Kesibukan di kampus hari itu benar-benar menyita perhatianku terhadap sekeliling kosku. Cuma malam hari saja aku bisa bercengkrama dengan mereka di kos. Suatu malam, entah kenapa kemudian dalam do'aku meminta agar namaku masih diabadikan di mading kampus. Selesai sholat aku hubungi temanku yang masih berada di kampus, memintanya untuk melihat apakah di mading kampus ada tertera namaku sebagai salah satu penerima beasiswa.
"Kamu itu udah bukan mahasiswa UMM Al, jadi jangan mimpi namamu ada di mading ya? Hahaha." Begitulah jawaban Asih ketika chat di fb malam itu.
"Aku kan artis UMM Sih, jadi UMM masih membutuhkan aku donk. Percaya deh sama aku."
Keesokan harinya ada SMS masuk, aku kira SMS dari operator Telkomsel. Maklumlah, akhir-akhir ini aku sering kali mendapatkan SMS dari operator.
"Ka beasiswa PPA nya lolos.. Terus udah masuk rekening. Kakak di mana?" SMS Dila adik tingkatku.
Shocked. Langsung aku balas SMS nya "Beneran dek?"
"Iya Ka, sekarang kumpul di Kampus,. Nah kaka di cari orang Mawa. Ntar deh tak laporin..."
Alhamdulillah Yaa Allah, ternyata do'aku dikabulkan oleh Tuhanku. Terima kasih Allah, terima kasih UMM. Terima kasih Dila, terima kasih sholat dhuha...
Ini adalah kali kedua aku mendapatkan beasiswa PPA di kampus. Tercatat sejak aku duduk di semester tiga dulu. Alhamdulillah God, love You...
Jika bisa bermanfaat di usia muda, lalu mengapa menunggu tua? Kita adalah apa yang kita kerjakan, kita dengarkan, dan kita katakan berulang-ulang. Don't be same, be better! Blog ini berisi mengenai keilmuan HI, motivasi perjalanan hidup, pengalaman, dan tulisan cerpen. Semoga bermanfaat.
Selasa, 30 September 2014
Ali dan Erna (Buat Yang Tersayang Jangan Coba-coba)
“Malam, sedang apa
yang di sana? Sudah makan belum?” Ali mengirimkan pesan singkat itu. Seketika
yang terbayang di pikirannya adalah wajah orang yang ia cinta. Di seberang
sana, tidak terlalu jauh. Namun, malam ini rindu itu datang mendekat. Masih mendekap,
tidak berkenan pergi. Bayangan wajahnya yang manis begitu merasuki relung qalbunya.
Ali masih menanti ada SMS balasan. Jarum jam sudah menunjukkan angka satu.
Sudah dini hari, Ali mengerutkan dahinya seraya menarik selimut. Beberapa menit
kemudian, HP itu bergetar,ada SMS masuk.
Duduk tegak sambil tersenyum memandangi layar HP. Ali yakin itu adalah
balasan SMS dari kekasihnya, Erna. Memencet keypad HP, ia terkejut. Itu bukan
SMS dari Erna, melainkan SMS dari operator.
“Huh, sudah malam
begini masih belum ada balasan. Kemana kamu sayang?”
Mengharapkan menerima
sapaan dari yang tersayang, malah SMS operator tidak tahu diri yang ia terima.
Segera ia hapus pesan itu. Kembali ke tempat tidurnya. Malam itu berlalu…
“Maaf sayang, semalam
pulang kuliah langsung tidur, capek banget. Maaf ya? Sayang lagi ngapain?”
Ali senang, SMS yang
baru ia baca adalah SMS dari orang terkasihnya. Ternyata semalam ia lelah
setelah seharian di kampus. Ali memaklumi hal itu.
“Gak ada, cuma
duduk-duduk aja di kamar nih. Sudah sarapan belum?”
“Sudah sayang. Kamu
juga jangan lupa sarapan ya…”
“Iya, sebentar lagi
aku juga sarapan kok. Nanti sore aku pulang. Mau pesen apa Dinda?”
“Gak usah deh, aku
pesen kamu aja sama pak sopirnya. Tolong dijagaian sampe rumah. Kamu pulang aja
aku udah seneng banget. Ntar aja kalo udah di rumah kita main ya sayang.”
“Siap Ibu bosss”*
“Sayang, bulan depan
kan hari jadi kita. Kita mau ngerayain di mana?” Erna bertanya sambil duduk di
belakang, memperhatikan Ali yang sedang menyetir motornya. Seperti pasangan
yang lain, tanggal itu akan menjadi momen teristimewa sebagai waktu untuk
menggantungkan pinta agar semua berjalan seperti yang diharapkan.
“Di rumah aja gimana?
Gapapa kan sayang?” tanya Ali sambil memberhetikan motor ber-plat AE itu ketika
sampai di parkiran Mall besar dengan empat lantai itu. Setelah berjalan
beberapa saat, Ali berhenti dan memalingkan wajah kearah kekasihnya seraya
berkata “Aku sungguh mencintaimu sayang. Maukah kau berjanji untuk selalu
menemaniku menghabiskan sisa waktu dalam hidup kita? Apakah aku salah jika
berharap dirimu menjadi yang terakhir dalam pencarian panjangku? Mengapa kau
mau menjadi milikku?”
“Kamu kenapa sayang,
kok seperti ada yang aneh nih. Gak biasanya kamu bicara seperti ini.”
“Aku pernah merasakan
kesedihan yang mendalam ketika dulu aku ditinggalkan oleh orang yang aku
sayangi. Pernahkah kau merasakan hal yang sama sayangku? Tersayat kesedihan
mendalam ketika masih berharap ia akan datang kembali. Sendu melekat terlalu
lama. Kemudian kamu datang menjadi obat penawar lukaku. Berjanjilah untuk tetap
setia bersamaku sayang. Menjadikanku yang teristimewa meski aku pernah
menggoreskan luka di hatimu. Dalam pejam mataku, aku pernah meratap terlalu
dalam. Menginginkan mentari datang menghangatkan. Kemudian itu menjelma dengan
hadirnya dirimu sayang. Pekat malam menjadikanku sadar bahwa luka itu tidak
selamanya ada, karena kamu hadir untuk menyeka setiap goresan luka yang pernah
aku rasakan.”
“Sayang, kamu kenapa
lho. Kok tumben kamu kayak gini? Ada apa sayang, ceritalah sama aku. Ntar aku
jadi sedih lho kalo kamu kayak gini. Sudah yuk nyari tempat dulu. Gak enak kan
diliatin banyak orang yang lewat. Ntar mereka mengira kita sedang berantem
lagi.”
Erna menuntun
kekasihnya menuju pelataran Mall besar itu, menaiki eskalator dan memandang ke
setiap arah yang nyaman untuk mereka berbicara kala itu. Erna bingung, entah
apa yang terjadi pada Ali. Sungguh tidak seperti biasanya Ali berbicara panjang
lebar seperti yang ia ungkapkan tadi. Malam ini Ali berbeda dari malam-malam
yang telah lalu.
