Selasa, 15 Maret 2022

Rasanya Jadi Perantau dan Perihal Jauh dari Rumah

Eh, gimana rasanya merantau? Seneng terus ya? Pasti gak banyak yang ngepoin hidup lo kan? Maksudnya hidup lo lebih bebas tanpa setumpuk aturan kalau misal lo tinggal di rumah.

Dan masih banyak lagi. Rasanya jadi perantau ya sama seperti hidup di dekat rumah. Ada suka dan ada duka. Suka banyak, duka pun tidak sedikit. Perihal pandangan orang lain tentang hidup di rantau yang bilang senang terus ya karena mereka belum merasakan sepenuhnya gimana hidup dan berusaha bertahan di kampung orang. Senang? Iya. Karena gak banyak yang ngurusin hidup, ngepoin atau ngejahilin. Tapi yang sirik dan nge hate juga tidak sedikit kok. Apalagi kalo lo berasal dari kalangan berpengalaman, berprestasi, dan ber ber lainnya. Udah pasti banyak yang gak suka. So many people outside there yang cuma ngelihat something yang nampak pake mata kepala doang. Misal kayak tiap bulan gajian, makan enak, belanja, jalan-jalan, dan banyaknya keistimewaan perihal tinggal di kampung orang dan bertahan dengan status ‘perantau’.

Mereka lupa. Bahwa di balik hidup sebagai perantau itu ada banyak duka yang tidak tampak. Uang habis akhir bulan dan bongkar celengan misalnya. Malu mau minta sama orang tua. Kalo lagi sakit udah bingung mau minta tolong sama siapa. Enak kalo di rumah, tiap sakit yang merhatiin stand by. Dimasakin. Kalau merantau gini itulah resiko paling berat. Belum lagi perihal jauh dari ortu yang selalu menjadi titik nadir terendah orang-orang perantau kayak kita. Apalagi yang rindu dan suka baperan kalo misal ingat ibu bapak yang udah duluan pergi ninggalin kita. Suka syahdu dan rindu dengan kelengkapan kedua orang tua. Tapi, perasaan menyesal mengapa lebih memilih mementingkan dunia dan karir ketimbang merawat mereka adalah penyesalan terbesar. Hari-hari dihantui rasa bersalah kenapa tidak bisa menjaga dan merawat mereka sampai tutup usia. Itu adalah sakit terparah untuk seorang perantau. Sesulit apapun perihal hidup, jauh dari orang tua adalah kesakitan terparah yang dirasakan seorang anak. Meski tidak bisa dipungkiri bahwa menjadi perantau adalah perihal bertahan dan menjadi mandiri.

Bagi yang belum merasakan tidak akan pernah tau. Gimana sakit yang dirasa akibat setiap hari dihantui rasa penyesalan karena jauh dari orang tua. Bahwa merawat dan menjaga mereka hingga tua adalah perihal bakti. Bakti yang mungkin hanya sekali seumur hidup. Kalau sudah tiada, bakti pun tidak bisa berdiri. Dekat dengan mereka adalah perihal mendapatkan ridha dan restu untuk menjalani sisa hidup yang kita tidak tau sampai kapan. Kita juga tidak tau siapa yang akan duluan dijemput. Siapa yang duluan menemui ajal. Tuhan, aku merasakan sekali penyesalan tidak bisa berbakti kepada ibu bapak yang sudah lebih dulu pergi. Perihal harta bisa diusahakan, tapi kesempatan untuk bisa berbakti kepada kedua orang tua tidak akan datang dua kali. Dekat dengan orang tua adalah bakti. Jangan silau karena dunia yang masih terlalu kecil kau genggam hingga kau lupa siapa yang selama ini sudah paling berjasa menjadikanmu sampai seperti sekarang. Allah udah ngasih porsi rejeki masing-masing ya, entah itu dekat atau jauh dari orang tua. Tapi ingatlah, kita nggak selamanya sama mereka. Sayangi selagi ada. Banyak orang yang menangisi bapak ibu setelah mereka pergi. Dulu selagi ada, kenapa tidak disayangi dengan sangat agar hidup selalu dalam ridha dan kasih sayang mereka.

Jangan egois. Ada yang lebih berhak atas hidup kita yakni orang tua. Kalau mereka ridha, bahagialah hidup kita. Kalau mereka murka, tidak sejahtera nasib kita.

Jadi, gimana rasanya jadi perantau? Sedih senang bahagia. Banyak sedihnya karena jauh dari orang tua. Perihal jauh dari rumah adalah harus kuat menahan rindu. Harus kuat dengan masakan-masakan ibu. Harus kuat dikucilkan. Meski bagi sebagian orang, jauh dari rumah adalah lebih terhormat, lebih dipandang.

