- Tidak perlu resah ketika keluarga dan sanak kerabat tidak mendapatkan ranking satu, tapi resahlah ketika mereka justru telat bangun untuk sholat shubuh. Sebab kelak yang ditanya pertama kali adalah tentang sholatnya, bukan berapa kali dia mendapatkan peringkat kelas.
- Tidak perlu gelisah kalau anak tidak bergelar tinggi, tapi gelisahlah ketika anak tidak bisa mengaji. Karena kelak yang memberikan syafaat di hari kiamat adalah syafaat mengajinya, bukan karena panjangnya gelar di belakang namanya.
- Sering kali QurĂ¡n ingin memeluk sambil berkata 'sayangilah dirimu dan kesehatan rohanimu. Cintailah akhiratmu melebihi bagaimana kau mencintai duniamu'.
- Sesekali barang kali perlu kita memperhatikan ahli ibadah. Mereka lelah dan memangis tapi nikmat dan ketenangan hidupnya tidak pernah habis. Sementara coba perhatikan diri kita, berburu senang dalam dosa, mencari tawa dalam sia tapi justru pedih dan gelisah yang terasa.
- Jangan berani meninggalkan sholat, kamu tahu? Banyak sekali kisah yang bercerita bahwa manusia ingin dan meminta dikembalikan ke dunia hanya untuk bisa memperbaiki sholatnya.
- Hari ini dunia adalah nyata dan akhirat adalah cerita. Tapi nanti
setelah kematian tiba, akhirat adalah nyata dan dunia adalah cerita.
- Tidak perlu takut kalau anak tidak jago debat, tapi takutlah kalau anak tidak berani bersedekah. Sebab kelak yang akan mengalir terus pahalanya adalah sedekah sebagai amal jariyah, bukan karena jago debat di depan banyak manusia.
- Kelak kita akan menyesal bukan karena kita tidak sukses, tapi kita akan menyesal mengapa kita tidak bisa menjadi anak yang sholeh sebagai penyambung kebaikan orang tua kita.
- Ketika kau terpikir untuk menyerah dalam perjuangan menuju jalan pulangmu, ingatlah lagi, tidakkah nanti di akhirat kau ingin duduk manis di taman surga? Dunia ini terlalu menipu untuk dikejar mati-matian.
- Kenapa untuk dunia yang main-main kita serius, sedang untuk akhirat yang serius kita main-main?
- Kata orang yang dewasa ingin terlihat muda, yang muda justru ingin terlihat dewasa. Yang sibuk ingin santai, sementara yang santai ingin sibuk. Seringkali apa yang didapat dirasa tidak genap sampai bertemu kata cukup. Tapi untuk kehidupan dunia tidak akan pernah ada kata cukup. Berkali-kali kita lelah dibuatnya. Nafsu, ego, karir, dan cinta dunia semua membakar emosi kita sejadi-jadinya. Hingga kita terengah-engah untuk mengikuti apa sebenarnya yang diperintahkan Allah Tuhan sang pencinta.
- Jikalau kita letih karena kebaikan, maka keletihan itu akan hilang dan kebaikan akan kekal. Namun jika kita bersenang-senang dengan dosa, maka sesungguhnya kesenangan itu akan hilang dan dosa itu akan kekal.
- Selamat memilih sejarah untuk kehidupan berikutnya.
Jika bisa bermanfaat di usia muda, lalu mengapa menunggu tua? Kita adalah apa yang kita kerjakan, kita dengarkan, dan kita katakan berulang-ulang. Don't be same, be better! Blog ini berisi mengenai keilmuan HI, motivasi perjalanan hidup, pengalaman, dan tulisan cerpen. Semoga bermanfaat.
