Senin, 20 April 2020

Hijrah, Bawa Aku Sejauh Mungkin!


Hijrah, bawa aku sejauh mungkin
Untuk segala khilaf dan dosa di masa lalu.
Hijrah, bawa aku sejauh mungkin
Untuk tidak mengulangi perbuatan buruk dan tidak terpuji.
Hijrah, tuntun aku.
Aku ingin sekali menjadi orang baik.
Hijrah, bawa aku sejauh mungkin
Melupakan setiap kejadian usang dan sedih di masa lalu.
Bawa aku pergi jauh dari hadapan orang-orang yang sudah mengusik ketenanganku.
Hijrah, jangan biarkan aku
Menjadi pribadi buruk seperti apa yang kusaksikan di masa lalu.
Hijrah, tolong bantu aku.
Tak masalah bagiku ada yang besar dan mengucilkanku
Penting cinta Allah adalah milikku.
Hijrah, tuntun aku memperbaiki setiap kesalahan di masa lalu.
Bawa aku pergi jauh
Ijinkan aku melupakan dan menghilangkan setiap noktah hitam.
Hijrah, bawa aku sejauh mungkin.
Hijrah, tuntun aku dalam hidayah Tuhanku.
Hijrah, bawa aku sejauh mungkin
Selalu, menuju jalan baik menurut Tuhanku.

Sabtu, 18 April 2020

Ramadhan Edisi Korona


Selepas dari perjalanan short course ke India Januari lalu, Ramadhan ini tepatnya 24 April 2020 harusnya aku berangkat ke Mesir mengikuti Global Forum for Higher Education and Scientific Research. Hasil dari proses negosiasi dan proses penulisan esai beberapa bulan lalu, ternyata harus dipending hingga Oktober nanti gegara makhluk kecil unik yang tidak terdeteksi tapi berbahaya, yakni Korona. Tapi aku percaya bahwa ada hikmah dibalik kenapa tidak jadi berangkat ke sana. Mungkin sekarang belum keliatan. Tapi, akan terlihat nanti dan nanti. Ingat betul bahwa akan ada selalu pelajaran dibalik setiap kejadian. Bahkan ketika kita sakit pun, Allah jadikan itu sebagai penghapus dosa. Ketika kita didzalimi, Allah jadikan itu sebagai arena Dia untuk betul-betul menerima kita. Hingga jika hidup kita penuh kesyukuran, Allah berikan nikmat yang tiada terkira. Lihat Q.S Ibrahim ayat 6.
Btw, ini akan menjadi Ramadhan yang spesial. Ramadhan pertama dengan anak dan istri dan Ramadhan pertama status berubah menjadi seorang Ayah. Eh daddy maksud gue. Ini juga akan menjadi Ramadhan pertama kita akan buka puasa via aplikasi zoom atau google meet. Sangking bahayanya ini Korona. “Eh, nanti ini link kita untuk berbuka puasa ya, ini kodenya”. Begitu kira-kira. Ramadhan pertama berjarak, tidak boleh dekat-dekat karena berbahaya. Ramadhan pertama Allah kasih kesempatan untuk muhasabah lebih banyak dari yang sudah-sudah.
Yaa Allah, tidaklah Engkau menciptakan Korona ini dengan sia-sia, kami tau pasti ada maksudnya. Semoga kami kuat dan sehat serta selalu bisa berbagi kepada sesama. Sehatkan orang-orang yang kami sayangi, dan orang-orang yang dekat dengan kami baik dalam pekerjaan maupun dalam ikatan kepercayaan.
Sudah siapkan menjemput hidayahmu di bulan Ramadhan, Insya Allah semoga semua kita diberikan umur panjang untuk bertemu dengan Ramadhan Kareeem tahun ini. Aaamiin.

*Jangan suka mengeluh di hadapan manusia, karena itu bisa membuat kecewa. Mengeluhlah kepada Allah dan jangan pernah berhenti berdoĆ”, karena Allah senang mendengar curhatmu.