“Ada apa to sayang,
kamu kenapa sebenarnya malam ini? Gak biasanya lho kamu begini.”
“Maukah kamu menjawab
tanyaku sayang, kenapa kamu mau menerimaku sampai sejauh ini? Apa yang kamu
harapkan dari aku. Bukankah banyak insan yang lebih dari aku?”
“Tak perlu mencela
kesepian yang telah berlalu, jalani saja. Pernahkah kamu sadar sayang bahwa
kamu tidak pernah sendiri. Cobalah lirik sekitar, tidak akan ada lagi sepi
mengantarkan nestapa dalam hidupmu. Sadarlah, kamu tidak pernah sendirian
sayang. Ada aku di sini untukmu. Bukalah matamu sayang, sungguh kesepian tidak
akan pernah datang menghampirimu lagi. Ijinkan aku menjadi bagian canda tawa
yang akan selalu ada untukmu. Menemani hari panjang yang akan kita lalui
bersama. Ijinkan akau menguatkan langkahmu, menjadi sendi yang kuat untuk
setiap lelah yang datang mendekatimu. Percayalah, aku akan selalu ada di sini
untukmu, menemani harimu berlalu dengan senyum dan tawa bahagia.”
“Benarkah semua itu
sayang, untuk apa kamu melakukan semuanya?” Ali tak henti menatap mata
kekasihnya dengan pandangan yang begitu dalam. Tak lelah ia menanti Erna
memberikan jawaban untuk setiap pertanyaan singkat yang ia utarakan
dihadapannya.
“Biarkan aku menjadi
awan yang akan menjadi pelindung panasnya harimu sayang, menjadi puisi-puisi
indah yang selalu hadir di balik kesedihanmu, menjadi teman dalam segala
aktivitasmu. Tak perlu kamu ragu, aku akan menjaga setiap kepingan hati yang
aku punya hanya untuk dirimu seorang pujanggaku. Kamulah yang tersayang dan
begitu aku harapkan penjadi pendamping hidupku. Teguklah setiap momen terindah
dari perjalanan kisah ini agar kamu yakin bahwa aku tidak akan pernah
berpaling, lari meninggalkanmu sayang.”
Cinta, menghilangkan
arus keheningan. Mengugurkan desiran embun gelisah kehidupan. Cinta, berkisar
antara rindu dan kesepian yang terobati sempurna. Cinta menjadikan Ali Ashad
berbenah. Bersama Erna Dwi Astuti lah cinta mengajarkan hidup untuk tabah. End!
Wira dan Iwana (Buat Yang Tersayang Jangan Coba-coba)
“Kamu ingat kan sudah
berapa lama kita berjalan bersama sayang? Ingat gak kapan pertama kali kamu
memutuskan untuk menerima aku sebagai kekasihmu? Sudah lama sekali kan? Maukah
kamu memberitahuku, kenapa kamu tidak memilih lelaki yang lain Iwana,” tanya
Wira yang sedang duduk manis di sampingnya terlihat penasaran. Sambil
menyunggingkan senyum kecil merekah indah, Iwana tersipu malu ingin menjawab
pertanyaan itu.
“Kenapa kamu bertanya
seperti itu my Prince? Sudah lama sekali kejadian itu, kok baru tanya sekarang?
Terus dari dulu kamu gak tau kenapa aku memilihmu? Huhuhu, kamu ini ya,” Iwana
malah menodong Wira dengan pertanyaan baru. Iwana masih terlihat malu menjawab
beberapa poin pertanyaan yang diungkapkan Wira lebih awal. Wajahnya tertunduk
sambil memainkan bolpoin yang ia genggam.
Wira tampak canggung
ingin berbicara. Tapi ia takut jika kekasihnya itu marah. Ia jarang sekali
menundukkan pandangannya. Mungkin Iwana malu karena ada banyak pasang mata yang
sedang menyaksikan mereka. Tempat rindang di bawah pohon kelapa itu adalah
tempat favorit yang mereka pilih untuk menikmati waktu bersama jika waktu libur
tiba. Heran saja siang ini, mengapa
mereka tiba-tiba membicarakan awal pertemuan itu. Peristiwa 06-07-08 itu sudah
sangat lama berlalu. Seperti ada kerinduan yang hinggap, melekat kemudian tidak
ingin terpisahkan dari keduanya.
“Sayang, kok gak
dijawab sih,” pinta Iwana manja sambil mengambil pasir dan melemparkannya ke
arah lelaki berkulit sawo matang itu.
“Punya aku juga tadi
belumdijawab kan?” Balas Wira.
“Jawab punya aku dulu
sayang, setelah itu akan aku jawab panjang lebar pertanyaanmu, jujur!”
“Iya deh, aku yang
jawab duluan. Biar senang hati dokter mudaku ini. Tapi, senyum dulu donk, jangan
murung gitu ah.”
Seraya Iwana mengembangkan
senyumnya. Kecil tapi sangat bernilai bagi Wira.
“Udah buruan jawab
sayang, ngambek lagi ntar akunya, mau kamu tanggung jawab?”
“Tuh kan mulai deh
dia nih. Aku bingung lho mau jawabnya kayak gimana ini.”
“Gak pake lama,
titik.”
“Aku gak nyangka aja
kalau kita bisa bersama terus dari dulu sampai sekarang. Masih banyak to lelaki
yang lebih baik dari aku, tapi aku merasa istimewa karena kamu mau menerima
cintaku. Aku rasa kamu juga pasti mengerti bagaimana teman-teman sekolah kita
memandang hubungan kita ini. Kamu yang anak kesayangan dulu di sekolah, terus
tiba-tiba memiliki hubungan sama aku yang tidak terpandang sama sekali kala
itu. Sadar gak gimana orang lain memandang kita saat itu. Pastinya, dulu itu kita
jauh berbeda lah sayang, tapi rasa cinta yangmenjadikan kita bisa seperti
sekarang ini kan? Sudah lama sekali itu, tapi rasanya kalau kamu gak ada, kok
aku jadi rindu ya?”
“Huh, paling juga cuma
gombal doang di depan aku, bilangnya rindu, kangen bla bal bla.”
“Nah kan, kamu kalau
dibilangin mesti gak percayaan. Minta dicubit nih kayaknya.”
“Bukan gak percaya
sayang, aku juga pengen denger langsung lah dari kamu. Kan biasanya kita cuma
lewat BBM aja. Sekarang aku udah denger langsung nih, hehehe.”
Wira menyeruput es
kelapa muda itu. Dahaga dan lelahnya seketika hilang setelah mendengarkan
ungkapan Iwana, kekasihnya itu.
“Terus, punya aku gak
dijawab nih pertanyaannya? Beneran?”
“Hehehe, gak usah aja
ya sayang, kan sudah jelas semuanya.”
“Apanya yang jelas?
Pake semuanya lagi. Aku pengen tau juga dokter mudaku, jawab yaa,” pinta Wira
sambil merayu Iwana.
