Selasa, 23 Juni 2020

Tentang Proses Bertumbuh


Membuka tulisan ini, aku cuma mau ngingetin bahwa yang tertulis dan teman-teman baca adalah perspektif bukan kebenaran. Tapi, menurutku ini penting untuk disampaikan karena akan berpengaruh terhadap proses bertumbuh seseorang. Karena kalau tidak, masyarakat kita akan tetap menjadi raja yang sok super asyik pintar berkomentar tanpa memperhatikan kenapa mereka harus berkomentar. Apalagi dengan semakin maraknya penggunaan sosial media yang menjadikan manusia seolah-olah adalah Tuhan untuk bisa menghakimi orang lain, kualitas hidup orang lain, dan segala sesuatu yang terjadi pada orang lain. Kalau sudah demikian, kapan mau melihat dan introspeksi kualitas diri?
Jadi begini, ketika seseorang terlahir ke dunia, ia tidak pernah bisa memilih akan terlahir di keluarga yang kaya, miskin, berpendidikan, atau justru lahir di keluarga yang mengalami kesulitan ekonomi. Proses lahir ya lahir, tidak bisa request dulu sama Tuhan minta dilahirkan di tengah keluarga yang mewah dengan hamparan red carpet and so on. Ketika lahir, seseorang juga tidak bisa memilih apakah ia akan diterima dengan baik oleh keluarganya atau tidak. Termasuk apakah ia akan tumbuh di tengah keluarga yang harmonis, broken home, atau keluarga yang sering perang mulut penuh dengan tekanan dan kekerasan.
Entah dibesarkan dengan kasih sayang atau dengan hal-hal yang kurang menyenangkan, seseorang pasti merasa ada yang salah dengan dirinya. Misal, kenapa orang tuanya sering bertengkar, kenapa dia merasakan kekurangan perhatian dan kasih sayang, kenapa ia menemui takdir sebagai anak broken home, dan lain-lain. Pasca itu semua, seseorang akan tumbuh dengan karakter bagaimana ia dibesarkan oleh keluarganya. Mengapa kita sering melihat anak-anak yang brontak dan keras kepala? Karena itu bisa jadi berasal dari mental dan jiwanya yang cedera sebab dibesarkan di tengah keluarga yang tidak harmonis. Mengapa anak perempuan lalu menampilkan gaya hidup bebas, pacaran, bahkan sampai melakukan hal-hal yang tidak seharusnya dilakukan? Karena itu pelarian. Ia butuh pengakuan bahwa ternyata ada orang yang menyayangi mereka, menerima mereka, hingga mereka mau memberikan apapun yang orang lain minta.
Belum lagi kalau misalnya si anak adalah seorang yang introvert, pemalu, atau memiliki mental yang tidak sehat. Masyarakat sekitar pasti bakal dengan mudah ngejudge kenapa begini kenapa begitu. Padahal itu adalah karakter lazim yang dimiliki oleh manusia. Ada yang pemalu, tidak suka keramaian, tapi sama orang tuanya dipaksa untuk menerima keramaian. Tidak bisa. Ada yang suka keramaian, suka ngobrol tapi sama orang tuanya dipaksa untuk diam. Bakal tidak bisa. That’s why agama memerintahkan manusia itu untuk membaca, iqra’. Agar kita tidak dengan mudah menjatuhkan vonis terhadap kualitas hidup orang lain yang hanya kita lihat secara kasat mata.
Apalagi misal seseorang yang memiliki kelainan, bipolar misalnya aniexiety disorder misalnya atau gangguan kecemasan. Masyarakat mana mau tau hal-hal yang demikian, benar bukan? Bisanya adalah menjatuhkan vonis, seolah hukum netizen adalah yang paling benar. Melihat sesuatu yang tidak sesuai dengan kebiasaan di masyarakat, pasti akan menjadi bahan omongan. Padahal, seharusnya dicari tau kenapa seseorang demikian, kenapa begini, kenapa begitu. Kenapa seseorang memiliki panik berlebih atau gampang panikan, kenapa seseorang menutup diri, kenapa seseorang A B C D sampa Z. The best thing adalah learn kenapa mereka demikian, jangan langsung menjatuhkan sanksi sosial. Karena kalau hanya mengikuti pikiran, pikiran hanya menginginkan hal-hal yang bahagia. Padahal hidup itu ada dua sisi, tidak mungkin selalu bahagia. Sedih juga adalah bagian hal yang dirasakan manusia.