Dear Brothers and Sisters, kalau masih ada kesempatan untuk berbakti merawat dan menjaga mereka di hari tua, pulanglah. Agar kiranya penyesalan tidak bersarang di kepalamu dan hatimu hanya karena terlalu sibuk dan mencintai dunia yang tidak pernah ada habisnya. Sayangi mereka sebisamu, kalau nanti udah gak ada, baru terasa betapa hampanya hidup tanpa sapa dan kasih sayang mereka. Teruntuk yang ingin merantau, kuatkan hati. Hidup di rantau itu tidak seperti yang selama ini kau bayangkan. Ada banyak hal yang tidak menjadikan kita bahagia, apalagi perihal rindu akan senyum dan sapa orang tua. Uang bisa dicari, tapi kesempatan untuk berbakti kepada kedua orang tua yang tidak akan datang dua kali. Sayangi, cintai, bahagiakan ibuk bapakmu selagi masih ada. Penyesalan sering kali datang di akhir kisah yang pada akhirnya kita hanya bisa menyesal dan membayangkan sisa-sisa kenangan.

 Tuhan, luaskan kubur bapak ibu yang sudah mendahului kami. Mudahkan hisabnya, tempatkan mereka bersama orang-orang shaleh di sisiMu.

Teruntuk Ibuk bapak yang masih ada, semoga panjang umur. Sehat-sehat ya bapak ibu, sebentar lagi anak-anakmu pulang merayakan kerinduan. We love you bapak dan ibuk kami.

*Teruntuk yang bertanya gimana rasanya jadi perantau, nano-nano tak terkira. Perihal jauh dari rumah adalah kesiapan untuk setiap hari dihantam oleh rasa rindu yang tak terperi. Sedih luka tak bahagia.

 


Rabu, 23 Februari 2022

Analisis Tindakan Terorisme Global dalam Pandangan Islam

 

Beberapa tahun terakhir, Indonesia khususnya daerah Sulawesi dikagetkan lagi dengan adanya insiden bom bunuh diri di sekitar gereja Katedral Makassar. Tidak pelak kejadian yang melukai puluhan orang di sekitar gereja menarik perhatian dunia internasional seperti Singapura, Turki, dan Yordania. Dikursus mengenai terorisme berikutnya menjadi hal yang merasuki pikiran masyarakat dunia. Terorisme tidak hanya dipandang mengancam keamanan manusia, tetapi juga berpengaruh terhadap politik identitas masyarakat muslim yang sering kali disangkut pautkan dengan kejadian aksi bom bunuh diri. Kecenderungan seperti ini akhirnya akan menjadi ironi dan berpotensi melahirkan konflik baru dalam kehidupan sosial masyarakat.

            Jika melihat definisi dari beberapa literatur, terorisme merujuk kepada intimidasi dan ancaman. Perilaku dan tindakan terorisme adalah salah satu cara untuk mengintimidasi dan mengancam orang lain. Hal tersebut dapat dilakukan dengan pembunuhan, penganiayaan, pemboman, pembakaran, dan pembajakan. Akan tetapi, sering kali tindakan teror itu didasarkan pada kebencian terhadap golongan tertentu dan sikap subjektif si pelaku. Sementara, Islam tidak pernah sama sekali mengajarkan pengikutnya untuk melakukan aksi terorisme dengan alasan apapun. Sekiranya ditemui aksi teror dengan kedok Islam dan gerakan yang ada di dalamnya itu adalah dalih. Islam tidak pernah mengajarkan pengikutnya untuk bunuh membunuh dan melakukan kekerasan untuk menyelesaikan masalah apapun.

Di dalam surat Al-A’raf ayat 199 disebutkan bahwa Allah berfirman “berikanlah pengampunan, bimbinglah ke arah yang damai lagi baik dan janganlah bertindak bodoh..”. Jelas disebutkan bahwa untuk kesalahan apapun, Islam tidak membenarkan umatnya untuk saling menyakiti dengan alasan yang bodoh apalagi sampai menimbulkan rasa tidak aman. Sementara dalam hadis dikatakan bahwa “Iman itu memiliki 77 cabang, yang paling tinggi adalah dengan bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan paling rendah adalah menyingkirkan duri dari jalan. Sedangkan malu adalah bagian dari iman”. Bisa dibayangkan bagaimana Islam meletakkan damai, aman, dan hidup tenteram itu menjadi fokus perhatian. Tentu dengan tidak mengganggu orang lain. Bagaimana orang bisa dengan mudah mengatakan Islam itu dekat dengan teroris, kalau duri dan penghalang di jalan saja diminta untuk disingkirkan dengan alasan keselamatan orang lain.