“Mungkin kamu pernah
terasingkan dalam kehidupan kita dulu sayang. Mencari satu arah kebahagiaan
tapi tidak kunjung kamu temukan. Menatap langit biru yang seolah hampir runtuh
karena pintamu itu tak terkabulkan. Mengalami masa-masa sulit yang merajai
keseharian dengan penuh gundah gulana yang memuncak. Di saat itulah, Tuhan
memintaku menjadi teman dari sepimu. Menjadi arah kebahagiaan yang kau impikan.
Menjadi pelengkap dari kekurangan yang kita miliki. Saat itulah pintamu telah
dikabulkan. Masa-masa sulit itu telah usai sayangku. Sepi itu perlahan mati
dengan canda yang kita ciptakan bersama. Memilihmu, adalah kebahagiaan
tersendiri yang aku rasakan saat itu hingga kini. Mungkin bosan, tapi tanpamu
hari-hari berlalu seperti tak memiliki dimensi. Kamu yang terindah. Tidak
peduli orang lain berkata apa tentang kisah kita, toh yang menjalaninya kita,
bukan mereka. Biarlah mereka memberikan komentar, yang terpenting kita selalu bahagia
bersama.”
Wira terdiam, ia tak
menyangka jawaban Iwana begitu membuatnya istimewa kala itu. Ibarat sedang
merasakan dingin di musim penghujan, Iwana datang dengan selimut tebal untuk
menghangatkan kekasihnya itu. Seperti malam yang gelap tanpa bintang, Iwana
hadir menjadi rembulan yang selalu menjadi penerang. Iwana hadir menepis semua
keraguannya selama ini. Berhentilah mencinta jika masih ragu. Leraikanlah
segala rasa bahagia yang sederhana tanpa tapi yang harus selalu muncul membayangi
setiap kisah yang ada. Ketakutan adalah lumrah, romansa cinta akan selalu indah
jika dibangun dengan rasa percaya dan berusaha untuk saling setia. Tumpukkan
pasir halus itu menjadi saksi cerita singkat mereka hari ini. Iwana Anny
Rakhmawati, sempurnalah segala cinta dan anganmu bersamanya, Wira Utama Putra. Berjalanlah
bahagia, berdampingan hingga akhir cerita dari alam semesta ini menyapa. End!
Lagu Rindu Grafourni #Part 1
“Aku akan terus berdiri di sini hingga senja usai
tertutup awan malam dengan sempurna. Aku akan tetap menanti mereka hingga hati
ini merasa lega atas semua rindu yang aku simpan. Tidak akan lelah aku menanti
mereka datang menyapaku, mereka akan tetap aku rindukan.” Kata-kata itulah yang
selalu diulangi Idham sejak adzan ashar usai. Cukup lama berlalu, namun ia
masih saja tetap mengulangi kata itu. Rindu terlalu dalam untuk diungkapkan,
sehingga rasa lelah menanti pun sudah menjadi keharusan. Baginya tidak masalah
menunggu lama, asal kepingan kenangan itu kembali tersusun. Tidak peduli
seberapa lelah, ia akan menanti sahabat-sahabat karibnya datang, kemudian
bersua dalam mesranya pertemuan yang sudah lama ia nantikan.
“Bagaimana kau memaknai kerinduan itu Idham,” tanyaku
penasaran. Aku ingin ia menoleh dan berhenti mengulang kata-kata yang sedari
tadi ia ucapkan.
“Aku hanya kembali bertemu dan mengulang masa-masa indah
itu. Kau tahu bukan, terlalu banyak kenangan yang
sudah kita tuliskan bersama. Ia kadang datang menghujamku, menghunusku hingga
tersayat pada larutnya malam. Sungguh aku rindu hangatnya kebersamaan kita
dulu,” Idham berkata sambil terus memandangi
jalan raya yang ramai dilalui kendaraan dalam balutan senja sambil menanti
kedatangan Vina, Herman, Deka, Andi, Yusra, dan Fatwa.
“Bagaimana kalau mereka tidak datang, apakah kau akan
terus menanti mereka?”
“Tidak, aku yakin mereka pasti datang. Aku yakin mereka
juga pasti merindukanku,” jawab Idham serius.
Langit senja sudah berlalu, malam sempurna pekat,
kemudian mendung berawan. Bintang enggan datang dengan pijar cahaya terang. Mungkin
rembulan ingin datang mendekat, namun bintang menyarankan untuk mundur. Keduanya
kalah oleh rindu yang mengetuk tiap dinding hati yang dimiliki Idham. Jiwa itu
sungguh merindu. Aku pun berdo’a, berharap keenam temanku itu akan datang. Saat
rindu, kenangan begitu jelas datang mendekat, tumpukan tawa usil menggoda,
menabur ingatan penuh suka. Bahkan, tak jarang karena rindu juga seseorang
harus ikhlas ditemani air mata. Semua begitu sulit untuk diungkapkan.
“Tidakkah kalian tahu, malam ini aku mengenang
setiap kepingan kenangan tentang kebersamaan kita dulu teman. Tentang tumpukan
setiap benih cerita dalam setiap derap perjalanan kita. Tentang canda tawa yang
dulu selalu menghiasi hari kita,” suara Idham terdengar lirih. Ia masih setia
berdiri tegak di halte Trans Jakarta itu.
Aku hampir saja berpikir bahwa memang mereka tidak akan
datang malam ini. Huh! Menunggu memang sesuatu hal yang tidak asyik untuk
dijalani. Tapi, kali ini aku ikhlas demi Idham teman baikku. Idham mulai
mondar-mandir dengan dada yang mungkin sesak dan rasa pusing yang tidak
tertahan. Sedari tadi ia terus berdiri, menatap setiap angkot yang lewat.
Berharap bahwa yang ditunggu akan tiba, tapi tidak. Langkah kedatangan mereka
masih belum terlihat. Aku duduk termangu sambil mendekap lutut. Lelah dan
panasnya ibukota membuatku tak kuat berlama-lama di tempat ini. Jika mereka
tiba, ingin rasanya segera bergegas dan memasukkan badanku ke dalam kulkas agar kembali segar. Entahlah, mengapa mereka
belum juga tiba. Malam semakin larut.
“Eh, beneran nih mau nungguin sampai mereka tiba? Sudah
malam lho.” Aku memberanikan diri bertanya pada Idham yang masih saja bertahan
menanti mereka. Perutku sebenarnya sudah lapar, seharian ini aku belum makan.
Itulah alasan kenapa aku ingin cepat pulang.
“Kalau kau sudah lelah, pulang saja duluan Alunaza. Aku
di sini nungguin mereka sendirian juga gapapa kok. Beneran, kalau mau pulang,
pulang aja duluan.”
“Yakin gapapa diting…. Belum selesai aku bertanya, suara
Vina dan Deka terdengar jelas.
“Hei Idham, Alunaza kami dataaaaaaaang…..”
Idham menyunggingkan senyumnya. Ia jauh lebih baik ketika
sudah menyaksikan kedatangan teman-teman. Luapan senyum yang sepertinya sudah
dari tadi ia siapkan untuk menyambut sosok yang sangat ia rindukan.