Bagi sebagian orang, mungkin mengalami kesedihan karena ditinggal orang tercinta, terpisah, atau bahkan memisahkan diri secara paksa adalah satu rentetan proses menuju naik kelas. Tapi, tentu dengan konsekuensi yang harus diterima. Tapi, bisa jadi semua proses kesedihan bukan proses untuk bertumbuh, akan tetapi proses untuk turun kelas. Sejenak merenung mengapa hal-hal buruk bisa terjadi dalam hidup lalu memulai hidup untuk lebih menurunkan ego dan lebih menerima kenyataan. Sering kali yang terjadi dalam hidup bukan diri kita yang tidak menerima yang terjadi, tetapi ego kita. Perlu menjadi perhatian, bahwa tidak semua masalah hidup itu diselesaikan dengan curhat. Kalau dalam ilmu psikologi dikatakan bahwa kita juga perlu duduk, tarik nafas, dan menyadari bahwa diri ini masih bernafas. Karena nafas adalah nikmat, maka hidup pun adalah kenikmatan yang harus dijalani tanpa harus terus menyalahkan keadaan. Kenapa saya jadi anak broken home, kenapa saya ditinggal Bapak, kenapa orang tua saya pisah, dan kenapa kenapa yang lain. Semakin kita mencari pembenaran, semakin kita tidak menerima kenyataan dan menyalahkan kondisi lalu berujung pada kondisi stres. Tidak jarang stres tersebut yang memicu seseorang untuk mengalami sakit mental.
Di sisi lain, menurutku, ada pentingnya juga untuk benar-benar memastikan apakah ketika menikah memang seseorang sudah siap lahir dan batin. Sebab menikah, memiliki keturunan, menambah keturunan, memiliki banyak sekali konsekuensi yang tidak bisa ditebak. Siap lahir batin artinya siap secara mental jasmani dan rohani. Ada banyak yang menikah kadang hanya karena pemenuhan biologis semata. Penting selesai nikah hanimun, menikmati masa romantis. Bukan hanya itu risiko menikah. Ada banyak hal lain, seperti kebutuhan finansial yang terus bertambah, masalah yang bisa terjadi kapan saja, hingga bagaimana kita mendidik anak. Aku kadang sedih, sedih banget kalau melihat orang menikah hanya untuk menikmati manis-manisnya saja. Sementara ketika pahitnya, dilimpahkan ke pasangan atau tidak menerima kenyataan pahit. Balik lagi bahwa hidup ini adalah runtutan sedih dan bahagia. Ketika kamu sedih, yakin aja bahwa kamu tidak selamanya menikmati kesedihan. Ketika bahagia juga sama, tidak selamanya kamu bahagia. Apalagi sedih dan bahagia bisa hadir dalam satu masa yang berdekatan.
Terus harus bagaimana?
Mari lebih menenangkan ego dan tidak kalah dengan tuntutan yang diberikannya. Mari membuka mata bahwa hidup ini adalah dua sisi tidak hanya mudah tetapi juga susah. Dan kita harus banyak belajar untuk bisa menyadari bahwa nafas ini adalah nikmat dan hidup ini adalah anugerah yang Tuhan berikan untuk kita. Kehidupan ini yang seharusnya dijalani dengan baik. Mari banyak belajar. Allah tidak mewajibkan kita bergelar, tapi belajar. Agar apa yang dilakukan terarah dan tidak menyakiti orang lain. Kalau menemukan orang yang berbeda dan tidak wajar, jangan langsung menjatuhkan sanksi sosial, akan tetapi cari tau kenapa dia berperilaku demikian. Belajar juga untuk self healing, menerima diri dengan penerimaan yang sesungguhnya. Calm down, belajar belajar dan belajar. Kita memang tidak bisa memilih akan terlahir dari keluarga seperti apa, tapi kita bisa memilih bagaimana bersikap dan menjaga sikap agar perilaku dan perkataan kita tidak menyakiti orang lain.

