rendah adalah menyingkirkan duri dari jalan. Sedangkan malu adalah bagian dari iman”. Bisa dibayangkan bagaimana Islam meletakkan damai, aman, dan hidup tenteram itu menjadi fokus perhatian. Tentu dengan tidak mengganggu orang lain. Bagaimana orang bisa dengan mudah mengatakan Islam itu dekat dengan teroris, kalau duri dan penghalang di jalan saja diminta untuk disingkirkan dengan alasan keselamatan orang lain.

Artinya, ketika memang ada yang melakukan tindakan teror dan mereka beragama Islam, bukan Islam yang mengajarkan hal yang demikian. Akan tetapi, mereka yang memahami hal yang salah dan memaksakan kehendak untuk memerangi orang-orang yang tidak sesuai jalan pikiran mereka. Sementara Islam, sama sekali tidak memaksa orang dan pemeluk agama lain untuk memiliki persepsi yang sama dengan ajaran Islam. Di Qur’an surat An-Nahl ayat 125 disebutkan bahwa “Serulah manusia ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik…”. Tidak ada sama sekali Islam memerintahkan pemeluknya untuk membantai, menyebabkan ketakutan, apalagi memeranginya dengan melakukan aksi teror dan tindakan intimidasi.

Pada bagian yang lain, dalam surat Al Mujadilah ayat 13 disebutkan bahwa “Hai orang-orang yang beriman, sungguh Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sungguh Allah maha mengetahui”. Di ayat ini jelas disebutkan bahwa manusia itu diciptakan untuk saling mengenal satu sama lain, hidup berdampingan, dan saling tolong menolong. Bahkan beberapa ilmuan dunia menjelaskan bahwa kata “yang paling mulia adalah yang paling bertakwa” merujuk pada arti yang paling baik dalam kehidupan adalah mereka yang paling banyak memiliki kontribusi positif.

Di hadis yang lain menyebutkan “Demi Allah tidaklah beriman. Demi Allah tidaklah beriman, demi Allah tidaklah beriman. Siapa wahai Rasul? Dia yang tidak memberi rasa aman bagi tetangganya dari gangguannya (H.R Bukhari Muslim). Pandangan yang salah di mata masyarakat adalah pemahaman mengenai bom bunuh diri adalah jihad fisabiliah atau holy war yang menggunakan identitas Islam sebagai kedok membenarkan kegiatan teror. Padahal itu adalah pemikiran yang salah dan tidak benar. Istilah the holy war itu sebenarnya tidak pernah dikenal dalam perbendaharaan Islam Klasik. Istilah tersebut diyakini berasal dari sejarah Eropa dan dimengerti sebagai perang karena membawa alasan keagamaan. Pandangan Barat tersebut telah memberi dan citra negatif kepada Islam sebagai agama yang meyakini cara-cara kekerasan dan bergerak dalam kehidupan yang membenarkan tindakan teror terjadi di dalam masyarakat global.

Sejumlah kalangan ternyata telah salah mengartikan Jihad yang hanya dengan satu makna yakni dengan dalih perjuangan senjata yang menawarkan alternatif hidup mulia atau mati syahid (‘isy karīman aw  mut syahīdan). Opini yang berkembang di tengah masyarakat adalah para pelaku jihad dikaitkan dengan teroris. Padahal itu adalah konstruksi yang tidak tepat dan Islam tidak mengajarkan hal tersebut.

 

6 Modalitas Pembangunan Konektivitas dalam Regionalisme ASEAN

Kerja sama ekonomi regional yang diikuti Indonesia selalu erat kaitannya dengan pembangunan konektivitas maritim dengan memanfaatkan laut sebagai penghubung bagi kegiatan perdagangan internasional. Pemanfaatan tol laut kemudian digagas dengan pembangunan koridor ekonomi baik antara provinsi yang ada di Indonesia, maupun antar negara terutama dengan negara-negara anggota ASEAN. Indonesia sendiri terlibat dalam kerja sama ekonomi sub-regional (KESR) dengan maksud membangun konektivitas maritim di tengah dinamika geopolitik dan geo-ekonomi internasional dengan tujuan agar dapat tereintegrasi dan berperan aktif dalam pasar global. Setidaknya terdapat tiga KESR yang diikuti Indonesia di kawasan Asia Tenggara. Di antaranya, Indonesia Malaysia Thailand Golden Tiangle (IMT-GT), Brunei Indonesia Malaysia Philippinnes East ASEAN Growth Area (BIMP EAGA), Timor Leste Indonesia Australia Growth Triangle (TIA-GT)1.  

