Senin, 15 Februari 2016

Jalan Hitam Kehidupan

Jika dulu adam dan hawa tak melanggar
Jika dulu mereka tetap di surga
Apakah kita saat ini berada di surga juga?
Hidup memang menawarkan dua jalan
Hitam dan putih
Jika putih tak lagi diragukan, itu pasti baik
Namun hitam?
Susah sekali merubahnya menjadi putih
Tabiat buruk kadang mengakar
Karena apa? Kebiasaan yang membentuknya
Jalan hitam kehidupan,
Memberikanku banyak pelajaran
Seperti hari ini,
Saat aku memang mendapatkan apa yg aku usahakan
Hitam, biarlah...
Masih tetap berusaha menjadikannya putih
Entah sampai titik mana aku bisa
Hitam kah selamanya?
Biarkanlah!

Jumat, 12 Februari 2016

“Sebab Kita Tak Setabah Daun”

Pada umumnya buku kumpulan puisi bercerita dengan bagian yang terpisah antara halaman satu dengan halaman yang lainnya, baik dari segi judul maupun makna yang terkandung dari diksi yang disuguhkan kepada pembaca. Berbeda dengan buku Biru Magenta ini. Buku ini merupakan sebuah buku kumpulan puisi yang mengisyaratkan percakapan antara Biru dan Magenta yang dari setiap judul halaman yang tersedia saling bersambung, melengkapi dan terasa hidup dalam percakapan yang tertuang. Biru diumpamakan seperti langit yang selalu melingkupi orang tersayang dan Magenta adalah cinta yang menyala pada kelamnya biru malam. Keduanya saling berujar tentang cinta, kasih sayang dan kerinduan dengan bahasa yang sangat terbuka, terlalu jujur. Mengambil latar tempat seperti Malang, Jakarta, Probolinggo, dan Solo, Biru dan Magenta mengajak kita merenungkan perjalanan masa lalu serta kenangan yang telah terabadikan. Kita seolah diberikan ruang untuk menyuarakan jutaan perasaan yang pernah datang dan hinggap dalam ruang kehidupan.