“Idhaaaaaam, kau menunggu berapa lama? Tadi macet
soalnya, kau taulah bagaimana ibukota. Maafkan kami ya?” todong Andi dan Yusra
yang terlihat mendekat.
“Iya gapapalah, santai aja, buat kalian apa sih yang
gak?” Idham tertawa terkekeh.
“Emang becek banget kamu Idham ya? Becek, becek…” suara
Vina yang khas memecah kesunyian halte tempat Idham berjam-jam menanti.
“Gimana kabar Cek yoh, jangan bicara sama mereka terus.
Sama kami sesekali kenapa?” Herman tak mau ketinggalan peran.
“Iya Cek woi, hana Vina, Deka dor yoh. Kami seseger
iyyyoh. Ko ni ati geh, macet,” Fatwa pun ikut ambil bagian dialog singkat di
saat mereka sedang lelah malam itu. Lelah melalui perjalanan panjang dari Aceh
hingga sampai di ibukota. Lelah yang seketika memudar karena pertemuan dan tawa
yang begitu melegakan dada. Terutama bagi Idham yang menanti lama.
“Hahaha, kan sehat terus aku Man, Fatwa, seperti yang
kalian lihat saat ini, tidak kurang suatu apapun.”
“Kau yakin Ham tidak kurang suatu apapun? Bagaimana jika
tadi mereka tidak datang? Lantas kau kembali dengan jiwa sepi? Apa masih
sehat?” tanyaku penasaran.
“Yoh Alunaza ni mitet wen, ni kami udah sampe woi. Jadi,
mana mungkin Idham tu sedih lagi. Lagian kami pun memang pengen maen-maen
kesini yoh, sekali-kali kan? Bukan begitu Abang Yusro?” Herman menjawab penuh
semangat.
“Oh yaudah kalo gitu, ayo cepat naik ke mobil. Kakek
sudah menunggu kalian di Bambu Apus. Nanti aja cerita lagi kalau sudah sampai
rumah,” lanjutku sambil mempersilakan mereka naik ke mobil APV merah tua milik
Kakek.
Saat diam waktu dirasa begitu lambat berjalan. Seolah
malam mengajak semesta untuk berhenti berputar karena sedih yang belum pulih. Hening
malam begitu mengusik karena tak kuasa mengusir lamunan. Mengingat bahwa
kenangan adalah tulisan kerinduan mendalam. Ketika pertemuan tiba, terasa cepat
waktu berlalu. Menyembunyikan sayu-sayu dekapan mesra dalam balutan tawa lepas
tak terhingga. Senyum, bahagia, canda, semua datang melengkapi simfoni relung kebersamaan.
Semua bak kesatuan utuh yang akan tetap riuh bahkan terasa tidak akan pernah
runtuh terbuang jauh. Menanti lama tidak lagi menjadi alasan untuk kecewa.
Karena dekap hangat telah menghapus segala luka yang sedari tadi menganga.
Malam itu adalah malam awal yang paling berkesan yang
pernah kami alami. Berkumpul kembali setelah sekian lama terpisah oleh arus
kesibukan hidup dan perjuangan dalam penggapaian mimpi. Perjalanan menuju Bambu Apus pun tidak terasa
berlalu. Tepat jam sepuluh malam, Kakek menyambut kami di ruang tamu mewah itu.
Setelah bersalaman, aku mengantarkan mereka menuju kamar tidur di lantai dua. Aku
juga memberitahu mereka bahwa Kakek masih di ruang tamu menunggu mereka. Itu
adalah malam pertama Kakek makan terlambat. Ia ingin menanti cucu-cucunya dan
menikmati makan malam bersama. Tidak lama berselang, Fatwa, Herman, Yusra,
Andi, Vina dan deka sudah duduk di hadapan Kakek. Menu makan malam kali itu
juga spesial, sambal Depik Gayo, Cicah Agur serta ikan laut yang dibeli Bibi
dari pasar sore tadi. Itu adalah malam terspesial bagi Kakek, karena sudah lama
Kakek tidak bertemu dengan teman-teman. Aku, Idham dan keenam temanku saling
pandang kemudian jatuh dalam tawa lepas tak terbilang. Ini adalah kejutan
Tuhan. Jarang sekali kami merasakan. Dan mereka tahu,kejutan itu selalu
menyenangkan. Langit malam semakin pekat, jarum jam juga telah lelah berdetak.
Malam itu berlalu…
"Pagi ini kalian mau main kemana Cu,” tanya Kakek
sambil mengecilkan volume televisi yang berada tidak jauh
dari tempat duduknya.
“Kami mau main ke Ancol, Dufan, sama Monas Kek. Ifan,
Darman, Feri, Qamah, Izal, Udin, Hari, Iwan, Liza, Ikhwan, Icha, Kiki, Rahma,
Ayu, Rika, Ela, Leli, Sofi, Soli, Masni, Puput sudah nunggu di sana. Mereka
sudah menyewa dua mobil dan nanti akan singgah kesini Kek.”
“Teman-teman sudah pada siap untuk berangkat,” Nenek
melanjutkan.
“Sudah Nek. Nenek sama Kakek mau ikut juga?” tanyaku.
“Tidak usah, Kakek sama Nenek di rumah saja. Ini kan
waktunya kalian yang masih muda-muda. Ajak mereka keliling sampai puas ya Cu.
Nanti biar Pak Ozan yang mengantarkan kalian. Biayanya sudah Kakek berikan sama
Pak Ozan juga.”
“Iya Kek, kalau gitu kami berangkat dulu yaa…”
“Iya, hati-hati bilang sama teman-temannya.”
“Okee Kakek, assalamu’alaikum…”
“Waalaikumsalam…”
Mobil APV itu kini melaju kencang. Bersama Pak Ozan kami
menelusi jalan panjang untuk bisa sampai di Monas, Ancol dan Dufan. Rekan yang
lain sudah menanti kami di sana. “Seperti apa ya raut
wajah mereka? Sudah lama sekali kami tidak bersua.”
Suasana mobil itu tidak pernah sepi. Tawa riang memecah
setiap laju mobil di setiap sudut jalan raya ibukota itu. Semua yang ada di
dalamnya hadir dengan sesuatu yang khas seperti dulu ketika kami masih duduk di
jenjang MA. Hanya Pak Ozan saja yang terlihat diam dan sesekali tertawa
menyaksikan tingkah kami yang apa adanya.
Deka membual dengan banyaknya deretan cerita yang ia
punya. Mulai dari setelah lulus MA hingga sekarang sudah hampir menjadi seorang
ibu rumah tangga. Vina yang bercengkrama bersama Idham dengan suara mereka yang
khas juga menjadi pengisi ruang bahagia. Belum lagi Herman dan Yusra yang hadir
dengan tingkah konyolnya. Sampai teringat ketika dulu Herman berkata “Item my
titik titik…” Kemudian Yusro yang suka bilang “Pintutu wen, lipatkan ranjang
tu, di asrama adzan sampe masjid udah muadzin, jadi ketua itu ada susah ada
payahnya.” Sumpah, pecahlah tawa kami, tidak
tertahankan. Berulang kali kami terbahak-bahak. Berjam-jam kami melalui
perjalanan namun tidak terasa, Dufan sudah di depan mata. Ketika kami turun,
terlihat Ifan, Sofi, Rahma, Leli, Darman, Iwan, Ayu, Kiki, Icha, Liza yang
sudah menanti kami di gerbang masuk. Saling mendekat dan berpeluk erat
menggenggam tangan penuh hangat. Akhirnya Tuhan mempertemukan kami di sini. Mereka semua kini sudah tambah dewasa. Raut-raut
wajah itu sudah mulai berubah menjadi sosok yang semakin matang untuk menatap
masa depan.
