Senin, 24 Februari 2014

Lisanku Memanggilmu

(Di Kampus 2 di sela-sela waktu Part Time BKMA)
Pandang tinggi mentari pagi
Berdirilah menanti, meski itu tak pasti
Lihatlah senja indah
Menantilah sampai ia kembali
Meski malam tak ditemani bintang
Meski bulan takkan terlihat terang
Harapan ini akan aku simpan
Hingga nanti kau kembali
Selama nafas masih menyatu dengan tubuh ini
Aku akan menunggumu kembali
Aku yakin kau akan datang menemani hari panjangku
Takkan pernah kuubah hatiku
Kini aku akan tenggelam bersama episode siang
Aku masih di sini, karena aku telah memilih
Namamu adalah periang hariku

Lisanku terus memanggil indah wujudmu

Berbenah Dengan Semangat Kemerdekaan

Baru saja kita melewati perhelatan Dirgahayu Kemerdekaan Republik Indonesia ke-68, semangat baru kebangsaan tersebut tergambarkan dengan banyaknya agenda dan kegiatan yang dilaksanakan di seluruh penjuru nusantara ini. Dibalik peringatan kemerdekaan RI yang baru saja kita lalui itu seharusnya bangsa yang kaya dan sangat kita cintai ini dapat melakukan aksi nyata untuk melakukan pembenahan di beberapa aspek yang dapat menjadikan bangsa ini bangsa yang benar-benar merdeka baik dari penjajahan maupun dalam kehidupan nyata. Ritual peringatan HUT Kemerdekaan RI itu jualah yang sebenarnya mampu menjadi tombak penghidup kobar semangat generasi muda untuk dapat berjalan beriringan melakukan perubahan dengan pemimpin-pemimpin besar yang kini dimiliki bangsa ini.
Kemerdekaan yang telah kita peringati selama 68 tahun ini merupakan anugrah terbesar yang telah diberikan Tuhan kepada bangsa kita. Bangsa yang kaya akan sumber daya alam yang begitu meruah dan melimpah. Sudut keunikan dan ketertarikan yang diberikan Indonesia terhadap Negara lain adalah kekayaan alam yang kita temui di negeri ini, negeri yang terkenal dengan sebutan 1001 pulau. Peringatan kemerdekaan yang baru saja kita saksikan dan kita lalui seharusnya memberikan penekanan pada empat poin penting yang harus diperbaiki.
Pertama, kita harus mengagungkan dan mengabadikan sejarah. Sebagai bangsa yang memiliki keinginan untuk menjadi bangsa yang besar, seharusnya rakyat Indonesia selalu mengingat bagaimana sejarah Negara ini bisa merdeka dari tangan dan kekuasaan para penjajah. Bangsa yang besar adalah bangsa yang penduduknya tidak melupakan sejarah dalam menjalankan aktivitasnya, karena bagaimana pun sejarah telah mengantarkan kita menjadi bangsa yang bisa menikmati arti kenikmatan di balik suatu kemerdekaan. Oleh sebab itu, sudah selayaknya kita menghormati besarnya perjuangan yang telah disumbangkan oleh para pahlawan kita dalam menggapai kemerdekaan untuk bangsa yang besar ini.
Kedua, pengelolaan sumber daya alam yang tepat sasaran. Bukankah kita, Negara Indonesia adalah Negara yang kaya akan sumber daya alam? Negara yang terkenal dengan sebutan “Tanah Surga” karena apapun yang kita tanam di tanah kita Indonesia bisa tumbuh subur. Seharusnya dengan kekayaan yang kita miliki, kita tidak lagi terjajah secara kasat mata dalam berbagai bidang sendi kehidupan. Dengan sumber daya alam yang melimpah ruah, seharusnya semua penduduk bangsa ini dapat merasakan kehidupan yang sejahtera dan memiliki kehidupan yang layak. Hal tersebut dapat tergambar dengan apa yang saat ini dialami oleh rakyat bangsa Indonesia kini.