*Manusia itu hidup untuk memanusiakan orang lain. Tetap tegar dan menikmati hidup. Jangan menangis apalagi sampai menitikkan air mata untuk mengorbankan kewarasan. Berdamailah dengan diri sendiri dan berdamai dengan luka dunia adalah cara terbaik untuk bertumbuh dan menjadi manusia.

Kamis, 18 Juni 2020

Ujian Menjemput Rizki Saat Pandemi (Kilas Balik Ramadhan)


Kembali hadir pengajian jum’at bagi segenap karyawan di UM Pontianak. Akhirnya bisa bertemu saling tatap muka setelah sekian lama terkurung di rumah karena Korona. Betapa ternyata pertemuan saling tatap begitu berharga. Tulisan ini menjadi pengingat atas beberapa poin yang disampaikan Khatib dalam khutbah jum’at dan pengajian yang beliau isi setelahnya.

Disadari atau tidak, ternyata wabah ini menjadikan kita manusia menjadi cemas. Padahal dalam surat Al-Baqarah ayat 155 kalau tidak salah Allah menyebutkan bahwa Ia akan menguji manusia dengan sedikit ketakutan, kekurangan harta, jiwa, dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. Kalau seandainya rizki itu hanya didapatkan oleh orang-orang pintar, maka barisan guru besar adalah orang paling kaya. Kalau misal rizki itu hanya didapatkan oleh orang besar, makan Presiden adalah orang paling kaya. Kalau rizki hanya mendatangi orang sukses, maka barisan orang dengan deretan gelar paling panjang adalah orang paling kaya. Tapi ternyata tidak, sebagaimana disebutkan dalam Qur’an, maka tidak ada satu hewan melata pun di bumi kecuali sudah Allah tentukan rizkinya. Rizki itu selalu tau siapa empunya. Cuma manusia yang kadang resah, takut, dan gelisah tidak mendapatkan rizki. Padahal Allah sudah atur rizkinya. Tinggal bagaimana mereka beriktiar untuk mendapatkan rizki tersebut.
Materi khutbah siang ini ternyata punya kilas balik dengan kisah yang banyak dialami manusia selama pandemi, termasuk aku. Ayat 155 tentang ujian yang Allah berikan tadi adalah salah satu dari 4 ayat paporit yang sering kubaca kalau sedang sholat. Tiga ayat yang lain adalah anjuran untuk bangun malam dan mengerjakan sholat tahajud, karena sadar betul bahwa do’a seusai tahajud akan sangat mudah didengar oleh Allah. Surat kedua adalah tentang berbakti kepada kedua orang tua. Sungguh, ini ayat terberat yang aku baca ketika sholat. Kalau di rumah, aku pasti menahan air mata. Tidak mungkin aku menangis di depan Emak, Ibu, atau Bapak. Tapi sungguh surat ini adalah petunjuk bagi kita setiap anak agar berbakti kepada orang tua dalam bagaimana pun keadaannya. Bahkan, meski mereka meminta kita untuk menduakan Allah, kita harus tetap berbuat ihsan kepada mereka. Berat, berat sekali. Apalagi saat orang tua sudah memasuki usia lanjut dan kita satu persatu sudah meninggalkan mereka karena alasan pekerjaan, keluarga, dan lainnya. Semoga kita menjadi bagian manusia yang tidak menyia-nyiakan untuk berbakti kepada orang tua ketika mereka masih ada.
Rizki, tahajud, berbakti kepada orang tua. Serta yang terakhir adalah ayat akhir dari surat Al-Baqarah, dimana Allah tidak akan menguji kita kecuali sesuai dengan kemampuan kita. Di balik semua ujian hidup, merasa tidak berdaya, sedih karena derita, dan bahagia yang menjadi ujian adalah bentuk kasih sayang Allah. Bahwa Ia tidak akan menguji manusia di luar batas kemampuan manusia tersebut. Kita sebagai manusia yang kadang kurang percaya terhadap apa yang disebutkan dan dijelaskan Allah.