Membaca halaman demi halaman buku kumpulan sajak puisi ini, kita serasa berada dalam ruangan yang sedang menyaksikan Biru dan Magenta untuk meluapkan emosi yang begitu menghentak dan memecah kesunyian setiap pojok ruang kerinduan. Dengan bahasa yang begitu mengalir dan mendayu-dayu, buku ini bercerita tentang ungkapan wujud cinta yang berserakan, telah lama tak terungkapkan, akhirnya bisa disatukan dengan teriakan kata penuh warna yang indah seindah kumpulan warna pelangi kala hujan tiba. Meski terlihat terjadi pertentangan antara Biru dan Magenta, bagian akhirnya adalah sebuah perkawinan kata yang begitu mesra, romantis, penuh makna.  
Bagian paling menarik dari buku ini terletak pada judul Aku Ingin Jadi Merah di Atap Rumahmu dengan kutipan sajak ”Membicarakan esok dan kemarin yang selalu seperti tak pernah minta izin bila hendak berganti. Menyudahkan yang belum ingin disudahkan, memulaikan yang belum siap dimulaikan. Sebab kita tak pernah setabah daun yang rela tumbuh menghidupi lalu mengering, Terbang hilang (Halaman 27).” Kutipan puisi tersebut seperti menyeret pembacanya dalam arus imajinasi panjang tentang makna kehidupan, berpikir mengenai arti cinta, masa lalu dengan noktah-noktah kenangan, serta masa depan yang belum terbayangkan, namun diselipkan lewat sebuah doa dan harapan.
Penulis seperti ingin menjelaskan bahwa manusia adalah insan yang berbeda dengan daun. Jika daun hanya datang, tumbuh, melindungi, jatuh, terbang, kemudian hilang, berbeda dengan manusia yang harus melewati proses panjang untuk bisa memberikan makna dari kehidupan masa lalu, peristiwa saat ini, dan harapan masa mendatang seperti yang terlukis dari percakapan antara Biru dan Magenta.
Dilanjutkan lagi dalam Judul sajak Biar Kudefiniskan Untukmu dan Biar Kudongengkan Untukmu dengan petikan “Mencintai adalah mencintai. Koma, masih koma, belum titik. Maka, jangan menyerah, hidup adalah hidup, koma, masih koma, belum titik (Halaman 31-32). Penulis juga menyampaikan pesan tersirat kepada pembaca, bahwa tidak ada kata menyerah dalam memperjuangkan cinta, rindu, kasih sayang, dan kehidupan. Selama masih ada tanda waktu dan kesempatan, perjuangan akan terus berlanjut, belum berakhir, takkan terhenti.
Petikan paling menggelitik adalah ketika Magenta berujar tentang cinta dan gatal. Mendefinisikan cinta sebagai rasa gatal yang ingin digaruk, lecet dan diberi salep untuk mengusir cinta. Begitu pun Biru, ia membalas rasa kelucuan itu dengan bercerita sederhana mengenai cinta dan sambal. Bercakap akan cinta yang tak lagi serupa rasa gatal, tetapi sudah berubah menjelma menjadi sambal. Sambal yang mencandu lidah-lidah penikmat cinta, meski akhirnya mereka harus terbakar (Halaman 55-57).
Kepiawaian penulis dalam merangkai setiap kata yang tersaji dalam buku ini tidak diragukan lagi. Kekayaan bahasa, keluwesan sajak, dan pilihan kata yang mewakili setiap bagiannya sangat hidup dan saling beriringan. Jika boleh menyimpulkan, ini adalah buku kumpulan puisi yang berbeda dari segi jalan cerita dan sangat menyentuh jika dilihat dari penggunaan kata dan makna tersirat yang ingin disampaikan si penulis kepada para pembaca.
Ini adalah buku yang sangat direkomendasikan untuk dibaca. Membaca bagian awal buku ini mungkin Anda akan merasa bingung dengan isinya. Tapi, semakin Anda membaca halaman demi halaman, betapa banyak hal yang akan Anda peroleh setelah membaca buku yang sangat luar biasa ini. Anda akan diajak bernyanyi, menari dalam memori, serta meluapkan emosi dengan bahasa cinta, kerinduan, dan kasih sayang yang menyentuh dan sarat akan kejujuran. Bersiaplah untuk terhipnotis dengan nada-nada puisi yang disajikan. Selamat membaca!  