Sudahkah penduduk bangsa ini hidup di bawah payung kecukupan dan sejahtera? Agaknya masih sangat jauh dari yang diharapkan. Padahal jika dilirik, kekayan yang dimiliki Indonesia ini seharusnya sungguh sangat menjamin kehidupan yang mapan bagi para penduduk negeri ini. Sudah saatnya bangsa kita berbenah yaitu dengan memanfaatkan kekayaan sumber daya yang kita miliki dengan melakukan pengelolaan sumber daya yang tepat sasaran. Tidak perlu selalu memberikan apa yang kita punya ke Negara lain, sehingga dengan hal tersebut bangsa ini seolah selalu tertinggal dan menjadi bangsa yang miskin. Bukankah akan lebih baik jika pemimpin-pemimpin di bangsa ini bisa melakukan manajemen sumber daya alam yang teratur dan tepat guna agar kehidupan masyarakat Indonesia dapat hidup di bawah sayap bangsa yang memberikan kesejahteraan.
Ketiga, melakukan perbaikan dalam manajemen sumber daya manusia yang mumpuni sehingga mampu membawa bangsa ini menjadi bangsa yang maju dan berdaya saing tinggi. Bangsa yang besar seharusnya mampu menyusun strategi dan mulai mengikis ketertinggalan dari bangsa lain dengan menggerakkan segenap SDM yang dimiliki Indonesia. Indonesia harusnya mampu berdiri di atas kesejahteraan dengan melakukan perbaikan pada kualitas SDM yang dimiliki. Sudah saatnya pemuda dan pemudi Indonesia bangkit bergerak dan digerakkan dengan membentuk persepsi yang sama untuk tujuan yang sama dan melepaskan diri dari sifat ketergantungan terhadap bangsa lain. Kini adalah saat yang tepat bagi Indonesia untuk melakukan perbaikan kualitas individu-individu yang ada di Indonesia memberikan pendidikan yang tinggi dan penajaman pada soft skill SDM nya.
Dalam Alqur’an Allah telah jelas menegaskan “Dan takutlah kalian jika meninggalkan generasi yang lemah, takutlah kepada Allah atas generasi kalian, takutlah kepada Allah dan berkatalah dengan perkataan yang benar” (Q.S 4:9). Maka jelas sekali kita sebagai bangsa yang ingin maju, kita harus memiliki SDM yang terampil, berdaya saing tinggi dan memiliki soft skill yang memadai, sehingga dengan begitu Indonesia mampu maju kedepan dan menjadi bangsa yang memiliki SDM yang cerdas, pintar, dan bermental saing. Satu hal yang harus diyakini bahwa tidak ada kata terlambat untuk menjadi bangsa yang berkembang dan maju, Indonesia pasti bisa!
Keempat, pemimpin dengan sistem tata kelola Negara yang baik. Indonesia membutuhkan sosok pemimpin yang mampu menjadi panutan dalam menjalankan aktivitas kenegaraan, yang bukan hanya sebagai penghubung antara Indonesia dengan Negara lain, tetapi juga sebagai pemimpin yang mampu menjamin kesejahteraan bagi segenap rakyatnya.
Indonesia membutuhkan pemimpin yang jujur, berintegritas tinggi dan terjaga dari kesalahan, bukan justru pemimpin yang memanfaatkan kedudukan untuk melakukan penggelembungan pundi-pundi pribadi demi kesejahteraan individu. Indonesia juga butuh pemimpin yang cerdas, memiliki intelektualitas tinggi dan professional, bukan justru pemimpin yang bisa membodohi penduduknya untuk menumbuh suburkan sikap pragtisme akut yang kini semakin terlihat jelas di Indonesia.
Kemudian, bangsa ini juga membutuhkan pemimpin pemimpin yang dapat dipercaya, memiliki legitimasi dan akuntabel dalam menjalankan tugasnya. Selain itu, bangsa ini membutuhkan sosok pemimpin yang senantiasa menyampaikan risalah kebenaran, bukan pemimpin yang memiliki profesi sebagai politisi rabun ayam, yang hanya mampu melihat apa yang ada di depan mata dan mendengar apa yang ada di sekitarnya. Poin penting lain yang harus diperhatikan adalah bahwa pemimpin Indonesia tidak boleh hanya kontra pada kehidupan dunia dan memiliki hati yang buta. Mengingat, pemimpin adalah perumus kebijakan Negara dan penentu kemajuan bangsa ini.