Artinya, ketika memang ada yang melakukan tindakan teror dan mereka beragama Islam, bukan Islam yang mengajarkan hal yang demikian. Akan tetapi, mereka yang memahami hal yang salah dan memaksakan kehendak untuk memerangi orang-orang yang tidak sesuai jalan pikiran mereka. Sementara Islam, sama sekali tidak memaksa orang dan pemeluk agama lain untuk memiliki persepsi yang sama dengan ajaran Islam. Di Qur’an surat An-Nahl ayat 125 disebutkan bahwa “Serulah manusia ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik…”. Tidak ada sama sekali Islam memerintahkan pemeluknya untuk membantai, menyebabkan ketakutan, apalagi memeranginya dengan melakukan aksi teror dan tindakan intimidasi.

Pada bagian yang lain, dalam surat Al Mujadilah ayat 13 disebutkan bahwa “Hai orang-orang yang beriman, sungguh Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sungguh Allah maha mengetahui”. Di ayat ini jelas disebutkan bahwa manusia itu diciptakan untuk saling mengenal satu sama lain, hidup berdampingan, dan saling tolong menolong. Bahkan beberapa ilmuan dunia menjelaskan bahwa kata “yang paling mulia adalah yang paling bertakwa” merujuk pada arti yang paling baik dalam kehidupan adalah mereka yang paling banyak memiliki kontribusi positif.

Di hadis yang lain menyebutkan “Demi Allah tidaklah beriman. Demi Allah tidaklah beriman, demi Allah tidaklah beriman. Siapa wahai Rasul? Dia yang tidak memberi rasa aman bagi tetangganya dari gangguannya (H.R Bukhari Muslim). Pandangan yang salah di mata masyarakat adalah pemahaman mengenai bom bunuh diri adalah jihad fisabiliah atau holy war yang menggunakan identitas Islam sebagai kedok membenarkan kegiatan teror. Padahal itu adalah pemikiran yang salah dan tidak benar. Istilah the holy war itu sebenarnya tidak pernah dikenal dalam perbendaharaan Islam Klasik. Istilah tersebut diyakini berasal dari sejarah Eropa dan dimengerti sebagai perang karena membawa alasan keagamaan. Pandangan Barat tersebut telah memberi dan citra negatif kepada Islam sebagai agama yang meyakini cara-cara kekerasan dan bergerak dalam kehidupan yang membenarkan tindakan teror terjadi di dalam masyarakat global.

Sejumlah kalangan ternyata telah salah mengartikan Jihad yang hanya dengan satu makna yakni dengan dalih perjuangan senjata yang menawarkan alternatif hidup mulia atau mati syahid (‘isy karīman aw  mut syahīdan). Opini yang berkembang di tengah masyarakat adalah para pelaku jihad dikaitkan dengan teroris. Padahal itu adalah konstruksi yang tidak tepat dan Islam tidak mengajarkan hal tersebut.

 

6 Modalitas Pembangunan Konektivitas dalam Regionalisme ASEAN

Kerja sama ekonomi regional yang diikuti Indonesia selalu erat kaitannya dengan pembangunan konektivitas maritim dengan memanfaatkan laut sebagai penghubung bagi kegiatan perdagangan internasional. Pemanfaatan tol laut kemudian digagas dengan pembangunan koridor ekonomi baik antara provinsi yang ada di Indonesia, maupun antar negara terutama dengan negara-negara anggota ASEAN. Indonesia sendiri terlibat dalam kerja sama ekonomi sub-regional (KESR) dengan maksud membangun konektivitas maritim di tengah dinamika geopolitik dan geo-ekonomi internasional dengan tujuan agar dapat tereintegrasi dan berperan aktif dalam pasar global. Setidaknya terdapat tiga KESR yang diikuti Indonesia di kawasan Asia Tenggara. Di antaranya, Indonesia Malaysia Thailand Golden Tiangle (IMT-GT), Brunei Indonesia Malaysia Philippinnes East ASEAN Growth Area (BIMP EAGA), Timor Leste Indonesia Australia Growth Triangle (TIA-GT)1.  

Dalam konteks dokumen the master plan on ASEAN connectivity 2010, konektivitas dan pembangunan maritim di Asia Tenggara dalam dilaksanakan dengan menggunakan tiga strategi. Pertama, pembangunan infrastruktur fisik dan peningkatan infrastruktur yang sudah ada. Kedua, pembangunan lembaga, mekanisme, dan proses yang efektif yang dilaksanakan dengan menyelesaikan berbagai hambatan dalam pergerakan barang dan orang serta fasilitasi investasi dan perdagangan intra-ASEAN. Ketiga, pembangunan masyarakat yang dapat diperdayakan (people to people connectivity) dalam rangka mempromosikan interaksi sosial budaya intra-ASEAN yang lebih dalam melalui upaya mobilitas intra-ASEAN yang lebih besar.