Sabtu, 22 Agustus 2020
Tentang Hidup dan Perjalanan Menuju Pulang
Selasa, 23 Juni 2020
Tentang Proses Bertumbuh
Membuka tulisan ini, aku cuma mau ngingetin bahwa yang
tertulis dan teman-teman baca adalah perspektif bukan kebenaran. Tapi,
menurutku ini penting untuk disampaikan karena akan berpengaruh terhadap proses
bertumbuh seseorang. Karena kalau tidak, masyarakat kita akan tetap menjadi
raja yang sok super asyik pintar berkomentar tanpa memperhatikan kenapa mereka
harus berkomentar. Apalagi dengan semakin maraknya penggunaan sosial media yang
menjadikan manusia seolah-olah adalah Tuhan untuk bisa menghakimi orang lain,
kualitas hidup orang lain, dan segala sesuatu yang terjadi pada orang lain.
Kalau sudah demikian, kapan mau melihat dan introspeksi kualitas diri?
Jadi begini, ketika seseorang terlahir ke dunia, ia tidak
pernah bisa memilih akan terlahir di keluarga yang kaya, miskin, berpendidikan,
atau justru lahir di keluarga yang mengalami kesulitan ekonomi. Proses lahir ya
lahir, tidak bisa request dulu sama Tuhan minta dilahirkan di tengah keluarga
yang mewah dengan hamparan red carpet and so on. Ketika lahir, seseorang juga
tidak bisa memilih apakah ia akan diterima dengan baik oleh keluarganya atau
tidak. Termasuk apakah ia akan tumbuh di tengah keluarga yang harmonis, broken
home, atau keluarga yang sering perang mulut penuh dengan tekanan dan
kekerasan.
Entah dibesarkan dengan kasih sayang atau dengan hal-hal
yang kurang menyenangkan, seseorang pasti merasa ada yang salah dengan dirinya.
Misal, kenapa orang tuanya sering bertengkar, kenapa dia merasakan kekurangan
perhatian dan kasih sayang, kenapa ia menemui takdir sebagai anak broken home,
dan lain-lain. Pasca itu semua, seseorang akan tumbuh dengan karakter bagaimana
ia dibesarkan oleh keluarganya. Mengapa kita sering melihat anak-anak yang
brontak dan keras kepala? Karena itu bisa jadi berasal dari mental dan jiwanya
yang cedera sebab dibesarkan di tengah keluarga yang tidak harmonis. Mengapa anak
perempuan lalu menampilkan gaya hidup bebas, pacaran, bahkan sampai melakukan
hal-hal yang tidak seharusnya dilakukan? Karena itu pelarian. Ia butuh
pengakuan bahwa ternyata ada orang yang menyayangi mereka, menerima mereka,
hingga mereka mau memberikan apapun yang orang lain minta.
Belum lagi kalau misalnya si anak adalah seorang yang introvert, pemalu, atau memiliki mental
yang tidak sehat. Masyarakat sekitar pasti bakal dengan mudah ngejudge kenapa
begini kenapa begitu. Padahal itu adalah karakter lazim yang dimiliki oleh
manusia. Ada yang pemalu, tidak suka keramaian, tapi sama orang tuanya dipaksa
untuk menerima keramaian. Tidak bisa. Ada yang suka keramaian, suka ngobrol
tapi sama orang tuanya dipaksa untuk diam. Bakal tidak bisa. That’s why agama
memerintahkan manusia itu untuk membaca, iqra’. Agar kita tidak dengan mudah
menjatuhkan vonis terhadap kualitas hidup orang lain yang hanya kita lihat
secara kasat mata.