Di Pojok Kamar Kusamku

Pagi ini aku seperti biasa sudah memulai aktivitasku. Sudah tiga hari belakangan ini aku selalu terbangun jam 1 malam, aku juga tidak tahu mengapa itu bisa terjadi. Ah, bersyukur juga kalau tiap malam bisa bangun jam segitu, waktu yang tepat untuk mendekati Tuhanku. Berjalan mendekati kamar mandi itu sudah menjadi ritualku setiap pagi. Biasa, aku adalah manusia yang selalu saja akan mengalami mules setiap pagi. Entahlah, selalu saja berulang kali aku mengalami hal itu setiap hari. Mungkin Tuhan punya hikmah lain dalam setiap kejadian yang aku alami. Namun, pagi ini tepat 25 Februari, aku merasa kok tiba-tiba aku malas menyentuh yang namanya skripsi. Emm, apalah daya sebagai manusia biasa, aku pun mencoba untuk tetap mendekati laptopku dan menyalakannya untuk mengecek ulang draf bab sekian yang sudah aku persiapkan. Ah, ternyata benarkan?! Masih saja ada yang salah. Ternyata kemalasan itu harus dilawan ya, dengan jurus yang ampuh sehingga kita nggak akan kalah dengan tipuan rasa malas yang sudah terlanjur hidup dan berkembang biak dengan subur dalam diri kita. Semoga saja hari ini bisa memberikan persembahan yang terbaik. Tidak mau tahu, pokoknya kudu rajin dalam menyegerakan segala sesuatu, jangan tunggu sampai rasa malas itu datang dan duduk manis mengalahkan kemauan dan rasa optimis kita. Good morning everyone, have nice day :)

Rabu, 25 September 2013

Kau dan Aku

aku senang, diriku ceria
tahukah kau mengapa?
karena aku tahu kau memilihku
ini bukan tipuan bukan?
tapi ternyata benar, ini benar bukan tipuan
engkau memilihku
silakan tanya pada kipas angin yang sedang berputar
kau berani? janganlah takut, jangan jadi pengecut
satu hal pasti perlu kau tahu
nyali saja tidak cukup teman, buka semua matamu, semuanya...
aku yakin akan hanya ada satu jawabnya
dia memilihku
tanya saja pada semua jiwa yang kau tahu
dia memilihku...
jelas bukan aku penyebab sakitmu, itu dia
banyak bunga terpaksa gugur, karenanya
tiga kumbang seraya menguning, aku salah satunya, bukan padi
dua yang lain menyerah begitu saja, kau harus tahu itu!
setiap kota aku menemukan jiwa itu
tapi sayang, jatuh gugur dengan sendirinya
resiko ini bukan yang pertama, kesekian kalinya...
tanggung saja bebanmu sendiri, karna dia memilihku, bukan kamu!
berlatihlah berdiri, jika kau mampu..
pun aku tak sudi membantumu, jahat! biarkan saja...
salah siapa? Coba tanya mereka...
senyum menawan penuh luka
luka itu, lukamu, bukan aku, atau dia
karena dia, memilihku...

Ratapan Sepi Seribu Mimpi

Saat asa menemani di sudut ruang gelap
Kami tak berfikir sedetik pun untuk terlelap
Saat kami harus bangun dari sebuah angan-angan
Merangkai mimpi sejati yang tak hanya sekedar  pujian
Kami tak pernah lelah
Meski terkadang,keluh kesah slalu menari
Menyertai kami dalam sunyi
Dan saat pelupuk mata kami terpejam
Kami tertunduk menghias hati yang sedang muram
Kami akan terus berdiri
Melangkah pasti dengan ketegaran hakiki
Menghirup aroma kesejukan dari dalam diri kami
Sorot mata kami akan slalu bersinar
Menyingkirkan lara dan membuatnya menjadi bara api
Genggam tanganku erat
Dan mentari akan tersenyum mengiringi kami
Tak peduli meski ribuan nafas yang memandang kami
Kami akan terus berjalan. Melewati dinginya udara
Yang akan membawa kami dalam taburan jutaan permata

Realita? Nilai saja sendiri!