Agar dapat berjalan dan berhasil dan maksimal, pembangunan konektivitas dan integrasi ekonomi regionalisme di Asia Tenggara memerlukan beberapa modalitas. Berikut 6 modalitas pembangunan konektivitas dan kerja sama ekonomi sub-regional:

1.      Peran Pemerintah Daerah. Semakin aktif dan berkomitmen pemerintah daerahnya, semakin besar pula potensi kerja sama dan berjalanannya program pembangunan konektivitas. Sebagai contoh adalah peran aktif Provinsi Sulawesi Utara dalam membangun BIMP-EAGA. Demikian juga sebaliknya, semakin tidak aktif pemerintah daerah, maka akan sangat kecil kemungkinan terbentuknya kesepakatan kerja sama pembangunan konektivitas. Sebagai contoh adalah Provinsi Maluku dan Papua dalam konteks BIMP-EAGA.

2.      Status Delimitasi Batas Wilayah. Bahwa pembangunan konektivitas akan semakin mudah dicapai jika status delimitasi batas wilayahnya sudah jelas dan selesai seperti pada perbatasan Indonesia-Malaysia di Selat Malaka dalam konteks kerja sama IMT-GT. Sebaliknya, pembangunan konektivitas maritim dan kerja sama sub-regional akan semakin sulit berjalan jika delimitasi batas wilayah batasnya belum selesai. Seperti contoh kasus perbatasan laut Indonesia –Timor Leste dalam kerangka kerja sama TIA-GT.

3.      Modal Koordinasi. Modal koordinasi yang dimaksud disini adalah koordinasi antar pemerintah nasional dan pemerintah daerah dengan masing-masing negara anggota. Selain itu, koordinasi lain yang dibutuhkan adalah sekretariat nasional dan working group. Serta, sekretariat KESR dan sekretariat ASEAN. Semakin baik koordinasi yang dihasilkan dari ketiga modal koordinasi, semakin baik pula potensi kerja sama yang dihasilkan oleh negara-negara anggota yang terlibat di dalam kerja sama sub-regional.

4.      Harmonisasi Peraturan. Merupakan program pembangunan konektivitas yang telah disepakati di tingkat sub-regional. Misalnya adalah Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). Bagian lain yang masuk dalam modal harmonisasi peraturan dalam kerja sama sub-regional adalah birokrasi sederhana yang mendukung aktivitas kerja sama. Seperti kegiatan perdagangan internasional, impor dan ekspor serta investasi.

5.      Modal Anggaran Pendanaan. Pembangunan dalam koridor ekonomi akan berjalan dengan baik apabila ada dukungan berupa modal dan anggaran dana seperti bantuan anggaran dari Asian Development Bank (ABD).

6.      Potensi Ekspor Impor. Pembangunan konektivitas dan kerja sama sub-regional akan dapat terlaksana dengan baik jika setiap negara yang terlibat dalam kerja sama memiliki unsur penunjang seperti komoditas ekspor dan impor sebagai komoditas yang saling melengkapi. Sebaliknya, jika dalam kerja sama sub-regional, negara tidak memiliki komoditas unggulan yang dapat saling ditukar, kemungkinan kerja samanya tidak akan berjalan dengan baik dan dapat terhenti dengan sendirinya. Sebagai contoh adalah pada kasus jalur kapal Ro-Ro Davao Filipina dan Bitung Indonesia yang sudah tidak dapat berjalan lagi pasca diluncurkan pada April tahun 2017.

 Selain itu, hal yang sangat ditekankan dalam kerja sama sub-regional dan pembangunan konektivitas dapat membentuk tiga jenis regionalisme seperti yang dijelaskan oleh Asian Development Bank. Pertama, regionalisme dalam bentuk kerja sama regional. Bentuknya dapat berupa konferensi, forum regional, dan bentuk sejenis. Hasilnya adalah perjanjian, deklarasi, dan strategi kerja sama. Kedua, penyediaan layanan regional. Ketiga, integrasi pasar regional. Hal lain yang menjadi penentu keberhasilan kerja sama sub-regional adalah rendahnya tendensi persaingan kepentingan negara-negara yang ada di Kawasan Asia Tenggara. Hal ini disebabkan letak Indonesia dan ASEAN yang berada di tengah kawasan Indo-Pasifik, dimana terdapat persaingan dua kekuatan besar dan rivalitas antara AS dan China2.   