Apalagi misal seseorang yang memiliki kelainan, bipolar
misalnya aniexiety disorder misalnya
atau gangguan kecemasan. Masyarakat mana mau tau hal-hal yang demikian, benar
bukan? Bisanya adalah menjatuhkan vonis, seolah hukum netizen adalah yang
paling benar. Melihat sesuatu yang tidak sesuai dengan kebiasaan di masyarakat,
pasti akan menjadi bahan omongan. Padahal, seharusnya dicari tau kenapa
seseorang demikian, kenapa begini, kenapa begitu. Kenapa seseorang memiliki panik
berlebih atau gampang panikan, kenapa seseorang menutup diri, kenapa seseorang
A B C D sampa Z. The best thing adalah learn kenapa mereka demikian, jangan
langsung menjatuhkan sanksi sosial. Karena kalau hanya mengikuti pikiran,
pikiran hanya menginginkan hal-hal yang bahagia. Padahal hidup itu ada dua
sisi, tidak mungkin selalu bahagia. Sedih juga adalah bagian hal yang dirasakan
manusia.
Bagi sebagian orang, mungkin mengalami kesedihan karena
ditinggal orang tercinta, terpisah, atau bahkan memisahkan diri secara paksa
adalah satu rentetan proses menuju naik kelas. Tapi, tentu dengan konsekuensi
yang harus diterima. Tapi, bisa jadi semua proses kesedihan bukan proses untuk
bertumbuh, akan tetapi proses untuk turun kelas. Sejenak merenung mengapa
hal-hal buruk bisa terjadi dalam hidup lalu memulai hidup untuk lebih
menurunkan ego dan lebih menerima kenyataan. Sering kali yang terjadi dalam
hidup bukan diri kita yang tidak menerima yang terjadi, tetapi ego kita. Perlu
menjadi perhatian, bahwa tidak semua masalah hidup itu diselesaikan dengan
curhat. Kalau dalam ilmu psikologi dikatakan bahwa kita juga perlu duduk, tarik
nafas, dan menyadari bahwa diri ini masih bernafas. Karena nafas adalah nikmat,
maka hidup pun adalah kenikmatan yang harus dijalani tanpa harus terus
menyalahkan keadaan. Kenapa saya jadi anak broken home, kenapa saya ditinggal
Bapak, kenapa orang tua saya pisah, dan kenapa kenapa yang lain. Semakin kita
mencari pembenaran, semakin kita tidak menerima kenyataan dan menyalahkan
kondisi lalu berujung pada kondisi stres. Tidak jarang stres tersebut yang
memicu seseorang untuk mengalami sakit mental.
Di sisi lain, menurutku, ada pentingnya juga untuk
benar-benar memastikan apakah ketika menikah memang seseorang sudah siap lahir
dan batin. Sebab menikah, memiliki keturunan, menambah keturunan, memiliki
banyak sekali konsekuensi yang tidak bisa ditebak. Siap lahir batin artinya
siap secara mental jasmani dan rohani. Ada banyak yang menikah kadang hanya
karena pemenuhan biologis semata. Penting selesai nikah hanimun, menikmati masa
romantis. Bukan hanya itu risiko menikah. Ada banyak hal lain, seperti
kebutuhan finansial yang terus bertambah, masalah yang bisa terjadi kapan saja,
hingga bagaimana kita mendidik anak. Aku kadang sedih, sedih banget kalau
melihat orang menikah hanya untuk menikmati manis-manisnya saja. Sementara
ketika pahitnya, dilimpahkan ke pasangan atau tidak menerima kenyataan pahit. Balik
lagi bahwa hidup ini adalah runtutan sedih dan bahagia. Ketika kamu sedih,
yakin aja bahwa kamu tidak selamanya menikmati kesedihan. Ketika bahagia juga
sama, tidak selamanya kamu bahagia. Apalagi sedih dan bahagia bisa hadir dalam
satu masa yang berdekatan.
Terus harus bagaimana?