Selasa, 14 April 2020

Jalan Tol Menuju Kesuksesan


Jatuh cintalah dengan terhormat agar kau bisa merasakan mewahnya cinta kelas atas.’

Istilah itu yang sering terniang-niang di kepalaku saat ingin merasakan kehidupan seperti orang lain. Menjalani apapun harus ada dasarnya hingga tidak menjadi percuma apa yang dijalani. Apalagi jika ingin merasakan kesuksesan seperti yang dijalani oleh orang lain. Bukan cuma jatuh cinta dengan lawan jenis saja yang harus pikir-pikir. Lebih dari itu, jatuh cinta dengan kehidupan pun harus dengan terhormat agar bisa menjadi orang baik dan bermanfaat. Ibuku adalah sosok yang sederhana. Ia selalu memotivasi agar tidak berlebihan dalam menjalani dan mencintai segala sesuatu. Hal itu ia wujudkan dengan memberikan fasilitas secukupnya dalam menjalani kehidupan kampus dan saat terjun ke dunia kerja. Aku bahkan sampai dua kali pernah merasakan kegagalan dan kecewa dengan hasil tes studi lanjut S3 ke Turki dan Australia karena tidak mengantongi restu Ibu. Sedih berkecamuk seperti down menjadi satu saat itu. Lama kelamaan aku baru sadar bahwa memang kegagalan itu yang mengantarku bisa mendapatkan apa yang saat ini aku dapatkan. Hidup memang selalu seperti itu adanya, kadang senang, kadang sedih, mungkin juga kadang galau berkepanjangan. Kini aku sadar bahwa hikmah dari suatu kejadian akan baru terasa nanti dan nanti. Ketika aku merasakan hidup kini semakin mudah, betapa aku bersyukur dan bahagia dulu aku pernah tidak terpilih untuk melanjutkan studi S3. Berkali-kali aku ucapkan alhamdulilaah. Hati Ibu memang tidak pernah putus ada dan ia adalah yang terakhir putus harapan dengan tingkah laku anak-anaknya. So far for what happened, I am so grateful for having you Mom. Restumu jalan tolku menuju bahagia.
Dulu saat kuliah hingga lulus S2, ibu tidak pernah memberikan izin padaku untuk membawa motor seperti teman-teman yang lain. Alasan beliau simple, aku akan kebanyakan main daripada belajar ketika aku punya semua fasilitas. Laptop saja aku baru punya saat aku duduk di semester tiga. Kedua orang tuaku bukan tipe manusia yang main-main dengan pendidikan anaknya. Itu terbukti dengan hukuman yang aku terima saat peringkatku merosot dari peringkat pertama menjadi peringkat kedua. Lebih baik segera pergi dari rumah saja daripada bertemu dengan mereka. Aku bakal jadi makanan empuk dengan nasihat panjang tanpa henti. Bisa jadi kalah curhatan mama dedeh. Dulu, aku kira itu wujud bencinya mereka terhadapku, tapi lagi-lagi aku salah. Sebegitu pedulinya mereka kepadaku hingga mereka tidak mau jika aku ini kalah saing dengan anak-anak yang lain. Harus selalu terdepan. Mereka juga selalu mengajarkan bahwa di balik semua kesulitan pasti ada banyak kemudahan. Sama seperti yang diajarkan Allah dalam surat Insyirah. After hardship comes ease. Hanya kami sebagai anaknya harus betul-betul merasakan dan mempercayai hal itu.