Percaya sama Allah dan libatkanlah Allah dalam setiap keadaan agar hati menjadi tenang. Salah satu alasan kenapa rizki datang adalah karena keshalihan manusia. Serta, kenapa rizki suka pergi kadang adalah karena kita terlalu suka bermaksiat dan cinta dunia. Bahwa cinta dunia adalah pangkal dari segala kemaksiatan. Ah, Allah memang maha baik. Menghadirkan orang untuk memberikan rasa tenang meski sebenarnya hati sedang merasa hambar. Salah satu pesan khatib tadi adalah beradaptasi dengan setiap permasalahan hidup. Jangan langsung menghilangkan rasa sakit, tapi jadikan setiap rasa sakit sebagai ajang untuk belajar. Bahwa hidup ini adalah dua sisi proses sakit sehat, bahagia sedih, jatuh bangun, dan sebagainya. Agar kita tidak lupa bahwa sebenarnya nikmat terbesar adalah menyiapkan diri kita untuk menjemput rizki terbesar, yakni bertemu dengan Allah.

Kata Allah, walaupun kamu berlari untuk menghindari maut, tetapi rizkimu akan tetap hadir dan berlari kepadamu sekuat seperti engkau berlari untuk menghindari kematian. Yaa Allah, maafkan kami yang kadang terlalu ragu dan tidak sepenuhnya percaya kepadamu. Kami janji, bakal lebih belajar lagi arti mencitaimu sebagai segala-galanya dalam hidup.

Rabu, 27 Mei 2020

2 Jenis Manusia

Di dunia ini, hanya akan ada 2 jenis manusia. Pertama, mereka yang terlahir dengan balutan jiwa dan saldo kesabaran yang banyak. Sementara satu yang lain adalah mereka yang dilahirkan Tuhan ke dunia untuk menguji kesabaran.

Senin, 20 April 2020

Hijrah, Bawa Aku Sejauh Mungkin!


Hijrah, bawa aku sejauh mungkin
Untuk segala khilaf dan dosa di masa lalu.
Hijrah, bawa aku sejauh mungkin
Untuk tidak mengulangi perbuatan buruk dan tidak terpuji.
Hijrah, tuntun aku.
Aku ingin sekali menjadi orang baik.
Hijrah, bawa aku sejauh mungkin
Melupakan setiap kejadian usang dan sedih di masa lalu.
Bawa aku pergi jauh dari hadapan orang-orang yang sudah mengusik ketenanganku.
Hijrah, jangan biarkan aku
Menjadi pribadi buruk seperti apa yang kusaksikan di masa lalu.
Hijrah, tolong bantu aku.
Tak masalah bagiku ada yang besar dan mengucilkanku
Penting cinta Allah adalah milikku.
Hijrah, tuntun aku memperbaiki setiap kesalahan di masa lalu.
Bawa aku pergi jauh
Ijinkan aku melupakan dan menghilangkan setiap noktah hitam.
Hijrah, bawa aku sejauh mungkin.
Hijrah, tuntun aku dalam hidayah Tuhanku.
Hijrah, bawa aku sejauh mungkin
Selalu, menuju jalan baik menurut Tuhanku.