Mari lebih menenangkan ego dan tidak kalah dengan
tuntutan yang diberikannya. Mari membuka mata bahwa hidup ini adalah dua sisi
tidak hanya mudah tetapi juga susah. Dan kita harus banyak belajar untuk bisa
menyadari bahwa nafas ini adalah nikmat dan hidup ini adalah anugerah yang
Tuhan berikan untuk kita. Kehidupan ini yang seharusnya dijalani dengan baik. Mari
banyak belajar. Allah tidak mewajibkan kita bergelar, tapi belajar. Agar apa
yang dilakukan terarah dan tidak menyakiti orang lain. Kalau menemukan orang
yang berbeda dan tidak wajar, jangan langsung menjatuhkan sanksi sosial, akan
tetapi cari tau kenapa dia berperilaku demikian. Belajar juga untuk self
healing, menerima diri dengan penerimaan yang sesungguhnya. Calm down, belajar
belajar dan belajar. Kita memang tidak bisa memilih akan terlahir dari keluarga
seperti apa, tapi kita bisa memilih bagaimana bersikap dan menjaga sikap agar
perilaku dan perkataan kita tidak menyakiti orang lain.
*Manusia itu hidup untuk memanusiakan orang lain. Tetap
tegar dan menikmati hidup. Jangan menangis apalagi sampai menitikkan air mata
untuk mengorbankan kewarasan. Berdamailah dengan diri sendiri dan berdamai
dengan luka dunia adalah cara terbaik untuk bertumbuh dan menjadi manusia.
Kamis, 18 Juni 2020
Ujian Menjemput Rizki Saat Pandemi (Kilas Balik Ramadhan)
Kembali hadir pengajian jum’at bagi segenap karyawan di
UM Pontianak. Akhirnya bisa bertemu saling tatap muka setelah sekian lama
terkurung di rumah karena Korona. Betapa ternyata pertemuan saling tatap begitu
berharga. Tulisan ini menjadi pengingat atas beberapa poin yang disampaikan
Khatib dalam khutbah jum’at dan pengajian yang beliau isi setelahnya.
Disadari atau tidak, ternyata wabah ini menjadikan kita
manusia menjadi cemas. Padahal dalam surat Al-Baqarah ayat 155 kalau tidak
salah Allah menyebutkan bahwa Ia akan menguji manusia dengan sedikit ketakutan,
kekurangan harta, jiwa, dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang
sabar. Kalau seandainya rizki itu hanya didapatkan oleh orang-orang pintar,
maka barisan guru besar adalah orang paling kaya. Kalau misal rizki itu hanya
didapatkan oleh orang besar, makan Presiden adalah orang paling kaya. Kalau
rizki hanya mendatangi orang sukses, maka barisan orang dengan deretan gelar
paling panjang adalah orang paling kaya. Tapi ternyata tidak, sebagaimana
disebutkan dalam Qur’an, maka tidak ada satu hewan melata pun di bumi kecuali
sudah Allah tentukan rizkinya. Rizki itu selalu tau siapa empunya. Cuma manusia
yang kadang resah, takut, dan gelisah tidak mendapatkan rizki. Padahal Allah
sudah atur rizkinya. Tinggal bagaimana mereka beriktiar untuk mendapatkan rizki
tersebut.
Materi khutbah siang ini ternyata punya kilas balik
dengan kisah yang banyak dialami manusia selama pandemi, termasuk aku. Ayat 155
tentang ujian yang Allah berikan tadi adalah salah satu dari 4 ayat paporit
yang sering kubaca kalau sedang sholat. Tiga ayat yang lain adalah anjuran
untuk bangun malam dan mengerjakan sholat tahajud, karena sadar betul bahwa
do’a seusai tahajud akan sangat mudah didengar oleh Allah. Surat kedua adalah
tentang berbakti kepada kedua orang tua. Sungguh, ini ayat terberat yang aku
baca ketika sholat. Kalau di rumah, aku pasti menahan air mata. Tidak mungkin
aku menangis di depan Emak, Ibu, atau Bapak. Tapi sungguh surat ini adalah
petunjuk bagi kita setiap anak agar berbakti kepada orang tua dalam bagaimana
pun keadaannya. Bahkan, meski mereka meminta kita untuk menduakan Allah, kita
harus tetap berbuat ihsan kepada mereka. Berat, berat sekali. Apalagi saat
orang tua sudah memasuki usia lanjut dan kita satu persatu sudah meninggalkan
mereka karena alasan pekerjaan, keluarga, dan lainnya. Semoga kita menjadi
bagian manusia yang tidak menyia-nyiakan untuk berbakti kepada orang tua ketika
mereka masih ada.