Mereka juga mengajarkan kami, kalau mau mendapatkan segala sesuatu harus usaha dulu. Tidak boleh langsung instan. Terbukti, dari jaman sekolah SD sudah harus jalan kaki dengan jarak yang cukup lumayan. Kalau siswa lain saat jam istirahat bisa main dan santai, kami jualan. Buat apa? Nambah uang jajan. Jualan jeruk, jambu, dan nanas di halaman sekolah. Hal itu berlanjut ketika jam sekolah sudah usai. Kami tidak boleh banyak main, beresin rumah, nyuci, ke kebun nyari jeruk dan jambu untuk kemudian dijual lagi besoknya. Aku ingat banget kalau hari Sabtu seusai jam sekolah kami harus segera mencuci pakaian sekolah dan sepatu. Setelah makan siang ke kebun atau menyelesaikan pekerjaan rumah. We are different at all. Hal-hal yang demikian yang menjadikan kami sangat tahan banting dengan keadaan dan ujian saat menempuh pendidikan. Tidak mudah mengeluh apalagi menyia-nyiakan kesempatan yang sudah diberikan Tuhan. Tidak akan, tidak bisa, tidak pernah. Kebiasaan yang sudah kami lalui itu pula yang membentuk kami bisa menjadi seperti sekarang. Well, actually we proud for having both of them. Meski hidup sudah seperti pendidikan militer yang setiap hari diberikan pressure yang begitu berarti, tetapi itu pula yang mengantarkan kami bisa merasakan menjadi ‘orang’ seperti yang Ibu dan Almarhum Bapak inginkan.  
Aku baru sadar sekarang bahwa ini adalah masa-masa aku bisa leyeh-leyeh dari CCTV orang tua, dari kejaran deadline yang tiada henti. Bejibun tiada akhir permintaan mereka. Memang tiada permintaan mereka yang negatif, serba positif. Buuuuuuuut, habis energi dan tenaga aku untuk memenuhi permintaan mereka. Sampai pada tahap dimana aku benar-benar berterima kasih dengan semua permintaan mereka dan nasehat yang melebihi kajian keislaman di tipi-tipi. They always provide the best things for us as long as they can. So we have to thank God for sending them to our life. How about you?
Ridho mereka juga yang mengantar aku bisa merasakan hidup di Pontianak saat ini, terutama Ibu. Beberapa kali aku meminta untuk merantau jauh, ia seperti keberatan. Hingga aku pernah merasakan jobless karena tidak menuruti permintaan salah satu saudara untuk mengajar di dua kampus ternama di Jakarta. Jelas aku menolak keduanya. Aku pikir, mendapatkan sesuatu dari hasil kedekatan dengan orang dalam dan atau menyogok apalagi menggunakan power atas nama keluarga adalah tidak worth it. Hal itu seketika berubah saat aku meminta izin pada Ibu untuk melanjutkan perjalanan hidup di Kalimantan Barat. Tanpa pikir panjang, ibu dengan suara bahagia mengiyakan apa yang aku minta. Entah ada angin dari mana yang berhembus menyusup telinga Ibu kala itu. Ia benar-benar bahagia saat aku mendapatkan pekerjaan di kota yang terkenan dengan hawa panas ini. Seperti ada atmosfer yang lain yang aku rasakan saat ibu memberikan restu untuk pergi di Pontianak. Bahagia dan penasaran akan seperti apa perjalanan kisah hidup di Pontianak. Antara gugup dan tidak percaya karena rotasi seketika akan berbeda. “Ah, setidaknya derita selama dua bulan tidur tidak menggunakan kasur akan berakhir. Selamat tinggal Ibu kota. Terima kasih Jakarta. Pontianak aku datang dengan semangat yang akan selalu menyala untuk bisa bermanfaat bagi banyak manusia. Insya Allah.”