Sabtu, 18 April 2020

Ramadhan Edisi Korona


Selepas dari perjalanan short course ke India Januari lalu, Ramadhan ini tepatnya 24 April 2020 harusnya aku berangkat ke Mesir mengikuti Global Forum for Higher Education and Scientific Research. Hasil dari proses negosiasi dan proses penulisan esai beberapa bulan lalu, ternyata harus dipending hingga Oktober nanti gegara makhluk kecil unik yang tidak terdeteksi tapi berbahaya, yakni Korona. Tapi aku percaya bahwa ada hikmah dibalik kenapa tidak jadi berangkat ke sana. Mungkin sekarang belum keliatan. Tapi, akan terlihat nanti dan nanti. Ingat betul bahwa akan ada selalu pelajaran dibalik setiap kejadian. Bahkan ketika kita sakit pun, Allah jadikan itu sebagai penghapus dosa. Ketika kita didzalimi, Allah jadikan itu sebagai arena Dia untuk betul-betul menerima kita. Hingga jika hidup kita penuh kesyukuran, Allah berikan nikmat yang tiada terkira. Lihat Q.S Ibrahim ayat 6.
Btw, ini akan menjadi Ramadhan yang spesial. Ramadhan pertama dengan anak dan istri dan Ramadhan pertama status berubah menjadi seorang Ayah. Eh daddy maksud gue. Ini juga akan menjadi Ramadhan pertama kita akan buka puasa via aplikasi zoom atau google meet. Sangking bahayanya ini Korona. “Eh, nanti ini link kita untuk berbuka puasa ya, ini kodenya”. Begitu kira-kira. Ramadhan pertama berjarak, tidak boleh dekat-dekat karena berbahaya. Ramadhan pertama Allah kasih kesempatan untuk muhasabah lebih banyak dari yang sudah-sudah.
Yaa Allah, tidaklah Engkau menciptakan Korona ini dengan sia-sia, kami tau pasti ada maksudnya. Semoga kami kuat dan sehat serta selalu bisa berbagi kepada sesama. Sehatkan orang-orang yang kami sayangi, dan orang-orang yang dekat dengan kami baik dalam pekerjaan maupun dalam ikatan kepercayaan.
Sudah siapkan menjemput hidayahmu di bulan Ramadhan, Insya Allah semoga semua kita diberikan umur panjang untuk bertemu dengan Ramadhan Kareeem tahun ini. Aaamiin.

*Jangan suka mengeluh di hadapan manusia, karena itu bisa membuat kecewa. Mengeluhlah kepada Allah dan jangan pernah berhenti berdoá, karena Allah senang mendengar curhatmu.

Selasa, 14 April 2020

Jalan Tol Menuju Kesuksesan


Jatuh cintalah dengan terhormat agar kau bisa merasakan mewahnya cinta kelas atas.’