Patah Hati Terindah

Dua bulan terakhir adalah hari-hari panjang yang cukup berat dalam hidupku. Wajahku sering mengernyit saat duduk sendiri. Sisi malaikatku seperti berontak dengan apa yang aku jalani. Rasanya seperti ditampar peringatan yang jelas memojokkanku. Hatiku teriris tak terbilang, entah sudah berapa kali aku menderu menangis mengingat apa yang sudah terjadi. Aku sadar dengan kesalahan yang aku lakukan, tapi logikaku tak bisa menerima jika aku harus berpaling. Aku bisa dengan mudah mengganti perasaan sedihku dengan senyum sumringah saat bertemu dengannya. Sosok lelaki yang sudah berkali-kali membuat hatiku patah. Berkeping-keping tak terhingga, hingga aku lupa bagaimana sakit hati yang sesungguhnya. Aku ingin berteriak mengungkap kebenaran setiap kali bertemu dengannya, namun sikapnya membuatku tak bisa berkata apa-apa. Ia bisa hadir dengan ketenangan yang membuai dan membuatku lupa akan sisi kebenaran yang diilhami Tuhan.
Memaafkan? Ya, itulah yang selalu aku lakukan untuk berdamai dengan hati dan perasaanku. Meski aku tak rela tiap kali aku melihatnya bersama yang lain. Air mataku bisa menganak sungai jatuh tak tertahankan jika melihatnya berjalan berdampingan dengan wanita lain. Aku bahkan tidak rela jika ia jauh dariku walau itu untuk urusan pekerjaan. Aku bisa begitu cepat berubah, hatiku seolah tercabik-cabik jika ia pergi dengan yang lain. Sungguh, aku tak bisa jauh darinya, tanpanya hariku akan berlalu begitu hampa. Aku tak ingin ia membagi perhatian dengan yang lain, meski itu akan sangat berat. Aku ingin ia hanya ada untukku, menemani hari-hariku berlalu, tanpa ada mata lain yang melirik dan mengganggu kebahagiaanku. Kadang aku juga merasa menjadi manusia yang paling kotor saat bertemu dengan Tuhanku, aku lupa bagaimana mencintai sang pencipta dengan benar. Aku tak ingat bagaimana menjadikan Tuhan nomor satu dalam hidupku. Karena hatiku sudah terkunci oleh satu cinta, cinta seorang lelaki biasa yang bisa membuatku nyaman, merasa diperhatikan, hingga aku lupa jika aku punya Tuhan.
Saat aku merasa cemburu dengan sikapnya, kadang aku merasa lega karena aku memiliki kesempatan untuk menjauh darinya. Ada sedikit rasa sakit, namun aku sadar bahwa kehidupan akan terus berjalan. Aku berusaha melupakan, aku mencoba melanjutkan kehidupanku, memulai semua dengan awal yang baru. Bisa ingin bisa bernapas seperti biasa, tanpa ada sesak di dalam dada yang membuat hatiku terus terluka.
“Maafkan aku Nayla, jika sikapku padamu menjadikanmu begitu terpukul dan terluka,” Gagah mendekatiku. Ia terus berdiri di sampingku, menanti jawaban yang akan aku ucapkan padanya. Ada kesedihan yang tersirat di wajahnya.
“Bukankah aku telah mengatakan padamu untuk tidak menyakitiku lagi Gagah?”
“Jangan membuat keadaan ini semakin rumit Nayla,” ucap Gagah. Bibirnya bergetar, dan untuk sesaat, aku melihat kepedihan terpancar dari wajahnya. Ada balutan penyesalan yang berbinar di wajah lelaki yang kucintai itu. Wajah putih bersih yang biasa aku pandang, bisa berubah menjadi begitu murung dalam tatapan luka. Saat itulah aku memahami, ia sungguh mencintaku. Meski aku tak kuasa menyembunyikan sakit hatiku saat ia dihampiri wanita lain.
“Aku tidak mengerti bagaimana seharusnya aku bersikap kepadamu. Aku tidak mungkin menghindari teman-temanku untuk mengobati rasa cemburumu Nayla.” Aku memaksa mataku menatap Gagah, namun kepalanya tertunduk, aku sadar bahwa sikapku sering membuatnya terluka. Tapi aku belum bisa menerima jika ia harus berbagi perhatian dengan yang lain. Aku memang saat mengharapkannya, meski sudah tak terhitung berapa banyak ia membuat hatiku patah. Patah sepatah-patahnya.
“Aku menyesal atas semua kelakuanku Nayla, maafkan aku.” Kalimat terakhir yang ia ucapkan membuatku terbang tinggi melayang. Mengitari angkasa luas dan berbisik pada dunia bahwa aku bahagia ia datang dengan cinta. Bergumam dalam hati bahwa aku takkan melepaskan Gagah. Aku belum bisa jika harus hidup tanpanya. Meski aku lupa jika aku bertuhan, jika aku menjauhi penciptaku.
Curahan hujan membasahi jendela kamarku. Siang itu aku menyaksikan Gagah kembali hadir dengan sejuta cinta untukku. Cinta yang telah membius semua sisa-sisa hariku hingga aku tak lagi menjadi manusia yang taat saat bertemu Tuhan, aku hanya mengingat Tuhan seadanya. Hubunganku dengan sang pencipta tak seindah dulu. Gagah telah merenggut semua kedekatan itu. Ialah sosok yang menjadikanku lupa dan menjauh dari firman Tuhan. Meski aku terlihat begitu mesra datang mendekat saat Gagah menjadi alasan untuk semua kepalsuan itu. Aku bukan mesra saat mengingat Tuhan, aku mesra karena Gagah, aku mesra karena hatiku sudah terpikat sepenuhnya oleh cintanya.
Saat hatiku sudah terbiasa menikmati indahnya cinta yang diberikan Gagah, ia kembali menghancurkan hatiku. Hanya dengan alasan sederhana, aku bisa menjadi begitu marah padanya. Aku tak kuasa mendengar Gagah berucap bahwa ia merindukan teman lamanya. Aku terdiam, tidak ingin membalas apapun ucapannya. Aku membenamkan kepalaku di atas meja, menekan keningku hingga ke lutut. Aku ingin ia pergi jauh, aku ingin memejamkan mata lebih lama. Aku ingin ia berlalu, aku ingin Gagah berhenti mengusikku. Aku ingin kehidupan yang baru. Memulai kisah tanpa luka dan air mata. “Aku ingin kau menghilang, menjauh dan tak perlu lagi mengganggu hidupku. Aku ingin kau pergi!” Aku membentaknya. Kuharap ia membalas amarahku saat itu juga. Memutuskan segalanya dan memaki-maki diriku, hingga aku bisa lebih mudah melepasnya, mungkin itu akan lebih baik.
Tapi Gagah tidak membalas ucapanku. Ia diam dan tertunduk di depanku. Aku merasa kesal karena ia mencoba memperbaiki hubungan kami. Ia menatap wajahku, meminta maaf atas kesalahannya yang telah membuatku menangis lebih lama. Ia juga berjanji akan berusaha menjadi lelaki yang lebih baik untukku. Aku menjatuhkan diri di atas pangkuannya, aku menangis, aku sungguh mencintai Gagah. Meski terlalu sering hatiku patah dibuatnya, itu adalah patah hati terindah. Gagah mencintaku, ia amat mencintaiku. Gagah lelaki terindah yang hadir menemani hidupku dengan sejuta cinta.