Rizki, tahajud, berbakti kepada orang tua. Serta yang
terakhir adalah ayat akhir dari surat Al-Baqarah, dimana Allah tidak akan
menguji kita kecuali sesuai dengan kemampuan kita. Di balik semua ujian hidup,
merasa tidak berdaya, sedih karena derita, dan bahagia yang menjadi ujian
adalah bentuk kasih sayang Allah. Bahwa Ia tidak akan menguji manusia di luar
batas kemampuan manusia tersebut. Kita sebagai manusia yang kadang kurang
percaya terhadap apa yang disebutkan dan dijelaskan Allah.
Percaya sama Allah dan libatkanlah Allah dalam setiap
keadaan agar hati menjadi tenang. Salah satu alasan kenapa rizki datang adalah
karena keshalihan manusia. Serta, kenapa rizki suka pergi kadang adalah karena
kita terlalu suka bermaksiat dan cinta dunia. Bahwa cinta dunia adalah pangkal
dari segala kemaksiatan. Ah, Allah memang maha baik. Menghadirkan orang untuk
memberikan rasa tenang meski sebenarnya hati sedang merasa hambar. Salah satu
pesan khatib tadi adalah beradaptasi dengan setiap permasalahan hidup. Jangan
langsung menghilangkan rasa sakit, tapi jadikan setiap rasa sakit sebagai ajang
untuk belajar. Bahwa hidup ini adalah dua sisi proses sakit sehat, bahagia
sedih, jatuh bangun, dan sebagainya. Agar kita tidak lupa bahwa sebenarnya
nikmat terbesar adalah menyiapkan diri kita untuk menjemput rizki terbesar,
yakni bertemu dengan Allah.
Kata Allah, walaupun kamu berlari untuk menghindari maut,
tetapi rizkimu akan tetap hadir dan berlari kepadamu sekuat seperti engkau
berlari untuk menghindari kematian. Yaa Allah, maafkan kami yang kadang terlalu
ragu dan tidak sepenuhnya percaya kepadamu. Kami janji, bakal lebih belajar
lagi arti mencitaimu sebagai segala-galanya dalam hidup.
Rabu, 27 Mei 2020
2 Jenis Manusia
Di dunia ini, hanya akan ada 2 jenis manusia. Pertama, mereka yang terlahir dengan balutan jiwa dan saldo kesabaran yang banyak. Sementara satu yang lain adalah mereka yang dilahirkan Tuhan ke dunia untuk menguji kesabaran.
Senin, 20 April 2020
Hijrah, Bawa Aku Sejauh Mungkin!
Hijrah, bawa aku sejauh mungkin
Untuk segala khilaf dan dosa di masa lalu.
Hijrah, bawa aku sejauh mungkin
Untuk tidak mengulangi perbuatan buruk dan tidak terpuji.
Hijrah, tuntun aku.
Aku ingin sekali menjadi orang baik.
Hijrah, bawa aku sejauh mungkin
Melupakan setiap kejadian usang dan sedih di masa lalu.
Bawa aku pergi jauh dari hadapan orang-orang yang sudah mengusik
ketenanganku.
Hijrah, jangan biarkan aku
Menjadi pribadi buruk seperti apa yang kusaksikan di masa lalu.
Hijrah, tolong bantu aku.
Tak masalah bagiku ada yang besar dan mengucilkanku
Penting cinta Allah adalah milikku.
Hijrah, tuntun aku memperbaiki setiap kesalahan di masa lalu.
Bawa aku pergi jauh
Ijinkan aku melupakan dan menghilangkan setiap noktah hitam.
Hijrah, bawa aku sejauh mungkin.