Aku terharu memperhatikan mereka yang saling melepas rindu. Berujar tentang kata yang tidak lagi menjadi rahasia. Menikmati wahana indah Dufan dan bercengkrama seperti dulu. Masa itu memang sudah berlalu lama. Tapi, kami selalu menyimpan banyak hal untuk kami ungkapkan ketika ada waktu luang untuk saling sapa. Sesibuk apapun aktivitas kehidupan kami, selalu ada celah untuk menumpuk rindu dan meluapkannya melalui temu seperti sekarang. Tornado yang ada di Dufan itu sepertinya kaget ketika kami dekati, karena tidak terbiasa dengan keramaian seperti yang kami lakukan. Tiap langkah kami abadikan dengan potret sinar kamera. Jurus-jurus narsis seketika membuncah meminta diri untuk menemani perjalanan kami. Real Coster adalah tempat kami berteriak sekencang mungkin untuk menghadirkan kembali kisah masa silam yang telah kami lewati. Ancol menjadi saksi kisah indah yang kami alami. Tidak ada kata malu, sungkan atau jaim lagi kala itu. Semua bertingkah lepas seperti keluarga sendiri. Belum lagi Kiki, Ayu, Icha, Puput, Ifan, Darman, Ikhwan, Izal, Liza, qamah, yang berpose seperti artis papan atas di setiap pojok Ancol dengan view yang memukau.
Puncak Monas adalah tujuan terakhir dengan segala kesan
dan rasa bahagia bagi kami. Rindu itu telah pergi jauh meminta diri. Kenangan
kami justru semakin abadi ketika semua momen telah terabadikan.
Jarak tidak lagi menjadi sekat ketika pertemuan hadir
sebagai obat mujarab. Kala senja itu tiba, kami merasa sungguh beruntung bisa
bersua. Melepaskan segala kerinduan dalam gugusan bahak tawa tak terkira. Tidak
akan pernah ada kesendirian. Karena kesendirian akan ditemani kenangan
mendalam. Sesepi apapun kesendirian, kenangan akan datang menjadi teman. Cukuplah
simpan rapi semua kenangan yang kita punya, ikat erat-erat dan jadikan bahan
untuk tertawa kala kita berjumpa. Bukan seberapa tinggi posisi yang kita dapat
dalam kehidupan, tapi tentang kepedulian yang takkan pernah pudar untuk sesama
sahabat. Bukan seberapa jauh jarak memisahkan, tapi tentang bagaimana kita
terus saling mendo’akan agar tetap tabah dalam selaksa rindu yang sesekali
menjadi saksi kesepian. Ini tentang kebersamaan yang tidak akan pernah pudar
meski kita saling berjauhan. Ini tentang kepedulian yang akan tetap mekar dan
terjaga meski kita tidak bersama. Tidak perlu malu, tidak perlu jaim, ini dunia
kita, nikmati saja. Jika perlu saling sapalah tanpa merasa sungkan, tanpa
merasa gengsi. Ini tentang aku, kamu, dia, kalian, dan mereka angkatan keempat
Niboards. Selesai!
Ngabuburit Singkat Bercerita
"Dinda ikut kami maen yuk, mau gak?"
teriak gerombolan gadis kecil itu sambil terus melangkah mendekati Dinda yang
sedang sibuk dengan bungkusan ta'jil buka puasa yang ia genggam di tangannya.
"Gak ah, aku gak bisa, aku masih harus menemani
Ibuku berjualan, kasian Ibu sendirian," jawab Dinda dengan raut muka
datar.
Aku tahu, anak seusia Dinda pasti ingin bermain
bersama temannya. Namun, demi taat dan hormat kepada sang Ibu, Dinda menghapus
keinginan itu. Sore ini ia akan menemani Ibu berjualan.
Aku menyaksikan bagaimana Dinda harus melangkah di
belakang Ibunya, membawa seplastik besar bubur kacang ijo, es buah, dan
agar-agar yang akan ia jual. Sudah lama aku memperhatikan mereka, jajanan itu
masih saja utuh, belum ada satu orang pun yang mendekat meminta untuk membeli
jualan mereka. Wajah Dinda tampak murung, ia seperti kehilangan semangat untuk
berdiri menemani Ibunya. Pikirannya mungkin sudah terbang jauh bersama
gerombolan anak-anak seusianya yang tadi mengajaknya bermain. “Ah Dinda,
tersenyumlah, jangan kau ikuti maumu untuk sekarang. Aku memperhatikanmu sejak
tadi. Kau pasti kuat adik manis. Tersenyumlah, pasti akan banyak pembeli yang
datang,” gumamku kala itu.
Sepuluh menit berlalu, dagangan itu masih saja sepi,
belum ada pembeli yang datang. Aku pun mendekati Dinda.
“Kok manyun gitu dek? Jualan apa aja ini? Senyum
donk.”
“Iya Mas, ini Dinda jual bubur kacang ijo, agar-agar
sama es buah,” jawabnya
“Mas mau beli bubur kacang ijonya satu bungkus deh
dek.”
Seketika senyum Dinda mengembang, merekah penuh
semangat dan bangkit dari tempat duduknya.
“Beneran Mas? Beli apa aja?” Tanya Dinda antusias
“Udah dek, itu aja dulu sambil Mas menemani Dinda
dan Ibu berjualan di sini, gak papa kan?”
“Iya Mas, makasih…”
Jarum jam tanganku sudah menunjukkan pukul 16.32
WIB, itu pertanda bahwa sekitar 30 menit
lagi waktu berbuka untuk wilayah Malang akan tiba. Aku pun memperhatikan Dinda
yang masih saja tersenyum di tempat duduknya. Dinda memang anak yang berbakti.
Masih duduk di bangku SD saja dia sudah rela membantu Ibunya berjualan. “Karena
memang begitu seharusnya dek, kelak kau juga akan tersenyum ketika semua
lelahmu itu kau gadaikan sekarang. Ketika kebanyakan anak-anak seusiamu
bermain, kau rela mengabdikan diri untuk keluargamu, awesome!”
Belum selesai Dinda menghitung uang kembalian itu,
tiba-tiba banyak pembeli yang datang dan memesan dagangan yang sedari tadi
masih sepi. Aku bersyukur. Aku perhatikan Dinda, ia seperti masih canggung
melayani para pembeli itu. Maklumlah, masih hari pertama ia berjualan. Esok, ia
pasti lebih lihai lagi menghadapi deretan pembeli yang datang, insyaAllah J
“Bersyukurlah Dinda, karena rizki Tuhan pasti akan
selalu mengalir untuk hambaNya. Bersabar, itu adalah kuncinya, apalagi ini
bulan puasa dek.”