Setelah kejadian itu, aku selalu menghabiskan waktuku bersama Gagah. Tak sehari pun detak detik yang kumiliki berlalu tanpanya, aku terbius oleh sukma cinta agung yang ditularkan Gagah padaku melalui sikapnya. Aku mencintainya tanpa logika, Gagah adalah alasanku satu-satunya untuk bahagia. Meski kini aku jauh terasing dari sang pencipta, meski sisi malaikatku terus berteriak memintaku kembali. Aku akan menikmati hari berlalu bersama Gagah. Lelaki yang telah membuatku merasakan patah hati terindah dalam sisa perjalanan hidupku. 

Rabu, 10 Februari 2016

ketika hati harus memilih

Aku disini,
Merasakan dilema berkali-kali
Entah bagaimana harus membagi rasa cinta
Cinta untuk sahabat, pasangan, orang tua, keluarga serta orang-orang terkasih
Beratus kali aku mencoba memilih
Memastikan logika ini berjalan sempurna
Hingga tidak ada yang tersakiti dengan sikap ini
Ketika hati harus memilih,
Aku memilih melabuhkan cinta ini pada Tuhan
Yang telah menjadikan aku ada dan bernafas hingga kini
Jika hati harus memilih,
Aku memilih untuk tidak mengenal cinta pada manusia
Yang bisa membuat hati merasa bimbang untuk berlaku adil
Meski tak terhitung brapa puluh kali Tuhan aku abaikan
Meski tak terkira berapa banyak manusia yang tersakiti akibat sikapku
Tapi, aku harus memilih...
Memastikan bahwa pilihan itu adalah pilihaƱ terbaik
Ketika hati harus memilih,
Aku meminta Tuhan agar menjauhkanku dari dunia
Melepaskan seluruh bayang semu yang menyiksa
Ketika hati harus memilih,
Aku ingin pergi jauh hingga tak ada yang bisa menyaksikan kefasikan diri
Saat hati harus memilih,
Aku ingin mati muda, agar aku bisa bertemu dengan Tuhan lebih lama
Hingga dosa dan kekhilafan takkan lagi jadi hujatan manusia
Ketika hati harus memilih, aku memilih menjauh mundur
Jika diri ini dihinggapi banyak kecacatan,
Semoga banyak maaf yang tersisa
Karena ketika lidah ini kelu,
Saat tangan ini tak mampu lagi berjabat
Ketika mata ini tak lagi terbuka
Aku memilih menemui Tuhanku sesegara mungkin
Memintanya menjadi teman terbaikku
Ketika aku harus memilih...

