Jika bisa bermanfaat di usia muda, lalu mengapa menunggu tua? Kita adalah apa yang kita kerjakan, kita dengarkan, dan kita katakan berulang-ulang. Don't be same, be better! Blog ini berisi mengenai keilmuan HI, motivasi perjalanan hidup, pengalaman, dan tulisan cerpen. Semoga bermanfaat.
Rabu, 27 Mei 2020
2 Jenis Manusia
Di dunia ini, hanya akan ada 2 jenis manusia. Pertama, mereka yang terlahir dengan balutan jiwa dan saldo kesabaran yang banyak. Sementara satu yang lain adalah mereka yang dilahirkan Tuhan ke dunia untuk menguji kesabaran.
Senin, 20 April 2020
Hijrah, Bawa Aku Sejauh Mungkin!
Hijrah, bawa aku sejauh mungkin
Untuk segala khilaf dan dosa di masa lalu.
Hijrah, bawa aku sejauh mungkin
Untuk tidak mengulangi perbuatan buruk dan tidak terpuji.
Hijrah, tuntun aku.
Aku ingin sekali menjadi orang baik.
Hijrah, bawa aku sejauh mungkin
Melupakan setiap kejadian usang dan sedih di masa lalu.
Bawa aku pergi jauh dari hadapan orang-orang yang sudah mengusik
ketenanganku.
Hijrah, jangan biarkan aku
Menjadi pribadi buruk seperti apa yang kusaksikan di masa lalu.
Hijrah, tolong bantu aku.
Tak masalah bagiku ada yang besar dan mengucilkanku
Penting cinta Allah adalah milikku.
Hijrah, tuntun aku memperbaiki setiap kesalahan di masa lalu.
Bawa aku pergi jauh
Ijinkan aku melupakan dan menghilangkan setiap noktah hitam.
Hijrah, bawa aku sejauh mungkin.
Hijrah, tuntun aku dalam hidayah Tuhanku.
Hijrah, bawa aku sejauh mungkin
Selalu, menuju jalan baik menurut Tuhanku.
Sabtu, 18 April 2020
Ramadhan Edisi Korona
Selepas dari perjalanan short course ke India Januari lalu, Ramadhan
ini tepatnya 24 April 2020 harusnya aku berangkat ke Mesir mengikuti Global
Forum for Higher Education and Scientific
Research. Hasil dari proses negosiasi dan proses penulisan esai beberapa
bulan lalu, ternyata harus dipending hingga Oktober nanti gegara makhluk kecil
unik yang tidak terdeteksi tapi berbahaya, yakni Korona. Tapi aku percaya bahwa
ada hikmah dibalik kenapa tidak jadi berangkat ke sana. Mungkin sekarang belum
keliatan. Tapi, akan terlihat nanti dan nanti. Ingat betul bahwa akan ada selalu
pelajaran dibalik setiap kejadian. Bahkan ketika kita sakit pun, Allah jadikan
itu sebagai penghapus dosa. Ketika kita didzalimi, Allah jadikan itu sebagai
arena Dia untuk betul-betul menerima kita. Hingga jika hidup kita penuh
kesyukuran, Allah berikan nikmat yang tiada terkira. Lihat Q.S Ibrahim ayat 6.
Btw, ini akan menjadi Ramadhan
yang spesial. Ramadhan pertama dengan anak dan istri dan Ramadhan pertama
status berubah menjadi seorang Ayah. Eh daddy maksud gue. Ini juga akan menjadi
Ramadhan pertama kita akan buka puasa via aplikasi zoom atau google meet. Sangking
bahayanya ini Korona. “Eh, nanti ini link kita untuk berbuka puasa ya, ini
kodenya”. Begitu kira-kira. Ramadhan pertama berjarak, tidak boleh dekat-dekat
karena berbahaya. Ramadhan pertama Allah kasih kesempatan untuk muhasabah lebih
banyak dari yang sudah-sudah.
Yaa Allah, tidaklah Engkau
menciptakan Korona ini dengan sia-sia, kami tau pasti ada maksudnya. Semoga kami
kuat dan sehat serta selalu bisa berbagi kepada sesama. Sehatkan orang-orang
yang kami sayangi, dan orang-orang yang dekat dengan kami baik dalam pekerjaan
maupun dalam ikatan kepercayaan.
Sudah siapkan menjemput
hidayahmu di bulan Ramadhan, Insya Allah semoga semua kita diberikan umur
panjang untuk bertemu dengan Ramadhan Kareeem tahun ini. Aaamiin.