 

Daftar Rujukan

Kartini, Indriana, dkk. (2020). Penguatan Konektivitas Lintas Batas dalam Kerja Sama Ekonomi Sub-regional. Jurnal Penelitian Politik Vol 17 (1). Hal 117-139.

Alunaza, Hardi. (2020). Diplomasi dan Pembangunan Konektivitas Maritim Indonesia dalam Konstelasi Politik Global. Jurnal Penelitian Politik Vol 17 (2). Hal 295-303. 

Senin, 21 Februari 2022

Tentang Menikah

Segala sesuatu tentang menikah sering kali menjadi bahan perdebatan. Bisa jadi saat kumpul keluarga, saat lebaran, saat kumpul pertemanan, dan banyak waktu lain yang biasanya menjadikan ‘menikah’ sebagai isu utama untuk dibahas. Berikut ada beberapa hal yang menjadi perhatian bagi anak muda sebelum menjadikan isu ini sebagai isu sentral dalam kehidupan mereka.

Menikahlah dengan orang yang mau diajak kerja sama melakukan apapun. Sebab kehidupan pasca menikah itu adalah kehidupan yang bisa jadi serba susah, serba memulai untuk mandiri, serba belum pengalaman, dan lain-lain. Penting banget untuk menemukan partner menikah yang mau diajak susah bareng, cari pengalaman bareng, susah ngurus anak juga bareng. Misal, suami harus punya skill untuk dapat membantu istri agar derajat kewarasan istri tetap berada pada derajat normal. Pasca menikah, suami itu bukan bos dan istri itu bukan pembantu rumah tangga. Cari suami yang bisa dan mau turun ke dapur, mau masak, mau bersih-bersih bukan cuma sibuk maen games, bukan hanya sibuk mendatangi kafe untuk ngopi. Cari istri yang siap bekerja keras, bisa diandalkan ini itu bukan hanya duduk imut manja ngabisin bedak. Harus bisa saling melengkapi satu sama lain. Berikan surprise ke masing-masing pasangan dengan kerja sama bukan hanya dengan cokelat dan bunga mawar atau kue tart ucapan selamat.

Menikah itu adalah perihal meng-upgrade kapasitas masing-masing. No one’s leave behind. Suami harus bisa menjadi pelengkap untuk upgrade skill istri, begitu juga sebaliknya. Kalau istri punya cita-cita sebelum menikah, cita-cita tersebut harus dilanjutkan, jangan berhenti hanya karena sudah menikah. Pasangan adalah wadah terbaik untuk belajar. Suami istri tetap bisa berbakti ke keluarga masing-masing tanpa ada batasan atau condong ke satu keluarga saja. Sebab menikah adalah bertambah saudara, jadi harusnya silaturahminya makin luas.

Bagian ini adalah yang paling penting. Menikah adalah persoalan memiliki maaf dan sabar yang tidak terbatas untuk pasangan. Ini adalah bekal yang sangat krusial kalau seseorang mau menikah. Sebab yang akan kita temui di sekian tahun perjalanan pernikahan kita adalah kekurangan pasangan masing-masing. Sudah siapkah kita untuk selalu memaafkan ‘dia’ kalau dia salah, begitu juga sebaliknya. Kalau pun harus pacaran sebelum menikah, cari tau baik buruknya, jangan baiknya saja. Ada banyak pasangan yang menikah kemudian tidak membutuhkan waktu lama menetap bersama dan berpisah karena tidak dapat menerima lebih dan kurang pasangan. Hal ini mungkin terjadi karena semasa perkenalan atau pacaran yang ditunjukkan baik kepada pasangan atau pun keluarga pasangan adalah hal yang baik-baik saja. Menikahlah ketika kamu siap dengan stok sabar dan maaf yang tidak terbatas. Sebab sekali untuk seumur hidup itu membutuhkan saldo maaf dan sabar yang tidak sedikit nominalnya. Menikah adalah sebuah proses menerima kekurangan pasangan yang tidak engkau temui ketika ta'aruf dengannya.

Bagi yang belum menikah, inilah adalah waktu yang tepat untuk memperbaiki diri. Jangan sibuk mencari yang sholeh dan sholehah tapi lupa menjadi. Jangan sibuk mencari yang sholeh tapi lupa menjadi sholehah begitu juga sebaliknya. Penting menjadi perhatian bahwa menjadi sholeh dan sholehah-lah di dunia nyata. Kau tak perlu tampak sempurna di sosial media. Karena sejatinya menjadi sholeh dan sholehah adalah dari tingkah laku kita. Jangan menjadi salafi hanya sebatas di dunia maya. Di dunia nyata bejatnya minta ampun. Ketika kau mencari yang sholeh dan lupa menjadi, maka yang kau dapatkan pun akan sama. Tampak sholeh dan sholehah hanya di media sosial saja, nanti dipertemukan dengan jodoh yang hanya sebatas sholeh dan sholehah di media sosial juga.