Selasa, 29 Desember 2015

Izinkan Kubertutur (JATUH HATI)

Terlalu banyak kata menyelinap didalam benakku, seperti tak kuasa lagi kutahan dan memaksaku untuk menuturkan. Metamorfosa suatu perjalanan panjang telah membawaku menikmati sederet pengalaman yang sungguh mahal untuk kulupakan, bak keajaiban yang mendekat dan anugerah kala senja pamit meninggalkan dunia untuk menyambut malam. Telah kuhabiskan banyak waktu mengiringi satu demi satu liku kehidupan penuh hiasan laksana semerbak warna pelangi yang menyajikan keindahan untuk diabadikan. Tidak jauh berbeda, aku punya sederet diksi yang bisa menjelaskan itu semua. Pernah kau, mendapati sepasang pasutri dengan hati yang begitu bening dan bisa kau tandingi? Adalah sepasang anak yang berhati mulia nan menakjubkan seperti kilauan permata. Mereka tidak hafal ayat qur’an, tapi kebaikan dan kedermawanannya, aku yakin pasti mengalahkanmu. Jangankan hadist, baca tulis saja mereka terlalu sulit, tapi kilauan nurani dan rendah hatinya menusuk sembilu seakan kita tidak ada apa-apanya. Coba bandingkan dengan diri kita, mengenyam pendidikan tinggi, tapi hati kita terkadang terlalu sering lalai untuk menuai kebaikan. Keikhlasan dan kejernihan pengalaman masa lalu telah mengajarkannya untuk berdiri tegak menebar kebaikan, meski tidak sedikit yang tidak menghargainya. Cobalah kau bertutur padaku, adakah kau saksikan seorang Ibu yang begitu baik perangai dan kepribadiannya, mendengar suaranya saja sudah luluh hati dibuatnya. Tidak pernah kenal apalagi bertatapan mata, tapi dari jauh ia bisikan nasehat dan kekuatan untuk tetap sabar dan tegar, karena baginya segala sesuatu terjadi selalu ada hikmahnya. Ah, Ibu, kebaikanmu tidak hanya bisa kurasakan dari kejauhan, bahkan permata-permata hati yang kau punya begitu luar biasa, Chandra, misalnya. Susah sekali membalas semua kebaikannya, aku yakin bahwa kau sangat bangga memiliki anak seperti dia. Aku selalu mendo'akannya agar luus dan bisa S2 di luar negeri Buk, makanya aku berharap azzamnya untuk terus belajar bahasa Inggris tetap menyala. Belum terlambat baginya untuk belajar, aku yakin ia pasti bisa Buk. Aku ingin dia lebih pintar, lebih hebat, lebih sukses dari kami-kami seniornya Buk. Ibuk, kebaikanmu penuh, semoga kesabaran dan kebahagiaan selalu Ia limpahkan untukmu disana, Ibuk. Setiap ingat petuah dan kebaikanmu, aku jadi ingat lagu Raisa Buk, ibuk tau judulnya apa? JATUH HATI.
*Kuterpikat pada tuturmu, aku tersihir jiwamu, terkagum pada pandangmu, caramu melihat dunia, kuharap kau tahu bahwaku terinspirasi hatimu.  
Belum lagi Ibuk Yunis, Bapaknya, Yunis, Mbak Mila, ah apalagi yang tidak baik dari mereka, sudah terlalu banyak kebaikan mereka untuk diri ini, padahal baru kenal, tapi mereka baik sekali. Allah maha besar.
Kalau lagi penat dalam menghadapi kehidupan, aku ingat kata-kata seniorku Buk. Seniorku bilang “Bersabarlah, maka gunung akan runtuh dengan sendirinya, lautan akan kering, biarkan waktu menghabisi semuanya.”