Hijrah, tuntun aku dalam hidayah Tuhanku.
Hijrah, bawa aku sejauh mungkin
Selalu, menuju jalan baik menurut Tuhanku.
Sabtu, 18 April 2020
Ramadhan Edisi Korona
Selepas dari perjalanan short course ke India Januari lalu, Ramadhan
ini tepatnya 24 April 2020 harusnya aku berangkat ke Mesir mengikuti Global
Forum for Higher Education and Scientific
Research. Hasil dari proses negosiasi dan proses penulisan esai beberapa
bulan lalu, ternyata harus dipending hingga Oktober nanti gegara makhluk kecil
unik yang tidak terdeteksi tapi berbahaya, yakni Korona. Tapi aku percaya bahwa
ada hikmah dibalik kenapa tidak jadi berangkat ke sana. Mungkin sekarang belum
keliatan. Tapi, akan terlihat nanti dan nanti. Ingat betul bahwa akan ada selalu
pelajaran dibalik setiap kejadian. Bahkan ketika kita sakit pun, Allah jadikan
itu sebagai penghapus dosa. Ketika kita didzalimi, Allah jadikan itu sebagai
arena Dia untuk betul-betul menerima kita. Hingga jika hidup kita penuh
kesyukuran, Allah berikan nikmat yang tiada terkira. Lihat Q.S Ibrahim ayat 6.
Btw, ini akan menjadi Ramadhan
yang spesial. Ramadhan pertama dengan anak dan istri dan Ramadhan pertama
status berubah menjadi seorang Ayah. Eh daddy maksud gue. Ini juga akan menjadi
Ramadhan pertama kita akan buka puasa via aplikasi zoom atau google meet. Sangking
bahayanya ini Korona. “Eh, nanti ini link kita untuk berbuka puasa ya, ini
kodenya”. Begitu kira-kira. Ramadhan pertama berjarak, tidak boleh dekat-dekat
karena berbahaya. Ramadhan pertama Allah kasih kesempatan untuk muhasabah lebih
banyak dari yang sudah-sudah.
Yaa Allah, tidaklah Engkau
menciptakan Korona ini dengan sia-sia, kami tau pasti ada maksudnya. Semoga kami
kuat dan sehat serta selalu bisa berbagi kepada sesama. Sehatkan orang-orang
yang kami sayangi, dan orang-orang yang dekat dengan kami baik dalam pekerjaan
maupun dalam ikatan kepercayaan.
Sudah siapkan menjemput
hidayahmu di bulan Ramadhan, Insya Allah semoga semua kita diberikan umur
panjang untuk bertemu dengan Ramadhan Kareeem tahun ini. Aaamiin.
*Jangan suka mengeluh di
hadapan manusia, karena itu bisa membuat kecewa. Mengeluhlah kepada Allah dan
jangan pernah berhenti berdoĂ¡, karena Allah senang mendengar curhatmu.
Selasa, 14 April 2020
Jalan Tol Menuju Kesuksesan
‘Jatuh cintalah dengan terhormat agar kau
bisa merasakan mewahnya cinta kelas atas.’