Istilah itu yang sering terniang-niang di kepalaku saat ingin merasakan kehidupan seperti orang lain. Menjalani apapun harus ada dasarnya hingga tidak menjadi percuma apa yang dijalani. Apalagi jika ingin merasakan kesuksesan seperti yang dijalani oleh orang lain. Bukan cuma jatuh cinta dengan lawan jenis saja yang harus pikir-pikir. Lebih dari itu, jatuh cinta dengan kehidupan pun harus dengan terhormat agar bisa menjadi orang baik dan bermanfaat. Ibuku adalah sosok yang sederhana. Ia selalu memotivasi agar tidak berlebihan dalam menjalani dan mencintai segala sesuatu. Hal itu ia wujudkan dengan memberikan fasilitas secukupnya dalam menjalani kehidupan kampus dan saat terjun ke dunia kerja. Aku bahkan sampai dua kali pernah merasakan kegagalan dan kecewa dengan hasil tes studi lanjut S3 ke Turki dan Australia karena tidak mengantongi restu Ibu. Sedih berkecamuk seperti down menjadi satu saat itu. Lama kelamaan aku baru sadar bahwa memang kegagalan itu yang mengantarku bisa mendapatkan apa yang saat ini aku dapatkan. Hidup memang selalu seperti itu adanya, kadang senang, kadang sedih, mungkin juga kadang galau berkepanjangan. Kini aku sadar bahwa hikmah dari suatu kejadian akan baru terasa nanti dan nanti. Ketika aku merasakan hidup kini semakin mudah, betapa aku bersyukur dan bahagia dulu aku pernah tidak terpilih untuk melanjutkan studi S3. Berkali-kali aku ucapkan alhamdulilaah. Hati Ibu memang tidak pernah putus ada dan ia adalah yang terakhir putus harapan dengan tingkah laku anak-anaknya. So far for what happened, I am so grateful for having you Mom. Restumu jalan tolku menuju bahagia.
Dulu saat kuliah hingga lulus S2, ibu tidak pernah memberikan izin padaku untuk membawa motor seperti teman-teman yang lain. Alasan beliau simple, aku akan kebanyakan main daripada belajar ketika aku punya semua fasilitas. Laptop saja aku baru punya saat aku duduk di semester tiga. Kedua orang tuaku bukan tipe manusia yang main-main dengan pendidikan anaknya. Itu terbukti dengan hukuman yang aku terima saat peringkatku merosot dari peringkat pertama menjadi peringkat kedua. Lebih baik segera pergi dari rumah saja daripada bertemu dengan mereka. Aku bakal jadi makanan empuk dengan nasihat panjang tanpa henti. Bisa jadi kalah curhatan mama dedeh. Dulu, aku kira itu wujud bencinya mereka terhadapku, tapi lagi-lagi aku salah. Sebegitu pedulinya mereka kepadaku hingga mereka tidak mau jika aku ini kalah saing dengan anak-anak yang lain. Harus selalu terdepan. Mereka juga selalu mengajarkan bahwa di balik semua kesulitan pasti ada banyak kemudahan. Sama seperti yang diajarkan Allah dalam surat Insyirah. After hardship comes ease. Hanya kami sebagai anaknya harus betul-betul merasakan dan mempercayai hal itu.
Mereka juga mengajarkan kami, kalau mau mendapatkan segala sesuatu harus usaha dulu. Tidak boleh langsung instan. Terbukti, dari jaman sekolah SD sudah harus jalan kaki dengan jarak yang cukup lumayan. Kalau siswa lain saat jam istirahat bisa main dan santai, kami jualan. Buat apa? Nambah uang jajan. Jualan jeruk, jambu, dan nanas di halaman sekolah. Hal itu berlanjut ketika jam sekolah sudah usai. Kami tidak boleh banyak main, beresin rumah, nyuci, ke kebun nyari jeruk dan jambu untuk kemudian dijual lagi besoknya. Aku ingat banget kalau hari Sabtu seusai jam sekolah kami harus segera mencuci pakaian sekolah dan sepatu. Setelah makan siang ke kebun atau menyelesaikan pekerjaan rumah. We are different at all. Hal-hal yang demikian yang menjadikan kami sangat tahan banting dengan keadaan dan ujian saat menempuh pendidikan. Tidak mudah mengeluh apalagi menyia-nyiakan kesempatan yang sudah diberikan Tuhan. Tidak akan, tidak bisa, tidak pernah. Kebiasaan yang sudah kami lalui itu pula yang membentuk kami bisa menjadi seperti sekarang. Well, actually we proud for having both of them. Meski hidup sudah seperti pendidikan militer yang setiap hari diberikan pressure yang begitu berarti, tetapi itu pula yang mengantarkan kami bisa merasakan menjadi ‘orang’ seperti yang Ibu dan Almarhum Bapak inginkan.  
Aku baru sadar sekarang bahwa ini adalah masa-masa aku bisa leyeh-leyeh dari CCTV orang tua, dari kejaran deadline yang tiada henti. Bejibun tiada akhir permintaan mereka. Memang tiada permintaan mereka yang negatif, serba positif. Buuuuuuuut, habis energi dan tenaga aku untuk memenuhi permintaan mereka. Sampai pada tahap dimana aku benar-benar berterima kasih dengan semua permintaan mereka dan nasehat yang melebihi kajian keislaman di tipi-tipi. They always provide the best things for us as long as they can. So we have to thank God for sending them to our life. How about you?
Ridho mereka juga yang mengantar aku bisa merasakan hidup di Pontianak saat ini, terutama Ibu. Beberapa kali aku meminta untuk merantau jauh, ia seperti keberatan. Hingga aku pernah merasakan jobless karena tidak menuruti permintaan salah satu saudara untuk mengajar di dua kampus ternama di Jakarta. Jelas aku menolak keduanya. Aku pikir, mendapatkan sesuatu dari hasil kedekatan dengan orang dalam dan atau menyogok apalagi menggunakan power atas nama keluarga adalah tidak worth it. Hal itu seketika berubah saat aku meminta izin pada Ibu untuk melanjutkan perjalanan hidup di Kalimantan Barat. Tanpa pikir panjang, ibu dengan suara bahagia mengiyakan apa yang aku minta. Entah ada angin dari mana yang berhembus menyusup telinga Ibu kala itu. Ia benar-benar bahagia saat aku mendapatkan pekerjaan di kota yang terkenan dengan hawa panas ini. Seperti ada atmosfer yang lain yang aku rasakan saat ibu memberikan restu untuk pergi di Pontianak. Bahagia dan penasaran akan seperti apa perjalanan kisah hidup di Pontianak. Antara gugup dan tidak percaya karena rotasi seketika akan berbeda. “Ah, setidaknya derita selama dua bulan tidur tidak menggunakan kasur akan berakhir. Selamat tinggal Ibu kota. Terima kasih Jakarta. Pontianak aku datang dengan semangat yang akan selalu menyala untuk bisa bermanfaat bagi banyak manusia. Insya Allah.”