Cinta yang abadi adalah jatuh cinta dan memberikan rasa yang sama setiap hari kepada orang yang sama, pasangan.

Ingat, indahnya kehidupan menikah itu adalah satu dua tiga tahun pertama, selebihnya adalah seru karena kita akan dihadapkan dengan hal-hal yang (mungkin) di luar dugaan. Sabar dan maafnya harus dibanyakin.

Laki-laki a.k.a kaum Bapak harus lebih bisa berusaha mendengarkan setiap keluh kesah pasangan (setiap suami pasti berusaha untuk ini). Begitu pun perempuan, harus lebih bisa menyampaikan apa yang diinginkan tanpa adanya kode-kode. Almost lelaki itu tidak paham dengan dunia perkodean, beberapa ada. The most important thing adalah jaga komitmen pernikahan.

 

 


𝗞𝗨 𝗞𝗜𝗥𝗔 𝗗𝗜𝗔 𝗣𝗘𝗡𝗚𝗘𝗠𝗜𝗦

Suatu malam setelah maghrib, aku mengendarai mobil menuju rumah. Tiba-tiba rasa migrain nyeri menyerang kepala hingga aku menepikan mobilku.

Berhenti sejenak menunggu rasa nyeri berkurang, aku berusaha mengalihkan pikiran dengan melihat sekeliling. Tiba-tiba kaca mobilku diketuk seorang anak laki-laki kira-kira umur 12 tahun. “Pak.. Bapak mau parkir? Saya bantuin untuk parkir mobilnya ya.” katanya.

“Belum sekarang, saya mau istirahat dulu,” jawabku.

“Kalau gitu apa Bapak punya uang 2000?” tanya anak itu.

Karena aku sedang tidak mau diganggu, aku buru-buru serahkan uang itu. Lalu aku mulai mengamati anak itu. Dia mendekati tukang gorengan lalu membeli beberapa gorengan. Kemudian gorengan itu dia berikan pada sesosok orang tua yang duduk di bawah tiang listrik. Ketika dia melewati samping mobilku, aku buka kaca dan memanggilnya.

“Eh.. dik sini, itu siapa?” tanyaku.

“Gak tau pak, saya juga baru saja ketemu” jawabnya.

“Loh, tadi kamu minta uang ke saya untuk beli gorengan, kenapa diberikan ke bapak tua itu?” tanyaku.

“Oh.. saya tadi duduk di situ, ngobrol sama bapak itu. Bapak itu katanya puasa. Tadi saya lihat buka puasanya cuma minum. Katanya uangnya habis. Hari ini saya nggak jualan koran. Tanggal merah pak. Jadi ga punya uang. Saya cuma ada uang 1000. Kalau beli gorengan cuma dapat 1 kasihan ga kenyang. Makanya saya minta bapak 2000. Biar dapat 3. Bapak mau parkir sekarang? Saya bantuin parkir ya pak. Bapak kan udah bayar. Kalau saya sebenernya bukan tukang parkir,” katanya tertawa sambil garuk-garuk pipinya.

Aku terdiam. Tadi aku pikir anak ini pengemis seperti anak-anak yang biasa mangkal di jalan. Ternyata aku salah besar.

“Terus uang kamu habis dong dik?” tanyaku.

“Iya pak. Nggak apa-apa. Besok bisa jualan koran. Inshaa Allah ada rejekinya lagi.” jawabnya.

“Kalau gitu bapak ganti ya uangnya dik … Sekalian sisanya buat jajan.” kataku sambil menyerahkan lembaran uang Rp 20.000,-.

“Nggak usah pak, Jangan.. Ibu saya sebetulnya melarang saya minta-minta. Makanya saya tawarin bapak parkirin mobil. Soalnya tadi saya kasihan bapak tua itu aja. Cuma saya bener-bener nggak punya uang,” katanya lagi.

“Eh Dik.. Bapak minta maaf ya tadi salah sangka sama kamu. Kirain kamu tukang minta-minta” kataku merasa bersalah.

“Saya yang minta maaf pak. Saya jadi minta uang duluan sama bapak. Padahal saya belum kerja.” jawabnya.

“Sama-samalah. Ini ambil uangnya. Ini kamu nggak minta, bapak yang beri.” kataku.

“Nggak pak, Makasih. Bapak mau parkir sekarang?” tanyanya lagi.