Istilah
itu yang sering terniang-niang di kepalaku saat ingin merasakan kehidupan
seperti orang lain. Menjalani apapun harus ada dasarnya hingga tidak menjadi
percuma apa yang dijalani. Apalagi jika ingin merasakan kesuksesan seperti yang
dijalani oleh orang lain. Bukan cuma jatuh cinta dengan lawan jenis saja yang
harus pikir-pikir. Lebih dari itu, jatuh cinta dengan kehidupan pun harus
dengan terhormat agar bisa menjadi orang baik dan bermanfaat. Ibuku adalah
sosok yang sederhana. Ia selalu memotivasi agar tidak berlebihan dalam
menjalani dan mencintai segala sesuatu. Hal itu ia wujudkan dengan memberikan
fasilitas secukupnya dalam menjalani kehidupan kampus dan saat terjun ke dunia
kerja. Aku bahkan sampai dua kali pernah merasakan kegagalan dan kecewa dengan
hasil tes studi lanjut S3 ke Turki dan Australia karena tidak mengantongi restu
Ibu. Sedih berkecamuk seperti down menjadi satu saat itu. Lama kelamaan aku
baru sadar bahwa memang kegagalan itu yang mengantarku bisa mendapatkan apa
yang saat ini aku dapatkan. Hidup memang selalu seperti itu adanya, kadang
senang, kadang sedih, mungkin juga kadang galau berkepanjangan. Kini aku sadar
bahwa hikmah dari suatu kejadian akan baru terasa nanti dan nanti. Ketika aku
merasakan hidup kini semakin mudah, betapa aku bersyukur dan bahagia dulu aku
pernah tidak terpilih untuk melanjutkan studi S3. Berkali-kali aku ucapkan
alhamdulilaah. Hati Ibu memang tidak pernah putus ada dan ia adalah yang
terakhir putus harapan dengan tingkah laku anak-anaknya. So far for what
happened, I am so grateful for having you Mom. Restumu jalan tolku menuju
bahagia.
Dulu
saat kuliah hingga lulus S2, ibu tidak pernah memberikan izin padaku untuk
membawa motor seperti teman-teman yang lain. Alasan beliau simple, aku akan
kebanyakan main daripada belajar ketika aku punya semua fasilitas. Laptop saja
aku baru punya saat aku duduk di semester tiga. Kedua orang tuaku bukan tipe
manusia yang main-main dengan pendidikan anaknya. Itu terbukti dengan hukuman
yang aku terima saat peringkatku merosot dari peringkat pertama menjadi
peringkat kedua. Lebih baik segera pergi dari rumah saja daripada bertemu
dengan mereka. Aku bakal jadi makanan empuk dengan nasihat panjang tanpa henti.
Bisa jadi kalah curhatan mama dedeh. Dulu, aku kira itu wujud bencinya mereka
terhadapku, tapi lagi-lagi aku salah. Sebegitu pedulinya mereka kepadaku hingga
mereka tidak mau jika aku ini kalah saing dengan anak-anak yang lain. Harus
selalu terdepan. Mereka juga selalu mengajarkan bahwa di balik semua kesulitan
pasti ada banyak kemudahan. Sama seperti yang diajarkan Allah dalam surat
Insyirah. After hardship comes ease. Hanya kami sebagai anaknya harus
betul-betul merasakan dan mempercayai hal itu.
Mereka
juga mengajarkan kami, kalau mau mendapatkan segala sesuatu harus usaha dulu.
Tidak boleh langsung instan. Terbukti, dari jaman sekolah SD sudah harus jalan
kaki dengan jarak yang cukup lumayan. Kalau siswa lain saat jam istirahat bisa
main dan santai, kami jualan. Buat apa? Nambah uang jajan. Jualan jeruk, jambu,
dan nanas di halaman sekolah. Hal itu berlanjut ketika jam sekolah sudah usai.
Kami tidak boleh banyak main, beresin rumah, nyuci, ke kebun nyari jeruk dan
jambu untuk kemudian dijual lagi besoknya. Aku ingat banget kalau hari Sabtu
seusai jam sekolah kami harus segera mencuci pakaian sekolah dan sepatu.
Setelah makan siang ke kebun atau menyelesaikan pekerjaan rumah. We are
different at all. Hal-hal yang demikian yang menjadikan kami sangat tahan
banting dengan keadaan dan ujian saat menempuh pendidikan. Tidak mudah mengeluh
apalagi menyia-nyiakan kesempatan yang sudah diberikan Tuhan. Tidak akan, tidak
bisa, tidak pernah. Kebiasaan yang sudah kami lalui itu pula yang membentuk
kami bisa menjadi seperti sekarang. Well, actually we proud for having both of
them. Meski hidup sudah seperti pendidikan militer yang setiap hari diberikan
pressure yang begitu berarti, tetapi itu pula yang mengantarkan kami bisa
merasakan menjadi ‘orang’ seperti yang Ibu dan Almarhum Bapak inginkan.