Dinda masih saja tersenyum, melayani pembeli yang
begitu ramai. Belum sempat menghitung uang kembalian itu, aku mohon diri,
sepertinya Dinda hari ini senang sekali. Tetap tersenyum anak manis, jadilah
anak yang berbakti untuk keluargamu…
Kami Menyebutnya “Pemanasan”
Bisa dibilang ini adalah rejeki
yang numpang lewat atau rejeki yang tidak terduga tapi hanya bersifat
sementara. Pernah tidak kamu merasakan ketika melakukan sesuatu dengan tidak
sepenuh hati tapi kamu mendapatkan hasil yang makasimal? Jika pernah, maka
begitulah kisah cerita kami ini. Rejeki yang datang namun menghilang. Kenapa
menghilang? Begini ceritanya.
Kami adalah mahasiswa yang baru
saja menyelesaikan studi di kampus kami tercinta, sebut aja UMM. Tau kan kampus
UMM? Gak tau yasudahlah, katrok banget sih, UMM aja gak tau, hahaha… UMM adalah
almamater kebanggaan kami. Ketika itu kami berdua, aku dan Wira sudah bekerja
sebagai tenaga part timer di salah satu lembaga kampus, DPPM. Direktorat
Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat. Kebetulan aku dan Wira sama-sama
bekerja di sana setelah dinyatakan lolos pasca mengikuti tes seleksi di kampus.
Sebulan berjalan dengan baik, kami pun melakukan persiapan ujian. Dua bulan
berlalu, akhirnya jadwal ujian pun sudah tertempel di mading fakultas.
Kebetulan, aku adalah mahasiswa HI (kebetulan? Wkakaka) dan Wira adalah
mahasiswa Hukum. Pada saat itu jadwal ujian Wira belum keluar karena di
jurusannya ada sedikit masalah, tapi itu tidak masalah. Kami masih saja
menikmati semuanya di tempat kerja kami secara baik, nyaman dan tidak tertekan
pastinya. 29 April 2014, adalah hari dimana aku melaksanakan ujian skripsi.
Saat itu di kantor sedang ada
persiapan menyambut tim visitasi dari Dikti RI kalau aku tidak salah.
Sepertinya begitulah, aku tidak ingat pasti. Yang aku ingat, ketika aku memakai
pakaian ujian (Hitam putih), mereka sedang sibuk menata buku dan jurnal di
ruangan dekat tempat kami biasa melaksanakan rapat. Aku sudah izin kepada
mereka untuk ujian kala itu. Berlalulah aku ke lantai 6 GKB 1. Tepat pukul
15.00, aku masuk kedalam ruang ujian itu. Tidak terlalu lama seperti yang lain,
aku hanya menghabiskan 47 menit untuk ujian skripsi dengan status lulus,
Alhamdulillah. Ketika aku kembali ke kantor, aku masih melihat mereka sibuk
dengan buku dan jurnal serta segala persiapan untuk esok hari. Aku undur diri,
pamit pulang terlebih dahulu, hari itu lelah, namun bahagia dengan statusku
yang sudah berubah menjadi seorang sarjana.
Seminggu berlalu, sebulan
hampir setelah ujianku itu, Wira juga persiapan untuk sidang. Aku tidak tau tepatnya tanggal berapa dia ujian kala
itu. Yang aku tau, pengujinya adalah Pak Bayu. Sabtu, tanggal sekian sekian, ia
ujian. Aku senang karena aku tau dia ujian
dengan penuh persiapan. Masalahnya, dia harus ujian dua kali karena pengujinya
pada saat ujian yang pertama tidak bisa hadir keduanya. Aku BBM gak ada
balasan, aku kira dia kemana saat itu,
ternyata dia sedang asyik dengan keluarganya, kebetulan saat itu keluarganya
datang ke Malang. Beberapa hari setelah ujian pertama itu, aku bertemu dengannya
di depan SC kampus kami, aku melihatnya masih memakai pakaian hitam putih. Oh
ternyata dia masuk ujian lagi. Berdoa for the best result, sebagai teman itu
telah aku lakukan. Alhasil, dia pun lulus dengan nilai yang memuaskan (A).
Setelah kelulusan itu, kami masih menikmati hari layaknya mahasiswa yang baru
menyelesaikan ujian, sibuk seperti mahasiswa tingkat akhir lainnya. Kami juga
masih menikmati masa-masa bekerja di kantor bersama teman-teman yang lain.
Penting sudah lulus.
Sebulan setelah proses yang aku
tuliskan di atas berlalu, tiba-tiba ada lowongan kerja. Kami enjoy aja, coba
mengirimkan CV dan surat lamaran ke perusahaan yang membuka lowongan pekerjaan.
Saat itu, kami juga mengukuti job fair di Brawijaya. Wira kaget, ternyata dia
tidak bawa pas photo saat itu. Ah, tidak masalah lah, setidaknya tau bagaimana
suasana job fair itu bagaimana. Pemanasan. Oke berlalu. Kami juga masih mengirimkan
banyak CV dan surat lamaran ke perusahaan lain. Pokoknya kirim-kirim aja. Masuk
atau tidak, itu tergantung rejeki. Ada satu perusahaan Honda di Soeta yang
memanggil kami interview saat itu, tapi kami abaikan. Kami punya banyak
kesibukan yang tidak bisa ditinggal. Entah apa, aku juga lupa. Kemudian tibalah
saatnya kami berkeliling untuk mengirimkan surat ke fakultas di UMM. Aku
sengaja dan sudah terbiasa mengantar surat-surat bersama Wira. Soalnya ada
sesuatu di GKB 3, hahaha.. Kalo Wira bilang itu semua “GILAAAAAA”
Tiba di GKB 2 melewati mading
Jurusan Akuntansi, kami melihat ada lowongan pekerjaan. Saling tanya, kemudian
memutuskan untuk ikut seleksi. Coba-coba saja, begitulah kami menamai proses
itu. Setelah melakukan negosiasi, akhirnya kami pun boleh masuk dan ikut
seleksi. Lagi-lagi tidak mengharapkan masuk, tapi hanya iseng-iseng saja. Bawa
pulpen, duduk bersebelahan dengan Wira, sambil omong-omongan yang gak jelas.
Wira malah masih sempat ngupil coba, hahaha bahaya banget dude yang satu ini. Soal
datang, lembar jawaban terisi. Aku mah asal jawab aja, kecuali bahasa
inggrisnya. Gak mau dong kalo aku zonk di English pikirku, hahaha. Wira serius
banget ngerjainnya, sampe-sampe kertas
buramnya gak cukup. Hahaha, lagi-lagi kata-kata itu keluar (Gilaaaaaaaaaa!). 90
menit berlalu, kami keluar, kembali ke kantor menjalani kegiatan seperti yang
lain. Kata pengawasnya tadi kalo ujiannya lolos bakal di hubungi lewat SMS. Ah,
masak iya kami lolos. Dan…………………… Kami lolos! Saling pandang, ketawa ngakak.