Dalam konteks dokumen the master plan on ASEAN connectivity 2010, konektivitas dan pembangunan maritim di Asia Tenggara dalam dilaksanakan dengan menggunakan tiga strategi. Pertama, pembangunan infrastruktur fisik dan peningkatan infrastruktur yang sudah ada. Kedua, pembangunan lembaga, mekanisme, dan proses yang efektif yang dilaksanakan dengan menyelesaikan berbagai hambatan dalam pergerakan barang dan orang serta fasilitasi investasi dan perdagangan intra-ASEAN. Ketiga, pembangunan masyarakat yang dapat diperdayakan (people to people connectivity) dalam rangka mempromosikan interaksi sosial budaya intra-ASEAN yang lebih dalam melalui upaya mobilitas intra-ASEAN yang lebih besar.

Agar dapat berjalan dan berhasil dan maksimal, pembangunan konektivitas dan integrasi ekonomi regionalisme di Asia Tenggara memerlukan beberapa modalitas. Berikut 6 modalitas pembangunan konektivitas dan kerja sama ekonomi sub-regional:

1.      Peran Pemerintah Daerah. Semakin aktif dan berkomitmen pemerintah daerahnya, semakin besar pula potensi kerja sama dan berjalanannya program pembangunan konektivitas. Sebagai contoh adalah peran aktif Provinsi Sulawesi Utara dalam membangun BIMP-EAGA. Demikian juga sebaliknya, semakin tidak aktif pemerintah daerah, maka akan sangat kecil kemungkinan terbentuknya kesepakatan kerja sama pembangunan konektivitas. Sebagai contoh adalah Provinsi Maluku dan Papua dalam konteks BIMP-EAGA.

2.      Status Delimitasi Batas Wilayah. Bahwa pembangunan konektivitas akan semakin mudah dicapai jika status delimitasi batas wilayahnya sudah jelas dan selesai seperti pada perbatasan Indonesia-Malaysia di Selat Malaka dalam konteks kerja sama IMT-GT. Sebaliknya, pembangunan konektivitas maritim dan kerja sama sub-regional akan semakin sulit berjalan jika delimitasi batas wilayah batasnya belum selesai. Seperti contoh kasus perbatasan laut Indonesia –Timor Leste dalam kerangka kerja sama TIA-GT.

3.      Modal Koordinasi. Modal koordinasi yang dimaksud disini adalah koordinasi antar pemerintah nasional dan pemerintah daerah dengan masing-masing negara anggota. Selain itu, koordinasi lain yang dibutuhkan adalah sekretariat nasional dan working group. Serta, sekretariat KESR dan sekretariat ASEAN. Semakin baik koordinasi yang dihasilkan dari ketiga modal koordinasi, semakin baik pula potensi kerja sama yang dihasilkan oleh negara-negara anggota yang terlibat di dalam kerja sama sub-regional.

4.      Harmonisasi Peraturan. Merupakan program pembangunan konektivitas yang telah disepakati di tingkat sub-regional. Misalnya adalah Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). Bagian lain yang masuk dalam modal harmonisasi peraturan dalam kerja sama sub-regional adalah birokrasi sederhana yang mendukung aktivitas kerja sama. Seperti kegiatan perdagangan internasional, impor dan ekspor serta investasi.

5.      Modal Anggaran Pendanaan. Pembangunan dalam koridor ekonomi akan berjalan dengan baik apabila ada dukungan berupa modal dan anggaran dana seperti bantuan anggaran dari Asian Development Bank (ABD).