Purnama Kedua Belas

Aku menanti dibalik sipu awan pagi, siapakah kau sebenarnya, yang telah menbuat hatiku bahagia lebih lama, lalu terbenam pada senyum berbunga-bunga. Purnama Kedua Belas, engkaukah yang aku tunggu? Serasa malamku serba salah karena pesonamu. Balik kanan, aku tak nyenyak. Balik kiri, aku tak kuat. Cicak di atap kamar semakin menghinakanku malam itu. Pada laju masa yang tak bisa kutepis rotasinya, engkau datang dan menyelinap lebih anggun dari biasanya. Sudah berulang kali kukatakan, jangan datang hanya karena rindu, aku tak bersedia menjadi wadah pelampiasanmu, Purnama.
.
Harus berapa kali aku berucap, bibirku semakin kelu saat kau hinggap dan membayang seisi tubuhku. Purnama Kedua Belas, Kau kah anugrah terindah semesta untukku? Derai angin bersama gemuruh langit pekat pagi ini seolah tau bahwa aku enggan memikirkanmu lebih lama, Purnama. Kau sudah menjadi bagian dari dunia kesekian yang aku ranumkan dalam balutan kanvas kenangan manis. Kau, sudah menjadi bagian dari detak nafas dan hariku. Menjadi komponen bersambung bersama minggu dan bulan yang aku habiskan di sini. Tak perlu mengerti lagi, tahun pun menjadi saudara bagi cerita dan misterimu, Purnama. Kau sudah menjadi bagian cerita awal dan akhir hayat dan mendarah daging dalam hati dan pikiranku. Enggan kulepas, takkan kuberpaling, Kau bagian kisah hidupku kemarin, hari ini, dan esok nanti.
.
Purnama Kedua Belas, aku akan belajar menjadi insan paling lembut dan mengerti akan arti kurang dan lebihmu. Saat sayup udara tak lagi mendekatiku, kaulah cadangan udara untuk aku hidup dan kembali menghirup. Purnama Kedua Belas, kau angin segar bagi singasana duduk manisku. Meski harus termenung dalam pojok senja, Kau selalu berarti.
.
Maka seiring bertambahnya hari berlalu, aku akan menjadi pengagum setia bagimu. Menjadi peluk yang selalu mendekap saat sendu. Menjadi tempat paling nyaman untuk setiap sandaran kisah-kisahmu. Biarkan malam meninggi, pagi berlari, senja membisu kembali pada yang satu, Kau akan tetap menjadi Purnama Terindah dalam kurangnya hitungan jariku. Purnama Kedua Belas, tiada jeda untuk mencintaimu.

Tentang Pulang

Pulang bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan batin yang penuh makna. Pulang adalah kata yang menyentuh hati, membawa kita kem...