*Jangan suka mengeluh di
hadapan manusia, karena itu bisa membuat kecewa. Mengeluhlah kepada Allah dan
jangan pernah berhenti berdoá, karena Allah senang mendengar curhatmu.
Selasa, 14 April 2020
Jalan Tol Menuju Kesuksesan
‘Jatuh cintalah dengan terhormat agar kau
bisa merasakan mewahnya cinta kelas atas.’
Istilah
itu yang sering terniang-niang di kepalaku saat ingin merasakan kehidupan
seperti orang lain. Menjalani apapun harus ada dasarnya hingga tidak menjadi
percuma apa yang dijalani. Apalagi jika ingin merasakan kesuksesan seperti yang
dijalani oleh orang lain. Bukan cuma jatuh cinta dengan lawan jenis saja yang
harus pikir-pikir. Lebih dari itu, jatuh cinta dengan kehidupan pun harus
dengan terhormat agar bisa menjadi orang baik dan bermanfaat. Ibuku adalah
sosok yang sederhana. Ia selalu memotivasi agar tidak berlebihan dalam
menjalani dan mencintai segala sesuatu. Hal itu ia wujudkan dengan memberikan
fasilitas secukupnya dalam menjalani kehidupan kampus dan saat terjun ke dunia
kerja. Aku bahkan sampai dua kali pernah merasakan kegagalan dan kecewa dengan
hasil tes studi lanjut S3 ke Turki dan Australia karena tidak mengantongi restu
Ibu. Sedih berkecamuk seperti down menjadi satu saat itu. Lama kelamaan aku
baru sadar bahwa memang kegagalan itu yang mengantarku bisa mendapatkan apa
yang saat ini aku dapatkan. Hidup memang selalu seperti itu adanya, kadang
senang, kadang sedih, mungkin juga kadang galau berkepanjangan. Kini aku sadar
bahwa hikmah dari suatu kejadian akan baru terasa nanti dan nanti. Ketika aku
merasakan hidup kini semakin mudah, betapa aku bersyukur dan bahagia dulu aku
pernah tidak terpilih untuk melanjutkan studi S3. Berkali-kali aku ucapkan
alhamdulilaah. Hati Ibu memang tidak pernah putus ada dan ia adalah yang
terakhir putus harapan dengan tingkah laku anak-anaknya. So far for what
happened, I am so grateful for having you Mom. Restumu jalan tolku menuju
bahagia.
Dulu
saat kuliah hingga lulus S2, ibu tidak pernah memberikan izin padaku untuk
membawa motor seperti teman-teman yang lain. Alasan beliau simple, aku akan
kebanyakan main daripada belajar ketika aku punya semua fasilitas. Laptop saja
aku baru punya saat aku duduk di semester tiga. Kedua orang tuaku bukan tipe
manusia yang main-main dengan pendidikan anaknya. Itu terbukti dengan hukuman
yang aku terima saat peringkatku merosot dari peringkat pertama menjadi
peringkat kedua. Lebih baik segera pergi dari rumah saja daripada bertemu
dengan mereka. Aku bakal jadi makanan empuk dengan nasihat panjang tanpa henti.
Bisa jadi kalah curhatan mama dedeh. Dulu, aku kira itu wujud bencinya mereka
terhadapku, tapi lagi-lagi aku salah. Sebegitu pedulinya mereka kepadaku hingga
mereka tidak mau jika aku ini kalah saing dengan anak-anak yang lain. Harus
selalu terdepan. Mereka juga selalu mengajarkan bahwa di balik semua kesulitan
pasti ada banyak kemudahan. Sama seperti yang diajarkan Allah dalam surat
Insyirah. After hardship comes ease. Hanya kami sebagai anaknya harus
betul-betul merasakan dan mempercayai hal itu.
Mereka
juga mengajarkan kami, kalau mau mendapatkan segala sesuatu harus usaha dulu.
Tidak boleh langsung instan. Terbukti, dari jaman sekolah SD sudah harus jalan
kaki dengan jarak yang cukup lumayan. Kalau siswa lain saat jam istirahat bisa
main dan santai, kami jualan. Buat apa? Nambah uang jajan. Jualan jeruk, jambu,
dan nanas di halaman sekolah. Hal itu berlanjut ketika jam sekolah sudah usai.