Ibuk memang luar biasa, baik sekali terhadap siapa saja...
Semoga kebaikan terus menyertai Ibuk, Chandra, dan keluarga Mbak Yunis. Aamiin...
(Jogja, 29 Desember 2015, di atas ranjang kusam malam ini).

Sabtu, 26 Desember 2015

Kertas Putih dan Titik Hitam

Kita memang bisa memilih,
Siapa yang akan kita jadikan teman dalam hidup
Bagaimana kita harus bersikap
Apa yang harus kita kerjakan dalam keseharian
Karena kita punya bekal, kita punya hati
Hati yang telah Allah hadiahkan adalah untuk jalan kebaikan
Sikap kita pun adalah cerminan dari hati di dalam diri kita
Semakin bersih hati kita, semakin baik pula cahaya yang ia pantulkan.
Ada banyak sekali kode yang Allah berikan untuk menjaga kebersihan hati kita
Kembali, apakah kita mau menjaganya atau tidak
Ibaratkan kertas yang putih, begitu pula bila hati kita dalam keadaan bersih.
Tak sedikit pun ada noktah hitam yang terlihat di antara garis-garis kertas tsb.
Allah itu maha adil, Ia uji kita untuk tahu sejauh mana keimanan kita
Ia berikan kita hati, Ia berikan juga jin dan setan untuk menguji kadar imana kita
Jika kita mengikuti dua makhluk tsb, maka noktah hitam akan hinggap di hati kita
Awalnya kecil, semakin lama semakin besar dan kertas putih akan terlihat kusam.
Mampukah kita mengendalikan hawa nafsu dan mengalahkan godaan setan?
Hingga hati kita tetap bersih dan terjaga dari kemaksiatan.
Tanyakan pada diri kita masing-masing
Karena kita lah yang tau, apakah hati kita putih, atau justru banyak noktah hitam didalamnya
*Maha benar Allah dengan segala firmanNya.

Rabu, 02 Desember 2015

Judika versus Adera, Kau Pilih Mana?

Tulisan ini adalah hasil komparasi dua lagu yang selalu bakal gue otomatis galau kalo lagi dengerin ato gak sengaja denger dua lagu itu. Liriknya emang mellow, dan I don’t know why, setiap kedengeran dua lirik lagu itu, konsentrasi gue langsung buyar, semacam keinget kisah romantis. Tapi sebenarnya, gue juga mengakui kalo kita masih merasa galau atau gelisah dan sejenisnya berarti kisah masih normal, which is dalam hidup pasti kita gak bakal bisa kepisah sama yang namanya cinta, betul kan? Angkat tangan kalo setuju, kan karena kita normal, kepikiran masa depan, seketika kita menjadi gelisah dan tak karuan. Tapi, jangan sampai keseringan juga, itu gak baik juga buat kesehatan.
Penasaran kan dengan dua lagu tersebut? Okee, sekarang gue kasih tau, lagu yang pertama adalah lirik lagunya Judika yang judulnya Sampai Akhir.
Kasih ku berjanji selalu menemani, saat kau bersedih, saat kau menangis
Kan kujaga segenap cinta yang ada untukmu
Selama nafasku masih berdetak dan jantungku trus memanggil indah namamu, takkan pernah hati ini terpisah sampai akhir hidup ini.

Secara lirik sebenarnya biasa aja, tapi you know musiknya membuatku kita gak bisa kemana-mana eh, membuat kita betah buat mendengarkannya sampai habis. Aslinya tadi tuh cuma niat beli makan aja di depot, tapi pas denger lagu itu semacam ada suara hati yang ingin terkuak keluar dan pergi jauh mencari seseorang untuk dibawa ke penghulu, wkakakaka. *Amit2!
Gue sendiri suka sama lagu ini karena pas kerja di BKMA banyak banget kisah yang pake latar lagu ini, adeh, susah buat diungkapkan disini, gak bakal kelar sehari semalam, mau lue begadang demi cerita tsb? Gak kan?