6.      Potensi Ekspor Impor. Pembangunan konektivitas dan kerja sama sub-regional akan dapat terlaksana dengan baik jika setiap negara yang terlibat dalam kerja sama memiliki unsur penunjang seperti komoditas ekspor dan impor sebagai komoditas yang saling melengkapi. Sebaliknya, jika dalam kerja sama sub-regional, negara tidak memiliki komoditas unggulan yang dapat saling ditukar, kemungkinan kerja samanya tidak akan berjalan dengan baik dan dapat terhenti dengan sendirinya. Sebagai contoh adalah pada kasus jalur kapal Ro-Ro Davao Filipina dan Bitung Indonesia yang sudah tidak dapat berjalan lagi pasca diluncurkan pada April tahun 2017.

 Selain itu, hal yang sangat ditekankan dalam kerja sama sub-regional dan pembangunan konektivitas dapat membentuk tiga jenis regionalisme seperti yang dijelaskan oleh Asian Development Bank. Pertama, regionalisme dalam bentuk kerja sama regional. Bentuknya dapat berupa konferensi, forum regional, dan bentuk sejenis. Hasilnya adalah perjanjian, deklarasi, dan strategi kerja sama. Kedua, penyediaan layanan regional. Ketiga, integrasi pasar regional. Hal lain yang menjadi penentu keberhasilan kerja sama sub-regional adalah rendahnya tendensi persaingan kepentingan negara-negara yang ada di Kawasan Asia Tenggara. Hal ini disebabkan letak Indonesia dan ASEAN yang berada di tengah kawasan Indo-Pasifik, dimana terdapat persaingan dua kekuatan besar dan rivalitas antara AS dan China2.   

 

Daftar Rujukan

Kartini, Indriana, dkk. (2020). Penguatan Konektivitas Lintas Batas dalam Kerja Sama Ekonomi Sub-regional. Jurnal Penelitian Politik Vol 17 (1). Hal 117-139.

Alunaza, Hardi. (2020). Diplomasi dan Pembangunan Konektivitas Maritim Indonesia dalam Konstelasi Politik Global. Jurnal Penelitian Politik Vol 17 (2). Hal 295-303. 

Senin, 21 Februari 2022

Tentang Menikah

Segala sesuatu tentang menikah sering kali menjadi bahan perdebatan. Bisa jadi saat kumpul keluarga, saat lebaran, saat kumpul pertemanan, dan banyak waktu lain yang biasanya menjadikan ‘menikah’ sebagai isu utama untuk dibahas. Berikut ada beberapa hal yang menjadi perhatian bagi anak muda sebelum menjadikan isu ini sebagai isu sentral dalam kehidupan mereka.

Menikahlah dengan orang yang mau diajak kerja sama melakukan apapun. Sebab kehidupan pasca menikah itu adalah kehidupan yang bisa jadi serba susah, serba memulai untuk mandiri, serba belum pengalaman, dan lain-lain. Penting banget untuk menemukan partner menikah yang mau diajak susah bareng, cari pengalaman bareng, susah ngurus anak juga bareng. Misal, suami harus punya skill untuk dapat membantu istri agar derajat kewarasan istri tetap berada pada derajat normal. Pasca menikah, suami itu bukan bos dan istri itu bukan pembantu rumah tangga. Cari suami yang bisa dan mau turun ke dapur, mau masak, mau bersih-bersih bukan cuma sibuk maen games, bukan hanya sibuk mendatangi kafe untuk ngopi. Cari istri yang siap bekerja keras, bisa diandalkan ini itu bukan hanya duduk imut manja ngabisin bedak. Harus bisa saling melengkapi satu sama lain. Berikan surprise ke masing-masing pasangan dengan kerja sama bukan hanya dengan cokelat dan bunga mawar atau kue tart ucapan selamat.

Menikah itu adalah perihal meng-upgrade kapasitas masing-masing. No one’s leave behind. Suami harus bisa menjadi pelengkap untuk upgrade skill istri, begitu juga sebaliknya. Kalau istri punya cita-cita sebelum menikah, cita-cita tersebut harus dilanjutkan, jangan berhenti hanya karena sudah menikah. Pasangan adalah wadah terbaik untuk belajar. Suami istri tetap bisa berbakti ke keluarga masing-masing tanpa ada batasan atau condong ke satu keluarga saja. Sebab menikah adalah bertambah saudara, jadi harusnya silaturahminya makin luas.