“Nggak. Bapak nggak usah dibantu parkir,” kataku.

“Beneran pak? Soalnya saya mau jemput adik saya ngaji dulu. Takut nangis kalau kelamaan telat jemputnya.” katanya.

“Udah, sana jemput aja adikmu.” kataku tersenyum.

“Makasih ya pak.” katanya setengah berlari meninggalkan saya yang termangu.

Aku menoleh ke tiang listrik, bapak tua itu sudah pergi. Aku lihat dari spion mobil, anak itu berjalan setengah berlari.

Di luar sana banyak orang tidak seberuntung kita, tapi mereka masih memikirkan sesama, masih berusaha bersedekah dan sangat yakin akan jaminan rezeki.

Terima kasih nak, kamu hari ini telah memberikan pelajaran akhlaq yang luar biasa untukku. Semoga hidupmu berlimpah berkah dan rezeki.

Aku starter mobil dan melaju pelan-pelan menuju rumah. Aku sedih dan tanpa sadar meneteskan air mata, karena belum bisa berbuat banyak untuk sesama.

*Beberapa anak beruntung dilahirkan dan dibesarkan pada keluarga yang cukup materi. Sisanya, lebih beruntung karena diberikan hati dan pundak yang kuat untuk berusaha sendiri. 

Kamis, 11 Maret 2021

Kudeta Myanmar dan Dilema Intervensi ASEAN

Myanmar kini menjadi sorotan dunia internasional akibat kekalahan Tadmadaw Union Solidarity and Development Party pada pemilu Myanmar November 2020 silam. Partai ini kalah dengan hanya mengantongi 8% suara, sementara sisanya sebanyak 82% suara dimenangkan oleh Partai Liga Nasional Untuk Demokrasi yang dikomando oleh Aung San Suu Kyi. Kekalahan Tadmadaw berujung pada kudeta militer dan jatuhnya korban dari aksi demonstran yang menuntut pemerintahan dikembalikan kepada pemenang pemilu. Kudeta militer menyebabkan bentrokan yang terjadi antara warga Myanmar dan militer yang menimbulkan korban jiwa.

Myanmar sendiri dikenal sebagai negara dengan kepemimpinan politis dan kepemimpinan militer. Parlemen Malaysia menilai ASEAN sebagai organisasi regional seharusnya memahami bahwa kudeta yang dilakukan militer Myanmar adalah sebagai rencana pemilu ulang yang tidak disepakati dan tidak dapat diterima oleh masyarakat Myanmar. Perhimpunan negara di Asia Tenggara ini harusnya dapat bersikap dan memberikan masukan untuk menekan Myanmar dan mengambil sikap tegas dengan mengeluarkan Myanmar dari blok ASEAN jika pemimpin militer di negara tersebut tidak dapat mengakhiri kudeta yang saat ini terjadi.

Selain melanggar prinsip hak asasi manusia, ASEAN seharusnya bisa memiliki kekuasaan dan delegasi tingkat tinggi dalam upaya mengunjungi Myanmar dan berupaya mengembalikan pemerintahan kepada Aung San Suu Kyi. Sebab kudeta yang terjadi adalah hal yang tidak dapat diterima dunia internasional dan juga melanggar prinsip-prinsip hak asasi manusia. Meski ketiga negara di ASEAN yakni Kamboja, Thailand, dan Filipina memiliki sejarah kudeta, perhimpunan negara di Asia Tenggara ini tidak boleh terpecah belah dalam menyikapi permasalahan yang saat ini terjadi di Myanmar.

Di sini lain, kudeta yang terjadi di Myanmar merupakan polemik bagi ASEAN. Sebab negara-negara organisasi regional ini tidak memiliki hak dan kewenangan untuk melakukan intervensi situasi politik yang terjadi di Myanmar. Hal itu didasarkan pada prinsip dan budaya ASEAN yang mengatur penghormatan terhadap urusan politik internal negara anggota. Hal tersebut didasarkan pada pemikiran bahwa selama kudeta Myanmar dan permasalahan politik internal Myanmar tidak memberikan dampak secara langsung kepada negara lain, maka kewajiban negara anggota ASEAN adalah menghormati permasalahan tersebut tanpa memberikan intervensi. Seperti kejadian ketika ada pertemuan tingkat tinggi ASEAN dan membahas mengenai Rohingya, Myanmar meninggalkan pertemuan tersebut karena merasa negara lain tidak menghormati permasalahan internal negara mereka.