Kami tidak boleh banyak main, beresin rumah, nyuci, ke kebun nyari jeruk dan
jambu untuk kemudian dijual lagi besoknya. Aku ingat banget kalau hari Sabtu
seusai jam sekolah kami harus segera mencuci pakaian sekolah dan sepatu.
Setelah makan siang ke kebun atau menyelesaikan pekerjaan rumah. We are
different at all. Hal-hal yang demikian yang menjadikan kami sangat tahan
banting dengan keadaan dan ujian saat menempuh pendidikan. Tidak mudah mengeluh
apalagi menyia-nyiakan kesempatan yang sudah diberikan Tuhan. Tidak akan, tidak
bisa, tidak pernah. Kebiasaan yang sudah kami lalui itu pula yang membentuk
kami bisa menjadi seperti sekarang. Well, actually we proud for having both of
them. Meski hidup sudah seperti pendidikan militer yang setiap hari diberikan
pressure yang begitu berarti, tetapi itu pula yang mengantarkan kami bisa
merasakan menjadi ‘orang’ seperti yang Ibu dan Almarhum Bapak inginkan.
Aku
baru sadar sekarang bahwa ini adalah masa-masa aku bisa leyeh-leyeh dari CCTV
orang tua, dari kejaran deadline yang tiada henti. Bejibun tiada akhir
permintaan mereka. Memang tiada permintaan mereka yang negatif, serba positif.
Buuuuuuuut, habis energi dan tenaga aku untuk memenuhi permintaan mereka. Sampai
pada tahap dimana aku benar-benar berterima kasih dengan semua permintaan
mereka dan nasehat yang melebihi kajian keislaman di tipi-tipi. They always
provide the best things for us as long as they can. So we have to thank God for
sending them to our life. How about you?
Ridho
mereka juga yang mengantar aku bisa merasakan hidup di Pontianak saat ini,
terutama Ibu. Beberapa kali aku meminta untuk merantau jauh, ia seperti
keberatan. Hingga aku pernah merasakan jobless karena tidak menuruti permintaan
salah satu saudara untuk mengajar di dua kampus ternama di Jakarta. Jelas aku
menolak keduanya. Aku pikir, mendapatkan sesuatu dari hasil kedekatan dengan
orang dalam dan atau menyogok apalagi menggunakan power atas nama keluarga
adalah tidak worth it. Hal itu seketika berubah saat aku meminta izin pada Ibu
untuk melanjutkan perjalanan hidup di Kalimantan Barat. Tanpa pikir panjang,
ibu dengan suara bahagia mengiyakan apa yang aku minta. Entah ada angin dari
mana yang berhembus menyusup telinga Ibu kala itu. Ia benar-benar bahagia saat
aku mendapatkan pekerjaan di kota yang terkenan dengan hawa panas ini. Seperti
ada atmosfer yang lain yang aku rasakan saat ibu memberikan restu untuk pergi
di Pontianak. Bahagia dan penasaran akan seperti apa perjalanan kisah hidup di
Pontianak. Antara gugup dan tidak percaya karena rotasi seketika akan berbeda. “Ah,
setidaknya derita selama dua bulan tidur tidak menggunakan kasur akan berakhir.
Selamat tinggal Ibu kota. Terima kasih Jakarta. Pontianak aku datang dengan
semangat yang akan selalu menyala untuk bisa bermanfaat bagi banyak manusia.
Insya Allah.”
Purnama Kedua Belas
Aku menanti dibalik sipu awan pagi, siapakah kau
sebenarnya, yang telah menbuat hatiku bahagia lebih lama, lalu terbenam
pada senyum berbunga-bunga. Purnama Kedua Belas, engkaukah yang aku
tunggu? Serasa malamku serba salah karena pesonamu. Balik kanan, aku tak
nyenyak. Balik kiri, aku tak kuat. Cicak di atap kamar semakin
menghinakanku malam itu. Pada laju masa yang tak bisa kutepis rotasinya,
engkau datang dan menyelinap lebih anggun dari biasanya. Sudah berulang
kali kukatakan, jangan datang hanya karena rindu, aku tak bersedia
menjadi wadah pelampiasanmu, Purnama.
.