Purnama Kedua Belas

Aku menanti dibalik sipu awan pagi, siapakah kau sebenarnya, yang telah menbuat hatiku bahagia lebih lama, lalu terbenam pada senyum berbunga-bunga. Purnama Kedua Belas, engkaukah yang aku tunggu? Serasa malamku serba salah karena pesonamu. Balik kanan, aku tak nyenyak. Balik kiri, aku tak kuat. Cicak di atap kamar semakin menghinakanku malam itu. Pada laju masa yang tak bisa kutepis rotasinya, engkau datang dan menyelinap lebih anggun dari biasanya. Sudah berulang kali kukatakan, jangan datang hanya karena rindu, aku tak bersedia menjadi wadah pelampiasanmu, Purnama.
.
Harus berapa kali aku berucap, bibirku semakin kelu saat kau hinggap dan membayang seisi tubuhku. Purnama Kedua Belas, Kau kah anugrah terindah semesta untukku? Derai angin bersama gemuruh langit pekat pagi ini seolah tau bahwa aku enggan memikirkanmu lebih lama, Purnama. Kau sudah menjadi bagian dari dunia kesekian yang aku ranumkan dalam balutan kanvas kenangan manis. Kau, sudah menjadi bagian dari detak nafas dan hariku. Menjadi komponen bersambung bersama minggu dan bulan yang aku habiskan di sini. Tak perlu mengerti lagi, tahun pun menjadi saudara bagi cerita dan misterimu, Purnama. Kau sudah menjadi bagian cerita awal dan akhir hayat dan mendarah daging dalam hati dan pikiranku. Enggan kulepas, takkan kuberpaling, Kau bagian kisah hidupku kemarin, hari ini, dan esok nanti.
.
Purnama Kedua Belas, aku akan belajar menjadi insan paling lembut dan mengerti akan arti kurang dan lebihmu. Saat sayup udara tak lagi mendekatiku, kaulah cadangan udara untuk aku hidup dan kembali menghirup. Purnama Kedua Belas, kau angin segar bagi singasana duduk manisku. Meski harus termenung dalam pojok senja, Kau selalu berarti.
.
Maka seiring bertambahnya hari berlalu, aku akan menjadi pengagum setia bagimu. Menjadi peluk yang selalu mendekap saat sendu. Menjadi tempat paling nyaman untuk setiap sandaran kisah-kisahmu. Biarkan malam meninggi, pagi berlari, senja membisu kembali pada yang satu, Kau akan tetap menjadi Purnama Terindah dalam kurangnya hitungan jariku. Purnama Kedua Belas, tiada jeda untuk mencintaimu.

Minggu, 12 April 2020

Indonesia diciptakan saat Tuhan sedang leyeh-leyeh dan bersikap bodo amat.


Kok bisa?
Jadi gini, hari Selasa lalu aku bertemu dengan beberapa mahasiswa asing dari China dan Spanyol yang kebetulan menginap di area kos yang sama sebelum kami hijrah. Btw, nama tempat tinggal gue dari jaman kuliah unik banget. Dulu ada namanya Tegal Kuadrat alias Tegalgondo di Malang, terus Kasihan di Yogyakarta, lalu Sepakat kemudian Purnama sekarang Paris šŸ—¼. *laah kok?

Aku menyaksikan mahasiswa itu berdiri di dekat tempat sampah sambil makan jeruk lalu kulitnya langsung dibuang ke tempat sampah. 2 orang di antara mereka ada yang duduk. Kemudian kami bertemu lagi di kantin kos dan yang mereka lakukan sama, makan terus membersihkan meja lalu membuang sampah plastik dan botol minum ke tempatnya. Oke, penasaran itu aku simpan. Hingga malam ini, kau bertemu lagi dengan mereka di masjid Sepakat 2 lalu saat berpapasan aku bertanya.

"Assalamualaikum, I saw both of you at Dempo yesterday. Where are you coming from?"
"Waalaikumsalam, yes we stay at Dempo for two months since we have an agenda of exchange program at Polnep".
"What kind of major?"
"Business Administration. I am Ghani and this is Ilyas," mereka memperkenalkan diri.
"I am Zet."
"Zet last alphabet?"
"Yes, simple and easy to remember."
"Nice to meet you."
"Me too."
Kemudian aku nanya terkait apa yang kemarin mereka lalukan, termasuk perihal sholat isya berjamaah. Mereka mengaku itu adalah habit dan sudah menjadi kebiasaan yang susah untuk dihilangkan. Bagi mereka membuang sampah pada tempatnya adalah bentuk aksi melindungi bumi. Juga menjaga sholat tepat waktu adalah wujud syukur pada Tuhan yang sudah memberikan kehidupan. Seketika aku teringat dengan apa yang aku alami dengan orang Indonesia hari ini.