Mudah sekali bagi kita semua mengartikan zaman yang maju ini sebagai zaman yang menjunjung tinggi prinsip dan nilai demokrasi. Bebas berpendapat dan mengeluarkan aspirasi. Sudah lama masyarakat Indonesia mengetahui bahwa bangsa ini telah menerapkan demokrasi sebagai salah satu prinsip yang sangat kita miliki di negara yang sangat mengedepankan Pancasila dan UUD sebagai bagian dasar dari bangsa ini.
    Tidak perlu jauh-jauh meneliti tentang poin yang satu ini, siswa Sekolah Dasar pun kini tahu dan paham akan hal ini. Kita tahu bangsa ini adalah bangsa yang sangat paham akan hal-hal yang berkaitan dengan kebebasan mengeluarkan pendapat, bebas beragama, bebas beraspirasi, dll. Namun, disatu sisi, kemana kekebalan kita sebagai masyarakat yang tahu akan hal ini, ketika hak-hak kita diambil oleh orang lain, kita seolah diam dan ikhlas begitu saja ketika hak kita diambil dan dimanfaatkan oleh pihak lain.
     Ketika hak kita diambil oleh mereka yang lebih tinggi dan berpangkat, kenapa kita seolah bisu. Pandangan kita tentang demokrasi seolah hancur lebur tak lagi berarti. Miris bukan? Dengan alasan mengedepankan etika lah, sopan santun lah, tidak etis lah, tidak enak dilihat orang lain, sungkan, dsb. Padahal, jelas-jelas mereka yang telah mengambil hak kita adalah orang yang tidak tahu sopan santun. Ketika hak kita diambil oleh pihak lain, kita seolah menjadi patung, bisu, lemah, lesu tak mampu melakukan sedikit pun perlawanan. Pandangan dan pengetahuan kita tentang demokrasi selama ini hanya sebatas fatamorgana yang tidak terlihat. Pengetahuan tentang persamaan hak, kebebasan berpendapat, kedudukan yang sama di depan hukum, seakan-akan tersendat di tenggorokan kita.
     Ketika kebobrokan sistem dan aturan terjadi di depan mata kita, kita hanya diam saja dan tak mampu bertindak apa-apa.Poin yang menjadi perhatian kemudian adalah bagaimana kita mampu memperjuangkan hak kita di depan publik, bukan sekadar berkata yang panjang, tidak penting dan tidak berharga di belakang panggung. Berani berkata di depan, jangan sekadar mampu mengolah ribuan kata tapi kita takut untuk memperjuangkannya. Betapa sangat amat disayangkan. Think and act not just think and speak up behind. Perjuangkanlah apa yang menjadi hakmu jika kamu merasa itu adalah bagian dari apa yang harus kamu dapatkan. Jangan menjadi pecundang yang hanya mampu berkata dan beraksi dibelakang. (Qur’an said : Jangan engkau membiarkan dirimu jatuh pada kehancuran padahal kamu memiliki kekuasaan).

Sore Senja Biru

Biru putih atau hitam?
silakan kau pilih satu, jika kau tak mau, abaikan...
abaikanlah, buang segala penawaran itu...
mengapa jika hari berputar dulu terasa syahdu?
apa yang hilang dari balik tabir tawa itu?
mungkinkah berawal suka dan disuka...
nan jauh kini, aku merasa rindu, salahkah aku?
rindu sama abu-abu itu
laksana isyarat tak jelas kini mendekat
tidak ada diantara tiga pilihan di atas...
rona ceria tawa itu sungguh menawan, dulu...
belum terpisah apalagi terganti, bahkan mungkin takkan tergantikan
buah mimpi itu? kau terlalu banyak janjikan masa-masa indah
sadarkah dirimu akan hal itu?
kuletakkan segala asa pada bait pertama
aku mengagumimu, dulu, beberapa hari yang lalu
belum sampai hitungan bulan, semua itu berubah
kau menghilang, bayanganmu selalu menghantuiku
tolong aku, lepaskan segalanya
ah, memoriku terikat jelas, takkan mungkin terlepas...
bukan halusinasi apalagi fatamorgana, hadirmu begitu nyata
pun kukira bukan tipuan apalagi sekedar hasrat belaka
sungguh ini nyata terlukiskan
indah seperti setelah seminggu kami bersapa
aku rindu, jiwa ini mengadu, tubuh ini ingin bersua, walau sebentar
yang aku tahu hanya satu, kau sungguh luar biasa...
warna indah laksana pelangi, penuh warna...
takkan hilang, takkan kusam dalam ingatan dan sanubariku...
aku merindukanmu, sungguh....
Datanglaaaaaaah!

Tentang Pulang

Pulang bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan batin yang penuh makna. Pulang adalah kata yang menyentuh hati, membawa kita kem...