Harus
berapa kali aku berucap, bibirku semakin kelu saat kau hinggap dan
membayang seisi tubuhku. Purnama Kedua Belas, Kau kah anugrah terindah
semesta untukku? Derai angin bersama gemuruh langit pekat pagi ini
seolah tau bahwa aku enggan memikirkanmu lebih lama, Purnama. Kau sudah
menjadi bagian dari dunia kesekian yang aku ranumkan dalam balutan
kanvas kenangan manis. Kau, sudah menjadi bagian dari detak nafas dan
hariku. Menjadi komponen bersambung bersama minggu dan bulan yang aku
habiskan di sini. Tak perlu mengerti lagi, tahun pun menjadi saudara
bagi cerita dan misterimu, Purnama. Kau sudah menjadi bagian cerita awal
dan akhir hayat dan mendarah daging dalam hati dan pikiranku. Enggan
kulepas, takkan kuberpaling, Kau bagian kisah hidupku kemarin, hari ini,
dan esok nanti.
.
Purnama
Kedua Belas, aku akan belajar menjadi insan paling lembut dan mengerti
akan arti kurang dan lebihmu. Saat sayup udara tak lagi mendekatiku,
kaulah cadangan udara untuk aku hidup dan kembali menghirup. Purnama
Kedua Belas, kau angin segar bagi singasana duduk manisku. Meski harus
termenung dalam pojok senja, Kau selalu berarti.
.
Maka
seiring bertambahnya hari berlalu, aku akan menjadi pengagum setia
bagimu. Menjadi peluk yang selalu mendekap saat sendu. Menjadi tempat
paling nyaman untuk setiap sandaran kisah-kisahmu. Biarkan malam
meninggi, pagi berlari, senja membisu kembali pada yang satu, Kau akan
tetap menjadi Purnama Terindah dalam kurangnya hitungan jariku. Purnama
Kedua Belas, tiada jeda untuk mencintaimu.
Minggu, 12 April 2020
Indonesia diciptakan saat Tuhan sedang leyeh-leyeh dan bersikap bodo amat.
Kok bisa?
Jadi gini, hari Selasa lalu aku bertemu dengan beberapa
mahasiswa asing dari China dan Spanyol yang kebetulan menginap di area kos yang
sama sebelum kami hijrah. Btw, nama tempat tinggal gue dari jaman kuliah unik
banget. Dulu ada namanya Tegal Kuadrat alias Tegalgondo di Malang, terus
Kasihan di Yogyakarta, lalu Sepakat kemudian Purnama sekarang Paris 🗼.
*laah kok?
Aku menyaksikan mahasiswa itu berdiri di dekat tempat
sampah sambil makan jeruk lalu kulitnya langsung dibuang ke tempat sampah. 2
orang di antara mereka ada yang duduk. Kemudian kami bertemu lagi di kantin kos
dan yang mereka lakukan sama, makan terus membersihkan meja lalu membuang
sampah plastik dan botol minum ke tempatnya. Oke, penasaran itu aku simpan.
Hingga malam ini, kau bertemu lagi dengan mereka di masjid Sepakat 2 lalu saat
berpapasan aku bertanya.
"Assalamualaikum, I saw both of you at Dempo
yesterday. Where are you coming from?"
"Waalaikumsalam, yes we stay at Dempo for two months
since we have an agenda of exchange program at Polnep".
"What kind of major?"
"Business Administration. I am Ghani and this is
Ilyas," mereka memperkenalkan diri.
"I am Zet."
"Zet last alphabet?"
"Yes, simple and easy to remember."
"Nice to meet you."
"Me too."
Kemudian aku nanya terkait apa yang kemarin mereka
lalukan, termasuk perihal sholat isya berjamaah. Mereka mengaku itu adalah
habit dan sudah menjadi kebiasaan yang susah untuk dihilangkan. Bagi mereka
membuang sampah pada tempatnya adalah bentuk aksi melindungi bumi. Juga menjaga
sholat tepat waktu adalah wujud syukur pada Tuhan yang sudah memberikan
kehidupan. Seketika aku teringat dengan apa yang aku alami dengan orang
Indonesia hari ini.
Tadi pagi sambil menemani istri beli-beli, aku mengajak
dia singgah ke kawasan Pontianak Mall karena di sana ada penjual bakso Malang,
anggap saja mengobati rindu. Aku tergelagap saat Bapak penjual mengajak aku
berbicara dengan bahasa Jawa. Beberapa ada yang sudah lupa. Kattah, setunggal,
kale, and so on. Ketawa sendiri melihat mimik beliau. Tapi sekejap kemudian
tiba-tiba aku badmood. Menyaksikan orang yang makan di samping kami buang
sampah sembarangan. Putung rokok, kertas, dan jeruk yang sudah tidak layak pakai.