Esok harinya menjalani tes yang kedua, wawancara awal. Aku sih berat hati tapi
bingung juga kala itu, soalnya Astra International juga mengundangku untuk ter
tulis di UB. Akhirnya aku putuskan untuk ikut yang di UMM saja. Tik tok, molor
juga ternyata, sampe pindah tempat lagi, Oemjoy! OMG… Spent about two hour the
test completed. Kami kembali, dan aku singgah di warung padang murah, tempat
kami biasa beli makan sama rekan-rekan kantor.
Alhasil, ternyata kami masih lolos
di wawancara dan diundang untuk tes berikutnya di kantornya langsung. Padahal,
saat itu aku harus daftar TOEFL test dan tes TPA di UGM, ribet dikit. Namun aku
menikmati semua proses itu. Selesai tes, kami langsung ke IDP, daftar TOEFL tes
dan aku bersiap-siap alias packing untuk berangkat ke UGM. Oh tidak, apa mau
dikata, ternyata tes ketiga itu juga kami lolos. Akhirnya, setelah dari UGM aku
langsung pulang, masuk kantor dan minta izin buat tes ke Surabaya, interview
tahap akhir katanya. Motor dude Wira selalu bisa diajak kompromi untuk menjadi
teman yang baik di perjalanan. Ngeng ngeng ngeng, akhirnya tiba di Surabaya,
melakukan persiapan, berangkat menuju lokasi tes, masuk, wawancara dan melewati fase-fase wawancara
gila, keluar, berlalu dan pulang. Sampe di kos kayak orang mau mati, capeknya gilaaaaaaaaaaaa!
Itu semua berlalu………… Sampailah
pada fase terakhir, MCU atau yang biasa dikenal dengan medical check up. Waste
time banget dua jam mondar-mandir MOG sampe gak taraweh dan kembali lagi ke Lab
Sima untuk melakukan pengambilan sampel darah secara berkala pasca puasa 12
katanya. Tertawa dulu sejenak, tau kenapa? Tempat yang kam tuju untuk melakukan
seleksi MCU ternyata salah, PD banget masuk kayak orang terhormat. Sampe di
atas, eh mereka tidak ada pemberitahuan untuk melakukan proses MCU. Dan, benar,
kami salah tempat. Proses itu berakhir dengan hadirnya perawat cantik, dokter
cantik dan FO cantik di Lab Sima Malang itu. Sumpah, gila bener dah, apalagi
gabung sama dude Wira ini. Matanya tidak mau terpejam sempurna dari awal masuk
sampai selesai MCU. Ovel all, selesailah semua rangkaian seleksi. Dan, finally
kita berdua (Al dan Wira) keterima di Perusahaan Sampoerna Tbk. Kejadian gila
itu mulai terbaca sejak kami menyiapkan dokumen sebelum keberangkatan ke
Surabaya. Semua dipersiapkan sampai-sampai rela nulis dan menandatangani surat
pernyataan keluar dari tempat kerja yang lama.
Pamitlah kami kepada semua pegawai kantor, mereka juga tampak sedih melepas
kepergian dua orang GAK JELAS dari kantor itu. Singkat cerita, kami berlalu,
keluar dari kantor DPPM. Wira tidak lupa motret gambar tulisan “DPPM” dan
menjadikan DP di BBM nya sambil buat PM “See you next time DPPM, terima kasih
untuk pengalaman yang begitu berarti”
DPPM, tinggal kenangan. Berlalu
ke Surabaya, masuk hotel dan menikmati fasilitas layaknya orang kaya untuk
beberapa hari. Wira tidak merasakan itu semua, karena ia ditempatkan di kampung halamannya dan cuma sendirian, jadi ia gak kebagian
hotel. Aku masih sempat chat sama dia sebelum masuk kerja. Dengan perasaan
tidak karuan, dan serba tidak enak aku bercerita kepadanya..
Aku :
“Ciee yang kerja dari rumah
sendiri
Ciee yang biasa suka telat,
besok udah gak bisa
Cieee yang gak dapat hotel”
Wira Utama :
Cieee yang kosnya mahal
Cieee yang harus adaptasi lagi
Ciee yang betahan di Malang”
Pengalaman paling looser itu
terjadi, di hari pertama bekerja, setelah melakukan koordinasi, kami diberi
tahu bahwa masa training akan terjadi selama tiga bulan. Dan kerjaan kami
adalah sebagai sales. Oh God, rasanya mau pingsan ketika melihat gambar yang
ada di kantor itu, contoh menjadi salesnya seperti apa.
Aku BBM Wira, aku bilang aku
gak sanggup. Besok resign. Dia malah tertawa. “Aku coba dulu Al, keren kalo
kata aku, aku coba dulu 3 bulan..”
Oke, aku keluar duluan. Malam
harinya aku pulang ke hotel, aku telpon HRD nya, aku katakana bahwa aku keluar.
Kemudian menyiapkan semua barang dan kembali ke Malang. Aku sudah merasa
seperti dikejar setan ketika Managernya berkata akan menemuiku ke hotel itu.
Aku kabur, malas aku bertemu dia. Berlalu. Jam 12 malam aku sampe di Malang.
Untung pintu kos masih belum dikunci. Saved. Sampoerna what the fuck…!!!
Hari berlalu, aku lupa, tapi
setelah beberapa hari di sana, Wira juga memutuskan untuk keluar dari kantor
itu. Aku tidak mengira bahwa ia juga akan out sama seperti aku. Dan again, gilaaaak
Ini semua adalah pengalaman,
pengalaman yang mengajarkan bahwa segala sesuatu harus ada pemanasan. Kami
berlalu dari perusahaan itu, membawa diri dengan zonk. Kami menyebut proses itu adalah pemanasan, mulai dari ikut tes sampe masuk
kerja hingga keluar dan itu semua adalah pengalaman. Pengalaman serta
pemanasan. Ah, sudahlah, penting sudah masuk ke MOG selama dua jam, keliling
gak jelas dan duduk di samping destro tanpa bisa mengunyah apapun karena masih
harus puasa dua jam. Berdebu, letih, lelah, macet ke Surabaya dan hasilnya
adalah zonk, ini adalah pemanasan. Pemanasan dan berpanas-panas sampe bisa out
dari Sampoerna. Merasakan banget bagaimana seharian jadi sales kayak orang mau
bunuh diri karena kecapean. Keliling pake sepeda motor, ngelap etalase rokok
dan menghitung hasil penjualan. Pake baju keren pulak. Dan gilanya, aku sudah
mengadakan farewell party sama teman terdekat karena mau menghilang dari
Malang. Malang kini kami kembali. Inilah yang terakhir,
Gilaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak!!!
Jumat, 01 Agustus 2014
Catatan Perjalanan Singkat; Tancak Kembar
Melengkapi hasrat
liburan kali ini, aku dan teman-teman pergi ke suatu tempat di pojok kota kecil
tak begitu besar yang merupakan salah satu objek wisata dulunya, katanya.