Baiklah, sekarang kita beralih ke lagu yang kedua, adalah lagu yang memang punya kisah tersendiri buat gue saat dulu sedang belajar alias baca-baca skripsi di danau kampus UI. Yakni lirik lagu Adera dengan judul melukis bayangmu. Masak iya pas gue di UI sama Monas mau melukis bayang-bayang di sono? Yang ada malah gue dikejar security lagi. Anyway, permintaan lue pas gue lagi duduk-duduk di taman UI udah gue ikhlaskan kok. Biar Tuhan yang jawab dan membuktikan siapa yang paling benar dalam berkisah antara kita, apakah gue yang berdrama, atau justru lue yang memang susah buat ngatain yang sesungguhnya kalo kita memang susah buat barengan. Haddeeeh, barusan gue nulis apaan ya? Kok kayak script sinetron begitu, kata-katanya susah buat di rem. Gimana liriknya? Berikut gue tulisin khusus buat lue, cekidot

Ku melintas pada suatu masa ketika ku menemukan cinta
Saat itu kehadiranmu memberikan arti bagi hidupku
Meskipun bila saat ini kita sudah tak bersama lagi
Ada satu yang kurindu, kehangatan cinta dalam pelukanmu
Biarkan aku melukiskan bayangmu karena semua mungkin akan sirna
Bagai rembulan sebelum fajar tiba,
kau selalu ada walau tersimpan di relung hati terdalam

Sudah galau belum? Galau kali kau kan? Inilah lagu yang buat aku galau saat belajar skripsi tahun lalu di danau UI. Lirik lagunya nusuk, semenusuk ketika teringat kenangan saat kerja di DPPM, kami rebutan buat mendengarkan lagu ini setiap hari. Gak percaya kau kan? Mana percaya, soalnya kau tak ada disitu waktu tu. Gak, tapi emang beneran deh, kadang cinta itu aneh ya, karena mendengarkan lagu aja bisa galaunya berkepanjangan. Gara-gara liat photo aja bisa gelisah gak karuan, gara-gara suatu kejadian, kita bisa diombang-ambingkan memori masa silam yang sebenarnya sudah tidak elok untuk dibahas dan diingat-ingat yakan? Karena masing-masing kita juga udah berjalan sendiri-sendiri, menapaki kisah masa depan tanpa melirik seperti pernah peduli, mendiamkan seperti memang ada suatu hal yang ingin dilupakan, atau justru karena kenangan yang menumpuk sehingga kita susah untuk saling bersahut-sahutan? Lebih jauh ingin aku katakana, bahwa jarak adalah musuh paling hebat yang sulit untuk bisa kita kalahkan. Belum lagi rasa gengsi yang bertumpuk sehari demi sehari, menimbun benih kelukaaan dan takkan pernah dihentikan. At least, gue Cuma mau bilang aja, intinya jodoh itu takkan ketukar, jodoh itu akan dipertemukan, dan jodoh itu pasti saling bersamaan. Mau dijaga sampe mati juga kalo memang gak jodoh kita mau bilang apa? Teruntuk memori akhir November yang pernah kutulis, kamu apa kabar? Masihkah kau mau menjadi Lovember yang selalu akan kunantikan hingga nanti kita dipertemukan dalam ikatan syah lahir bathin? (Maak tulisan ini makin gila)
*Meski jarak menjadi penghalang, kita masih bertemu di dalam mimpi indah, sampai nanti kita saling berpegangan tangan, kau senderkan kepalamu kebahuku saat kita sudah dalam jalinan halal. Semoga kau selalu dalam lindungannya ya, aamiin. Bye bye…

True story written by request from one of my best friend. Not my story anyway. So, don’t judge me more and more!

Tentang Pulang

Pulang bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan batin yang penuh makna. Pulang adalah kata yang menyentuh hati, membawa kita kem...