Bagian ini adalah yang paling penting. Menikah adalah persoalan memiliki maaf dan sabar yang tidak terbatas untuk pasangan. Ini adalah bekal yang sangat krusial kalau seseorang mau menikah. Sebab yang akan kita temui di sekian tahun perjalanan pernikahan kita adalah kekurangan pasangan masing-masing. Sudah siapkah kita untuk selalu memaafkan ‘dia’ kalau dia salah, begitu juga sebaliknya. Kalau pun harus pacaran sebelum menikah, cari tau baik buruknya, jangan baiknya saja. Ada banyak pasangan yang menikah kemudian tidak membutuhkan waktu lama menetap bersama dan berpisah karena tidak dapat menerima lebih dan kurang pasangan. Hal ini mungkin terjadi karena semasa perkenalan atau pacaran yang ditunjukkan baik kepada pasangan atau pun keluarga pasangan adalah hal yang baik-baik saja. Menikahlah ketika kamu siap dengan stok sabar dan maaf yang tidak terbatas. Sebab sekali untuk seumur hidup itu membutuhkan saldo maaf dan sabar yang tidak sedikit nominalnya. Menikah adalah sebuah proses menerima kekurangan pasangan yang tidak engkau temui ketika ta'aruf dengannya.

Bagi yang belum menikah, inilah adalah waktu yang tepat untuk memperbaiki diri. Jangan sibuk mencari yang sholeh dan sholehah tapi lupa menjadi. Jangan sibuk mencari yang sholeh tapi lupa menjadi sholehah begitu juga sebaliknya. Penting menjadi perhatian bahwa menjadi sholeh dan sholehah-lah di dunia nyata. Kau tak perlu tampak sempurna di sosial media. Karena sejatinya menjadi sholeh dan sholehah adalah dari tingkah laku kita. Jangan menjadi salafi hanya sebatas di dunia maya. Di dunia nyata bejatnya minta ampun. Ketika kau mencari yang sholeh dan lupa menjadi, maka yang kau dapatkan pun akan sama. Tampak sholeh dan sholehah hanya di media sosial saja, nanti dipertemukan dengan jodoh yang hanya sebatas sholeh dan sholehah di media sosial juga.

Cinta yang abadi adalah jatuh cinta dan memberikan rasa yang sama setiap hari kepada orang yang sama, pasangan.

Ingat, indahnya kehidupan menikah itu adalah satu dua tiga tahun pertama, selebihnya adalah seru karena kita akan dihadapkan dengan hal-hal yang (mungkin) di luar dugaan. Sabar dan maafnya harus dibanyakin.

Laki-laki a.k.a kaum Bapak harus lebih bisa berusaha mendengarkan setiap keluh kesah pasangan (setiap suami pasti berusaha untuk ini). Begitu pun perempuan, harus lebih bisa menyampaikan apa yang diinginkan tanpa adanya kode-kode. Almost lelaki itu tidak paham dengan dunia perkodean, beberapa ada. The most important thing adalah jaga komitmen pernikahan.

 

 


𝗞𝗨 𝗞𝗜𝗥𝗔 𝗗𝗜𝗔 𝗣𝗘𝗡𝗚𝗘𝗠𝗜𝗦

Suatu malam setelah maghrib, aku mengendarai mobil menuju rumah. Tiba-tiba rasa migrain nyeri menyerang kepala hingga aku menepikan mobilku.

Berhenti sejenak menunggu rasa nyeri berkurang, aku berusaha mengalihkan pikiran dengan melihat sekeliling. Tiba-tiba kaca mobilku diketuk seorang anak laki-laki kira-kira umur 12 tahun. “Pak.. Bapak mau parkir? Saya bantuin untuk parkir mobilnya ya.” katanya.

“Belum sekarang, saya mau istirahat dulu,” jawabku.

“Kalau gitu apa Bapak punya uang 2000?” tanya anak itu.