Yang duduk di sebelah kanan aku buang sampah sambil nonton debat calon presiden
di Youtube. "Haddeh, orang Indonesia mah bebas berbuat sesuka hati. Gitu
mau merubah negara, buang sampah pada tempatnya aja gak bisa," lirihku
dalam hati. Suka kesel liat kelakuan manusia kayak gitu. Kalau gak bisa buang
sampah pada tempatnya, makan dong sama sampah-sampahnya.
Aku semakin terkejut pas bayar.
" Pak, baksonya enak. Kalau sy boleh usul nanti
dibelikan tempat sampah ya Pak? Sy bingung Pak harus buang sampah di mana."
"Buang sesuka hati aja Mas, nanti anak-anak sy yang
bersihkan."
"Wah gak boleh gitu Pak. Kita harus sama-sama
menjaga kebersihan."
Dua anak Bapak itu menatapku dengan tatapan kaget dan
aneh. Emang ada yang salah? Tidak menurutku. Oke, jadi ternyata susah banget ya
menanamkan keyakinan buang sampah pada tempatnya. Fine!
Tidak sampai disitu saja, sore hari tadi aku janjian
dengan teknisi toko elektronik. Janjian jam 3, aku dari jam 2 nungguin di
rumah. Pas aku WhatsApp lagi, beliau bilang akan datang jam 17.30 WIB.
"Baik Ko, jam setengah 6 sore ontime ya!"
"Iya Pak."
Setengah 6 sudah berlalu, aku nungguin sampai jam 6 gak
juga datang. Yaudah akhirnya keluar, karena ada agenda lain. Jam 7 kurang dia
menelpon dan minta tolong dijemput di depan gang. Mendadak mood aku berubah
180%. Sungguh, aku paling benci dengan orang pake jam karet. Janjian pake jam
molor, rapat pake jam lelet, Indonesia banget. Kayak rapat di hari jumat
kemarin, udah badmood aslinya. Janji jam 1 eh baru dimulai jam 2 lewat. Hello,
sayang sekali tuan puan. Untung aku masih sabar nungguin. Tapi serius, aku
paling anti sama manusia manusia jam karet, molor, lelet. Ontime please.
Alhasil, itu petugas toko elektronik aku suruh pulang.
Aku minta uang dikembalikan. No excuse buat penikmat jam karet!
Ah, beda jauh banget kan pola pikir orang Indonesia
dengan orang asing dalam menjaga lingkungan dan menggunakan waktu. Orang asing
buang sampah pada tempatnya dan ontime. Orang Indonesia bebas, buang sampah di
mana aja, molor ngaret itu sudah biasa mendarah daging, beranak pinak dan
membabi buta. Kalau dikasih tau pasti melawan. Ada aja alasan. Ya, semoga yang
baca tulisan aku ini tidak demikian. Karena musuh terbesar aku saat ini adalah
melawan kebiasaan orang orang Indonesia yang suka anggap remeh dengan waktu.
Kapan mau maju?
Ya, balik lagi. Mungkin Indonesia diciptakan saat Tuhan
sedang leyeh-leyeh dan bersikap bodo amat.
Oke tengkiyu, nais and bye!
Langganan:
Postingan (Atom)
Tentang Pulang
Pulang bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan batin yang penuh makna. Pulang adalah kata yang menyentuh hati, membawa kita kem...
-
Semesta tak bisa berkata banyak saat matahari tak menampakkan diri di pagi hari. Ia seakan mengerti bahwa rindu akanmu butuh perpanjangan du...
-
Diplomasi ekonomi sebagai proses formulasi dan negosiasi kebijakan yang berkaitan dengan kegiatan produksi, pertukaran barang, jasa, tenaga ...
-
Di sini sy akan sedikit berbagi tentang program yang kemarin sy ikuti di India. Terlepas dari kewajiban moral karena diminta langsung ol...
-
Pulang bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan batin yang penuh makna. Pulang adalah kata yang menyentuh hati, membawa kita kem...
-
Menjadi pribadi yang lebih tenang adalah perjalanan yang memerlukan kesabaran dan perhatian pada diri sendiri. Tenang bukan berarti tidak ...
-
Eh, gimana rasanya merantau? Seneng terus ya? Pasti gak banyak yang ngepoin hidup lo kan? Maksudnya hidup lo lebih bebas tanpa setumpuk atur...
-
Berdua saja, jangan bertiga. Sebab, sendiri adalah sepi, berdua itu bahagia. Namun, bertiga adalah luka. Pernah gak lo denger orang yang ...