Tempat itu menjadi salah
satu destinasi wisatawan dalam negeri karena takjub akan pesona air mancur yang
terkenal dengan sebutan Tancak Kembar. Pagi itu, kurang lebih pukul delapan,
ketika matahari masih tak terlalu panas dan terlihat mulai naik, pergilah kami
ke sana.
Sungguh saja, tempat itu masih menjadi lokasi yang aku bayangkan, walaupun itu
amat sulit untuk ditebak. Kata Iqbal, tempatnya keren banget, ia bahkan sempat
menunjukkan padaku gambar yang ia ambil dari google itu. Emang keren sih
kelihatannya, air terjun yang berjejer dua alias berdekatan seperti keliatan
kembar gitu.
Jalan yang kami
tempuh lumayan jauh untuk bisa sampai di tempat itu, melewati jalan raya
beraspal yang entah mengapa kala itu kami selalu dihadang lampu merah jalanan
ramai itu. Maklum sajalah, hari-hari terakhir puasa kan, jadi banyak yang
mondar-mandir mempersiapkan keperluan rumah untuk menyambut Idul Fitri,
begitulah kira-kira. Selain jalan aspal mulus, kami juga melewati jalan terjal,
tidak terlalu terjal namun memaksa kami untuk turun dari motor alias berjalan
kaki. Perjalanan panjang dan tidak melelahkan, mengapa? Karena kami menikmati
dengan penuh syukur bisa berjalan menuju ciptaan Tuhan yang Maha Agung. Sambil
terus berjalan dengan nafas tersenggal, aku tak lupa mengambil video
dokumentasi dari pertualangan singkat itu. Biar pun hasil videonya jelek, yang
penting nanti ketika kami kembali setidaknya ada yang bisa dikenang dan
dipandang untuk mengingat setiap kejadian yang terjadi meski tidak terlalu
rinci.
Singkat kata,
sampailah kami di pintu masuk tempat wisata itu. Gemuruh air yang beriak jatuh
silih berganti menjadikan kami begitu penasaran, seperti apakah wujud Tancak
Kembar itu. Sepakat untuk meninggalkan kendaraan, kami pun berjalan mendekati
air terjun itu. Dan kami mendapatkannya, air terjun gersang tak berair, hanya
sedikit. Tubuh permukaannya terlihat kecil, tidak ada riuh gelombang yang
beradu naik turun untuk bisa sampai di dasar bebatuan hitam tak sejajar. Kemudian
saling pandang, yakin masih ada kejutan lain yang tersimpan, lalu berjalan
menelusuri jejak-jejak kaki yang meninggalkan bekas hingga sampai di dalam
kawah pepohonan rindang dan deru air sungai yang saling bersahutan satu sama
lain. Melewati sungai kecil itu, aku menyaksikan ada burung hantu yang berdiri
di atas pohon kering dan berbulu hijau lagi. Iqbal masih terpesona dengan hal
itu, kemudian memandang sekitar dan memutar akal yang malah ditinggal terbang oleh burung yang menjadi kilauan
cuci mata sekedar teman menikmati perjalanan.
“Waah, kita sampai
juga akhirnya Mas, itu air terjunnya kelihatan,” riuh gembira suara Iqbal
mengagetkan para petualang yang masih meniti bebatuan besar untuk bisa
menyebrang menikmati peraduan pohon dan bunga yang tumbang, jatuh.
“Iya, itu air
terjunnya kelihatan, beneran airnya deras tuh kayaknya,” Sontak Mas Adim
membenarkan perkataan Iqbal. Kami berempat, Aku, Fery, Alan, dan satu lagi yang aku tidak tau
namanya masih terus berjalan beriringan. Meski sambil jalan, Alan terus berfoto
ria mengabadikan setiap momen yang ia rasakan dengan meminta bantuan temannya
itu.
“Yees, yees,”
teriak Iqbal sambil memainkan tangan kirinya berlaga seperti orang yang baru
menang suatu kompetisi terbuka.
Kami mendekat,
ternyata benar, yang kami jumpai tadi adalah air terjun tipuan. Kami menyebutnya
air terjun jomblo karena mengalir tak deras dan tak pula menggiurkan. Seperti seseorang
yang kesepian ditinggal kekasihnya, aduh kasihan. Di tempat kami kini berdiri,
aku menyaksikan gumpalan air yang saling sapa satu arus dengan arus yang lain,
jatuh berurutan, saling berlomba untuk sampai di dasar bebatuan kecil tak terlihat
mungil. Walaupun di satu sisi yang lain, kembaran air terjun deras itu tidak
mengalirkan debit air yang sama, perlahan namun ada kehidupan di sana. Jurus-jurus
narsis itu sontak meminta izin untuk keluar, memahat namun tak perlu memanjat untuk
berpose mesra layaknya keluarga. Mulai dari kamera sederhana dengan menu biasa,
potrait dan landscape, hingga kamera antik dengan view panorama yang begitu
menggoda. Momen itu terabadikan. Sepertinya lelah dalam perjalanan dan kekecewaan
yang tadi sempat mendera ketika bertemu air terjun jomblo itu telah
terbayarkan, lunas. Lihat saja setiap mereka, tidak ada yang diam, semuanya
menikmati view cantik dari air terjun itu, indah! Bahkan keindahan itu akan
lebih terasa jika tiba di sana dalam momen bukan bulan puasa, hadir dengan
membawa tenda, perlengkapan memasak dan ikan segar yang tampaknya akan sangat
menggugah selera makan sambil menikmati sentuhan udara dingin dari percikan
setiap air terjun yang jatuh dengan pesona lembutnya. Tersadar dengan pasti
penuh keyakinan, alam Indonesia ini begitu menyuguhkan keindahan tak
tertandingi, banyak sekali bisa kita temui kekayaan dengan keindahan yang
berlimpah. –End_
Langganan:
Postingan (Atom)
Tentang Pulang
Pulang bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan batin yang penuh makna. Pulang adalah kata yang menyentuh hati, membawa kita kem...
-
Diplomasi ekonomi sebagai proses formulasi dan negosiasi kebijakan yang berkaitan dengan kegiatan produksi, pertukaran barang, jasa, tenaga ...
-
Keputusan resmi mengenai penerimaan Indonesia sebagai anggota penuh BRICS (Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan) adalah perkemb...
-
Negosiasi merupakan suatu proses komunikasi dimana terdapat dua pihak dengan sudut pandang yang berbeda yang berusaha menyamakan persepsi da...
-
Konflik merupakan tindakan yang menghalangi, mengganggu, dan menghambat pihak lain. Konflik bisa terjadi di kelompok masyarakat atau pun l...
-
Menjadi pribadi yang lebih tenang adalah perjalanan yang memerlukan kesabaran dan perhatian pada diri sendiri. Tenang bukan berarti tidak ...
-
Agar dapat memetakan fenomena mengenai subjek dan objek analisis dalam studi hubungan internasional, diperlukan adanya indikator yang dija...
-
Salah satu kegunaan dari teori dalam studi hubungan internasional adalah untuk pengetahuan kontemplatif yang diturunkan dari tatanan dasar d...