Aku
baru sadar sekarang bahwa ini adalah masa-masa aku bisa leyeh-leyeh dari CCTV
orang tua, dari kejaran deadline yang tiada henti. Bejibun tiada akhir
permintaan mereka. Memang tiada permintaan mereka yang negatif, serba positif.
Buuuuuuuut, habis energi dan tenaga aku untuk memenuhi permintaan mereka. Sampai
pada tahap dimana aku benar-benar berterima kasih dengan semua permintaan
mereka dan nasehat yang melebihi kajian keislaman di tipi-tipi. They always
provide the best things for us as long as they can. So we have to thank God for
sending them to our life. How about you?
Ridho
mereka juga yang mengantar aku bisa merasakan hidup di Pontianak saat ini,
terutama Ibu. Beberapa kali aku meminta untuk merantau jauh, ia seperti
keberatan. Hingga aku pernah merasakan jobless karena tidak menuruti permintaan
salah satu saudara untuk mengajar di dua kampus ternama di Jakarta. Jelas aku
menolak keduanya. Aku pikir, mendapatkan sesuatu dari hasil kedekatan dengan
orang dalam dan atau menyogok apalagi menggunakan power atas nama keluarga
adalah tidak worth it. Hal itu seketika berubah saat aku meminta izin pada Ibu
untuk melanjutkan perjalanan hidup di Kalimantan Barat. Tanpa pikir panjang,
ibu dengan suara bahagia mengiyakan apa yang aku minta. Entah ada angin dari
mana yang berhembus menyusup telinga Ibu kala itu. Ia benar-benar bahagia saat
aku mendapatkan pekerjaan di kota yang terkenan dengan hawa panas ini. Seperti
ada atmosfer yang lain yang aku rasakan saat ibu memberikan restu untuk pergi
di Pontianak. Bahagia dan penasaran akan seperti apa perjalanan kisah hidup di
Pontianak. Antara gugup dan tidak percaya karena rotasi seketika akan berbeda. “Ah,
setidaknya derita selama dua bulan tidur tidak menggunakan kasur akan berakhir.
Selamat tinggal Ibu kota. Terima kasih Jakarta. Pontianak aku datang dengan
semangat yang akan selalu menyala untuk bisa bermanfaat bagi banyak manusia.
Insya Allah.”
Langganan:
Postingan (Atom)
Tentang Pulang
Pulang bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan batin yang penuh makna. Pulang adalah kata yang menyentuh hati, membawa kita kem...
-
Semesta tak bisa berkata banyak saat matahari tak menampakkan diri di pagi hari. Ia seakan mengerti bahwa rindu akanmu butuh perpanjangan du...
-
Diplomasi ekonomi sebagai proses formulasi dan negosiasi kebijakan yang berkaitan dengan kegiatan produksi, pertukaran barang, jasa, tenaga ...
-
Di sini sy akan sedikit berbagi tentang program yang kemarin sy ikuti di India. Terlepas dari kewajiban moral karena diminta langsung ol...
-
Berdua saja, jangan bertiga. Sebab, sendiri adalah sepi, berdua itu bahagia. Namun, bertiga adalah luka. Pernah gak lo denger orang yang ...
-
Pulang bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan batin yang penuh makna. Pulang adalah kata yang menyentuh hati, membawa kita kem...
-
Menjadi pribadi yang lebih tenang adalah perjalanan yang memerlukan kesabaran dan perhatian pada diri sendiri. Tenang bukan berarti tidak ...
-
Eh, gimana rasanya merantau? Seneng terus ya? Pasti gak banyak yang ngepoin hidup lo kan? Maksudnya hidup lo lebih bebas tanpa setumpuk atur...