Tadi pagi sambil menemani istri beli-beli, aku mengajak dia singgah ke kawasan Pontianak Mall karena di sana ada penjual bakso Malang, anggap saja mengobati rindu. Aku tergelagap saat Bapak penjual mengajak aku berbicara dengan bahasa Jawa. Beberapa ada yang sudah lupa. Kattah, setunggal, kale, and so on. Ketawa sendiri melihat mimik beliau. Tapi sekejap kemudian tiba-tiba aku badmood. Menyaksikan orang yang makan di samping kami buang sampah sembarangan. Putung rokok, kertas, dan jeruk yang sudah tidak layak pakai. Yang duduk di sebelah kanan aku buang sampah sambil nonton debat calon presiden di Youtube. "Haddeh, orang Indonesia mah bebas berbuat sesuka hati. Gitu mau merubah negara, buang sampah pada tempatnya aja gak bisa," lirihku dalam hati. Suka kesel liat kelakuan manusia kayak gitu. Kalau gak bisa buang sampah pada tempatnya, makan dong sama sampah-sampahnya.
Aku semakin terkejut pas bayar.
" Pak, baksonya enak. Kalau sy boleh usul nanti dibelikan tempat sampah ya Pak? Sy bingung Pak harus buang sampah di mana."
"Buang sesuka hati aja Mas, nanti anak-anak sy yang bersihkan."
"Wah gak boleh gitu Pak. Kita harus sama-sama menjaga kebersihan."
Dua anak Bapak itu menatapku dengan tatapan kaget dan aneh. Emang ada yang salah? Tidak menurutku. Oke, jadi ternyata susah banget ya menanamkan keyakinan buang sampah pada tempatnya. Fine!

Tidak sampai disitu saja, sore hari tadi aku janjian dengan teknisi toko elektronik. Janjian jam 3, aku dari jam 2 nungguin di rumah. Pas aku WhatsApp lagi, beliau bilang akan datang jam 17.30 WIB.
"Baik Ko, jam setengah 6 sore ontime ya!"
"Iya Pak."

Setengah 6 sudah berlalu, aku nungguin sampai jam 6 gak juga datang. Yaudah akhirnya keluar, karena ada agenda lain. Jam 7 kurang dia menelpon dan minta tolong dijemput di depan gang. Mendadak mood aku berubah 180%. Sungguh, aku paling benci dengan orang pake jam karet. Janjian pake jam molor, rapat pake jam lelet, Indonesia banget. Kayak rapat di hari jumat kemarin, udah badmood aslinya. Janji jam 1 eh baru dimulai jam 2 lewat. Hello, sayang sekali tuan puan. Untung aku masih sabar nungguin. Tapi serius, aku paling anti sama manusia manusia jam karet, molor, lelet. Ontime please.
Alhasil, itu petugas toko elektronik aku suruh pulang. Aku minta uang dikembalikan. No excuse buat penikmat jam karet!

Ah, beda jauh banget kan pola pikir orang Indonesia dengan orang asing dalam menjaga lingkungan dan menggunakan waktu. Orang asing buang sampah pada tempatnya dan ontime. Orang Indonesia bebas, buang sampah di mana aja, molor ngaret itu sudah biasa mendarah daging, beranak pinak dan membabi buta. Kalau dikasih tau pasti melawan. Ada aja alasan. Ya, semoga yang baca tulisan aku ini tidak demikian. Karena musuh terbesar aku saat ini adalah melawan kebiasaan orang orang Indonesia yang suka anggap remeh dengan waktu. Kapan mau maju?

Ya, balik lagi. Mungkin Indonesia diciptakan saat Tuhan sedang leyeh-leyeh dan bersikap bodo amat.

Oke tengkiyu, nais and bye!

Sebuah Kisah Kilas Balik

Ada seorang anak yang hidup di desa dan tinggal bersama keenam saudaranya. Anak laki-laki ini amat berbeda. Ia dibesarkan dengan lingkunga...