Meski kudeta militer yang terjadi di Myanmar mengakibatkan korban berjatuhan, negara anggota ASEAN juga harus memperhatikan isi Piagam ASEAN pasal 2 ayat 2 huruf e yang menyebutkan bahwa negara-negara yang menjadi anggota ASEAN tidak akan melakukan intervensi dalam masalah domestik suatu negara. Indonesia, sebagai salah satu negara anggota ASEAN harus tetap bersikap tegas dalam memantau kondisi masyarakat Indonesia yang berada di Myanmar. Di balik itu, Indonesia dipandang tidak perlu mengeluarkan official statement yang membuat munculnya persepsi dari negara di regional dan internasional yang merugikan Indonesia.

Meski tidak dapat dibantah, sebenarnya prinsip dan kebijakan non-intervensi di Piagam ASEAN itu tidak sesuai dengan kondisi yang terjadi di Myanmar saat ini. Sebab, proses ambil alih pemerintahan oleh militer Myanmar memiliki konsekuensi regional yang akan terus meluas apabila tidak ditanggapi dan ditangani oleh negara-negara anggota Blok ASEAN. Sebagai contoh, karena kudeta militer yang terjadi, akan semakin banyak pengungsi yang berdatangan ke Malaysia, Thailand, dan Indonesia. Tentu kedatangan pengungsi ini akan menjadi masalah baru bagi stabilitas keamanan negara-negara tersebut.

Selain masih dalam belenggu prinsip non-intervensi, kudeta militer yang terjadi di Myanmar memperlihatkan fakta bahwa ruang tumbuh bagi demokrasi dan penghormatan terhadap hak asasi manusia di ASEAN kini semakin sempit. Terlebih lagi, bagi negara demokratis seperti Malaysia, Filipina, dan Indonesia ingin lebih fokus pada urusan dalam dimensi ekonomi dan dipandang kurang memperhatikan dan mendesak urusan demokrasi dan HAM apalagi di luar batas teritori negara. Meski memang memiliki negara dengan julukan penjunjung tinggi HAM dan demokrasi, faktanya ketiga negara tidak mampu memberikan sikap yang jelas dan harus bergerak sesuai dengan pijakan politik luar negeri masing-masing negara. Kondisi ini menyebabkan ruang terbuka untuk manuver non-demokratis seperti yang terjadi di Myanmar saat ini. Selain terbelenggu prinsip non-intervensi, mekanisme pengambilan keputusan berdasarkan konsensus bersama juga pada akhirnya menjadikan masing-masing negara anggota menyatakan sikapnya secara lebih diplomatis. 

Jumat, 12 Februari 2021

Selamat Ulang Tahun, Marzia!


Duhai putriku kecilku, terima kasih sudah menjadi pelengkap kebahagiaan untuk mommy and daddy.

hadirnya Zia adalah anugerah terindah. Meski ini adalah pertama kalinya daddy dan mommy menjadi orang tua. Tapi daddy akan berusaha menjadi daddy yang baik, perhatian, dan menjadi yang selalu ada untuk Zia. Meski dilanda perbedaan waktu dan jarak selama ini, semoga ikatan batin antara daddy dan Zia juga mommy bisa terus menjadi penjaga agar keluarga kita bisa terus bahagia ya nak.

Pas Zia udah ada, banyak sekali keajaiban yang daddy rasain nak. Kamu membawa banyak sekali warna dan cerita yang menghasilkan tawa serta senyum dalam hidup ini. Walau memang daddy akui, sering kali daddy merasakan cemas dan khawatir karena harus berjauhan nak. Ada yag dirasa kurang ketika tidur, tidak menemanimu terlelap hingga menutup mata. Ada yang gersang saat bangun, bukan Zia yang di samping daddy. Padahal kita biasanya berdebat kencang tentang batas wilayah tidur yang tidak boleh dilewati kan?

Aku punya puisi indah nak

tersusun dari tangga nada dan bahagia

yang ku urai menjadi sinyal suara

dan suaramu adalah yang paling indah.

Setapak jalan berlalu nak

yang beranjak dari tangisan menderu saat engkau hadir ke dunia ini

kini usiamu sudah sampai di angka satu

berkisar senyum manis dan tawa merdu

Matahari bermain cahaya

seperti ditemani senja

terima kasih sudah ada dan menjadi teman

Anakku cantik, tumbuhlah dengan riang

Anakku sayang, tumbuhlah dengan bahagia

semoga Zia menjadi anak yang sholehah, panjang umur, dan bisa menjadi teman yang baik untuk daddy dan mommy ya nak.

 Happy birthday gadis kecilku, kesayangannya Ibuk Mentari.  

(27 Januari 2021.)



 


Tentang Pulang

Pulang bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan batin yang penuh makna. Pulang adalah kata yang menyentuh hati, membawa kita kem...