Karena aku sedang tidak mau diganggu, aku buru-buru serahkan uang itu. Lalu aku mulai mengamati anak itu. Dia mendekati tukang gorengan lalu membeli beberapa gorengan. Kemudian gorengan itu dia berikan pada sesosok orang tua yang duduk di bawah tiang listrik. Ketika dia melewati samping mobilku, aku buka kaca dan memanggilnya.

“Eh.. dik sini, itu siapa?” tanyaku.

“Gak tau pak, saya juga baru saja ketemu” jawabnya.

“Loh, tadi kamu minta uang ke saya untuk beli gorengan, kenapa diberikan ke bapak tua itu?” tanyaku.

“Oh.. saya tadi duduk di situ, ngobrol sama bapak itu. Bapak itu katanya puasa. Tadi saya lihat buka puasanya cuma minum. Katanya uangnya habis. Hari ini saya nggak jualan koran. Tanggal merah pak. Jadi ga punya uang. Saya cuma ada uang 1000. Kalau beli gorengan cuma dapat 1 kasihan ga kenyang. Makanya saya minta bapak 2000. Biar dapat 3. Bapak mau parkir sekarang? Saya bantuin parkir ya pak. Bapak kan udah bayar. Kalau saya sebenernya bukan tukang parkir,” katanya tertawa sambil garuk-garuk pipinya.

Aku terdiam. Tadi aku pikir anak ini pengemis seperti anak-anak yang biasa mangkal di jalan. Ternyata aku salah besar.

“Terus uang kamu habis dong dik?” tanyaku.

“Iya pak. Nggak apa-apa. Besok bisa jualan koran. Inshaa Allah ada rejekinya lagi.” jawabnya.

“Kalau gitu bapak ganti ya uangnya dik … Sekalian sisanya buat jajan.” kataku sambil menyerahkan lembaran uang Rp 20.000,-.

“Nggak usah pak, Jangan.. Ibu saya sebetulnya melarang saya minta-minta. Makanya saya tawarin bapak parkirin mobil. Soalnya tadi saya kasihan bapak tua itu aja. Cuma saya bener-bener nggak punya uang,” katanya lagi.

“Eh Dik.. Bapak minta maaf ya tadi salah sangka sama kamu. Kirain kamu tukang minta-minta” kataku merasa bersalah.

“Saya yang minta maaf pak. Saya jadi minta uang duluan sama bapak. Padahal saya belum kerja.” jawabnya.

“Sama-samalah. Ini ambil uangnya. Ini kamu nggak minta, bapak yang beri.” kataku.

“Nggak pak, Makasih. Bapak mau parkir sekarang?” tanyanya lagi.

“Nggak. Bapak nggak usah dibantu parkir,” kataku.

“Beneran pak? Soalnya saya mau jemput adik saya ngaji dulu. Takut nangis kalau kelamaan telat jemputnya.” katanya.

“Udah, sana jemput aja adikmu.” kataku tersenyum.

“Makasih ya pak.” katanya setengah berlari meninggalkan saya yang termangu.

Aku menoleh ke tiang listrik, bapak tua itu sudah pergi. Aku lihat dari spion mobil, anak itu berjalan setengah berlari.

Di luar sana banyak orang tidak seberuntung kita, tapi mereka masih memikirkan sesama, masih berusaha bersedekah dan sangat yakin akan jaminan rezeki.

Terima kasih nak, kamu hari ini telah memberikan pelajaran akhlaq yang luar biasa untukku. Semoga hidupmu berlimpah berkah dan rezeki.

Aku starter mobil dan melaju pelan-pelan menuju rumah. Aku sedih dan tanpa sadar meneteskan air mata, karena belum bisa berbuat banyak untuk sesama.

*Beberapa anak beruntung dilahirkan dan dibesarkan pada keluarga yang cukup materi. Sisanya, lebih beruntung karena diberikan hati dan pundak yang kuat untuk berusaha sendiri. 

Tentang Pulang

Pulang bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan batin yang penuh makna. Pulang adalah kata yang menyentuh hati, membawa kita kem...